Senin, 19 September 2022

Register Bukan Sekedar Pencatatan

 

Berdasarkan PP No.66 Tahun 2015, Penjelasan Pasal 11 ayat 2, Sumber Daya Manusia yang harus dimiliki sebuah Museum adalah tenaga teknis yang meregister: melakukan kegiatan pencatatan dan pendokumentasian koleksi. Tenaga teknis ini disebut Registrar.

Sumber Daya Manusia lain yang harus ada bersama registrar ini adalah Kurator, Edukator, Penata Pamer dan Konservator serta Humas dan Pemasaran. Tersedianya semua tenaga teknis itu sangat ditekankan oleh Pak Yiyok T. Herlambang ketua Amida Jakarta Paramita Jaya yang menjadi pembicara pertama dalam Bimbingan Teknis (BimTek) Register. Dalam BimTek ini sering kali yang dimaksud dengan Register adalah registrar.

 BimTek Register dilaksanakan di Museum Tekstil selama tiga hari 25-27 Juli 2022. Pak Yiyok menegaskan bahwa petugas teknis yang terkait dengan benda koleksi sebuah museum adalah Register, Kurator dan Konservator. Sedangkan tenaga Teknis terkait dengan tugas mengkomunikasikan benda koleksi kepada masyarakat adalah Edukator, Penata Pamer serta Humas dan Pemasaran.

 BimTek Register yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta Bidang Pelindungan bekerjasama dengan AMIDA Jakarta Paramita Jaya bertujuan mempersiapkan tenaga teknis museum agar sesuai standar. Selain itu Peserta yang mengikuti bimtek akan mendapat prioritas diikutkan dalam program sertifikasi LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Permuseuman Indonesia – BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) pada kesempatan yang akan datang.

 Dalam BimTek Register, para Registrar, sebutan bagi petugas register dilatih untuk mampu 1) Menyusun kebijakan registrasi koleksi museum 2) Melaksanakan proses registrasi koleksi museum 3) Melaksanakan penyimpanan koleksi di ruang storage 4) Melaksanakan proses mutasi atau lalu lintas koleksi di dalam museum 5) Melaksanakan teknis peminjaman koleksi ke luar museum 6) Melaksanakan pengusulan penghapusan koleksi museum
Enam kemampuan yang harus dimiliki seorang Registrar, disampaikan dalam bentuk teori dan latihan praktek oleh enam narasumber yaitu Bpk. Yiyok T. Herlambang SE, MM; Ibu Yulianti Fajar Wulandari S.I. Kom, M.I. Kom; Ibu Karisa Rahmaputri S. Sn, M. Sc; Bapak Gunawan W. Widodo M. Hum; Bapak Drs. Mananti Amperawan Marpaung dan Bapak Ir. Adang Suryana.

 Bapak Ir. Adang Suryana mewakili AMIDA Jakarta Paramita Jaya dalam acara m enutup kegiatan mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan yang telah memberi kesempatan kepada Paramita Jaya memilih para narasumber serta mengingatkan peserta untuk bangga menjadi Registrar.

 Bapak Bayu Niti Permana mewakili Kepala Bidang Pelindungan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta menutup kegiatan BimTek dengan harapan museum di Jakarta menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi.

 “Bimtek ini diharapkan menjadi tonggak, satu-satunya wilayah yang punya museum se-Indonesia terbayak dan layak kunjung dan menjadi referensi Pendidikan, rekreasi tempat mencari pengalaman atau Adventure.”

 Pak Bayu juga mengingatkan kepada para peserta BimTek untuk bangga menjadi register. “Fungsi Dengan adanya pelatihan ini adalah menyebarkan seluas-luasnya pengetahuan tentang apa yang menjadi pesan museum di dalam koleksi-koleksinya. Register jangan dianggap sebagai tukang catat tapi dia adalah orang yang mengerti tentang koleksi mengerti tentang nilainya dan serba tau tempatnya.”

 Sebelum ditutup dengan foto bersama, peserta dari Museum Purna Bhakti Pertiwi, Ibu Sunani mendapat kehormatan menerima sertifikat dari Pak Bayu secara langsung sebagai peserta dengan nilai terbaik pada bimtek tersebut. ***




Selasa, 13 September 2022

Keluhan Pengunjung Masukan Positif Bagi Museum

 

Kolase foto oleh Bpk. Ir. Adang Suryana

Bimtek Humas & Pemasaran Bimbingan Teknis (Bimek) Humas dan Pemasaran yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Museum Indonesia Daerah (Amida) Jakarta Paramita Jaya merupakan BimTek ke empat. Bimtek sebelumnya diperuntukkkan bagi tenaga teksni Penata Pamer, Edukator, Register.

 Sebagai tuan rumah, Ibu Misari, M. Hum. Kepala UPT Museum Kebaharian mengucapkan selamat datang kepada panitia maupun juga peserta. Ibu Misari juga mengungkapkan rasa bangganya karena dipilih menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Bimtek, khususnya Humas dan Pemasan. Ia berharap semoga kegiatan Bimtek menginspirasi tim media social Museum Bahari untuk meningkatkan kualitasnya.

 Ibu Misari selain merasa bangga juga berharap kegiatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta untuk meningkatkan potensi dirinya “Mudah-mudahan para peserta dapat memanfaatkan kesempatan baik ini untuk bisa meningkatkan potensi diri ya, kemudian saling juga bertukar pengalaman ya mungkin ada museum yang memang sudah mendapatkan poin plus-plus di dalam kehumasannya.”

 “Kesempatan berkumpul di Bimtek ini menjadi ajang untuk saling bertukar pikiran atau bertukar pengalaman”. Bu Ari berpesan: “Jangan kita merasa malu untuk bertukar pengalaman tetapi justru apa yang menjadi poin plus dari museum lain dapat menambah point kita dan sebaliknya, terutama dalam hal kemasan museum kita. Mudah-mudahan hasilnya nanti bisa bermanfaat bagi teman-teman”. “Sekali lagi sebagai tuan rumah saya menyambut baik kegiatan ini semoga juga bisa berjalan dengan lancar sampai tiga hari ke depan.” Pungkasnya.

komunikasi dan pemasaran
 Pada sesi pertama Bimtek, Pak Yiyok T. Herlambang mengingatkan peserta pentingnya petugas teknis Humas dan Pemasaran karena tercatat dalam Peraturan Pemerintah (PP) no 66 Tahun 2015 Tentang Museum. Inilah pesan Pak Yiyok: “Museum adalah Lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Begitu ngomong komunikasi maka ada tiga tenaga teknis yang bertugas, satu adalah Penata Pamer kedua Educator ketiga Humas dan Pemasaran. Jadi teman-teman, dan bapak Ibu sekalian, sebagai seorang Humas dan Pemasaran wajib memahami kebijakan dan tugas kehumasan dan pemasaran.

 Terkait tugas Humas dan Pemasaran ditegaskan dalam PP No.66 Tahun 2015, penjelasan Pasal 11 peraturan: Hubungan Masyarakat dan Pemasaran adalah petugas teknis yang melakukan kegiatan komunikasi dan pemasaran program-program museum.

 Kaitannya dengan standarisasi, Pemerintah melakukan standarisasi museum setelah dua tahun museum berdiri. Penilaian berdasarkan Pengelolaan Museum dengan Hasil Standarisasi berupa Tipe A, B, atau C dan Evaluasi Museum. Salah satu penilaian adalah apakah tenaga teknis dalam museum tersebut masih merangkap jabatan atau tidak.

 Pak Yiyok kemudian memberikan tugas kelompok untuk menyusun apa saja tugas tenaga teknis Humas dan pemasaran. Tugas kelompok kemudian di paparkan dan didiskusikan bersama. Menurut Pak Yiyok berdasarkan paparan peserta, para peserta telah memahami tugas tenaga teknis Humas dan Pemasaran karena telah sesuai dengan materi yang akan diujikan dalam sertifikasi profesi, yang antara lain menyusun kebijakan hubungan masyarakat dan pemasaran museum, Melaksanakan hubungan dengan media, Melaksanakan hubungan dengan komunitas, Melaksanakan hubungan dengan internal museum, Melaksanakan hubungan dengan pengunjung, Melaksanakan kegiatan pemasaran museum.

 Pada Sesi kedua, peserta diajak untuk mengelola kerjasama dengan media. Hubungan dengan Media bertujuan untuk membentuk citra positif dan mempengaruhi persepsi publik melalui kegiatan publikasi di media.

Hubungan Media
 Prinsip Hubungan Media Melayani dengan sebaik mungkin, Memberikan ruang yang cukup, tidak menutup saluran informasi khususnya dalam keadaan penting. Jujur dan terbuka. Professional dalam menjalankan tugas.

 Humas dan Pemasaran dalam menjaga hubungan dengan media tidak hanya berhubungan dengan wartawan. Seorang Humas dan Pemasaran wajib mengetahui dan mengenali institusi media dan bagian-bagiannya. Dalam membina hubungan baik, ada kalanya harus mendekat dengan tujuan menjalin hubungan baik.

 Bentuk kegiatan Humas dan Pemasaran yang berkaitan dengan media antara lain: Konferensi Pers, Media Briefing, Media Visit, Wawancara, Pertemuan dengan Pemimpin redaksi, Media Luncheon, Press Gathering, Doorstop, In House Training, Klarifikasi Berita, Siaran Pers.

 Dalam sesi tersebut, tugas kelompok adalah membuat Press Rilis. Ibu Ita Suryani, S. Sos M.I.kom dosen di Universitas BSI yang menjadi narasumber sesi kedua terlebih dahulu menjabarkan unsur-unsur dalam pembuatan Press Rilis. 

 
Unsur dan struktur dalam Pres Rilis meliputi nilai berita yang menarik benar-benar terjadi dan baru saja terjadi, dan penting. Sedangkan Struktur naskah atau tulisan rilis sama dengan struktur naskah berita, yakni terdiri dari

1. Judul, 2. Teras (lead), 3. Isi (body), 4. Judul berita harus kalimat lengkap, minimal Subjek + Predikat, dan menggunakan kalimat aktif. 5. Teras sebaiknya mengedepankan subjek pelaku who does what; siapa melakukan apa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana; isi berupa penjelasan unsur why dan how. 6. Namun, dari segi format, naskah press release ditambah bagian awal dan akhir

 Hari Kedua Sesi Pertama diisi dengan materi melaksanakan hubungan dengan komunitas. Namun dalam paparan nara sumber, Ibu Resita Kuntjoro-Jakti para peserta justru diajak bagaimana membuat sebuah komunitas. Ketika ditanyakan mengapa dan apa alasannya petugas Teknis Humas dan Pemasaran Museum harus membuat komunitas? Dijawab bukan sesinya dan dapat ditanyakan pada sesi besok (sesi hari ketiga)

kerjasama
 Ibu Rian Timadar M. Hum ketua AMIKA-TMII, pada sesi kedua  mengajak peserta dengan permainan kelompok membuat Menara yang paling tinggi dan kokoh dari bahan sedotan plastic. Pada saat presentasi setiap kelompok harus menunjukkan hasil kerja kelompok dan gambar desain Menara. Pada saat presentasi akan dinilai kesesuaian desain dengan hasil karya, dan pembagian kerja. Tujuan permainan ini untuk mengingatkan peserta bimtek Humas dan Pemasaran agar selalu menjaga harmoni dan meningkatkan kerjasama dengan setiap petugas tenaga teknis maupun non teknis di museum.

 Hari ketiga, Ibu Yulianti Fajar Wulandari M. I.Kom mengajak peserta belajar bagaimana Melaksanakan Hubungan Dengan Pengunjung. Salah satu yang terpenting dalam menjalin hubungan dengan pengunjung adalah komunikasi yang baik untuk Menggali kebutuhan layanan pengunjung seperti mengapa mengunjungi museum, apa yang dilakukan di museum dan apa kesan yang didapat di museum.

 Komunikasi yang baik meliputi komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan melalui tulisan dan lisan. Di masa kini informasi yang disampaikan lewat social media termasuk dalam katogori komunikasi verbal. Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi yang disampikan melalui bahasa tubuh sepertu gerak tangan, ekspresi wajah penampilan, intonasi suara dan lainnya.

Keluhan pengunjung  
 Salah satu yang menjadi perhatian tenaga teknis Humas dan Pemasaran adalah bagaimana menangani keluhan pengunjung atau Complain Handling. Mengapa pengunjung mengeluh? Beberapa factor keluhan pengunjung diantaranya pelayanan tidak sesuai yang diharapkan, pengunjung diabaikan atau dibiarkan terlalu lama, tidak ada yang mendengarkan atau menanggapi, seseorang bersikap kasar, dianggap remeh oleh staff, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi, pernah mengalami hal buruk di tempat yang sama.

 Bagaimana menanggapi keluhan tersebut? Pertama, anggap keluhan pengunjung tersebut sebagai masukan positif bagi museum dan staff pengelola. Kemudian dengarkan keluhannya dan selidiki, jangan mengambil kesimpulan tergesa-gesa. Bantu memberikan saran yang mudah dilaksanakan. Terakhir tak boleh lupa mengucapkan terima kasih atas saran dan masukannya.

 Di Sesi akhir, Bpk. Ir. Adang Suryana memberikan materi tentang bagaimana melaksanakan kegiatan pemasaran. Tenaga teknis harus mampu: Menentukan misi dan tujuan kegiatan pemasaran museum, bauran pemasaran dan promosinya, serta strateginya.

 Bauran pemasaran museum adalah strategi yang memadukan kegiatan pemasaran dalam satu waktu untuk meningkatkan penjualan produk atau jasa. Bauran ini meliputi: produk, harga, tempat, promosi, pemegang kebijakan, hubungan Masyarakat

 Bauran Promosi adalah kombinasi strategi dari variable periklanan, personal selling dan alat promosi lain, yang kesemuanya direncanakan untuk tujuan penjualan bauran promosi museum, meliputi: Iklan (advertising), Publisitas, Sales promotion, Penjualan tatap muka (Personal selling) dan Direct marketing.

 Di akhir BimTek dilaksanakan penyerahan sertifikat tanda kelulusan BimTek bagi seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan BimTek Humas dan Pemasaran selama tiga hari beturut-turut, 22-24 Agustus 2022. Penyerahan sertifikat diserahkan langsung kepada peserta oleh Bapak Norviadi Setio Husodo, SS. M.Si. Kepala Bidang Pelindungan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta. ***

Sabtu, 03 September 2022

Museum Menjadi Bagian MPLS Santa Maria



Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP-SMK Santa Maria, tahun 2022/2023 dilaksanakan dengan tatap muka setelah selama dua tahun terakhir MPLS dilaksanakan secara virtual. Museum Ursulin Santa Maria terletak di dalam kampus Sekolah Santa Maria. Sehingga museum itu sangat tepat untuk memperkenalkan lingkungan Sekolah, terutama mulai dari sejarah berdirinya Sekolah dan misi Sekolah dari awal berdirinya.

 Seluruh peserta MPLS sangat antusias mengikuti tour keliling museum Ursulin Santa Maria. Untuk murid SD dan SMP pengenalan lingkungan bukan hanya untuk murid kelas satu saja tetapi juga untuk kelas dua dan tiga; dan untuk SMP kelas 7 dan kelas 8 dan 9. Sebab mereka itu semua belum berkunjung secara langsung ke museum karena dulu secara on-line.

 MPLS dimulai dari unit SMP pada Jumat 8 dan 11 Juli dilanjutkan unit SMK pada 12 Juli. Sayangnya unit SD yang seharusnya 13 Juli mendadak merubah jadwal menjadi tour virtual karena ada siswa yang terpapar covid-19 sehingga pelajaran kembali dilaksanakan jarak jauh.

 MPLS di Museum Ursulin Santa Maria diawali di Aula Museum. Suster Marie Louise menyambut dan menyapa peserta didik baru dan memperkenalkan staf museum. Setelah menyapa, Suster Marie Louise melanjutkannya dengan paparan tentang museum.

 Dari paparan tersebut diharapkan peserta MPLS mengenal museum sebagai bagian dari Kampus Santa Maria serta merasa bangga karena para siswa menjadi bagian sejarah yang hidup dari Kampus Santa Maria yang masih berjalan di usia lebih dari 166 tahun.
Dari Museum peserta diarahkan menuju gedung Kapel yang posisinya masih dalam satu komplek. Di dalam Kapel, peserta dijelaskan tentang sejarah berdirinya Gedung Kapel yang mulai dibangun sejak tahun 1875. Selain sejarah, juga dijelaskan tentang interior gedung Kapel.

 Dengan mengenal museum, kapel dan tempat-tempat lain di dalam kampus Santa Maria, para murid dapat menggunakannya untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, Sang Penciptanya (di kapel), menggali dan mengamalkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam seluruh pendidikan Ursulin yang bersemboyan SERVIAM, “Aku mau mengabdi”. Selain itu, dari para pendidik pendahulu dan para alumni, meneladan untuk menjadi pribadi yang mandiri, bertanggungjawab dan mempunyai kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.

 MPLS menjadi sarana para siswa belajar berinteraksi dengan sesamanya kemudian berinovasi dan berkreasi dalam menggunakan media social untuk semakin menambah rasa bangga dan cinta kepada lingkungan kampus Santa Maria.

 Peserta MPLS diiuti oleh seluruh siswa siswi SMP dari kelas tujuh sampai kelas Sembilan. Sedangkan SMK diikuti oleh kelas sepuluh dari tiga jurusan yaitu Kuliner, Tata Busana dan Design Komunikasi Visual (DKV). Dari unit SD diikuti seluruh kelas satu sampai tiga. ***

Senin, 01 Agustus 2022

Edukator Lebih Dari Sekedar Pemandu


Kolase foto oleh bpk. Adang Suryana


Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Paramita Jaya bersinergi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi tenaga teknis museum. Tenaga Teknis museum perlu meningkatkan kualitasnya agar pengelolaan museum di DKI Jakarta semakin baik.

 AMI DKI Jakarta mengharapkan setiap museum mengirimkan enam (6) tenaga teknis sesuai spesialisasinya. Tenaga teknis museum diantaranya Kurator, Edukator, Konservator, Penata Pameran, Register, Humas dan Pemasaran.

 Bimtek bagi tenaga teknis museum diselenggarakan secara bertahap. Tenaga teknis Edukator melaksanakan bimtek pada 4-6 Juli 2022 di Museum Sejarah Jakarta. Total 51 peserta mengikuti bimtek dari berbagai museum di Jakarta dan Dinas Kebudayaan.

 Edukator adalah salah satu tenaga teknis  yang keberadaanya disebut dalam Peraturan Pemerintah (PP) no. 66 Tahun 2015 tentang Museum. Selama bimtek Edukator, narasumber bimtek selalu mengingatkan peserta bahwa bahwa Edukator lebih dari sekedar Pemandu karena memandu merupakan bagian dari salah satu tugas Edukator.
Dalam bimtek tersebut, Edukator dilatih dengan teori dan praktek berkaitan dengan kemampuan seorang Edukator. Edukator harus menguasai kemampuan untuk: 

Menyusun kebijakan edukasi dan penyampaian informasi koleksi museum, melaksanakan program edukasi di museum berbasis penguatan karakter bangsa, melaksanakan program edukasi di museum untuk pengunjung umum, melaksanakan kegiatan edukasi di museum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dan pengunjung penyandang disabilitas dan melakukan penyampaian informasi koleksi museum

 Dalam merancang konsep program edukasi Edukator bekerjasama dengan Kurator dan Penata Pameran membahas tema, kegiatan, audience atau pengunjung yang disasar dan alat peraga yang digunakan.

 Narasumber dalam bimtek Edukator selama tiga hari tersebut adalah Bpk. Yiyok T. Herlambang SE. MM. Karisa Rahmaputri S.SN, MSc, Dr. Ali Akbar M.Hum, Misari M.Hum, Dr. Musiana Yudhawasthi M.Hum dan Ir. Adang Suryana. *** 

Sabtu, 28 Mei 2022

Kalau Bisa ke Tempat Aslinya.



Melihat Museum Ursulin Santa Maria secara langsung lebih seru dibanding virtual. Namun apa daya, pandemi belum berakhir. Meski begitu, harapan anak-anak TK Santa Maria untuk berkunjung melihat langsung sangat besar.

 Jumat, 22 April 2022 Murid-murid TK Santa Maria berkunjung secara virtual ke Museum Ursulin Santa Maria. Para murid diajak mengenal Museum agar para murid bangga dengan keberadaan museum Ursulin yang terletak di dalam komplek sekolah Santa Maria.

 Zoom dibuka pukul 07.30 untuk admit peserta sambil diputar jingle “Museum di Hatiku”. Setelah meditasi dan doa bersama, Suster Lucia Anggraini, kepala Museum Ursulin Santa Maria, memperkenalkan staff pengelola, yaitu Suster Marie Louise, ada Pak Aji, Pak Muji dan Ibu Janni. Suster Lucia kemudian menjelaskan secara singkat tentang Museum Ursulin seperti lokasi, ruang-ruang yang ada di museum, waktu kunjungan dan beberapa foto suster di masa lalu. Setelah Suster Lucia selesai menjelaskan, dilanjutkan dengan virtual tour.

 Virtual Tour itu dimulai dengan pemutaran film pendek tentang koleksi museum Santa Maria itu. Kemudian Pak Aji, pemandu museum, menerangkan berbagai koleksi tersebut satu persatu. Koleksi yang ditampilkan antara lain foto kegiatan anak-anak bersama suster, buku dan peralatan doa, perlengkapan memasak, permainan. Anak-anak focus memperhatikan penjelasan pemandu.

 Di akhir tour, para murid diberi kesempatan bertanya. Anak-anak antusias bertanya, namun karena waktu terbatas, pertanyaan anak-anak dibatasi. Suster Marie Louise kemudian memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengungkapkan ekspresinya dengan mewarnai gambar bagi murid kelas A dan memvideokan cerita pengalaman mengikuti virtual tour bagi kelas B.
Setelah mengikuti virtual tour anak anak mulai mengerti apa itu museum. Menurut Jeremiah TK B kelas Grow, museum Ursulin Santa Maria menjadi tempat belajar dan mengenal sekolah “aku belajar benda yang ada di museum Santa Maria dan aku itu bisa belajar tentang sekolahan aku” Sementara Bianca Elisabeth TK B kelas Smart mengatakan bahwa museum adalah tempat menyimpan benda bersejarah “Aku jadi mengetahui museum adalah untuk tempat barang sejarah” lain lagi dengan Christo TK A kelas JOYFULL, ia mengatakan museum sebagai tempat untuk melihat orang-orang di masa lalu “bisa lihat orang zaman dulu”

 Kunjungan museum dilaksanakan secara virtual karena masih dalam situasi pandemi dan kegiatan tatap muka masih dibatasi. Anak-anak yang mengikuti tour memiliki harapan begitu besar agar bisa berkunjung secara langsung seperti dikatakan Mikael TK B kelas Smart yang mengatakan lebih seru berkunjung langsung “kurang seru kalau cuma nonton film doang, kalau bisa ke tempat aslinya” Sementara Christopher TK B kelas Grow berharap Tuhan Yesus memberkati keinginannya berkunjung ke Museum Ursulin Santa Maria: “aku mau lihat museum virtual Santa Maria kalau udah nggak ada korona aku mau pergi sama mama papa secara offline. Tuhan Yesus memberkati”

 Tanggapan Anak-anak TK Santa Maria setelah kunjungan virtual tour dapat di lihat di IG Museum Santa Maria pada link https://www.instagram.com/museumursulinsantamaria/ atau klik disini


Senin, 25 April 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (V)

 

Penutup 
Keadaan politik Kota Surabaya pada masa awal karya para Suster Ursulin tahun 1863 cukup baik, tidak ada perang. Kota Surabaya adalah kota yang sibuk dengan perdagangan. Hubungan kota Surabaya dengan kota-kota di Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat menggunakan kapal laut atau jalan yang disebut “Jalan Raya Pos” yang dibangun Gubernur Jendral Daendels, belum ada kereta Api.

 Karya Ursulin di Surabaya dimulai ketika pastor Martinus van den Elzen, SJ dan JB. Palinck SJ bertugas di Surabaya dan menjalankan pelayanannya selama dua tahun. Pastor Martinus kemudian mengundang para Suster Ursulin untuk berkarya karena di Surabaya membutuhkan tenaga para Suster Ursulin.

 Menanggapi undangan tersebut, para Suster Ursulin di Batavia mengirim lima Suster pionir ke Surabaya. Kelima Suster tersebut adalah suster Louise Demarteau, Suster Euphrasie Webb, Suster Alphonse Portmans, Suster Augustine Phillipsen dan Suster Marie Geraedts. Suster Marie Louise Demarteau mendapat tugas memimpin para Suster Ursulin tersebut.

 Para Suster tiba di kota Surabaya pada 14 Oktober 1863 menumpang kapal layar Zephir. Pastor Martinus menjemput dan mengantar para Suster Ursulin ke sebuah rumah di jalan Krembangan. Rumah itu menjadi tempat tingal pertama para Suster Ursulin di Surabaya.

 Tak lama kemudian, dengan dibantu pastor Martinus, biara Ursulin komunitas Batavia, dan para donatur, Suster Ursulin Surabaya berhasil membeli sebuah hotel “Commerce” dengan harga 40.000 Gulden. Hotel di jalan Kepanjen itu dijual karena pemiliknya ingin pulang ke negerinya. Hotel yang letaknya dekat gereja itu kemudian menjadi rumah biara dan karya para Suster Ursulin.

 Karya pertama para Suster Ursulin di Surabaya adalah Sekolah Dasar pada 3 November 1864. Sebelum para Suster Ursulin membuka sekolah, para Bruder Santo Aloysius (CSA) yang terletak diseberang Biara Ursulin sudah membuka ELS atau Europa Lagere School, sekolah dasar khusus putra pada 28 Mei 1862 dan Rumah Piatu.
Ketika dibuka, sekolah menerima 21 murid, kemudian secara bertahap bertambah banyak menjadi 1500. Para Suster kemudian membuka Sekolah Dasar kedua yang dikhususkan bagi anak-anak tidak mampu. Sekolah yang pertama diberi nama Santa Angela dan sekolah kedua diberi nama Santa Ursula.

 Selanjutnya para Suster membuka sekolah yang mengajarkan ketrampilan wanita terutama menjahit pada tahun 1874. Sekolah Frobel atau TK dibuka tahun 1877 dan sekolah pendidikan guru dibuka pada tahun 1880. Sekolah guru diberi nama “Sekolah Guru Santa Catarina”. Sekolah guru Santa Catarina kemudian dipindahkan ke komplek sekolahan Ursulin di Jalan Darmo pada tahun 1922 dan namanya dirubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru Santa Maria.

 Pada 28 Maret 1916 Rumah Piatu yang diasuh oleh para Bruder Santo Aloysius diserahkan secara resmi kepada Suster Ursulin. Rumah Piatu itu terletak diseberang Biara Ursulin Kepanjen. Tahun 1926 Rumah Piatu itu menjadi “Panti Asuhan Santa Ursula”. Komplek Biara Ursulin Kepanjen kemudian bertambah menjadi dua bagian. Biara, SD dan TKK Santa Angela berada di sebelah gereja, sedangkan panti Asuhan dan SD Santa Ursula diseberangnya.

 Pada tahun 1930 gedung lama “Panti Asuhan Santa Ursula” dirombak diganti baru. Dibangun pula aula di bagian sebelah kiri dan ruang-ruang kelas disebelah kanan.

 Usai perang kemerdekaan, pada tahun 1950 Kepanjen diserahkan kepada Suster Santa Perawan Maria (SPM) dan Frater Bunda Hati Kudus (BHK) 

 Rumah di Pacet saat ini dimulai ketika Suster membeli sebuah tanah di Kasri sebagai tempat peristirahatan pada tahun 1884. Kasri saat ini adalah sebuah desa di kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Namun karena rumah di Kasri terlalu kecil untuk dua komunitas Ursulin di Kepanjen dan Darmo maka dibelilah lahan baru di Pacet pada 25 September 1929.

 Rumah peristirahatan di Pacet selesai dan diberkati oleh Mgr. de Backere pada 20 April 1931 dan diberi nama Stella Matutina atau Bintang Kejora. ***

Jumat, 25 Maret 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (IV)

Tampak depan Biara Ursulin Pacet & Rumah Retret Bintang Kejora


 
Rumah Retret Pacet.
Biara Ursulin di Pacet menjadi pemberhentian akhir napak tilas jejak para Suster Ursulin di Surabaya. Sekitar dua jam dengan kendaraan roda empat dari surabaya lewat tol. “Kalo naik kendaraan umum bisa tiga jam. belum ganti angkot. Bisa tiga jam baru sampai di Pacet.” Kata driver Ojol di Surabaya. Untunglah, Suster Hilda berbaik hati mengirim sopir menjemput.

 Suasana sepi menyambut saat tiba, maklum sudah lewat jam tujuh malam. Seperti umumnya suasana pedesaan, hening. Pacet sendiri merupakan kota kecamatan di Kabupaten Mojokerto di kaki gunung Welirang. Saat ini Biara Ursul in di Pacet dimanfaatkan sebagai Rumah Retret Bintang Kejora.

 Keesokan paginya setelah sarapan, Suster Tari, Pemimpin Komunitas di Pacet menugaskan Pak Witono, karyawan Biara menemani keliling komplek.

Komplek Bintang Kejora dibagi menjadi empat bagian, Biara, Rumah retret, sekolah dan kebun. Biara untuk tempat tinggal para Suster berada di bagian depan. Dari pintu gerbang tinggal lurus saja. Area sekolah berada di sebelah kiri biara atau jika masuk dari pintu gerbang langsung belok kanan. Rumah Retret beserta fasilitasnya berada di sebelah dalam biara. Bagian terakhir adalah kebun, kebun ini mengelilingi Biara, Sekolah dan Rumah Retret.

 Pak Witono menjelaskan setiap detail fasilitas rumah retret dan kebun. Rumah retret terdiri beberapa unit gedung dengan kamar-kamar dan fasilitas pendukung. Tiap unit diberi nama antara lain Desenzano, Brescia dan Merici. Jumlah keseluruhan ada tujuh puluh lima kamar. Setiap kamar mampu menampung maksimal empat orang.

“Rumah ini dibangun sekitar tahun 1920an” terang Pak Witono saat memasuki serambi unit Desenzano. Saat sebelum pandemi, Rumah retret mampu menampung tiga ratus peserta atau beberapa kelompok retret. Peserta retret selain para suster biasanya dari komunitas sekolah Ursulin. Komunitas lain yang sering menggunakan adalah kelompok kategorial seperti ME (Marriage Encounter, komunitas pasangan suami istri katolik) Orang Muda Katolik (OMK) dan Misdinar (petugas pelayan imam saat misa)

Di area dapur, fasilitas memasak termasuk modern dan lengkap karena tidak hanya melayani logistik para peserta retret tetapi juga menjadi area produksi oleh-oleh khas biara.

Salah satu produksi oleh-oleh yang terkenal adalah Pie isi Murbei. Ada juga Pie dengan varian isi jamur dan daging ayam. Selain Pie ada berbagai jenis olahan lain seperti Selai, Keripik, berbagai jenis Roti, madu dan masih banyak lagi. Hampir seluruh bahan pokok produksi oleh-oleh berasal dari kebun sendiri.


 Dari dapur beralih ke kebun. Di kebun biara ditanam berbagai jenis sayuran, dan buah buahan. Buah-buahan yang ditanam diantaranya jeruk, pepaya, murbei, durian. Selain buah dan sayuran Suster juga beternak ayam dan ikan.

 Satu jam saja tidak cukup untuk menikmati seluruh area komplek Biara Ursulin di Pacet.  Pemandangan alam disekitarnya memanjakan mata serta hawanya sejuk.

Pantaslah para Suster memilih tempat ini menjadi rumah peristirahatan dan retret. Tempat yang pas untuk memulihkan kondisi jasmani dan rohani untuk melanjutkan tugas dan karya melayani sesama demi kemuliaan Allah
. (bersambung)



foto kiri: karyawan biara bagian dapur sedang memproduksi olahan khas Biara Pacet. 
Foto kanan atas & bawah: Serambi di depan kamar-kamar ruang retret.
foto insert: Bapak Witono yang mengantar keliling komplek


Jumat, 11 Maret 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (III)

Gereja Santa Maria dan Frateran BHK

Menjelang tengah hari, perjalanan dilanjutkan menuju gedung gereja Santa Perawan Maria (SPM) dan Biara Frateran Bunda Hati Kudus (BHK) yang terletak di seberang biara para Suster SPM. Nama yang dikenal masyarakat umum sebagai gereja SPM sebenarnya adalah Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria seperti yang tertulis di atas pintu masuk gereja.

 Dinding gereja SPM bagian luar masih tampak klasik dengan menonjolkan dinding bata. Interior gereja tampak megah dengan langit-langit yang cukup tinggi dan melengkung. Sementara di tembok dipasang kaca patri bergambar dimbol –simbol khas tradisi katolik, salib, Hati Kudus Yesus, burung merpati, Bunda Maria dan sebagainya.

 Pemasangan kaca patri tersebut tampak sebagai upaya gereja mengembalikan kemegahan gedung gereja ke masa lalu. Hal itu dikarenakan Gedung gereja SPM rusak berat selama perang kemerdekaan.

Perbaikan gereja dimulai tahun 1960 dengan mengembalikan tampak luar. Renovasi berikutnya fokus pada menara gereja dan terakhir adalah interior.
Dari gereja dilanjutkan ke biara Frateran BHK. Karya para Frater BHK di Kepanjen Surabaya adalah sekolah dan Asrama. Letaknya persis bersebelahan dengan Gereja SPM.

Frater Albinus BHK yang menemani keliling tidak mengetahui detail sejarah bangunan biara maupun gedung sekolah. Beliau baru pindah ke Kepanjen tahun 2019 jadi tidak mengenal betul sejarahnya.

Bangunan yang tampak berusia setua rumah biara Frateran BHK adalah gedung SD. Gedung SMP dan SMA menyesuaikan masa kini, bertingkat empat dengan desain modern. Sementara gedung asrama betul-betul gedung baru berlantai enam dan masih dalam tahap penyelesaian.

 Di dalam komplek area biara dan sekolah yang dikelola Frater BHK sama sekali tidak ditemukan jejak bersejarah peninggalan para Suster Ursulin . (bersambung)
Tampak luar gereja SPM

Interior gereja SPM

Frater Albinus BHK dengan Suster Henrica SPM. Foto kanan adalah taman di dalam biara Frateran BHK 

Karya para Frater BHK, sekolah dan Asrama






Jumat, 04 Maret 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (II)

 

Kunjungan ke Biara Suster SPM 

Kunjungan ke Biara SPM diawali janji ketemu via WA dengan Suster Henrica SPM, Pemimpin Komunitas Biara SPM Kepanjen Surabaya. Beliau menjanjikan bertemu jam 09.00

 Setelah menunggu di ruang tamu, Suster Henrica SPM tiba. Beliau baru saja mengantar salah seorang Suster lansia berobat dirumah sakit RKZ. Setelah berkenalan dan menyampaikan maksud tujuan untuk napak tilas Biara Ursulin, beliau berkenan mengantar keliling area Biara SPM.

 Ruang pertama yang dikunjungi adalah Ruang untuk Tamu menginap yang terletak di lantai dua sederet dengan kantor Yayasan. Ruang untuk tamu menginap tersebut semasa digunakan para Suster Ursulin adalah Kapel. Saat ini, ruang tersebut menjadi ruang untuk menginap bagi tamu dengan sekat tembok dibagi menjadi beberapa ruang yaitu dua ruang tidur, kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Kapelnya sendiri dipindah ke lantai bawah dekat refter. Menurut Suster Henrica Perubahan dilakukan kurang lebih antara tahun 1985 / 1986.

 Dari ruang tamu bekas kapel, dilanjutkan ke sebuah rumah kuno yang difungsikan sebagai kamar tidur para Suster. Rumah tersebut merupakan rumah pertama para Suster SPM ketika pertama kali datang menggantikan para Suster Ursulin tahun 1950. Struktur dan eksterior rumah kuno tersebut tidak mengalami perubahan, hanya tambahan fasilitas beberapa kamar mandi dalam. Ruangan untuk menjahit beserta lemari juga tidak berubah, semua masih terpelihara baik. Dari rumah kuno tersebut bergeser menuju kapel melewati refter. Refter sendiri termasuk gedung baru yang dibangun sekitar tahun 1980an.

 Gedung Kapel terletak disamping Refter. Interior Kapel sederhana dengan ornamen kaca patri yang dibawa dari kapel lama. Di kapel tidak bisa bergerak leluasa untuk memotret ataupun melihat detail bagian dalam karena ada Suster yang berdoa dan ada yang bekerja. Suasana Kapel hening. Takut mengganggu aktifitas para Suster, tour dilanjutkan ke sebuah bangunan tua tempat wasrey atau tempat cuci baju para Suster.

 Bangunan tempat cuci tersebut disekat menjadi dua bagian utama, untuk tempat cuci segala jenis kain milik suster dan dibagian lain untuk asrama. Kedua Ruang dibatasi dinding tembok bata setinggi kurang lebih dua setengah meter. Di dalam bangunan itu pula tersedia ruang untuk menyetrika. Dinding bata setinggi satu meter menyekat ruang cuci dengan ruang setrika. Perlengkapan mencuci dan setrika menggunakan peralatan modern, sedangkan meja setrika dan lemari penyimpanan masih menggunakan meja dan lemari kuno.

Dari Wasrey menuju ke area SD. Nama SD Santa Angela tidak berubah sejak dikelola para Suster Ursulin dan terus dilanjutkan para Suster SPM. Para Suster SPM juga menambahkan patung Santa Santa Angela. Gedung SD juga tidak mengalami perubahan struktur. Penambahan ruang –ruang serta warna cat dinding menyesuaikan dengan kebutuhan. Tour ke dalam bangunan SD tidak bisa leluasa karena masih jam sekolah.

Suster Henrica kemudian mengajak ke gedung Panti Asuhan dan Asrama. Gedung Panti Asuhan dan Asrama Santa Yulia berdiri kokoh sejak 1930. Meskipun tanpak kokoh, di beberapa titik, dinding tampak berjamur serta mengelupas. Secara umum, gedung tidak mengalami perubahan fisik kecuali warna cat yang disesuaikan kondisi masa kini. Meja dan wastafel dapur asli dipindah ke bagian serambi belakang untuk cuci piring. Meja dan lemari asrama sebagian besar masih menggunakan model lama. Pintu, jendela serta berbagai furniture terpelihara baik.

 Ruangan di lantai dua seperti aula besar. Jarak lantai dengan langit-langit plafon kurang lebih sekitar 4.5 meter seperti bangunan kuno pada umumnya. Ruangan itu disekat mirip kamar rumah sakit dengan tinggi sekat 2,4 meter. Ada delapan kamar dengan setiap kamar menampung maksimal sepuluh anak. Saat ini karena situasi pandemi, anak asrama dikembalikan kepada keluarga masing-masing. Gedung PA-Asrama Santa Yulia menjadi gedung terakhir yang dikunjungi.

 Posisi gedung PA-Asrama Santa Yulia berada ditengah-tengah, jika dilihat dari pintu masuk utama jalan Kepanjen. Di sebelah kanannya ada gedung dua lantai yang memanjang ke belakang. Gedung tersebut menjadi kantor Yayasan di bagian atas dan di bagian bawah menjadi ruang kelas TK. Gedung TK dan Kantor Yayasan tersebut, ketika masih dikelola para Suster Ursulin merupakan ruang-ruang kelas dari Sekolah Kepandaian Putri. Bagian kiri gedung Panti Asuhan- Asrama Santa Yulia terdapat dua gedung, Aula dan SD Santa Angela. Bangunan gedung SD masih menggunakan gedung lama sejak masih dikelola para Suster Ursulin.

Gedung Aula dengan empat lantai termasuk gedung baru. Lantai dasar dibuat lebih tinggi dari gedung lainnya karena komplek biara dan sekolah sering kebanjiran. Untuk mengatasi banjir tidak masuk ke dalam, dibuat tanggul pembatas disepanjang serambi semua gedung tua.

Secara keseluruhan bangunan gedung di dalam komplek sekolah dan biara para Suster SPM terpelihara baik. Setiap tamu yang berkunjung masih dapat melihat jejak-jejak karya para Suster Ursulin pada masa lampau. (bersambung)


Para Suster SPM tinggal di dalam rumah ini saat pertama kali datang tahun 1950 untuk melanjutkan karya para Suster Ursulin. Rumah ini sekarang menjadi rumah lansia, berada di dalam komplek Biara SPM Kepanjen
Kapel biara para Suster SPM


Suasana di Wasrey tempat untuk mencuci dan setrika.

Para Suster SPM Melanjutkan karya pendidikan SD Santa Angela yang dirintis para Suster Ursulin.

Serambi & tangga menuju lt. 2, gedung PA-Asrama St. Yulia yang dilayani para Suster SPM saat ini, dulu bernama St. Ursula


Tampak bagian dalam di lantai dasar gedung PA-Asrama St. Yulia.


Serambi & kamar di lt. 2 PA-Asrama St. Yulia.





Kamis, 24 Februari 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (I)



Senin 24/1/2022 menjadi kesempatan istimewa dapat berziarah dan napak tilas jejak para Suster Ursulin di Surabaya. Napak tilas dimulai dengan ziarah ke makam para Suster Ursulin di Makam Belanda Peneleh dilanjutkan ke Biara Santa Perawan Maria (SPM) dan Biara Frater Bunda Hati Kudus (BHK) di Kepanjen. 

Biara Suster SPM dan Frateran BHK pada awal mulanya milik para suster Ursulin. Perang kemerdekaan 1945 mengubah situasi menyebabkan para suster Ursulin kehilangan banyak anggota yang menjadi korban perang dan menyerahkannya kepada para Suster SPM dan Frater BHK agar pelayanan kepada msyarakat dapat terus berjalan.
Makam Belanda Peneleh
Perjalanan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya ke pemakaman Belanda Peneleh ditempuh tidak sampai setengah jam. Ongkos Ojol cukup terjangkau, tidak sampai lima belas ribu Rupiah, sudah termasuk tip driver.
 
Di Makam Belanda Peneleh, dimakamkan Suster Ursula Meertens pemimpin tujuh Suster Ursulin pionir ke Batavia tahun 1856. Suster Ursula Meertens dimakamkan bersama para Suster lain di komunitas Kepanjen Surabaya dalam satu blok. Blok makam para Suster itu ditutup dengan semen. Panjangnya kurang lebih 17 langkah dengan lebar 7 langkah.
 
Batu besar berukir menutup blok makam para suster. Lempengan batu kecil dengan tulisan berwarna kuning emas menempel pada batu besar menjadi sebuah kumpulan nisan.
 
Nisan Suster Louise Demarteau sebagai pemimpin pertama komunitas Ursulin Kepanjen posisinya paling atas dan paling besar menghadap ke Utara. Pada nisannya tertulis dalam bahasa belanda: TERGEDACHTENIS AAN DE EERW. MOEDER LOUISE EERSTE OVERSTE DER EERW.ZUSTER URSULINEN SOERABAJA OVERLEDEN14 MAART 1890 VAN HARE DANKBARE LEERLINGEN.
 
Di sisi timur bersebelahan dengan nisan Suster Louise Demarteau, terdapat nisan Suster Aldegonde, beliau pernah pernah memimpin Ursulin di Buitenzorg (Bogor) dan dimakamkan pada tahun 1914. Di sisi utara dan barat tidak ada nisan yang tertulis, entah copot atau memang kosong.
 
Sementara nisan Suster Ursula Meertens, pemimpin pertama pionir dan komunitas Ursulin di Batavia malah berada di sudut bagian bawah, kontras dengan kedua pemimpin komunitas di Surabaya dan Bogor.
    
Suster Ursula Meertens memang rendah hati, dalam kronik Noordwijk tertulis alasan beliau pindah ke Surabaya setelah lama memimpin komunitas di Batavia, yaitu supaya ia tidak dikenal. Di puncak nisan itu ada patung salib dengan relief mahkota duri.

 Banyak nisan yang lepas dan hanya ditulis angka. Mas Adi, petugas kebersihan, menuturkan bahwa ia tidak mengetahui persisnya sejak kapan batu nisan mulai copot karena ada petugas khusus yang mengurusi batu nisan. Salah satu lempeng batu nisan yang bertuliskan nama Suster Odile, wafat tahun 1816. Padahal para Suster Ursulin berada di Surabaya pada Oktober 1863, jadi bisa dipastikan tulisan itu keliru.
 
Ketika ditanyakan ke Mas Adi mengapa warna huruf di batu nisan dicat kuning? ia mengatakan bahwa yang mengecat bukan petugas makam. “Yang ngecat Nisan itu dari CIPTA KARYA, kontraktor, bukan petugas makam. Dicat karena waktu itu mau ada kunjungan dari Belanda jadi mereka yang ngecat.”
 
Mas Adi bertugas membersihkan, merapikan, merawat tanaman dan pohon di area pemakaman. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Makam Belanda Peneleh sejak 2016.
 
Setelah memotret makam para suster dan mendoakannya, dilanjutkan ke makam Pastor Martinus van den Elzen SJ. Beliau yang mengundang dan mengajak para Suster Ursulindi Batavia untuk berkarya di Surabaya.
 
Masih menurut Mas Adi, pengunjung dari Semarang dan Malang banyak yang berziarah ke makam para Suster Ursulin dan ke makam Pastor Martinus Van Den Elzen. Makam pastor terletak tak jauh dari pintu masuk. Begitu pengunjung memasuki area pemakaman, tinggal lurus saja, maka akan langsung ketemu makam Pastor van den Elzen.
 
Pastor Martinus van den Elzen serta para Suster Ursulin menjadi salah satu bagian dari sejarah kota Surabaya. Baik nisan Pator van den Elzen maupun para Suster Ursulin, semuanya terawat baik.
(bersambung)
Tulisan "Makam Belanda Peneleh" didinding kantor pengelola disamping pintu gerbang
Tulisan "Makam Belanda Peneleh" didinding kantor pengelola disamping pintu gerbang

Nisan para Suster Ursulin

Nisan Suster Louise Demarteau

Nisan Suster Aldegonde


Nisan Suster Ursula Meertens, ujung kiri

Nisan yang copot

Mas Adi petugas makam

Nisan Pastor Martinus van den Elzen


Register Bukan Sekedar Pencatatan

  Berdasarkan PP No.66 Tahun 2015, Penjelasan Pasal 11 ayat 2, Sumber Daya Manusia yang harus dimiliki sebuah Museum adalah tenaga ...