Jumat, 21 Juni 2019

Kesan Mendalam Para Juri


Lomba Foto HUT Sewindu Museum Santa Maria ternyata memberi kesan mendalam bagi para juri. 

Romo Haryanto PR, (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia) baru sadar ada banyak bagian dari Museum Santa Maria yang terlewat meski sudah pernah berkunjung. 

Sementara Suster Maureen Damayanto, OSU setelah melihat karya peserta, menemukan emosi tersendiri. Tak ketinggalan Arbain Rambey, fotografer senior KOMPAS yang menjadi relawan di Museum sejak 2015 memberikan testimoni betapa lomba fotografi Museum Santa Maria termasuk lomba yang sangat sulit, tetapi peserta mampu menghasilkan foto-foto yang bagus.

“Lomba foto museum Santa Maria ini kalo lihat hasilnya kok gitu gitu aja, padahal ini tema yang sangat sulit. Satu, di museum itu banyak kacanya, tanpa peralatan lampu efek yang memadai itu sangat susah memotret benda yang terselubung kaca. Juga ruangannya sempit dan juga pesertanya juga umumnya bukan professional. Professional pun akan pusing kalo lihat museum (Santa Maria) karena memang tidak gampang. Secara keseluruhan foto-foto Santa Maria ini bagus,” Terang Arbain Rambey saat menghadiri International Museum Day Sabtu 18 Mei yang lalu. 

Sementara Mosista Pambudi, via jalur pribadi Whatsapp mengungkapkan harapannya agar sinergi penyelenggara dan peserta lomba foto memunculkan karya yang pada akhirnya menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada masyarakat umum. 

"Menyimak karya-karya peserta dalam lomba foto Museum Santa Maria 2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa sinergi yang baik antara penyelenggara dan peserta akan dapat memunculkan karya-karya fotografi berkualitas yang diharapkan mampu menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada khalayak."
Romo Haryanto yang dihubungi via Whatsapp mengungkapkan bahwa Foto mengungkapkan berbagai peristiwa perjalanan kehidupan manusia. Foto banyak bicara meskipun tidak banyak kata. 

Museum menjadi saksi sejarah kemajuan peradaban manusia. Keberadaan museum membawaku bersyukur ada yang memulai, memelihara dan mengembangkan. 

“Foto-foto yang kulihat dari karya-karya peserta lomba membawaku makin detil mengetahui Museum Santa Maria. Ternyata ada yang lepas dari perhatianku meski aku pernah berkunjung ke museum ini. Lewat karya foto ini aku juga makin tahu bagian mana yang menjadi bagian menarik. Lewat foto-foto ini aku juga makin tahu ekspresi ketika orang menyaksikan masa lalu.”

Romo Hary juga mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba sebagai juri. “ Terimakasih boleh terlibat dalam lomba ini. Terimakasih untuk para fotografer yang telah jeli mengamati obyek dan menjadikan subyek menarik. 

Jepretan teman-teman telah membawaku pada sejarah panjang Ursulin. Banyak orang telah terlibat menanam dan memelihara kehidupan. Dan pastinya Allah sendiri yang memberi pertumbuhan dan pernyataan. Tuhan memberkati. Rm Antonius Haryanto (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia),” tulisnya.

Suster Maureen, OSU lain lagi. Saat dihubungi via jalur pribadi Whatsapp ia mengatakan lewat tulisan bahwa biasanya sebuah museum umumnya menghantar orang pada konotasi "kuno, antik".

Sesungguhnya museum juga membawa kita pada masa kini dan masa mendatang. Museum senantiasa "up to date". Pengalaman yang membuka wawasan budi dan hati mengenai makna keberadaan sebuah museum di era digital. Sejarah - Art - Estetika diteropong melalui "mata" kekinian menghadirkan emosi tersendiri.

Suster Maureen sebagai penyuka fotografi namun mengakui dirinya masih amatir mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba foto HUT Sewindu Museum Santa Maria sebagai juri. Tak lupa juga mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba Fotografi.***

Jumat, 07 Juni 2019

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Staff dan Relawan Museum Santa Maria mengucapkan 
Selamat Hari Raya  Idul Fitri 1 Syawal 1440 H, 
Mohon Maaf Lahir & Batin


Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...