Senin, 16 September 2019

Bedanya Seragam Suster & Seragam Silat



Kehadiran Museum Santa Maria di pameran museum di DPR-RI dalam rangka HUT nya yang ke 28 cukup menarik perhatian. Pak Bawor, salah satu tetangga sebelah. Penanggung jawab museum Pencak Silat itu bertanya apa perbedaan Suster baju putih dan Suster baju abu-abu. 

Pertanyaan itu terungkap pada Senin 19/8/2019 di area pameran museum di gedung Nusantara lantai 1 DPR-RI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Pameran Museum selama tiga hari, yaitu Senin sampai Rabu 19-21 Agustus 2019 diikuti 18 Museum dan 2 Komunitas Budaya. 

Setelah 28 tahun keberadaannya Museum DPR-RI mengadakan open house “membuka diri” untuk kehadiran museum-museum lain yang mau diajak berpartisipasi. Tema yang diangkat sesuai dengan zamannya yaitu "Museum Untuk Kemajuan Informasi Dan Peradaban Bangsa” 

Museum Santa Maria ikut berpartisipasi memeriahkan acara HUT itu. Selain agar semakin dikenal masyarakat luas, juga agar sesama museum juga bisa saling berbagi dan belajar. 

Museum Santa Maria bertetangga dengan Museum Pencak Silat dengan koordinator Bapak Bawor. Sehari sebelumnya, saat mempersiapkan stand pameran, ia melihat Suster Lusi, penanggung jawab Museum Santa Maria berpakaian biru- putih. Senin keesokan harinya Pak Bawor pangling melihat Suster Lucia berpakaian warna abu-abu. Ia menyangka yang datang Suster pimpinan. Iapun mendekati penulis yang ikut bertugas dan bertanya apa bedanya Suster warna putih dengan warna abu-abu.

"Mas, apa bedanya suster putih & suster abu-abu?"
Mendapat pertanyaan itu, Penulis yang sekaligus pemanduMuseum Santa Maria menjawab bahwa tidak ada bedanya.

"Ga ada bedanya pak. Kenapa pak?"

Rupanya Pak Bawor menyangka bahwa Suster dengan baju warna abu-abu adalah pimpinan dan yang putih anggota biasa. 

"Ooh saya kira baju putih yang jabatannya rendah terus yang baju abu-abu pimpinan."

Penulis  kemudian menjelaskan bahwa baju para suster semua sama.

 "Ooh bukan pak, semua suster bajunya sama, baik anggota maupun. Yang yang membedakan hanya hari waktu memakainya. Berbeda dengan dunia Pencak Silat, baju atau sabuk pemain dapat memperlihatkan tingkat kemahiran ilmunya. Semakin gelap sabuk ban-nya semakin tinggi ilmu dan kemahiran bermain silatnya.

"Ooo orangnya sama, saya kira beda." 

Usai mendapat penjelasan, Pak Bawor mengucapkan terima kasih dan berjanji besok mau foto bareng Suster Lusi di booth Santa Maria.

Hari kedua Pameran, Pak Bawor menyapa Suster Lusi saat sedang menulis di meja dekat stand. Kemudian terjadilah perbincangan antara Suster Lusi dan Pak Bawor. Omong punya omong tentang “dunia persilatan” akhirnya sampai pada bagaimana memanfaatkan kemahiran silat dengan ‘bijaksana’.

Pak Bawor yang setengah baya dan sudah mengantongi sabuk hitam itu bercerita, sejak ia belajar ilmu pencak silat ia lebih sering menghindari perkelahian. Lebih baik menghindar kalau masih mungkin. Namun tidak menutup kemungkinan bila keadaan mendesak dan harus membela diri semampunya. 

Lalu Pak Bawor memberikan tips-tips yang bisa berguna untuk membela diri dalam keadaan terdesak khususnya untuk para perempuan terhadap serangan orang jahat. Pak bawor berusaha memperlihatkan cara-cara dan metode dengan cukup serius. Mana titik-titik lemah seseorang dan bagaimana harus melumpuhkannya. 

Pak Bawor kemudian menjelaskan cara membela diri bila terdesak. Letak kelemahan setiap manusia hanya berjarak lima jari. Di bagian kepala dimulai dari titik hidung kemudian jarak lima jari ke bawah yaitu leher, lima jari kebawah lagi ulu hati atau di perut bagian atas, lima jari kebawah kemudian adalah pusar dan terakhir adalah alat reproduksi.

Sedangkan dari samping jika dimulai dari titik hidung, ke samping lima jari yaitu telinga kanan maupun kiri menjadi kelemahan. 

“Di titik tersebut anda dapat memukulnya bila dalam keadaan terdesak.” Terang Pak Bawor. 

Telinga kanan dan kiri bila dipukul dengan keras secara bersamaan menggunakan telapak tangan yang membentuk cekungan dapat menyebabkan rusaknya gendang telinga. Lanjut Pak Bawor.

Dari bincang-bincang itulah Pak Bawor dan Suster Lusi semakin mengenal. Sesuai dengan museum Pencak Silat yang dikelolanya, Pak Bawor memberikan pengetahuan yang dimilikinya dalam membela diri untuk bersahabat. Perbincangan diakhiri dengan foto bersama di booth Museum Santa Maria.***

Sabtu, 07 September 2019

De refter

Pada Masa lalu Ruang makan di Biara Santa Maria Juanda seperti tampak dalam gambar. Ruang makan Suster terpisah dari ruang makan asramawati. Ruang makan yang cukup luas dengan meja lengkap dengan kursi di satu sisi menghadap ke tengah ruangan. Ruang makan didesain luas dan tampak lega karena fungsinya untuk makan bersama juga untuk rekreasi bersama dan pesta.

Tradisi makan di nusantara tidak mengenal ruang makan. Pada umumnya kaum bumiputra duduk santai di lantai ketika makan dan mengalasi makanan mereka dengan selembar daun pisang atau piring kayu

Namun tentu saja, ada perbedaan gaya antara khalayak dan kaum ningrat dalam soal etika makan. Kendati sama-sama menggunakan tangan, ada aturan khusus yang dianut para bangsawan. Di antaranya saat makan dilarang keras bercakap-cakap atau mengangkat satu kaki serta harus mendahulukan orang yang paling tua.

Sebagian kaum elit bumiputra kemudian mulai menerima kebiasaan makan orang-orang Eropa. Contohnya dengan menggunakan sendok dan garpu. Tentunya penggunaan alat-alat makan khas Eropa itu sudah mengalami penyesuaian mengingat pisau tak biasa digunakan.

Etika makan orang Eropa yang masih terjejaki hingga kini adalah prasmanan. Kata “prasman” mengacu pada cara makan orang “fransman”, sebutan orang Belanda kepada orang Prancis, yang sering menyajikan makanan dengan ditaruh di atas meja. Orang-orang Prancis sendiri menyebut cara ini dengan nama buffet

Istilah buffet sendiri diartikan sebagai meja besar yang ditaruh dekat pintu masuk restoran-restoran. Di atas meja, hidangan disusun para pelayan dengan maksud agar para tamu mendatangi meja tersebut dan memilih sendiri makanan yang diminatinya.

Cara “fransman” ini kemudian diikuti orang-orang Belanda. Menurut Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara, cara ini juga diadopsi orang-orang bumiputra dan cukup diminati hingga kini. Karena kaum bumiputra sulit melafalkannya, cara ini pun disebut “makan prasman” lantas menjadi “makan prasmanan”.

Pengadopsian prasmanan oleh kaum bumiputra, terutama kaum ningratnya, “menghancurkan” secara perlahan tradisi makan cara lama. Sebelumnya tradisi makan dalam suatu perhelatan diberlakukan dengan konsep selametan: para tamu dibawakan berbagai sajian untuk disantap bersama dalam masing-masing piring atau wadah lain. 
Bahwa makanan punya efek politik bukan soal baru. Zaman dulu food diplomacy telah di praktekkan oleh para raja di pelbagai belahan dunia untuk menjamu para tamu kerajaan. Tradisi itu juga terus berlaku di dunia politik modern. Dari Presiden sampai pemimpin partai politik memakai diplomasi makanan untuk mempererat relasi antar kawan atau mencairkan suasana tegang dengan lawan. Makanan juga menjadi sarana mengentertain relasi bisnis agar lancar. Meski pada akhirnya tidak semua sukses tetapi hasil dari entertain ini lebih banyak yang berhasil.

Ketika para suster menjadi misionaris di tanah asing, kebiasaan atau tradisi yang sudah ada tetap diteruskan. Kehidupan sehari-hari mereka masih sangat dipengaruhi oleh tradisi monastik saat itu. Misalnya, pada saat-saat bekerja tanpa banyak berbicara, atau disebut “silentium” untuk “menjaga keheningan”.

Ada saat-saat bebas berbicara yaitu pada jam-jam rekreasi bersama setelah makan malam bersama atau pada saat di mana ada pesta/peringatan/acara khusus. Pada saat itu Pemimpin Komunitas akan mengatakan dalam bahasa Latin “Benedicamus Dominum” (=Mari Memuji Tuhan) maka biasanya spontan akan dijawab bersama oleh para suster “Deo Gratias” (=Terima kasih Tuhan) yang berarti para suster boleh mulai saling berbicara satu sama lain.

Ketika sudah waktunya untuk kembali silentium, Pemimpin Komunitas akan mengatakan dalam Bahasa Belanda Geloofd zij Jesus Christus (=Terpujilah Yesus Kristus), biasanya ditanggapi dengan gerakan “menutup mulut dengan jari” sebagai tanda untuk kembali masuk pada suasana hening. Untuk menjaga situasi hening di dalam biara, maka pada pintu masuk biara sering ada tulisan “Clausura”, agar mengingatkan semua saja yang akan memasuki bagian dalam biara. 

Saat ini tradisi makan bersama masih berlangsung . Bahkan waktu makan malam diperpanjang karena di tambah dengan rekreasi. Para suster tidak beranjak dari ruang makan dan menggabungkan waktu rekreasi dengan santap malam. Pada masa masa tertentu seperti perayaan natal atau tahun baru santap malam dan rekreasi dibuat lebih meriah. Setiap suster menampilkan performance menghibur di tengah tengah ruangan.***

sumber:
1. kaskus.co.id
2. Buku: Ursulin Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia

Senin, 12 Agustus 2019

Dua Suster Dua Museum


Senin siang (22/7/2019) dua suster dengan seragam berbeda datang ke Museum Santa Maria. Setiba di museum, mereka disambut Suster Lucia, penanggung jawab museum Santa Maria. Di kantor suster Lucia, kedua Suster itu menyampaikan niatnya bahwa mereka ingin belajar membangun museum dan pengelolaanya.

Dua suster itu ternyata kakak beradik dari dua konggregasi berbeda. Suster Ignasio sang kakak menetapkan pilihan menjadi biarawati konggregasi SPM (Santa Perawan Maria) sedangkan adiknya, Suster Imeldi, memilih bergabung dengan konggregasi OSF (Para Suster Dari Santo Fransiskus). Konggregasi itu sendiri adalah komunitas biarawan atau biarawati dalam gereja katolik.

Konggregasi SPM berkarya di Indonesia sejak 1926 sedangkan Konggregasi OSF memulai karya di Indonesia sejak 1870. Karya mereka selain pendidikan adalah Rumah Sakit, Panti Asuhan dan beberapa karya lain. Pelayanan dan karya dua konggregasi tersebut menjadi bagian perjalanan Bangsa Indonesia hingga saat ini dan masih akan terus berlangsung.



Para perintis karya dan pelayanan kedua konggregasi itu layak untuk dihormati dan dikenang karena karya mereka sungguh bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu perlu dibuat museum untuk mengenangkan perjuangan para perintis dalam memulai karya di Indonesia. Dua konggregasi itu, SPM dan OSF yang diwakili kakak beradik Suster Ignasio SPM dan Suster Imeldi OSF masing masing berencana membuat museum. Artinya akan ada dua museum lagi yang berdiri. Semakin banyak museum semakin memudahkan masyarakat untuk belajar sesuai pilihan.

Museum yang akan dibuat menjadi sarana pendidikan bagi para milenial untuk belajar bagaimana para pendahulu berjuang, menjaga dan merawat karya dan pelayanan dengan penuh kesetiaan. Apalagi karya dan pelayanan mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat. Semakin baik bila setelah dari museum, mereka dapat belajar kemudian bergabung dan turut serta mengembangkan karya yang sudah ada sehingga semakin bermanfaat bagi masyarakat.

Sebelum pamit , kedua Suster kakak beradik yang sedang liburan sekaligus studi banding itu menuliskan pesan di buku tamu, “Bagus sekali, luar biasa data jaman ke jaman sejarah misi suster Ursulin di Indonesia Jakarta. Museum ini amat penting untuk pembelajaran anak muda dan yang berkunjung,” tulis Suster Imeldi OSF. Sedangklan Suster Ignasio menulis “Mengagumkan dan sangat terinspirasi.”

Terima kasih atas kunjungannya Suster berdua, semoga cita-citanya membangun museum dapat terwujud.***

Senin, 05 Agustus 2019

Alasan Ke Museum Santa Maria


Museum Santa Maria sering kedatangan turis asing dari berbagai negara. Ada yang datang berkunjung karena saat lewat melihat papan nama museum. Ada juga yang sengaja datang karena ternyata ada kenangan masa lalu atau melacak jejak leluhur. 

Seperti keluarga Paul Geelen dari Belanda. Ia bersama istrinya, Van de Moesel dan putranya, Lennard Geelen mengunjungi Museum Santa Maria, Senin 1 Juli 2019. Mereka datang untuk melihat Sekolah Santa Maria tempat mama Van de Moesel dulu pernah sekolah.

Di depan pemandu, Van de Moesel bercerita sambil mengeluarkan peta dan beberapa catatan hasil cetak dari internet tentang kawasan yang dulu bernama Molenvliet. 

Mamanya dulu tinggal di sekitar Molenvliet yang sekarang bernama Jalan Hayam Wuruk. Mamanya sekolah di Sekolah Kepandaian Putri di Jalan Batu Tulis, sekarang menjadi SMP Santa Maria. Setiap hari jalan kaki pergi dan pulang sekolah. 

Setelah lulus dari Santa Maria ia masih tinggal di Batavia sampai sampai papanya meninggal tahun 1949. Setelah itu ia pergi ke negeri Belanda. Namun di kapal, semua kumpulan surat penting dicuri orang. Ia jengkel dan enggan kembali ke Indonesia.

Usai menyimak cerita Van de Moese, Pemandu kemudian mengajaknya keliling museum. Di ruang Angela mereka terkejut melihat kota Sittard ada dalam history wall. 

Rumah mereka tidak jauh dari Sittard, terjangkau dengan bersepeda. Paul Geelen bercerita ia sering lewat tapi tidak pernah singgah. Justru ia lebih sering pergi dan singgah di negara negara tropis.

Di Museum Santa Maria, mereka mengagumi kebun biara “I would only sit here and enjoying it. So lovely and in the middle of Jakarta you don’t hear noise. So quite here. It’s very lovely place” komentar Van de Moesel. 

Usai keliling museum, mereka dihantar menuju area SMP Santa Maria tempat dulu mamanya sekolah. Ia ingin melihat sekolah mamanya dulu sekaligus pamit. 

Mereka masih akan menelusuri Molenvliet dengan berjalan kaki dan sepulangnya nanti ia akan ceritakan semuanya kepada mamanya.***



Jumat, 02 Agustus 2019

Saya Harus Datang Lagi


 

Apa yang menarik dari Museum Santa Maria? Pertanyaan itu muncul di benak Pak Chandrian, pensiunan kepala Balai Konservasi dan Cagar Budaya, saat mengunjungi Museum Santa Maria (Kamis, 4/7/ 2019). 

Setelah lebih dari satu jam keliling, Pak Chandrian berubah dari semula bertanya menjadi yakin Museum Santa Maria memiliki banyak hal yang istimewa dan ia merasa harus datang lagi.

Suster Lucia, menyambut dan mempersilahkan masuk ke ruang kantornya. Berkemeja batik motif bunga warna warni dan bercelana bahan warna hitam, tak lupa tas punggung yang enggan dilepas saat ditawarkan untuk disimpan “Enggak usah, masih kuat bawa ini (tas punggung) terima kasih,” Kata Pak Chandrian. 

Usai bertemu singkat dengan Suster Lucia, tour keliling museum dimulai.

Dari jam 11.15 ditemani Harun, Mahasiswa S2 yang sedang riset dan Silfano Hafid, reporter BBC yang memang ada janji dengan Pak Chandrian, mereka bertiga diajak tour keliling museum dan komplek Santa Maria.

Ruang ANGELA dan MISI menjadi tempat diskusi masa kolonial. Diskusi yang seru dan menarik karena banyak hal di masa Jakarta bernama Batavia yang belum terungkap ke publik. 
Dari Museum, lanjut ke area sekolah dan kapel. Di depan kapel Santa Maria, Pak Chandrian menatap sejenak gedung kapel sebelum melongok ke dalam. 

Melihat ada logo ayam jago di puncak menara kapel, Pak Chandrian teringat gereja-gereja di Jakarta yang ada logo ayam jago. “di Jakarta seingat saya ada beberapa gereja yang ada ayam jagonya, kalo ditambah disini berarti ada lima. Di gereja ayam pasar baru, gereja Paulus, Gereja di taman mini, satu lagi dimana saya agak lupa terus disini.”

Interior dan furniture kapel masih terawat baik. Jendela, dengan kaca patrinya, lantai dengan corak yang khas jaman kolobial serta atap yang melengkung cukup menggoda mata untuk mengabadikannya. Di dalam kapel, Pak Chandrian dan yang lain hanya sebentar saja, tetapi tak lupa mengabadikan interior kapel dengan gawainya.

“Tadi di awal saya bertanya dalam hati, apa menariknya museum Santa Maria. Tapi setelah keliling sebentar, kok ada yang menarik, masuk lagi kok ada lagi yang menarik. Sepertinya saya harus datang lagi karena hari ini waktunya terbatas.” Komentar Pak Chandrian selepas dari kapel.

Hampir jam dua siang saat mereka pamit. Saat diminta menuliskan pesan Pak Chandrian menulis singkat “Terkesan” Apakah itu tanda Pak Chandrian benar akan datang lagi? Kita tunggu saja.***



Jumat, 26 Juli 2019

Meja Marmer Bundar

Benda koleksi museum yang dipamerkan, bagi sebagian besar pengunjung merupakan barang antic dan kuno. Benda-benda itu tidak memiliki makna apapun selain kekunoan dan keantikanya. Berbeda bagi mereka yang mengalami peristiwa. Ibu Maya dan Ibu Chatarian alumni Sekolah Kepandaian Putri (SKP) lulus tahun 1981 berkunjung ke kampus Santa Maria, (29/6/2019). Mereka kagum karena kampus almamaternya sekarang ada Museum. Saat melihat barang koleksi museum ada satu koleksi yang mengingatkannya pada peristiwa lampau semasa sekolah.

Ibu Maya mengisahkan, saat masuk di ruang relikui melihat ada meja marmer bundar dengan bekas patahannya. Meja marmer bundar itu mengingatkan Ibu Maya dan Ibu Catharina saat pelajaran memasak. Ceritanya saat praktek menghidangkan masakan di meja makan. Saat itu ada seorang murid yang meletakkan makanan “juanlo” di atas meja itu dan tiba tiba pecah. Entah pecah karena meletakkan panci juanlo tanpa alas atau meletakkanya terlalu keras , tidak jelas karena meskipun kaget, masing-masing murid sibuk dengan tugasnya. 
Sayang, Ibu Maya dan Ibu chatarina hanya sebentar. Mereka berdua sedang menunggu seorang teman sesama alumni yang sudah janji mau bertemu dengan guru mereka saat masih sekolah, Suster Ancilla. Saat yang ditunggu telah tiba, Ibu Maya dan Ibu Catharina pamit. Mereka berjanji akan datang lagi membawa rombongan. Di buku tamu ia menuliskan kesannya “KEREN & INSIRATIF”.

Meja Marmer itu sendiri tidak diketahui persis kapan digunakan sebagai meja praktek di SKP. Sampai saat ini tidak ditemukan catatan atau tulisan yang menjelaskan tentang meja marmer itu. Yang pasti Museum masih merawat dan menjaganya, termasuk peristiwanya. Terima kasih Ibu Maya dan Ibu Chatarina atas kunjungan dan ceritanya. ***



Peran Strategis Museum bagi Kemajuan Bangsa



Museum Santa Maria turut hadir dalam launching buku Mugalemon Jakarta dalam rangkaian Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober. Peluncuran buku dilakukan di Museum Seni Rupa dan Keramik di kawasan Kota Tua Jakarta Jumat, 19 Oktober 2018. Mugalemon merupakan singkatan dari Museum, Galeri, dan Monumen.

Launching dilakukan dengan penyerahan buku secara simbolis oleh perwakilan Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pamudji Lestari kepada perwakilan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Paramita Jaya, dan komunitas komunitas yang hadir.

“Peran museum sangat strategis dalam mendefinisikan identitas dan kemajuan suatu bangsa. Salah satu cara untuk memberikan pemahaman kepada pengunjung akan identitas dan kemajuan tersebut adalah melalui rekonstruksi memori kolektif. Dengan demikian, museum sebagai institusi pendidikan, pelestarian, dan pemajuan budaya berperan strategis dalam membentuk identitas dan jati diri masyarakat dan Bangsa Indonesia. “ Demikian pernyataan Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam sambutannya yang tercantum di buku Mugalemon.
Sementara Bapak Putu Supadma Rudana, Ketua Asosiasi Museum Indonesia berharap buku Mugalemon menjadi bentuk dokumentasi dan promosi bagi museum, galeri dan monument di wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Sedangkan Pak Yiyok T. Herlambang, Ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) DKI Jakarta Paramita Jaya menyatakan bahwa buku Mugalemon dihadirkan sebagai bentuk kerjasama antara AMIDA Paramita Jaya dengan berbagai pihak untuk memajukan MuGaleMon di DKI Jakarta dan menjadikannya destinasi favorit serta dalam rangka menyambut Hari Museum Indonesia.

Buku Mugalemon sendiri hadir dengan cover berwarna dominan merah dan karikatur Tugu Monas lambang Jakarta dan ondel-ondel. Buku tersebut berisi daftar Mugalemon yang tergabung di AMIDA DKI Paramita Jaya diantaranya 46 Museum, 11 Galeri dan 2 Monumen. Meskipun ada beberapa kelemahan seperti penempatan peta yang tidak sesuai dengan nama museumnya, buku tersebut tetap layak dimiliki masyarakat umum pencinta sejarah dan penggiat pariwisata .***

Kamis, 11 Juli 2019

Gerak Tangan Isyarat dari Komunitas Patuka




Paguyuban Tuli Katolik Katedral (Patuka) mengunjungi Museum Santa Maria Minggu, 12/5/2019. Kunjungan ke museum ini sebagai salah satu kegiatan rutin setiap minggu yang dilakukan paguyuban usai Misa (berdoa) bersama di Katedral.

Saat dihubungi Pak Daniel, Koordinator Patuka, pemandu menyatakan kebingungannya bagaimana memandu para tamu tersebut. Pak Daniel pun menenangkan dengan mengatakan ada interpreter yang ikut mendampingi. Kemudian Pak Daniel menyampaikan jumlah peserta yang ikut paling banyak 40 orang. Tetapi saat berkunjung ternyata 47 anggota paguyuban hadir ditambah empat interpreter.

Pihak museum segera menyiapkan ruangan untuk menyambut dan film yang biasa diputar termasuk sound system. Tengah hari mereka tiba bergelombang. Yang sudah datang dipersilahkan menunggu dan duduk lesehan di hall museum,sambil ditemani iringan musik instrument dari laptop. Musik yang diputar ternyata tidak bermanfaat karena yang mendengar hanya lima orang, 4 penerjemah dan Pak Aji, pemandu museum. Di ruangan itu meski penuh orang namun suasana tidak berisik. Mereka tampak sibuk dengan lawan bicaranya dengan Bahasa isyarat menggunakan gerak tangan dan jari mereka. Kadang-kadang terdenga suara yang tidak jelas di telinga Pak Aji. 
Pak Aji tersenyum karena merasa terasing di rumah sendiri. Hanya ia sendiri yang tidak bisa berbahasa isyarat. 




Pak Aji mulai menyadari bagaimana rasanya terasing. Pengalaman ini menjadi refleksi diri agar semakin peduli pada sesama yang membutuhkan perhatian khusus dan disabilitas. Museum sepertinya harus berbenah karena mereka yang berkebutuhan khusus juga ingin merasakan dan menikmati kunjungan ke museum.

Saat perkenalan, Pak Aji dibantu Pak Daniel, interpreter, memperkenalkan diri. Pak Aji mengeja huruf-huruf namanya menggunakan gerakan jari dan tangan. Salah seorang peserta menanggapi dengan tambahan gerak tangan sambil tertawa, setelah dijelaskan Pak Daniel ternyata peserta itu menambahkan huruf H di depan nama Aji menjadi HAJI.

Karena peserta cukup banyak sementara pemandu yang bertugas hanya satu orang maka, rombongan dibagi dua kelompok. Kelompok satu akan berkeliling terlebih dahulu, sementara kelompok dua menunggu sambil menonton film pendek museum.

Kelompok satu ditemani Mba Oty sebagai penerjemah dan Pak Daniel mendampingi kelompok dua. Selama tour museum, seluruh peserta fokus menatap  Mba Otty dan Pak Daniel, maklum karena hanya mereka berdua yang mampu menjelaskan dengan Bahasa isyarat semua penjelasan Pak Aji tentang museum. Selama tour mereka tertib dan mengikuti arahan pemandu tidak terdengar suara berisik meskipun peserta cukup banyak.

Jam 15.30 mereka pamit. Meski tidak mampu mendengar dan berbicara dengan baik, mereka mampu membaca tulisan dengan baik. Beberapa peserta saat pulang menuliskan kesan mereka selama berkunjung ke Museum Santa Maria. “Museum Menarik” Tulis Juniati. Wilma Redjeki menulis “Banyak menakjubkan di museum ini” Sementara beberapa yang lain menulis kesan dan pesan yang sama “Museum menarik”.***





Kamis, 04 Juli 2019

HUB menjadi Platform interaksi Museum dengan Masyarakat

Temu Mugalemon (Museum Galeri Monumen) Sabtu 18/5/2019 menjadi penutup rangkaian perayaan HUT Sewindu Museum Santa Maria terasa istimewa karena berbarengan dengan International Museum Day. Rangkaian HUT dimulai dengan peresmian papan nama Museum Santa Maria di halaman Kampus Santa Maria Jl. Ir. H. Juanda pada 6 Februari lalu.

International Museum Day menghadirkan Max Meijer dari International Council Of Museum Netherland. Mengutip materi yang sudah diterjemahkan oleh Bapak Piter Edward, Max Meijer memaparkan tentang hub “Ide terkait sebuah hub (yang secara harfiah berarti bagian tengah sebuah roda) cukup popular digunakan akhir-akhir ini. 

Selain itu juga sedikit modis digunakan untuk mendefinisikan semua jenis pengaturan dan organisasi yang berjaringan sebagai hub. Istilah ini banyak digunakan di sektor-sektor seperti transportasi dan logistik, maskapai penerbangan, teknologi informasi, dan industri kreatif. Di sana, hub dilihat sebagai tempat fisik dan juga sebuah cara kerja. 

Penggambaran museum sebagai hub adalah sangat cocok, terlebih sejak kebanyakan museum bahkan di tingkat internasional, dibangun dan dikembangkan semakin menjadi sebuah platform untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan masyarakat di satu sisi dan dengan orgranisasi-organisasi lain yang terkait di sisi sebaliknya. “


Max Meijer juga menegaskan bahwa museum di Indonesia sebagai hub sangat tepat. “Ide sebagai hub sangat tepat bagi tradisi kebudayaan dan museologikal serta perkembangannya di Indonesia yang merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya dengan indentitas national dan kedaerahan yang kuat. “

Max juga mengajak para insan museum untuk berefleksi dalam berproses membentuk hub. “Kemungkinan, tantangan dan pembentukan dari pada hub itu sendiri pertama harus direfleksikan oleh museum itu sendiri, kemudian yang kedua dapat di jabarkan dalam organisasi museum tersebut di level yang berbeda: Misi dan visi, Tata Kelola organisasi, Jaringan, Skill karyawan, Inklusif”

Ia juga mengingatkan jika ide tentang hub adalah sesuatu yang baik maka museum harus bertanya kepada diri sendiri apakah sejalan dengan visi & misi museum tersebut?
Dalam daftar registrasi tercatat 107 perwakilan tamu dari berbagai museum yang ada di Jakarta dan sejumlah undangan menghadiri International Museum Day sekaligus Temu Mugalemon, di Aula SD Santa Maria, Jakarta Pusat.

Temu Mugalemon juga diisi dengan pengumuman pemenang lomba fotografi. Sebelum mengumumkan pemenang, Arbain Rambey ketua Juri menyampaikan beberapa kesan terkait lomba foto. “Lomba fotografi Museum Santa Maria termasuk salah satu lomba yang sulit karena banyak benda koleksi yang disimpan dengan kaca. Fotografer Profesionalpun akan kesulitan untuk memotret obyek kaca di sini.” 

Lomba Fotografi dimenangkan oleh Agustinus Eko Widyanto, sedangkan juara dua dan tiga Surjadi Martana dan Nico. Acara yang dimulai sejak jam 10 diakhiri dengan tour museum sampai jam 14.00.***


Jumat, 21 Juni 2019

Kesan Mendalam Para Juri


Lomba Foto HUT Sewindu Museum Santa Maria ternyata memberi kesan mendalam bagi para juri. 

Romo Haryanto PR, (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia) baru sadar ada banyak bagian dari Museum Santa Maria yang terlewat meski sudah pernah berkunjung. 

Sementara Suster Maureen Damayanto, OSU setelah melihat karya peserta, menemukan emosi tersendiri. Tak ketinggalan Arbain Rambey, fotografer senior KOMPAS yang menjadi relawan di Museum sejak 2015 memberikan testimoni betapa lomba fotografi Museum Santa Maria termasuk lomba yang sangat sulit, tetapi peserta mampu menghasilkan foto-foto yang bagus.

“Lomba foto museum Santa Maria ini kalo lihat hasilnya kok gitu gitu aja, padahal ini tema yang sangat sulit. Satu, di museum itu banyak kacanya, tanpa peralatan lampu efek yang memadai itu sangat susah memotret benda yang terselubung kaca. Juga ruangannya sempit dan juga pesertanya juga umumnya bukan professional. Professional pun akan pusing kalo lihat museum (Santa Maria) karena memang tidak gampang. Secara keseluruhan foto-foto Santa Maria ini bagus,” Terang Arbain Rambey saat menghadiri International Museum Day Sabtu 18 Mei yang lalu. 

Sementara Mosista Pambudi, via jalur pribadi Whatsapp mengungkapkan harapannya agar sinergi penyelenggara dan peserta lomba foto memunculkan karya yang pada akhirnya menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada masyarakat umum. 

"Menyimak karya-karya peserta dalam lomba foto Museum Santa Maria 2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa sinergi yang baik antara penyelenggara dan peserta akan dapat memunculkan karya-karya fotografi berkualitas yang diharapkan mampu menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada khalayak."
Romo Haryanto yang dihubungi via Whatsapp mengungkapkan bahwa Foto mengungkapkan berbagai peristiwa perjalanan kehidupan manusia. Foto banyak bicara meskipun tidak banyak kata. 

Museum menjadi saksi sejarah kemajuan peradaban manusia. Keberadaan museum membawaku bersyukur ada yang memulai, memelihara dan mengembangkan. 

“Foto-foto yang kulihat dari karya-karya peserta lomba membawaku makin detil mengetahui Museum Santa Maria. Ternyata ada yang lepas dari perhatianku meski aku pernah berkunjung ke museum ini. Lewat karya foto ini aku juga makin tahu bagian mana yang menjadi bagian menarik. Lewat foto-foto ini aku juga makin tahu ekspresi ketika orang menyaksikan masa lalu.”

Romo Hary juga mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba sebagai juri. “ Terimakasih boleh terlibat dalam lomba ini. Terimakasih untuk para fotografer yang telah jeli mengamati obyek dan menjadikan subyek menarik. 

Jepretan teman-teman telah membawaku pada sejarah panjang Ursulin. Banyak orang telah terlibat menanam dan memelihara kehidupan. Dan pastinya Allah sendiri yang memberi pertumbuhan dan pernyataan. Tuhan memberkati. Rm Antonius Haryanto (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia),” tulisnya.

Suster Maureen, OSU lain lagi. Saat dihubungi via jalur pribadi Whatsapp ia mengatakan lewat tulisan bahwa biasanya sebuah museum umumnya menghantar orang pada konotasi "kuno, antik".

Sesungguhnya museum juga membawa kita pada masa kini dan masa mendatang. Museum senantiasa "up to date". Pengalaman yang membuka wawasan budi dan hati mengenai makna keberadaan sebuah museum di era digital. Sejarah - Art - Estetika diteropong melalui "mata" kekinian menghadirkan emosi tersendiri.

Suster Maureen sebagai penyuka fotografi namun mengakui dirinya masih amatir mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba foto HUT Sewindu Museum Santa Maria sebagai juri. Tak lupa juga mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba Fotografi.***

Bedanya Seragam Suster & Seragam Silat

Kehadiran Museum Santa Maria di pameran museum di DPR-RI dalam rangka HUT nya yang ke 28 cukup menarik perhatian.  Pak Bawor, salah...