Sabtu, 09 Mei 2020

Pentingnya Pendataan Koleksi Dan Tantangannya

Koleksi benda pamer museum dapat menunjukkan visi misi museum yang bersangkutan. Oleh karena itu benda pamer koleksi museum menjadi salah satu pembicaraan dari panitia revitalisasi gedung Santa Maria agar sesuai dengan storyline yang sedang disusun. Itu semua tentunya demi meningkatkan minat kunjungan masyarakat ke Museum Santa Maria.

Selama pandemic Covid-19, pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Pemberlakuan PSBB membuat Museum Santa Maria menutup museum dari kunjungan wisatawan. Penutupan kunjungan bagi wisatawan dimanfaatkan Museum Santa Maria terutama untuk menginventarisasi benda koleksi.

Sebelumnya pernah dilakukan diinventarisasi oleh para volunteer, namun karena terdapat perbedaan hasil akhir, maka perlu dilakukan pendataan ulang.

Jumlah koleksi museum ini penting untuk diketahui karena menyangkut cerita dan sejarah yang ditampilkan sebagai wajah museum Santa Maria. Nilai asset yang sesungguhnya, tidak dapat dinilai dengan angka/rupiah karena sejarah tidak dapat diulang persis.

“Kekayaan” yang dimiliki bukan untuk dipamerkan tetapi sebagai salah satu bukti hasil nyata perjuangan para pendahulu dalam merawat karya dan kiprahnya sehingga mampu bertahan sampai saat ini. Manajemen aset juga menjadi salah satu alat ukur seberapa besar kemampuan Museum Santa Maria dalam mengelola ,merawat serta mempertahankan eksistensi museum.
Proses pendataan atau inventarisir ini perlu diupayakan dengan baik meski dalam proses pencatatan terjadi pengulangan.Tantangan keterbatasan sumber daya karena jumlah tenaga untuk mendata yang awalnya mengandalkan volunteer , tidak dapat dipastikan kontinuitas pelayannya khususnya dimasa pandemic saat ini.

Perlu teknis pendataan yang jelas, tepat dan sahih. Sebab harus memikirkan teknis kemudahannya ketika data dalam computer perlu diakses sewaktu-waktu. Tantangan lainnya adalah ketelitian dalam meng-input data ke dalam sistem excel. Perlu banyak waktu dan tenaga.

Dengan mempelajari contoh pendataan dari para ahli dan belajar dari orang-orang/instansi yang sudah berpengalaman akan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, sederhana dan tidak membuang waktu.

Hal itu membutuhkan sebuah aplikasi program sederhana untuk memudahkan proses pendataan. Setelah berkonsultasi dengan tim IT yayasan maka digunakanlah google form sebagai alat bantu.

Penggunaan google form lebih mudah karena dapat diakses dari HP yang selalu dipegang dan inventaris tercatat dalam direktori server milik Yayasan. Artinya mau diakses kapanpun bisa yang penting tahu kuncinya.***

Senin, 27 April 2020

PIONIR PENDIDIKAN PEREMPUAN PERTAMA

Ketika Biara dan Sekolah Santa Maria didirikan pertama kali pada tahun 1856, para Suster Ursulin juga diminta mendirikan Asrama atau dalam bahasa Belanda “Internaat”. Asrama ini dimaksudkan untuk menunjang adanya persekolahan dan kebutuhan tempat tinggal anak-anak yang orang tuanya kebanyakan tinggal di ‘luar kota’ karena bekerja di onderneming (=perkebunan).

Begitu sampai di rumah Noordwijk nomor 29, rupanya para suster sudah tidak sabar lagi, karena ingin segera memulai tugas pelayanannya. Mereka ingin segera membuka sekolah. Namun hal itu tidak disetujui oleh Mgr. Vrancken karena persiapan untuk membuka sekolah itu tidak mudah. Banyak sekali persiapan yang harus dilakukan, terutama membiasakan diri dengan iklim tropis dan memahami adat-istiadat budaya masyarakat Batavia.

Selain itu para suster harus menyiapkan segala persyaratan pendirian sekolah, antara lain: tempat / gedung sekolah beserta ruanganruangannya, ijazah dari para calon pengajarnya, serta perizinan dari pemerintah yaitu Komisi Pengajaran Umum, dll. Pada pertengahan bulan Februari Mgr. Vrancken sendiri datang dan seluruh kompleks serta kebun yang luas itu, diberkati oleh Monseigneur.
Sebagai pimpinan, Suster Ursula Meertens segera mempersiapkan segala persyaratan pendirian sekolah kepada Komisi Pengajaran Umum, yaitu: Mengajukan permohonan tertulis / izin pendirian sekolah dan mengirimkan ijazah dari para pengajarnya sebagai bukti kelayakan mengajar. Segala proses pengurusan itu dibantu oleh Mgr. Vrancken, sehingga semuanya dapat berjalan lancar. Pada tanggal 17 April 1856 semua surat permintaan izin mengajar diserahkan kepada pemerintah, kemudian pada tanggal 10 Juli, dokumen dengan persetujuan Komisi Pengajaran Umum telah diterima kembali.

Ketika segala persiapan telah dirasa cukup, maka pada tanggal 1 Agustus 1856 Suster pimpinan Komunitas Ursula Meertens, resmi membuka pendaftaran murid baru. Satu per satu murid yang berminat masuk sekolah diterima dan dilayani para suster dengan penuh kesabaran. Bulan demi bulan murid yang datang kian banyak.

Dibalik kegembiraan mengalirnya banyak murid, para suster masih harus memikirkan hal-hal lain yang tidak kalah penting dalam penyelenggaraan persekolahan. Walaupun tujuan dibukanya persekolahan ini adalah membantu pemerintah sepenuhnya supaya anak-anak mendapatkan kesempatan belajar, namun segala persyaratan administratif tetap harus dipenuhi.***(Sumber: buku Ursulin Pendidik Perempuan Pertama Di Indonesia. hal.53)

Senin, 13 April 2020

Kaleidoskop 2019

Kaleidoskop Santa Maria tahun 2019 terbagi dalam dua video. Video bagian pertama  berisi  kumpulan berbagai foto kegiatan dari Januari sampai dengan Juni 2019.  Video bagian kedua, foto kegiatan dari bulan Juli sampai Desember 2019. Berbagai kegiatan internal maupun  eksternal kami rangkum dalam dua video pendek ini. Masih banyak  kekurangan dalam video tersebut karena keterbatasan kami. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan untuk evaluasi kami. Selamat menikmati. 
Terima kasih.



Bagian 1

Bagian 2 


Rabu, 08 April 2020

Museum, Cara Baru Berkatekese


Museum menjadi sarana berkatekese model baru memperkenalkan katolik kepada masyarakat. Museum Santa Maria mempraktekkan hal tersebut saat menerima kunjungan tamu dari non katolik.

Banyak dari masyarakat yang belum paham mengenai katolik, dan ketika berkunjung ke Museum Santa Maria mereka biasanya bertanya banyak hal tentang katolik dimulai dari benda koleksi museum kemudian kebiasaan hidup atau tradisi para suster yang menjadi bagian dari cerita dalam tour Museum Santa Maria.

Museum Santa Maria mulai 2016 terbuka dan menerima tamu masyarakat umum. Sejak itu sering menerima tamu yang didominasi non katolik. Mereka tertarik mengunjungi Museum Santa Maria karena letak Gedung Santa Maria yang tampak berusia tua berada diantara Weltevreden (kawasan Gambir) menuju Old Batavia (Kota Tua) dimana kedua tempat tersebut adalah pusat pemerintahan dari jaman VOC sampai ke pemerintah Belanda sehingga menjadi salah satu destinasi walking tour dari berbagai komunitas pencinta sejarah.













Beberapa komunitas yang sering berkunjung ke Museum Santa Maria antara lain Komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak) Indonesia Hidden Heritage (IHH) Sahabat Budaya, Jelajah Budaya, Sejarah Museum (Semu) dan berbagai komunitas lain. Ada pula yang datang secara pribadi karena tertarik dengan keberadaan museum yang baru diketahui. Kunjungan terakhir dari komunitas Indonesia Hidden Heritage (IHH) Sabtu 29/2/2020 lalu.

Dalam kunjungannya, masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan antara Katolik dan Kristen lain. Mayoritas tamu memahami bahwa katolik itu sama dengan Kristen yang lain karena kitab suci, nama tempat ibadah dan Tuhannya sama. Ketiga hal tersebut, menjadi pertanyaan yang sering ditanyakan dan kemudian melebar kebanyak hal, dari hirarki gereja, wilayah paroki, pernikahan dan sebagainya.

Banyaknya pertanyaan terkait gereja katolik, membuat pemandu museum harus belajar banyak tentang kekatolikan. Karena masyarakat yang datang, bertanya dengan jujur dan tulus karena ketidak tahuannya dan bukan mengajak berdebat.

Selain cerita sejarah kedatangan, perjuangan dan merawat karya para Suster Ursulin, Museum Santa Maria juga menjadi sarana memperkenalkan dan mengkomunikasikan katolik dengan tradisinya serta menyebarluaskan kebijakan para gembala gereja gereja khususnya di keuskupan Agung Jakarta (KAJ) kepada masyarakat umum secara khusus di tahun keadilan saat ini.***



Jumat, 20 Maret 2020

EFEK CORONA


Museum Santa Maria tutup sementara mulai 16 Maret sampai dengan 29 Maret 2020. Bersama dengan sekitar 107 Museum di seluruh Indonesia untuk mendukung pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Virus Corona.

Organisasi Kesehatan Dunia, atau WHO menyebutnya sebagai COVID-19 yang artinya Corona Virus Disease yang muncul tahun 2019. Virus ini ditengarai pertama kali muncul di kota Wuhan China pada 31 Desember 2019. Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sendiri yang menjelaskannya dalam siaran pers di Jenewa, Februari 2020.

Dengan penetapan KLB (Kejadian Luar Biasa) ini, pemerintah menganjurkan untuk sementara “belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah.” Pemerintah juga menegaskan perlunya karantina mandiri, isolasi lokal dengan menghindari berkumpulnya massa, penutupan berbagai tempat umum, termasuk Museum. Tujuannya tidak lain agar orang sehat yang tidak sadar sebagai Pembawa Virus Corona atau Carrier tidak menyebarkan atau menularkan virus kepada siapa saja.

Virus Corona menyerang siapa saja melalui cairan yang keluar dari penderita (droplet) saat bersin, batuk atau berbicara. Orang lanjut usia (lansia) dan anak-anak rentan terserang berbagai penyakit, termasuk COVID-19 karena sistem imun sebagai pelindung tubuh tidak bekerja sekuat ketika masih muda atau orang dewasa.
Museum Santa Maria biasanya sering dikunjungi oleh lansia, khususnya para alumni dan tentu saja anak-anak sekolah. Disini, tidak hanya Museum, ada Kampus Santa Maria dari TK-SD-SMP dan SMK. Semua siswa dialihkan dengan belajar dan berkegiatan dari rumah. Para guru dan karyawan piket masih masuk seperti biasa, hanya jam kerjanya dipersingkat. Selain ada tambahan nutrisi dan suplemen selama bekerja, mereka juga diminta untuk memperhatikan ‘distancing’, bekerja dan berelasi dengan berjarak

Bersamaan dengan KLB ini, seluruh komplek area Kampus Santa Maria termasuk Museum dilakukan sterilisasi dan penyemprotan disinfektan untuk mencegah virus atau bakteri yang menempel dan berkembang biak serta menyediakan hand sanitizer di sudut-sudut pintu dan ruang untuk tamu urusan penting. Sharing Museum secara digital dan penanganan museum untuk pencegahan terus dilakukan untuk saling mendukung satu sama lain.

Semoga masa-masa berat dan kritis ini segera dapat berlalu. Dan tidak henti-hentinya semua diajak berdoa bersama, supaya pemerintah pusat dan daerah bersatu-padu melawan CoVID 19, bagi para pasien agar cepat sembuh, dan bagi pejuang di garis depan, para medis, dokter dan perawat yang memberikan dirinya untuk kesembuhan orang banyak.


Sabtu, 22 Februari 2020

Museum Santa Maria Dalam Temu Mugalemon 2019



Museum Santa Maria sepanjang 2019 mengikuti  delapan kali  Temu Mugalemon.  Temu Mugalemon  adalah pertemuan rutin bulanan bagi para pengelola Museum Galeri  dan Monumen di wilayah Jakarta.

Selain sebagai peserta dalam Temu  Mugalemon, Museum Santa Maria juga terlibat sebagai tuan rumah yang dihelat bertepatan dengan International Museum Day 2019 pada 18 Mei. Selain itu Museum Santa Maria juga terlibat dalam pameran   museum bersama   yang diselenggarakan berbagai pihak. Berikut beberapa foto kehadiran Museum Santa Maria dalam Temu Mugalemon  sebagai bentuk  keterlibatan dan persaudaraan diantara para pengelola Museum Galeri dan Monumen.

Terima kasih kepada Mba Yuli staff Museum Kehutanan  sekaligus humas AMIDA Paramita Jaya atas sumbangan beberapa fotonya. Apabila anda melihat ada bagian video  yang perlu perbaikan, mohon  berkenan menginformasikan kepada kami. Terima kasih.***



Jumat, 14 Februari 2020

Pengunjung Museum Santa Maria 2019


Museum Santa Maria mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak khususnya para pengunjung yang membuat Museum Santa Maria semakin berarti. 

Berikut kami tampilkan video berisi tangkapan kamera para pengunjung yang berhasil diabadikan. Total ada 2359 pengunjung  yang tercatat sepanjang 2019. Sesungguhnya ada lebih banyak pengunjung yang datang namun tidak tercatat dan hal tersebut menjadi tantangan kami untuk berbenah karena pengunjung  yang tidak tercatat menunjukkan bahwa kami masih kurang dalam menyapa dan melayani.

Semoga video  ini dapat memberi  gambaran jumlah dan variasi jenis pengunjung. Juga sedikit gambaran sejauh mana kami melayani anda sekalian. Terima kasih.

Selamat menikmati. 









Selasa, 04 Februari 2020

Catatan 2019


Sepanjang tahun 2019, suasana meriah dan gegap gempita dirasakan Museum Santa Maria sejak awal tahun. Diawali dengan perayaan HUT Sewindu dengan peresmian Papan Nama Museum Santa Maria oleh Suster Maria Sasmita, OSU kepala Biara pada 6 Februari. Persiapan dan kesibukan untuk acara ini dimulai sejak awal Januari saat libur akhir tahun sebelumnya usai.

Dalam peresmian tersebut, hadir para undangan dari institusi sekolah terdekat, perwakilan komunitas relasi Museum Santa Maria dan para Suster Ursulin dari berbagai komunitas di Jakarta. Bpk Harry Darsono turut memeriahkan pesta dengan mempersembahkan permainan piano yang penuh semangat.

Usai peresmian, di akhir bulan Februari tgl 27 Museum Santa Maria menggelar diskusi dengan sejarahwan Scott Merilless. Diskusi yang membahas tentang gedung Santa Maria dan situasi di Batavia mengundang beberapa komunitas relasi Santa Maria seperti Ngopi Jakarta (Ngojak) dan Indonesia Hidden Heritage (IHH)

Awal bulan Maret ada FGD (Focus Group Discussion) mengundang para arsitek pencinta sejarah dari Pusat Data Arsitektur (PDA), maupun relasi para Suster, Romo Heuken sejarahwan dan P Budi Liem , Mas Kartum dari komunitas pencinta sejarah, Arbain Rambey Fotografer senior Harian KOMPAS yang juga relawan di Musuem Santa Maria. Dalam diskusi yang mengundang Ibu Aning, petinggi di Museum Nasional, Mba Ria dari PDA dan Yori Antar sebagai pemateri dalam FGD membahas tentang gedung Santa Maria dan rencana revitalisasi.

Disela berbagai acara tersebut, Museum Santa Maria juga menggelar Lomba foto yang dimulai sejak 7 Februari sampai dengan 13 April. Total peserta lomba foto yang mendaftar sebanyak 183 orang. Dari jumlah tersebut terpilih 22 orang finalis dengan total 56 foto. Hasil foto karya peserta kemudian di pamerkan saat memperingati International Museum Day 18 Mei di aula SD Santa Maria. Dalam helatan International Museum Day, Museum Santa Maria sebagai tuan rumah dari gabungan acara dengan temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) se DKI Jakarta. Usai Acara yang cukup melelahkan kami rekreasi sejenak Ke Bandung mengunjungi Biara Ursulin di Bandung pada 3 Juni.

Program pengenalan Lingkungan Kampus pada awal Tahun Ajaran Baru Sekolah, Museum juga tetap melayani para siswa baru dari SD, SMP dan SMK yang sudah diatur jadwalnya oleh Unit masing-masing untuk mengenal Museum Santa Maria lebih dekat.

Di bulan Agustus kembali Museum Santa Maria disibukkan dengan persiapan Pameran di gedung DPR dalam rangka HUT ke 28 Museum DPR. Pameran dilaksanakan selama 3 hari dari 19 sampai 21 Agustus. Dalam pameran yang diikuti 20 museum dan komunitas, Museum Santa Maria meraih penghargaan kedua sebagai booth terbaik.

Selain itu, Museum Santa Maria juga terlibat dalam open house kampus Santa Maria dalam rangka memperkenalkan sekaligus menjaring siswa/I baru bagi unit-unit di kampus Santa Maria di bulan September. Selama dua hari booth museum Santa Maria menjadi daya tarik pengunjung dan menjadi arena photoboth. 
Usai pameran, Staff dan relawan Museum menyempatkan rekreasi sambil belajar dengan mnengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika dan Museum Geologi di Bandung pada 28 September.

Di Bulan Oktober, kesibukan terulang kembali. Museum Santa Maria terlibat dalam tiga kegiatan sekaligus dalam rangka Hari Museum Indonesia. Pameran benda koleksi yang diselenggarakan direktorat Pelestarian Cagar Budaya Kemendikbud dengan dinas Pariwisata Provinsi DKI, Gerebeg Museum dan pameran Museum yang dihelat dinas pariwisata provinsi DKI bekerja sama dengan DISHUB dan DIKNAS.

Dua acara, pameran benda koleksi dan pameran museum dilaksanakan di Plaza Fatahilah halaman Museum Sejarah Jakarta. Sedangkan Grebeg Museum kegiatan yang melibatkan masyarakat mengunjungi museum yang disusun oleh panitia. Dalam jadwal yang disusun panitia, Museum Santa Maria mendapat kunjungan 10 Rombongan. Agak mengejutkan dan sempat was was takut kurang mampu melayani tamu dengan Maksimal. Ternyata dalam pelaksanaanya Museum Santa Maria hanya mendapat 2 kali kunjungan dari komunitas Sekolah Luar Biasa di Bintaro dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta Barat. Meski tidak sesuai ekspektasi namun tetap disyukuri karena Museum Santa Maria semakin dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata.

Di Bulan November, tepat di akhir bulan pada hari Sabtu, 30 November Museum Santa Maria terakhir kalinya di tahun 2019 membuka booth dalam rangka memeriahkan Gathering Alumni Santa Maria. Gathering dan reuni sekaligus peresmian Ikatan Alumni Santa Maria Juanda (IA SAJA). Ikatan alumni dibentuk sebagai wujud ikatan batin para siswa/I yang sudah lulus dari kampus Santa Maria.

Di bulan Desember, Museum ikut terlibat dalam pencarian dana revitalisasi Museum dengan berjualan payung, tumbler dan kalender. Museum dibantu komunitas Jumat Pertama untuk proses pencarian dana.

Selama 2019, total pengunjung yang datang tercatat di buku tamu 2.359 orang belum termasuk relasi para Suster yang datang secara khusus tanpa mengisi buku tamu. Di tahun ini pula, Museum Santa Maria menerima siswa magang dari SMK Santa Maria jurusan Multimedia. Selama kurang lebih 3 bulan mereka membantu staff Museum dalam publikasi dengan membuat poster dan materi Instagram serta beberapa program database museum. Di Bulan Mei- Agustus dua orang dari kampus Sanata Dharma Yogyakarta dan Pignateli Surakarta berkesempatan Magang.

Berbagai kegiatan menunjukkan bahwa Museum Santa Maria terus hidup. Relasi dan keterlibatan dengan berbagai pihak menambah referensi dalam berbenah untuk meningkatkan tata kelola museum menjadi lebih baik. Keterbatasan tenaga menjadi salah satu tantangan dalam usaha mengembangkan dan membenahi museum. Beberapa program seperti pameran di paroki-paroki belum terwujud. Penataan ulang masih menunggu proses revitalisasi museum yang sedang berjalan. Masih ada hal lain yang belum tercatat dan terlaksana tetapi semangat masih terpelihara untuk melayani gereja dan masyarakat khususnya di Jakarta melalui kehadiran Museum Santa Maria ***

Sabtu, 11 Januari 2020

Temu Mugalemon Edisi Tutup Tahun 2019


Oleh Veronica Wenehen 

Temu Mugalemon edisi penutup Tahun 2019 pada 10 Desember di Gedung Layanan Publik Badan Litbang Kesehatan, tepatnya di Ruang Rajawali Lantai 2. Acara dibuka pada pukul 13.00 WIB dengan Doa Pembukaan dan Sambutan dari Kepala Badan Litbang Kesehatan. Beliau mengatakan bahwa Badan Litbang Kesehatan sedang merayakan ulang tahun ke-44,  sebelumnya ada Lembaga Dinas Kesehatan, dahulu namanya Lembaga Kesehatan Nasional  tahun 1975, cita-citanya adalah mencontoh yang ada di Amerika, di sana sebutannya National Institute of Health.

Sesi pertama Pertemuan Mugalemon diisi oleh Kang Asep Kambali, yang berbicara mengenai Tantangan Museum di Era Industri 4.0 dan Society 5.0. Beliau mencontohkan Spy Museum di Washington, Amerika Serikat, yang untuk masuk museum pengunjung diharuskan menembus laser. Kang Asep mengatakan bahwa kami semua para pejuang museum, dan posisinya mudah-mudahan tidak ada yang dimuseumkan lagi. Kalimat yang menurut saya menyentuh adalah ketika Kang Asep mengatakan bahwa : “Museum adalah tempat bertemunya waktu, kita bisa melihat masa lalu, di masa kini, sambil bermimpi tentang masa depan.

Society 5.0 artinya bagaimana semuanya sudah terintegrasi, dan sekarang sudah terjadi. Sekarang ada google home, yang diciptakan cocok untuk para jomblo atau single. Yang mengingatkan setiap jadwal kita. Society 1.0 dimulai dari jaman batu, Society 2.0 mulai bercocok tanam, Society 3.0 ditandai dengan adanya industrialisasi, Society 4.0 muncul informasi society, yaitu internet, dan terakhir Society 5.0 lebih gila, Internet Of Things menyebabkan big data dan Artificial Intelegent (AI). Sejak bulan Januari tahun 2019, di Jepang mulai diumumkan dimulainya era Society 5.0

Setelah sesi awal, disambung dengan sambutan dari ketua AMI DKI Jakarta, Paramita Jaya, Pak Yoyok, yang mengatakan bahwa telah hadir diantara kita para Duta Museum mewakili DKI Jakarta.

Sesi kedua dipaparkan oleh Pak Prioyulianto Hutomo, dengan tema : Penyusunan Kebijakan dan Standar Prosedur Operasional Pengelolaan Museum di Era Industri 4.0, dengan Dasar Hukum : Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (Pasal 18 ayat 5), dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.

Menurut ICOMM, Museum adalah Lembaga Pendidikan. Visi dan misi saya sebut sebagai bahasa langit ke tujuh. Visi Museum adalah kata kuncinya : melestarikan dan mengkomunikasikan. Seringkali nama museum tidak dipikirkan, tidak fokus. Misi museum mesti jelas dalam bahasa yang singkat. Museum sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Koleksi museum bisa jadi alat peraga. Museum tanpa koleksi itu mustahil.***

Jumat, 10 Januari 2020

Duka Saat Mulai Melangkah


Vero  promosi Museum Santa Maria saat reuni & Gathering Ikatan Alumni Santa Maria Juanda (IASAJA) 30/11/2019 di halaman SD Santa Maria 

Awal 2020 Museum Santa Maria berduka. Salah satu pemandu, Veronica Wenehen menghadap Sang Pencipta. Akhir Desember 2019, saat diundang untuk rapat persiapan Program Museum tahun 2020, Vero menegaskan bahwa ia akan hadir kalau sudah sembuh. Artinya, hanya sakit sajalah yang menghalangi pelayanan tugasnya. Sabtu 4 Januari 2020, pesan dan panggilan via WhatsApp untuk hadir rapat dibalas dengan pesan “Maaf Kak, aku masih sakit, doain aku ya.”

Museum Santa Maria bersiap melangkah menatap tahun 2020 penuh optimis. Namun “Doain aku” menjadi pesan terakhir Vero . Kami sungguh terkejut mendengar berita kematiannya, bak disengat petir, antara percaya dan tidak. Awan mendung menambah kegalauan hati, seolah ikut berduka. Kami sungguh kehilangan. Ingatan pun melayang mencoba mereka-reka  ulang  awal  perjumpaan  dan pelayanan  Vero di Komunitas Museum Santa Maria.

Vero mulai terlibat melayani di Museum Santa Maria 28 Desember 2015. Saat itu Vero anak ke 8, dan putri bungsu dari 10 bersaudara, diajak kakaknya Lucia Wenehen (putri ke 5) bertemu dengan Suster Lucia OSU  Kepala Museum Santa Maria. Vero diajak terlibat dalam persiapan perayaan syukur 160 tahun Ursulin di Indonesia yang  jatuh pada 7 Februari 2016.
  
Usai perayaan syukur yang meriah, Vero tetap melanjutkan pelayanannya menjadi Pemandu Museum Santa Maria. Bulan Mei 2019 Vero menegaskan bahwa niatnya melayani dibuktikan dengan lulus uji sertifikasi pemandu Museum dan bergabung dalam keanggotaan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI). Kegiatan terakhir yang ia ikuti adalah Kegiatan Bimtek Pengelolaan Database yang diadakan oleh Kemendikbud mewakili Museum Santa Maria, akhir November 2019.

Vero sungguh-sungguh mewujudkan semangat SERVIAM dalam hidupnya, pelayanannya, persaudaraan dan di setiap perjumpaan.  Dedikasi dalam tugas dan pekerjaan membuatnya sering terlambat makan. Ditambah lagi kesukaan dengan masakan pedas  dengan alasan menambah semangat bekerja menjadikan lambungnya rentan dengan asam lambung. Tak kuasa menahan sakit akibat peningkatan asam lambung,  Vero  menghadap Sang Khalik dalam perjalanan menuju Rumah Sakit pada Senin 6 Januari 2020 dini hari dipangkuan suami tercinta Mas Ade, yang kini ditinggalkan sendiri.

Saat kaki mulai melangkah, duka itu menyapa, dan menggantung di hati. Mengingatkan kami bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya. Dialah Yang  Maha Kuasa mengatur  segalanya.  Terima kasih Vero atas kebersamaan dan persaudaraan selama ini. Selamat jalan Vero, tersenyum dan bahagialah di Surga bersama para kudus. Kami akan lanjutkan langkah-langkah berikutnya dalam semangat SERVIAM untuk Museum Santa Maria yang selalu dihati. ***

Pentingnya Pendataan Koleksi Dan Tantangannya

Koleksi benda pamer museum dapat menunjukkan visi misi museum yang bersangkutan. Oleh karena itu benda pamer koleksi museum menjadi salah ...