Kamis, 07 Oktober 2021

Museum Ursulin Hadir Bukan Untuk Berkompetisi

Suster Hilda Sri Purwaningsih, OSU  menyapa dan memberi sambutan kepada tim visitator dari sudin Kebudayaan provinsi DKI Jakarta

Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan visitasi atau kunjungan ke Museum Santa Maria pada Senin 4 Oktober 2021. Museum Santa Maria adalah salah satu dari 12 Museum Swasta di DKI yang akan dikunjungi dalam kurun waktu 1 minggu. 

Visitasi dilaksanakan untuk melakukan verifikasi data dan dokumen museum sebagai tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Pemutakhiran Data Museum yang sudah dilaksanakan pada bulan Agustus lalu. Kasie Sejarah dan Permuseuman Bapak Bayu Niti Permana beserta staff rombongan datang sekitar jam 9.00 dan diterima di Hall Museum. 

 Suster Hilda Sri Purwaningsih, OSU Kepala Biara Santa Maria dan Ketua III Yayasan Nitya Bhakti dalam sambutannya merasa terhormat, bangga dan bersyukur bahwa dari pemerintah melalui dinas kebudayaan datang berkunjung. Atas perhatian dari pemerintah tersebut, Museum akan terus belajar, dan terbuka dengan masukan masukan untuk melengkapinya. 

 Museum Ursulin Santa Maria masih jauh dibanding dengan museum-museum yang lain tetapi kehadiran Museum Ursulin Santa Maria bukan untuk berkompetisi melainkan untuk merawat dan melanjutkan karya yang sudah dirintis para pendahulu serta menjadi tempat atau pusat penelitian kemudian melestarikannya. 

Kepala Museum Suster Lucia Anggraini OSU, bersama Tim yaitu Suster Marie Louise OSU, Thomas Aji, dan Volunteer Janny Halim menemani Pak Bayu beserta 5 anggota tim nya. Mereka memulai verifikasi dengan berkeliling museum dimulai dari Ruang Kantor Sekretariat berlanjut ke ruang-ruang pamer museum mengikuti alur rute kunjungan. 

Mereka mendengarkan cerita sejarah karya Ursulin dan mengamati koleksi yang dipamerkan. Kadang terdengar berkomentar “wah, yang ini dan itu… bisa masuk benda cagar budaya...” 

 Ketika diperbolehkan melihat kebun biara, mereka senang sekali. Kebun biara menjadi area privat sejak selesai direnovasi dan mereka menjadi pengunjung museum pertama yang diijinkan masuk melihatnya. Begitu senangnya mereka sehingga mereka membuat foto-foto. Tidak terasa mereka sudah berkeliling lebih dari satu jam.
 Verifikasi dilanjutkan dengan memeriksa dan mencocokkan dokumen isian yang sudah diserahkan beberapa waktu sebelum kedatangan. Dari hasil wawancara di hall museum sampai sekitar pukul 13.00, Museum diberi beberapa rekomendasi untuk ditindak lanjuti. Antara lain terkait tampilan museum menambah wall text terutama sejarah gedung dan museum, denah dan alur pengunjung, visi misi serta papan nama museum dibuat lebih jelas bagi pengunjung dsb.

Rekomendasi terkait administrasi antara lain penulisan SOP (Standard Operation Procedure) kegiatan yang sudah dilaksanakan dan SK struktur Organisasi. Untuk keselamatan bangunan, re-new tabung APAR.

 Pak Bayu menegaskan bahwa Tim Verifikasi PemProv ini mempunyai tugas untuk pembinaan pada museum-museum di DKI. Dari setiap visitasi mereka juga ingin tahu, apa saja yang sebenarnya dibutuhkan oleh museum-museum. Misalnya pelatihan untuk kurator, konservator dll. Yang menggembirakan dan penuh harapan adalah bantuan pemerintah untuk mempercepat proses mengusahakan TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata).

“Untuk menjadi museum yang terstandart masih membutuhkan waktu 2 tahun setelah semua persyaratan terpenuhi,” terang Pak Bayu.

 Dari Visitasi ini, Museum Santa Maria belajar bahwa masih banyak yang hal harus dilakukan berkaitan dengan fasilitas, sumber daya manusia, pengetahuan yang mendukung dan tentu kerjasama dengan berbagai instansi.

Sebagai museum yang berada di tengah biara, sekolah dan asrama, Museum Ursulin Santa Maria sedang berproses untuk melengkapi menjadi museum yang lebih baik. Rekomendasi yang telah diterima akan ditindak lanjuti bersamaan dengan adanya revitalisasi gedung museum.

Kehadiran museum Ursulin Santa Maria diharapkan dapat menjadi sarana penting bagi informasi, dan penelitian pendidikan ditengah-tengah biara-sekolah Ursulin yang sudah berdiri 165 tahun yang lalu. ***






Kasie Sejarah dan Permuseuman Bapak Bayu Niti Permana  koordinator tim  visitasi
Melihat dan menjajal duduk di kursi kuno di Sekretariat
Masuk ke ruang pamer Ruang Misi
wawancara dan pencocokan dokumen




Senin, 30 Agustus 2021

Tugas Pemerintah Mengayomi Museum







Salah satu perwujudan tugas Pemerintah dalam mengayomi Museum adalah memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam Pemutahiran Data. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Bayu Niti Permana, Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

“Tugas Pemerintah sesuai amanat PP 66 Tahun 2015 sehubungan dengan Museum adalah mengayomi museum yang ada di wilayahnya”. Namun ada syaratnya agar sebuah museum itu diayomi oleh Pemerintah yaitu museum itu harus terdaftar. Pertama-tama museum itu mendaftarkan diri ke Dinas Kebudayaan Provinsi, kemudian Dinas mendaftarkan ke Kementrian atau tingkat yang lebih tinggi. Paling tidak museum itu tercatat di (Suku) Dinas.” 

 Bimtek Pemutakhiran Data dilaksanakan selama tiga hari yaitu tanggal 24 – 26 Agustus 2021 dan secara daring. Tanggal 24 Agustus dikhususkan bagi museum-museum di Jakarta Pusat, tanggal 25 Agustus bagi Jakarta Timur dan TMII, dan tanggal 26 Agustus bagi Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.

 Tugas pengayoman Museum yang ditegaskan dalam Bab VIII PP 66 Tahun 2015 berupa Pembinaan dan Pengawasan. Pengawasan terhadap Kelembagaan Museum; Pengelolaan Koleksi; Peningkatan SDM; Pengembangan dan Pemanfaatan Museum.

 Pembinaan Museum dilakukan melalui bimbingan teknis Museum; advokasi pengelolaan museum dan atau bantuan. Bantuan dapat berupa dana, sarana dan/atau tenaga ahli. Misalnya bantuan dana dari pemerintah, disalurkan hanya ke museum yang terdaftar dan yang membutuhkan.

Tujuan dari Bimtek ini adalah melihat kondisi eksisting setiap museum yang ada di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu pemerintah melalui Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mengharapkan museum dapat memberikan gambaran selengkap-lengkapnya, agar dapat diketahui museum yang memenuhi standar dan yang perlu dibantu. 


Selain itu, pemerintah dapat membantu mengusahakan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) mengacu pada Pergub Nomor 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata bagi museum-museum di wilayah DKI.

 Bimtek dimulai sejak undangan Bimtek Pemutakhiran Data dikirimkan. Peserta mengisi formulir keikutsertaan yang dikirimkan bersama undangan, melalui WhatsApp grup. Peserta (Museum) yang telah terdaftar digabungkan dalam grup WA peserta supaya memudahkan berkoordinasi. Peserta kemudian mengisi formulir pemutakhiran data museum secara manual dan mempersiapkan data pendukung.

 Pada saat pelaksanaan Bimtek, peserta mengisi formulir pemutakhiran data museum dipandu oleh Ibu Betsy Edith Christie. Setelah bimtek peserta diharapkan mengirim data pemutakhiran dengan cap dan tanda tangan basah Kepala Museum ke Sudin. Pengiriman data paling lambat 31 Agustus dilanjutkan dengan kunjungan ke museum-museum sampai Oktober 2021. Kunjungan dilaksanakan untuk melihat kelemahan dan memberikan rekomendasi yang sesuai.

 Pelaksanaan Bimtek ini sesuai dengan harapan ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jakarta Paramita Jaya Bapak Yiyok T. Herlambang. “Sesudah data diperbarui, ke depan kami berharap Dinas membuat bimtek untuk menajemen permuseuman. SDM museum bisa ikut sertifikasi sehingga SDM bisa mengetahui bagaimana museum bisa berjalan didukung dengan SOP yang baik. Tujuan akhirnya agar museum semakin diminati semua masyarakat dan menarik minat wisatawan mancanegara sehingga menarik devisa untuk negara.”

 Bapak Norvi Setio Husodo mewakili kepala Dinas Kebudayaan berharap, melalui Bimtek ini kolaborasi dinas kebudayaan dengan AMI (Asosiasi Museum Indonesia) dan museum-museum lainnya semakin sinergis. Museum-museum yang dikelola dinas maupun swasta semakin baik performanya.

 ***

Kamis, 22 Juli 2021

Sekolah Rasa Tempat Wisata

Pembawa Acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Santa Maria saat membuka sesi perkenalan Museum Ursulin Santa Maria mengatakan bahwa siswa yang sekolah di Santa Maria beruntung karena ada museum, “Sekolah Santa Maria itu sekolah rasa tempat wisata”.

 MPLS bagi siswa/i baru Angkatan 2021/2022 dilakukan secara daring. MPLS SMP di Museum itu dilaksanakan pada Sabtu 10 Juli dan SMK pada Rabu 14 Juli.

 Dalam dua kesempatan MPLS tersebut, Suster Lucia Anggraini, OSU kepala Museum Ursulin menampilkan Sejarah singkat perjalanan karya para Suster Ursulin dalam mendidik perempuan sejak 1856 dan perkembangannya, dengan menampil-kan gambar poster History Wall.

Poster History wall sendiri sudah dipasang di area pintu masuk Kampus Santa Maria dari jalan Juanda maupun jalan Batu tulis serta di area menuju Kapel Biara.

 Museum Ursulin Santa Maria terletak di dalam area Kampus Santa Maria jalan Juanda Jakarta Pusat, dan menampilkan peninggalan para Suster Ursulin berkarya dibidang pendidikan, sejak 1856 khususnya pendidikan perempuan.
Artefak-artefak dari museum itu merupakan saksi keberadaan dan perjuangan para suster Ursulin mendidik anak-anak dan kaum perempuan di Indonesia. Museum Ursulin Santa Maria menjadi museum yang menarik dan Unik karena satu satunya museum yang menyatu dengan sekolah.

MPLS selama kurang lebih satu jam diisi juga dengan Vlog atau Video Blog mengenal beberapa ruang dan koleksi museum. Usai paparan Suster Lucia dan vlog museum, peserta MPLS diajak untuk menjawab kuis berdasarkan materi yang sudah dipaparkan. Peserta MPLS antusias mengikuti acara dan berharap bisa berkunjung ke museum usai pandemic Covid-19 berakhir.

Menurut Peraturan Pemerintah no. 15 tahun 2015 bab VII pasal 41 ayat 1 salah satu manfaat museum adalah sebagai tempat wisata. Maka tidak salah bila belajar di sekolah Santa Maria serasa belajar di tempat wisata. Semoga dengan adanya museum di Kampus Santa Maria membuat suasana belajar semakin menyenangkan dan meningkatkan prestasi para siswa.


                              ***

Rabu, 09 Juni 2021

Mengunjungi EREVELD PANDU



 Gerbang masuknya megah, menjulang tinggi, dan dari kejauhan sudah terlihat hamparan permadani hijau dengan kayu-kayu palang putih berderet rapi dan bersih di atasnya. Di kiri kanan jalan menuju ke tempat itu banyak terdapat pepohonan hijau, asri. Kesannya terjaga dan terpelihara. Itulah Ereveld (=Makam Kehormatan) Pandu, di kota Bandung, salah satu dari 7 Ereveld yang tersebar di kota, Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Di Ereveld Pandu ini disemayamkan 28 nama Suster Ursulin Belanda yang meninggal di kamp-kamp tawanan semasa pendudukan Jepang.

 “Ereveld Pandu ini mempunyai luas 3 hektar,” jelas Penanggung jawab Ereveld Pandu, Bapak Dicky. Ia ramah menerima, dan tampak senang atas kedatangan kami karena dapat saling bertukar informasi, terlebih medsos yang menurutnya sangat penting untuk sosialisasi. “Ereveld ini, sengaja dibuat tertata dan sejuk, nyaman dan tidak menakutkan, sehingga dapat menjadi tempat alternatif wisata,” katanya menambahkan. Di tengah-tengah pembicaraan di pondok penerima tamu, terdengar tilpon berdering, memanggil. Tidak lama Pak Dicky kembali “Baru saja permohonan Sr Vita, untuk penambahan inisial OSU pada nama 28 nama Ursulin, diizinkan,” katanya dengan nada mantap.

 Saat pendudukan Jepang di Indonesia, selama PD II, banyak Suster Ursulin Belanda dari semua komunitas yang ditawan, terpisah-pisah, bahkan tidak jarang dipindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain dalam keadaan yang memprihatinkan. Seperti kamp Kramat dan Tjideng di Jakarta; kamp Halmahera, Lampersari dan Candi yang terletak di Semarang, juga kamp yang ada di Solo. Bahkan 2 biara Ursulin juga pernah dijadikan Kamp tawanan seperti Supratman-Bandung, dan Cor-Jesu Malang. Saat kelam dan derita itu, tercatat 44 Suster Ursulin meninggal akibat ditawan. Tidak hanya 44 orang saja, namun banyak Suster yang setelah keluar dari kamp, kemudian jatuh sakit dan meninggal karena menderita dalam kamp. 
Yang masih hidup, setelah Indonesia merdeka, masih menyisakan trauma panjang, sehingga banyak para suster yang beristirahat dan berobat ke Belanda ataupun kembali ke Belanda untuk seterusnya.

 Suatu hari, ada email dari seorang pimpinan Suster di Belanda yang menanyakan makam seorang suster kelahiran Belanda dan yang meninggal di Indonesia saat pendudukan Jepang sekitar tahun 1945. Sederhana. Rupanya salah seorang keluarganya menanyakan di mana letak makamnya.

 Yang terbayang langsung adalah prasasti nama Suster itu dan ‘menologium’ (riwayat hidup singkat)-nya, karena setiap suster yang meninggal di Indonesia, ada menologiumnya. Syukurlah proses pencarian tidak sulit, tidak memakan waktu lama, karena informasi segera di dapat, sehingga tidak sampai seminggu data sudah dikirim ke Belanda. Bagaimana dengan yang lain?

 Mengenang para Suster Ursulin di masa berat itu, sungguh menyisakan rasa hormat terima kasih tak terhingga. Mereka berjasa dalam melanjutkan penanaman nilai-nilai pendidikan bagi anak-anak dan kaum remaja perempuan dari para pendahulu. Oleh karena itu tidak berlebihan bila, penelusuran PRASASTI menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghargai jasa mereka. Terlebih lagi bagi para Suster Ursulin Pionir, para pendahulu yang dengan mempertaruhkan jiwa raganya meretas pendidikan di tanah ini, namanya tak pernah ditemukan di makam mana pun, selain hanya cerita saja. Suatu ironi.

 Penelusuran Tim Buku hari itu, Selasa 25/5/2021 dilakukan selain untuk riset materi buku sejarah juga untuk rencana pembuatan prasasti. Semoga, suatu saat, ketika ada dari keluarga para suster, entah generasi yang mana, yang ingin tahu, sekedar tulisan namanya dapat menemukannya dengan mudah.


 -+-

Sabtu, 05 Juni 2021

Pemandu Yang Baik Mengedukasi Pengunjung

Pemandu yang baik mampu menjelaskan koleksi yang dipamerkan serta mampu membuka mata pengunjung  sebuah wawasan baru.

 Masyarakat dapat belajar berbagai hal dengan mengunjungi museum kemudian memperhatikan penjelasan penjelasan pemandu. Dari penjelasan pemandu, pengunjung dapat mempraktekkan di rumah apa yang didapat dari kunjungannya ke museum.

 Contohnya adalah listrik, masyarakat setiap hari selalu membutuhkan energi listrik. Apa itu listrik, bagaimana mendapatkannya? Dan berbagai hal lainnya. Untuk mengetahui tentang listrik, masyarakat dapat belajar dengan berkunjung ke museum listrik. Pemandu akan menjelaskan mulai dari sejarah sampai pemanfaatan dan penghematannya. Usai kunjungan masyarakat dapat mempraktekkan penggunaan dan memaksimalkan manfaat listrik juga mengetahui cara menghemat biaya penggunaan listrik.

 Contoh lain adalah kertas atau dokumen. Masyarakat pasti memiliki dokumen, bila dokumen yang rusak seperti akte dan lainnya, kemana harus memperbaikinya? Masyarakat dapat memanfaatkan Arsip Nasional atau Pusat Konservasi untuk memperbaiki  mendapat penjelasan dari pemandu bagaimana merawat dokumen dengan baik.

Dari contoh tersebut dapat diambil kesimpulan seorang pemandu museum sangat dibutuhkan bukan hanya sebagai pemandu yang menjelaskan sebuah benda tetapi yang mengedukasi masyarakat untuk mengenal, memanfaatkan, memelihara dan mene-
mukan pengetahuan atau wawasan baru atas sebuah benda disekitarnya yang digunakan untuk menunjang pekerjaan atau kegiatan harian.
 Kesimpulan tersebut muncul sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, bagaimana instansi museum mengedukasi masyarakat agar museum semakin dikenal. Pemandu yang tersertifikasi merupakan sarana penting bagi museum dalam mengedukasi masyarakat. Namun sertifikasi tidak cukup, melalui pelatihan, seminar, workshop dan webinar yang diselenggarakan IPMI seperti ini para pemandu disegarkan kembali serta ditingkatkan kemampuan mengedukasi masyarakat yang berkunjung ke museum.

 Pemandu yang baik menjadi edukator bagi masyarakat yang berkunjung. Bila Masyarakat terkesan dengan penjelasan pemandu, dengan sendirinya akan mempraktekkan apa yang didapat dan menceritakan pengalaman berkunjung ke museum kepada orang-orang disekitarnya.

 Jawaban atas pertanyaan dan kesimpulan itu muncul pada Webinar Pemandu wilayah Bali, NTB dan NTT Sabtu 29 Mei 2021 yang diselenggarakan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) sebagai ajang Silaturahmi dan Sharing para pemandu sekaligus peningkatan pelayanan dan pengetahuan pemandu.

 Nara sumber webinar antara lain Bpk. Bertold Sinaulan SS, Dewan Pembina IPMI Pusat, Ibu Elly Tumiwa S.ST.Par Dewan Penasehat IPMI Pusat dan Ibu Arifanti Murniawati, S.hum Instruktur Pelatihan IPMI Pusat.***

Senin, 31 Mei 2021

MILENIUM PANCASILA

Sebuah Pertunjukan Musikal Virtual dalam rangka Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan oleh sekolah Ursulin SANTA URSULA BSD bekerja sama dengan EKI DANCE COMPANY, berjudul MILENIUM PANCASILA

ada disini

Sabtu, 29 Mei 2021

Bedah Buku Moh. Amir Sutaarga

Siapa Mohammad Amir Sutaarga? Mengapa diusulkan menjadi Bapak Permuseuman Indonesia? Apa saja karyanya? Beberapa pertanyaan tersebut menjadi alasan Museum Ursulin hadir dalam bedah buku M. Amir Sutaarga, Bapak Permuseuman Indonesia yang terselenggara berkat kerjasama Kemdikbud, Museum Kebangkitan Nasional, Amida Paramita Jaya didukung oleh Komunitas Jelajah dan TVRI. Bedah buku ini diselenggarakan di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), Selasa 18 Mei 2021.

 Buku Moh. Amir Sutaarga adalah karya Bpk. Nunus Supardi, budayawan sekaligus sesepuh Amida Paramita Jaya. Bedah bukunya oleh Bpk. Siswanto mantan kepala Museum Nasional. Menurut Pak Siswanto, buku ini sudah menggambarkan perjuangan Bapak Mohammad Amir Sutaarga atau yang disingkat MAS dalam memajukan dunia permuseuman di Indonesia, meski beliau tidak sengaja “kecemplung” di dunia museum.

 Dalam buku tersebut dikisahkan Pak MAS putra asli Rangkas Bitung Banten lahir 5 Maret 1928. Semasa perang kemerdekaan menjadi tentara dengan pangkat terakhir Letnan II (Menurut Bp. Nunus , Letnan II ini suatu pangkat yang lumayan tinggi) sebelum “kecemplung” ke dunia permuseuman. Saat kebingungan melanjutkan karir di militer atau memilih dunia lain, Pak MAS pada 1948 bertemu dengan seorang ilmuwan Belanda yang bekerja di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBGKW), yang bernama Dr. A. N. J. Th. A Th. Van der Hoop. KBGKW adalah sebuah lembaga kebudayaan yang tugasnya melakukan penelitian dan pendokumentasian kebudayaan kesenian dan ilmu pengetahuan di zaman kolonial. Pak MAS menjadi asisten Tuan Van der Hoop dan menyerap ilmunya.
Desember 1949 setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Pak MAS bersama beberapa tokoh di bidang museum, kepurbakalaan dan perpustakaan bertanggung jawab penuh menjaga seluruh aset dan koleksi saat mengambil alih KBGKW.

 Pak MAS selain pernah menjabat kepala Museum Nasional saat usia muda, beliau juga aktif mengembangkan museum daerah dan merintis undang-undang permuseum-an. Salah satu mimpi Pak MAS untuk mengembangkan Museum di Indonesia adalah menggagas musyawarah museum se-Indonesia dan mimpi itu terwujud menjadi Asosiasi Museum Indonesia. Meski berbeda nama dari mimpi yang diharapkan tetapi tujuan dan semangatnya sama yaitu memajukan museum di Indonesia.

 Pak Agus, Kepala Museum Kebangkitan Nasional yang ikut dimintai tanggapan terkait buku tersebut menyoroti keunggulan hidup spiritual Pak MAS yang rajin Sholat dibarengi puasa. Spiritualitas hidup Pak MAS ini belum tercatat di buku tersebut.

 Bpk. Wani Raharjo, Akademisi yang ikut membedah buku melihat, Pak MAS lebih menekankan fungsi Museum untuk pendidikan. Waktu beliau masuk kampus beliau mulai mengajar pengantar Museum dan memperkenalkan pengertian Museum itu apa dan bagaimana kerja Museum. Beliau juga memaparkan kerja multidisiplin dalam Museum.

 Dari pendapat para narasumber serta perjuangannya dalam dunia permuseuman yang terekam dengan baik oleh Pak Nunus, ketokohan seorang Mohammad Amir Sutaarja dalam dunia museum tidak diragukan lagi. Sangat layak bila Pak MAS menjadi bapak permuseuman Indonesia.***

Jumat, 23 April 2021

Kudapan Virtual Pesta Ulang Tahun

Museum Ursulin Santa Maria ‘menyajikan’ Bitterballen dan Poffertjes, makanan khas Hindia Belanda pada abad 19 dalam webinar “The Living Heritage on Your Plate” untuk Memperingati 10 tahun museum Ursulin Santa Maria dan 165 tahun Biara, Asrama, dan Sekolah Santa Maria Juanda-Jakarta

 Penyajian kedua menu makanan dalam webinar tersebut sekaligus sebagai upaya melestarikan jejak sejarah Biara-Asrama-Sekolah Santa Maria Jakarta.

 Dalam webinar tersebut diputar film pendek proses pembuatan Bitterballen dan Poffertjes, kemudian penyajiannya. Proses pembuatan dan penyajiannya menggunakan peralatan milik museum dan SMK Santa Maria jurusan Tata Boga. Koki dan penyaji menggunakan baju produksi Tata Busana dengan model siswa-siswi SMK jurusan Tata Boga dan Perhotelan.

 Usai pemutaran film, M. Petra Timmer PhD Co-owner of TiMe Amsterdam, international museums & heritage consultants membahas sejarah Bitterballen dan Poffertjes.

 Bitterballen adalah kudapan khas negeri kincir angin Belanda yang populer berbentuk bola berisi daging cincang. Biasanya kudapan ini menjadi teman minum bir. Kenapa ada kata "bitter"? "bitter" diartikan "pahit". "Bitter" sendiri adalah rasa minuman beralkohol yang berasal dari ekstrak herbal yang biasanya rasanya pahit. Jadi, "Bitterbal" adalah bola-bola yang dimakan sebagai teman minum segelas "bitter" atau bir.

 Nama poffertjes berasal dari 2 kata yaitu poffer yang berarti pancake dan tje yang berarti mini. Jadi poffertjes adalah pancake yang berukuran mini dengan diameter 3 cm. Biasanya, kue mungil nan lembut dari Belanda ini disajikan bersama taburan gula halus.
Ine WawoRuntu Alumni TK-SMP St. Vincentius menjadi pembicara berikutnya. Ia memberi penjelasan berbagai artefak yang digunakan.

 Bu Ine memulai dari backdrop yang bertuliskan de Refter. Backdrop tersebut adalah foto dari ruang Refter atau ruang makan biara Ursulin di Noordwijk atau Juanda sekarang. Foto itu menggambarkan suasana ruang makan tahun 1875 sampai 1942. Baik KTLV maupun Tropen museum, universitas Leiden masing masing memiliki koleksi foto tersebut.

 Dari Backdrop beralih ke meja hidang yang bernuansa Art Noveau – Art Cfart yang tampak dari kaki meja dan sandaran kursi. Model kursi itu sampai sekarang masih digunakan di Belanda. Kemudian tempat untuk menyimpan makanan yang di Belanda disebut HOIKIST atau Peti Jerami. Jerami mengandung panas sehingga digunakan sebagai salah satu alat masak. Hoikist ini menjadi cikal bakal munculnya oven.

 Berbagai peralatan dan perlengkapan masak yang digunakan dalam produksi film pendek sebagian merupakan koleksi museum. Salah satu keunikan peralatan tersebut adalah koleksi Cutlery yaitu sendok garpu dan pisau berukir nama pemilik.
 Selain perlengkapan makan juga ditampilkan hasil produksi Tata Busana berupa kostum yang digunakan model Suster, Koki maupun Penyaji.
 Produksi film tentang proses membuat makanan, penyajian dan kostum dalam webinar tersebut sekaligus memperkenalkan jurusan yang dikelola SMK Santa Maria yaitu jurusan, Tata Boga, Tata Busama, Perhotelan dan Multimedia. Selain memperkanlkan jurusan, produksi film juga sekaligus sebagai sarana informasi kepada masyarakat bahwa karya pendidikan kejuruan tersebut dirintis oleh para Suster Ursuliun sejak kedatangnnya ke Batavia tahun 1856 yang lalu. *** 
Anda tertarik dan penasaran, silahkan menyaksikan video lengkapnya dibawah ini atau langsung cek disini 

Selasa, 13 April 2021

Kesan Pertama Begitu Menggoda Selanjutnya Terserah Anda

Wisatawan akan menikmati seluruh perjalanan wisata bila perjumpaan pertama dengan pemandu berkesan. Selain ramah dan sopan, yang membuat wisatawan terkesan dengan pemandu wisata adalah kemampuan pemandu menguasai berbagai macam bahasa.

Menurut Mba Yuli Wulandari, Wakil Ketua Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI), Pemandu merupa-kan salah satu produk dari industri pariwisata selain destinasi, transportasi, akomodasi dan fasilitas. Sebagai ujung tombak dunia Pariwisata, pemandu harus paham tugasnya yaitu memandu atau mengatur dan memberikan informasi perihal destinasi wisata, kegiatan dan tata tertib di lokasi wisata serta memastikan bahwa harapan pengunjung terpenuhi.

Untuk bisa memenuhi harapan wisatawan, Pak Suparta, Instruktur pemandu dari IPMI mengatakan seorang pemandu harus mengetahui teknik dan etika kepemanduan. Teknik dan etika kepemanduan diawali saat memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam dan selamat datang kemudian memperkenalkan diri.

Sedangkan Pak Aleks Amat Al Kusaini yang akrab dipanggil Papi Alex, Ketua Umum IPMI mengharapkan pemandu harus memberikan kesan yang istimewa sejak perjumpaan pertama dengan wisatawan dari manapun. Sangat bagus apabila seorang pemandu memahami bahasa daerah atau asing asal pengunjung sehingga wisatawan seolah ditemani kawan sendiri.
Oleh karena itu seorang pemandu sebisa mungkin menguasai berbagai bahasa daerah atau bahasa asing. Ia pun mengutip slogan sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda. Artinya kalau wisatawan sudah terkesan dengan perjumpaan pertama ia akan merasa nyaman dan pemandu akan lebih mudah mengajak wisatawan untuk berkeliling dan berbelanja souvenir atau kuliner di area tempat wisata. Kesan yang baik dengan pemandu juga membuat wisatawan teringat untuk kembali atau minimal menceritakan pengalamannya dan membuat orang lain tertarik berkunjung.

Pesan dari para pengurus IPMI kepada para siswa SMK Jurusan Pariwisata dan Mahasiswa di wilayah Yogyakarta tersebut disampaikan dalam Virtual Training Pelatihan Kepemanduan Museum Dan Destinasi Wisata yang diselenggarakan oleh museum History of Java, d’Topeng Kingdom Museum bekerja sama dengan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) dan Badan Musyawarah Museum D.I. Yogyakarta pada Selasa 30 Maret 2021 lalu.

                                 ***

Rabu, 31 Maret 2021

Museum Harus Cepat Beradaptasi

Sebagai bentuk perwujudan Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Universitas Bina Sarana Informatika dan STMIK Nusa Mandiri bekerjasama dengan Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta, Paramita Jaya menggelar webinar pada Sabtu 13 Maret 2021 menggunakan aplikasi Zoom.

Webinar dengan tema "Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Dalam Pengelolaan Koleksi dan Pelayanan Museum di Masa Pandemi", menekankan agar museum cepat beradaptasi dengan situasi pandemi dan memanfaatkan media sosial untuk menarik masyarakat berkunjung di media sosial maupun website museum.

Ita Suryani S.Sos, M.I.Kom Pembicara pertama dalam webinar tersebut mengharapkan museum untuk cepat beradaptasi dengan situasi pandemi Covod-19 dan New Normal. Oleh karena itu ia mengharapkan museum memaksimalkan kinerja kehumasan untuk mengelola media sosial dengan baik seperti mengemas pesan yang disampaikan dengan kreatif, melayani netizen dengan respon cepat, giat berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuat museum semakin diminati masyarakat.
Sedangkan pembicara kedua, Bpk. Frieyadie, M. Kom menekankan pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan museum. Bpk. Frieyadie memaparkan, urutan pertama media sosial paling populer di Indonesia antara 2020- 2021 ditempati Youtube kemudian WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, Facebook Massenger dan terakhir, LINE.

Ia mengajak museum memanfaatkan teknologi untuk terus berkembang. Teknologi yang tepat digunakan pada masa Pandemik Covid 19 yaitu yang membangun sistem informasi e-museum melalui teknologi mobile dan teknologi website. Selain itu, juga memanfaatkan sosial media seperti Youtube, Whatsapp, Instagram, Facebook.

Melalui teknologi dan media sosial tersebut, museum dapat menyapa masyarakat yang saat ini beraktivitas di rumah kemudian memunculkan keingintahuan lebih sehingga masyarakat punya keinginan untuk berkunjung ke museum.

                              ***

Museum Ursulin Hadir Bukan Untuk Berkompetisi

Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan visitasi atau kunjungan ke Museum Santa Maria pada Senin 4 Oktober 2021. Museum Santa Mar...