Kamis, 11 Juli 2019

Gerak Tangan Isyarat dari Komunitas Patuka




Paguyuban Tuli Katolik Katedral (Patuka) mengunjungi Museum Santa Maria Minggu, 12/5/2019. Kunjungan ke museum ini sebagai salah satu kegiatan rutin setiap minggu yang dilakukan paguyuban usai Misa (berdoa) bersama di Katedral.

Saat dihubungi Pak Daniel, Koordinator Patuka, pemandu menyatakan kebingungannya bagaimana memandu para tamu tersebut. Pak Daniel pun menenangkan dengan mengatakan ada interpreter yang ikut mendampingi. Kemudian Pak Daniel menyampaikan jumlah peserta yang ikut paling banyak 40 orang. Tetapi saat berkunjung ternyata 47 anggota paguyuban hadir ditambah empat interpreter.

Pihak museum segera menyiapkan ruangan untuk menyambut dan film yang biasa diputar termasuk sound system. Tengah hari mereka tiba bergelombang. Yang sudah datang dipersilahkan menunggu dan duduk lesehan di hall museum,sambil ditemani iringan musik instrument dari laptop. Musik yang diputar ternyata tidak bermanfaat karena yang mendengar hanya lima orang, 4 penerjemah dan Pak Aji, pemandu museum. Di ruangan itu meski penuh orang namun suasana tidak berisik. Mereka tampak sibuk dengan lawan bicaranya dengan Bahasa isyarat menggunakan gerak tangan dan jari mereka. Kadang-kadang terdenga suara yang tidak jelas di telinga Pak Aji. 
Pak Aji tersenyum karena merasa terasing di rumah sendiri. Hanya ia sendiri yang tidak bisa berbahasa isyarat. 




Pak Aji mulai menyadari bagaimana rasanya terasing. Pengalaman ini menjadi refleksi diri agar semakin peduli pada sesama yang membutuhkan perhatian khusus dan disabilitas. Museum sepertinya harus berbenah karena mereka yang berkebutuhan khusus juga ingin merasakan dan menikmati kunjungan ke museum.

Saat perkenalan, Pak Aji dibantu Pak Daniel, interpreter, memperkenalkan diri. Pak Aji mengeja huruf-huruf namanya menggunakan gerakan jari dan tangan. Salah seorang peserta menanggapi dengan tambahan gerak tangan sambil tertawa, setelah dijelaskan Pak Daniel ternyata peserta itu menambahkan huruf H di depan nama Aji menjadi HAJI.

Karena peserta cukup banyak sementara pemandu yang bertugas hanya satu orang maka, rombongan dibagi dua kelompok. Kelompok satu akan berkeliling terlebih dahulu, sementara kelompok dua menunggu sambil menonton film pendek museum.

Kelompok satu ditemani Mba Oty sebagai penerjemah dan Pak Daniel mendampingi kelompok dua. Selama tour museum, seluruh peserta fokus menatap  Mba Otty dan Pak Daniel, maklum karena hanya mereka berdua yang mampu menjelaskan dengan Bahasa isyarat semua penjelasan Pak Aji tentang museum. Selama tour mereka tertib dan mengikuti arahan pemandu tidak terdengar suara berisik meskipun rombongan cukup banyak.

Jam 15.30 mereka pamit. Meski tidak mampu mendengar dan berbicara dengan baik, mereka mampu membaca tulisan cukup baik. Beberapa peserta saat pulang menuliskan kesan mereka selama berkunjung ke Museum Santa Maria. “Museum Menarik” Tulis Juniati. Wilma Redjeki menulis “Banyak menakjubkan di museum ini” Sementara beberapa yang lain menulis kesan dan pesan yang sama “Museum menarik”.***



Kamis, 04 Juli 2019

HUB menjadi Platform interaksi Museum dengan Masyarakat

Temu Mugalemon (Museum Galeri Monumen) Sabtu 18/5/2019 menjadi penutup rangkaian perayaan HUT Sewindu Museum Santa Maria terasa istimewa karena berbarengan dengan International Museum Day. Rangkaian HUT dimulai dengan peresmian papan nama Museum Santa Maria di halaman Kampus Santa Maria Jl. Ir. H. Juanda pada 6 Februari lalu.

International Museum Day menghadirkan Max Meijer dari International Council Of Museum Netherland. Mengutip materi yang sudah diterjemahkan oleh Bapak Piter Edward, Max Meijer memaparkan tentang hub “Ide terkait sebuah hub (yang secara harfiah berarti bagian tengah sebuah roda) cukup popular digunakan akhir-akhir ini. 

Selain itu juga sedikit modis digunakan untuk mendefinisikan semua jenis pengaturan dan organisasi yang berjaringan sebagai hub. Istilah ini banyak digunakan di sektor-sektor seperti transportasi dan logistik, maskapai penerbangan, teknologi informasi, dan industri kreatif. Di sana, hub dilihat sebagai tempat fisik dan juga sebuah cara kerja. 

Penggambaran museum sebagai hub adalah sangat cocok, terlebih sejak kebanyakan museum bahkan di tingkat internasional, dibangun dan dikembangkan semakin menjadi sebuah platform untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan masyarakat di satu sisi dan dengan orgranisasi-organisasi lain yang terkait di sisi sebaliknya. “


Max Meijer juga menegaskan bahwa museum di Indonesia sebagai hub sangat tepat. “Ide sebagai hub sangat tepat bagi tradisi kebudayaan dan museologikal serta perkembangannya di Indonesia yang merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya dengan indentitas national dan kedaerahan yang kuat. “

Max juga mengajak para insan museum untuk berefleksi dalam berproses membentuk hub. “Kemungkinan, tantangan dan pembentukan dari pada hub itu sendiri pertama harus direfleksikan oleh museum itu sendiri, kemudian yang kedua dapat di jabarkan dalam organisasi museum tersebut di level yang berbeda: Misi dan visi, Tata Kelola organisasi, Jaringan, Skill karyawan, Inklusif”

Ia juga mengingatkan jika ide tentang hub adalah sesuatu yang baik maka museum harus bertanya kepada diri sendiri apakah sejalan dengan visi & misi museum tersebut?
Dalam daftar registrasi tercatat 107 perwakilan tamu dari berbagai museum yang ada di Jakarta dan sejumlah undangan menghadiri International Museum Day sekaligus Temu Mugalemon, di Aula SD Santa Maria, Jakarta Pusat.

Temu Mugalemon juga diisi dengan pengumuman pemenang lomba fotografi. Sebelum mengumumkan pemenang, Arbain Rambey ketua Juri menyampaikan beberapa kesan terkait lomba foto. “Lomba fotografi Museum Santa Maria termasuk salah satu lomba yang sulit karena banyak benda koleksi yang disimpan dengan kaca. Fotografer Profesionalpun akan kesulitan untuk memotret obyek kaca di sini.” 

Lomba Fotografi dimenangkan oleh Agustinus Eko Widyanto, sedangkan juara dua dan tiga Surjadi Martana dan Nico. Acara yang dimulai sejak jam 10 diakhiri dengan tour museum sampai jam 14.00.***


Jumat, 21 Juni 2019

Kesan Mendalam Para Juri


Lomba Foto HUT Sewindu Museum Santa Maria ternyata memberi kesan mendalam bagi para juri. 

Romo Haryanto PR, (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia) baru sadar ada banyak bagian dari Museum Santa Maria yang terlewat meski sudah pernah berkunjung. 

Sementara Suster Maureen Damayanto, OSU setelah melihat karya peserta, menemukan emosi tersendiri. Tak ketinggalan Arbain Rambey, fotografer senior KOMPAS yang menjadi relawan di Museum sejak 2015 memberikan testimoni betapa lomba fotografi Museum Santa Maria termasuk lomba yang sangat sulit, tetapi peserta mampu menghasilkan foto-foto yang bagus.

“Lomba foto museum Santa Maria ini kalo lihat hasilnya kok gitu gitu aja, padahal ini tema yang sangat sulit. Satu, di museum itu banyak kacanya, tanpa peralatan lampu efek yang memadai itu sangat susah memotret benda yang terselubung kaca. Juga ruangannya sempit dan juga pesertanya juga umumnya bukan professional. Professional pun akan pusing kalo lihat museum (Santa Maria) karena memang tidak gampang. Secara keseluruhan foto-foto Santa Maria ini bagus,” Terang Arbain Rambey saat menghadiri International Museum Day Sabtu 18 Mei yang lalu. 

Sementara Mosista Pambudi, via jalur pribadi Whatsapp mengungkapkan harapannya agar sinergi penyelenggara dan peserta lomba foto memunculkan karya yang pada akhirnya menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada masyarakat umum. 

"Menyimak karya-karya peserta dalam lomba foto Museum Santa Maria 2019 dapat ditarik kesimpulan bahwa sinergi yang baik antara penyelenggara dan peserta akan dapat memunculkan karya-karya fotografi berkualitas yang diharapkan mampu menyuarakan keberadaan dan fungsi museum kepada khalayak."
Romo Haryanto yang dihubungi via Whatsapp mengungkapkan bahwa Foto mengungkapkan berbagai peristiwa perjalanan kehidupan manusia. Foto banyak bicara meskipun tidak banyak kata. 

Museum menjadi saksi sejarah kemajuan peradaban manusia. Keberadaan museum membawaku bersyukur ada yang memulai, memelihara dan mengembangkan. 

“Foto-foto yang kulihat dari karya-karya peserta lomba membawaku makin detil mengetahui Museum Santa Maria. Ternyata ada yang lepas dari perhatianku meski aku pernah berkunjung ke museum ini. Lewat karya foto ini aku juga makin tahu bagian mana yang menjadi bagian menarik. Lewat foto-foto ini aku juga makin tahu ekspresi ketika orang menyaksikan masa lalu.”

Romo Hary juga mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba sebagai juri. “ Terimakasih boleh terlibat dalam lomba ini. Terimakasih untuk para fotografer yang telah jeli mengamati obyek dan menjadikan subyek menarik. 

Jepretan teman-teman telah membawaku pada sejarah panjang Ursulin. Banyak orang telah terlibat menanam dan memelihara kehidupan. Dan pastinya Allah sendiri yang memberi pertumbuhan dan pernyataan. Tuhan memberkati. Rm Antonius Haryanto (Sekretaris Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia),” tulisnya.

Suster Maureen, OSU lain lagi. Saat dihubungi via jalur pribadi Whatsapp ia mengatakan lewat tulisan bahwa biasanya sebuah museum umumnya menghantar orang pada konotasi "kuno, antik".

Sesungguhnya museum juga membawa kita pada masa kini dan masa mendatang. Museum senantiasa "up to date". Pengalaman yang membuka wawasan budi dan hati mengenai makna keberadaan sebuah museum di era digital. Sejarah - Art - Estetika diteropong melalui "mata" kekinian menghadirkan emosi tersendiri.

Suster Maureen sebagai penyuka fotografi namun mengakui dirinya masih amatir mengucapkan terima kasih telah dilibatkan dalam lomba foto HUT Sewindu Museum Santa Maria sebagai juri. Tak lupa juga mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba Fotografi.***

Jumat, 07 Juni 2019

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Staff dan Relawan Museum Santa Maria mengucapkan 
Selamat Hari Raya  Idul Fitri 1 Syawal 1440 H, 
Mohon Maaf Lahir & Batin


Senin, 13 Mei 2019

ANEKA ULAH PESERTA LOMBA

Ulah peserta lomba foto HUT Sewindu Museum Santa Maria menarik perhatian. Lomba Foto yang pertama kali diselenggarakan Museum Santa Maria ini menarik minat banyak peserta dari awam sampai professional. Lomba foto dilangsungkan selama dua bulan dimulai 7 Februari dan ditutup 13 April 2019.

Namun karena kondisi pada 13 April di area Jakarta dilaksanakan kampanye akbar pemilu salah satu capres , lomba ditutup sehari lebih cepat. Panitia memutuskan Sabtu 13 April menjadi kesempatan bagi peserta lomba khusus untuk mengirimkan hasil karya via email.

Dalam aksinya, para peserta ada yang membawa kamera lengkap dengan peralatan dan perlengkapannya. Ada juga yang cukup bermodalkan Smartphone. Gaya para fotografer saat mengambil gambar pun bermacam-macam. Masing-masing peserta memaksimalkan kemampuan mereka untuk mengambil gambar. Ada yang berlutut, jongkok bahkan ada juga yang ‘berkilah’ pada panitia dengan mohon ijin membawa senter tetapi dalam prakteknya yang dibawa lampu senter dengan watt besar atau lampu sorot.





Setiap peserta juga memiliki gaya dalam memotret, ada yang membawa keluarganya untuk dijadikan model, ada juga yang mengajak anak sekolah. Yang paling sering menjadi “korban” adalah pemandu museum. Pemandu lebih sering diatur gayanya oleh para peserta terutama dalam mengambil moment saat memandu. Mereka bahkan datang beberapa kali untuk memastikan hasil karyanya maksimal.

Banyak dari peserta lomba foto adalah anggota komunitas dan sering bertemu dan berkompetisi di berbagai lomba foto. Diantara mereka sudah saling mengerti cara dan gaya atau ciri khas ‘lawan’nya. Tiap peserta pasti ingin memenangkan lomba. Salah satu caranya adalah strategi waktu. Salah satu syarat lomba adalah me-repost poster lomba di IG. Peserta yang sudah tahu sengaja menyimpan info tersebut. Setelah waktu lomba kurang beberapa hari barulah info lomba di repost dan di-share. 

Strategi ini sering digunakan para peserta dari berbagai komunitas untuk mengalahkan lawan dengan membuat mereka terburu-buru dan kesulitan mencari kesempatan hunting foto. Karena waktu mepet, maka ide pun terbatas. Mau tidak mau foto asal jadi yang dikirim. Bahkan ada yang tidak sempat hunting foto atau mengirimkan hasil karya. Ada juga yang tidak sempat repost poster lomba yang menjadi salah satu syarat lolos seleksi. Hal ini menjadikan peserta semakin sedikit karena banyak yang gagal di proses awal. Metode atau strategi Ini memang tidak melanggar peraturan karena syarat lomba dipenuhi sebelum lomba ditutup.***





Jumat, 10 Mei 2019

DIPERSIAPKAN menjadi ANTUSIAS dan KRITIS



Itulah ciri-ciri mereka. Dua puluh lima anak anak komuni pertama Sekolah Internasional Binus Serpong telah dipersiapkan untuk acara Minggu 28 April 2019, dengan Misa di Gereja Katedral dan mengunjungi Museum Santa Maria. Sudah 3 tahun berturut-turut Ibu Lusia ditemani dua Guru-guru Pembimbing dan beberapa orangtua, mengadakan kegiatan semacam ini. Persiapan itulah yang menyebabkan anak-anak begitu antusias, tertib mengikuti petunjuk dan sesekali terdengar arahan guru dalam Bahasa Inggris. Mereka pun membawa baju dan kaos untuk 2 kegiatan, misa dan kunjungan museum.

Kegiatan ini diharapkan memperkaya pengalaman dan pengetahuan anak-anak tentang sejarah gereja dan sekolah katolik awal sebelum mereka melangkah menerima Sakramen Krisma. “Biasanya mereka setelah dari SD Binus, banyak yang meneruskan SMP nya ke sekolah-sekolah katolik,” Ibu Lusia menjelaskan.
Setelah sampai di hall, Suster Lucia menyapa dan mengajak anak-anak menyanyikan lagu tahun berhikmat Keuskupan Agung Jakarta tahun 2019 “Kita Berhikmat Bangsa Bermartabat” Anak-anak hafal luar kepala dan bernyanyi dengan penuh semangat. Usai menyanyi, mereka diajak menonton film pendek tentang profil museum.

Saat diberi kesempatan bertanya, rasa ingin tahu anak – anak memuncak dan mereka banyak bertanya berbagai hal dari foto sampai simbol-simbol logo. “Sus, itu foto kapan dan dimana?” “Suster kenapa di logonya ada bintangnya?” “Suster kenapa bintang besar di logo Serviam hanya ada dua?” “Serviam itu artinya apa dan mengapa ada bintang-bintang?” Lambang bagi para murid sekolah Ursulin di seluruh dunia SERVIAM (=Aku mau mengabdi) dan detailnya rupanya menarik bagi mereka.

Mereka juga menanyakan detail Logo tentang pohon, paku dan bunga lili yang ada dalam lambang Soli Deo Gloria, Logo untuk para suster Ursulin di seluruh dunia. Satu per satu logo-logo serta maknanya dijelaskan, juga mengenai bangunan. Mereka serasa mendengar ‘dongeng’ dan mengangguk-angguk tanda puas.

Hari semakin siang, sementara anak-anak masih antusias bertanya, Suster akhirnya menutup sesi tanya jawab. Dua puluh lima anak itu dibagi dalam dua kelompok, masing-masing ditemani seorang pemandu.

Selama kurang lebih satu jam anak-anak menikmati berkeliling dari ruang ke ruang di Museum, mereka banyak bertanya. Meski sudah diingatkan agar tidak menyentuh atau memegang, rasa ingin tahu yang besar membuat mereka mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh. Untunglah mereka masih bisa diajak tertib dan tidak ada koleksi museum yang sampai rusak.

Usai berkeliling, anak-anak diberi kesempatan istirahat dan makan siang. Selama kurang lebih setengah jam, mereka menikmati makan siang dan setelah itu bersiap-siap menuju Kapel.


Iringan anak-anak tiba di Kapel Santa Maria berbarengan dengan selesainya Misa Perkawinan. Anak-anak kemudian diajak masuk ke kapel dan diperkenalkan dengan area seputar kapel. Pemandu menjelaskan sedikit tentang sejarah berdirinya gedung kapel dan beberapa bagian di dalamnya. Selesai mengenal gedung Kapel mereka diajak mengenal peralatan misa. Anata lain: piala dan perlengkapannya yang digunakan dalam perayaan Ekaristi atau Misa.

Lewat dari jam 14.00 saat Ibu Lusia membawa rombongan kembali pulang. Setelah foto bersama di kapel, Ibu Lusia berbisik, “Sebaiknya ada film pendek atau animasi tentang komunitas atau biara. Nantinya kami akan kunjungi tempat –tempat tersebut” Pesannya. Terima kasih usul dan sarannya Bu Lusia, terima kasih juga atas kunjungannya. Tahun depan kami tambah filmnya untuk anak anak.***




Selasa, 07 Mei 2019

Menjaga dan Merawat Lebih Baik Daripada Mengkonservasi (bagian 2)



Seusai ishoma dilanjutkan dengan praktek konservasi. Di ruang konservasi semua peserta diwajibkan menggunakan jas praktek berwana putih dan sarung tangan. 

Praktek pertama adalah Bleaching. Bleaching merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan noda dan warna kuning kecoklatan yang terjadi karena pengaruh faktor kimia, biota, dan kelembaban ruangan. Proses bleaching memakan waktu cukup lama dan melalui beberapa tahapan. Proses Bleaching diharapkan sekali jadi karena bila sekali saja gagal maka beresiko merusak kertas. 

Tahapan pertama perendaman kertas yang akan di-bleaching dengan air bersih selama lima menit baru kemudian dimasukkan kedalam larutan kimia selama kurang lebih setengah jam. Setelah itu dibilas lagi dengan air bersih beberapa menit kemudian dilanjutkan dengan perendaman dengan campuran air asam dan basa selama lima belas menit. Terakhir dibilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan bantuan kipas angin. Sangat dilarang mengeringkan kertas basah dengan menjemurnya.

Sambil menunggu proses Bleaching, disela dengan menyambung kertas. Sebelum praktek menyambung kertas, praktek membuat lem terlebih dulu. Lem yang digunakan untuk menyambung sesuai standar yang umum adalah lem CMC atau Carboxy Methyl Cellulose. Lem CMC mudah didapat dipasaran. 

Dari menyambung kertas dilanjutkan dengan menambal dan laminasi. Laminasi adalah pelapisan bahan tipis pada kedua sisinya. Baik menambal ataupun laminasi menggunakan kertas Tissu Jepang. Namun bila tidak ada atau kesulitan mendapatkan Tissue Jepang dapat diganti dengan kertas minyak.
Sesi berikutnya adalah fumigasi. Fumigasi adalah proses pengasapan untuk membunuh hama dan serangga. 

Untuk sesi Fumigasi, Pak Aris mengajak peserta untuk menghitung volume ruangan praktek. Volume ruangan diperlukan untuk menetukan jumlah tablet phosphor racun serangga. Setiap 1m3 dibutuhkan 2-3 butir tablet. 

Setelah diketahui volume ruangan, tablet seukuran kuku jari jempol orang dewasa diletakkan diatas wadah kertas, dan ditempatkan dibeberapa titik dan diletakkan di lantai. Dua jam kemudian tablet itu bereaksi tanpa mengeluarkan asap. 

Tablet yang mengandung phosphor perlahan lahan menguap dan mengeluarkan gas beracun yang menyerang berbagai serangga yang ada di dalam buku. Meskipun asap tidak nampak, namun gas yang muncul hasil proses kimiawi dari tablet itu sangat beracun bahkan bagi manusia sekalipun. Oleh karena itu perlu diperhatikan sebelum proses fumigasi, apakah ada celah? Pastikan celah tersebut sudah ditutup rapat. (Baca juga:  FUMIGASI BASMI SERANGGA )

Karena waktu yang terbatas beberapa praktek perawatan dan konservasi serta penggunaan beberapa alat pendukung tidak dapat dilaksanakan. Workshop Konservasi Kertas yang hanya sehari dirasa peserta terlalu pendek. Namun tetap perlu disyukuri karena peserta belajar cukup banyak dalam merawat koleksi kertas. Terima kasih kepada panitia dan penyelenggara atas workshop yang terlaksana dengan baik.***

Kamis, 02 Mei 2019

Menjaga dan Merawat Lebih Baik Daripada Mengkonservasi

Foto by Aini
Museum Santa Maria memiliki koleksi berbahan kertas cukup banyak. Ada foto, surat-surat, dokumen, sertifikat, buku-buku dlsb. Dari semua koleksi berbahan kertas tersebut, banyak sekali yang rusak karena usia tua, lingkungan ruang penyimpanan yang lembab, serangga, dan yang mengkhawatirkan adalah ketidaktahuan staff pengelola dalam merawat koleksi berbahan kertas tersebut.

Museum Santa Maria mengutus seorang staf untuk mengikuti Workshop Konservasi Kertas yang diselenggarakan Disparbud DKI Jumat 26 April 2019 di Pusat Konservasi Cagar Budaya, Kawasan Kota Tua Jakarta.

Dalam workshop yang dibimbing Ibu Ellis dan Pak Aris dari Perpustakaan Nasional Bidang Konservasi, dijelaskan mengenai berbagai jenis kertas. Bahan dasar dari semua Koleksi kertas berasal dari bagian tumbuhan, biasanya kulit dan atau batang pohon. “Semua koleksi kertas memerlukan perawatan yang teratur agar tidak mudah rusak. Karena bila koleksi kertas sudah rusak biaya yang dibutuhkan untuk mengkonservasi sangat mahal. Lebih baik menjaga dan merawat daripada mengkonservasi,” terang Pak Aris.

Beberapa hal yang dapat merusak koleksi kertas antara lain sinar matahari atau cahaya lampu, kelembaban ruang dan binatang. Sangat disarankan koleksi buku terhindar dari cahaya matahari atau lampu secara langsung. Cahaya yang diijinkan untuk kertas tidak boleh lebih dari 50 lux. Seperti cahaya lampu bohlam 5 Watt. Untuk mengukur cahaya dapat menggunakan Lux Meter Tidak boleh meletakkan dokumen dibawah lampu persis. Sebaiknya dimasukkan dalam paspartus (plastik bebas asam dengan double tape dari bahan khusus) dan tidak boleh menempel ke kaca harus ada jarak.

Kondisi ruang yang lembab menyebabkan kertas mudah berjamur. Sedangkan kondisi ruang yang kering kertasnya menjadi kering dan mudah getas atau rapuh. Suhu yang disarankan dalam ruang yang menyimpan koleksi kertas berkisar 18-21° C dengan fluktuasi maksimum sehari-hari yang diijinkan untuk kelembaban sebesar +/- 3% dan fluktuasi suhu berkisar +/-2°C. Akan lebih baik bila tidak ada fluktuasi tajam suhu dan kelembaban dalam ruang tersebut.

Silica gel dapat digunakan untuk mengurangi kelembaban udara di Lemari. Silica gel warna biru artinya masih aktif atau masih bagus. Minimal setengah gelas di setiap laci dan rutin diganti setiap triwulan. Bila kelembaban ruangan cukup tinggi maka paling lama sebulan sekali harus diganti.
Rayap & serangga.

Serangan serangga seperti kutu atau kecoa dapat diatasi dengan penggunaan kamper/kapur barus, bisa juga dengan cengkeh. 

“Selama ini kapur Barus tidak berefek ke kertas hanya mencegah serangga. Selama ini di perpustakaan nasional diberikan kapur barus di setiap rak dan setiap bulan diganti karena cepat menguap,” terang Bu Ellis. 

Rayap biasanya datang dari celah-celah yang tidak rapat. Maka harus diperiksa celah lantai atau dinding. Tidak boleh menyimpan buku di lemari kayu. Kalo lemari kayu gunakan kayu jati, disarankan menyimpan di lemari logam atau besi.” Lanjutnya.

Bagaimana menyimpan dokumen dengan baik?

Untuk menyimpan dokumen bisa langsung dimasukkan dalam plastik bebas asam. Untuk perawatan foto harus diletakkan di tempat yang tidak lembab. Album foto disarankan berdiri bukan ditumpuk. Tidak disarankan dengan album foto yang langsung nempel ke plastik. Untuk menyimpan foto gunakan plastik bebas asam atau bikin dari kertas bebas asam bentuknya folder-kit.

Pada dasarnya merawat buku tua/baru hampir sama. Suhunya harus standar. Kalau tidak standar maka suhu harus konstan/stabil. Harus menggunakan tirai agar cahaya tidak mengenai dokumen. Rajin dilakukan pembersihan dari debu supaya tidak menempel dan supaya serangga tidak datang. Biasa serangga datang karena rak buku kotor. Dari segi perlakuan pasti berbeda. Buku baru dengan mudah kita menyentuh atau memegang kalau buku lama karena kondisin a maka kita harus hati-hati. Sampul buku tidak boleh pakai plastik yang untuk taplak meja karena mengandung asam. Boleh dipakai tetapi untuk pemakaian jangka pendek saja.

Bu Ellis juga menjelaskan cara untuk mengetahui plastik yang berasam dengan plastis bebas asam. “Cara mengetahui plastik asam atau tidak, tinggal dibakar saja kalau asapnya hitam berarti ada asam. Asapnya warna putih tidak ada asam.” Terang Bu Ellis (Bersambung)



Foto by Aini
Foto by Aini

Senin, 29 April 2019

DISIPLIN dan ATTITUDE yang BAIK

“Waah luar biasa ya…. Ini bagus sekali…. Ini fakta sejarah” ungkapan kekaguman terlontar berulang-ulang dari mulut Ibu Meitty Manegeng dan Pak Michael Perera dari Duren Tiga, Jakarta Selatan Kamis siang 25/10/2018, ketika pemandu Museum memberi penjelasan.

Mereka baru saja menghantar Benjamin, 5 tahun, putra Pak Michael yang mendaftar sebagai calon murid untuk masuk SD Santa Maria. Sekolah Santa Maria memang sudah membuka pendaftaran sejak 1 Oktober untuk para murid di tahun ajaran berikut.

Saat ditanya mengapa memilih sekolah di Santa Maria ia mengatakan “Memang banyak sekolah internasional tapi saya mau anak saya disiplin dan attitude-nya bagus, bukan hanya sekedar pintar saja,” jawab Pak Michael untuk menegaskan pilihannya di sekolah Santa Maria.

Oleh karena itulah, ketika diberi tahu oleh sekuriti Pak Sigit, bahwa di Santa Maria ada museum, Pak Michael antusias untuk melihat.

“Ini Sekolah tahun berapa ada?” Sudah berapa lama bangunan ini? Jumlah muridnya berapa? Sama ga dengan suster yang di Jalan Pos,” Pak Michael banyak bertanya karena ia ingin memastikan anaknya masuk sekolah ditempat yang tepat.

Pemandu dengan semangat menjelaskan bahwa bangunan gedung sudah ada sejak kedatangan Suster Ursulin pertama kali tahun 1856 dan sekolah TK dan SD dibuka pertama kali di tahun yang sama, 1856. Karya pertama para Suster Ursulin adalah adalah Asrama putri kemudian TK dan SD. Baru kemudian mendirikan di Jalan Pos.

Ketika mendengar penjelasan pemandu, Pak Michael manggut-manggut. Puas dengan penjelasan pemandu dan semakin yakin sekolah Santa Maria berkualitas, terbukti dari rentang waktu yang sangat panjang seratus enampuluh tahun lebih. Memasuki usia tua, namun tetap bertahan dan berusaha mengikuti perkembangan zaman. Suatu bukti nyata keberadaan yang terjaga baik, bukanlah sekedar sebuah angka yang antik dan unik tetapi menunjukkan fakta sejarah tak terbantahkan sebagai sekolah berkualitas.

Sementara pemandu menjelaskan sejarah dan riwayat benda-benda koleksi, Ibu Meitty Oma dari Benjamin, justru asyik berfoto dan mengambil gambar. Ia kagum dan berencana mau datang lagi “Nanti saya akan datang lagi ya, ini masih belum puas “ katanya sambil tangannya sibuk memotret dengan HPnya. Sebentar saja di Museum hanya sekitar setengah jam. Sebelum pergi, Ibu Meitty mengungkapkan kekagumannya dengan menulis di buku tamu “Sangat baik, info lengkap, ramah, God Bless & keep all of St. Maria”

“Sebentar lagi masuk kerja. Di Blok M,” kata Pak Michael menutup pembicaraan.. ***

Gerak Tangan Isyarat dari Komunitas Patuka

Paguyuban Tuli Katolik Katedral (Patuka) mengunjungi Museum Santa Maria Minggu, 12/5/2019. Kunjungan ke museum ini sebagai salah sa...