Selasa, 28 Februari 2023

Awal Mula Nama Santa Maria

 

Gedung Santa Maria dari masa ke masa


Sebuah pertanyaan muncul, mengapa diberi nama Santa Maria? Pertanyaan itu diungkapkan oleh Romo Yohanes Raditya Wisnu Wicaksono (Romo Wisnu) saat memberikan homili pada misa syukur ulang tahun Biara Ursulin Santa Maria ke 167 dan museum Ursulin Santa Maria ke 12 di aula SMP Santa Maria Selasa 7 Februari 2023 lalu.

Romo Wisnu mengatakan tidak tahu mengapa biara ini dinamakan Santa Maria. Ternyata alumni dan banyak staff serta guru juga tidak tahu mengapa dinamakan Santa Maria.

Perjalanan Biara Ursulin di jalan Noordwijk no. 29 yang sekarang menjadi biara Santa Maria adalah sebagai berikut. Mgr. Vrancken yang menjadi Uskup Batavia, pada tahun 1854 mengunjungi Belanda dan meminta izin kepada Pastor Lambert untuk mengizinkan adanya misi para suster ke Tanah Jawa. Permohonan itu baru disetujui pastor lambert setelah berkonsultasi dengan Uskup Mechelen dan dikirimkan 6 Suster dari Sittard dan satu Suster dari Maeseyck sebagai pemimpinnya yaitu Suster Ursula Meertens.

 Pada 7 Februari 1856 Rombongan Suster Ursulin pertama kali tiba di Batavia dan masuk ke rumah di Jalan Noordwijk no. 29. Pada pertengahan Februari tahun tersebut, Mgr. Vrancken datang dan memberkati rumah dan seluruh komplek dan memberinya nama “Transfiguratie.” (kronik hal. 20)

 Karya pertama dibuka pada 13 Mei 1856 yaitu Asrama, sedangkan TK dan SD pada 1 Agustus. Kronik biara mencatat akhir Oktober 1856 penghuni asrama mencapai 40 orang. Akhir Tahun 1856 di sekolah “Frobel” (TK) terdapat 62 anak, dan Sekolah Rendah (SD) muridnya 295 anak.
Antara tahun 1857-1858 dilakukan renovasi karena jumlah peserta didik bertambah banyak. Kapel di perbesar dan diberkati oleh Mgr. Vrancken. Sebagai pelindungnya, kami pilih “Bunda Maria tanpa noda” tulis kronik halaman 22. Dari peristiwa pemberkatan dan pemberian nama Kapel tersebut, nama “Maria” bunda Yesus mulai digunakan.

 Pada masa perang kemerdekaan antara 1942 - 1947, Sebagian besar biara Transfigurasi beserta gedung sekolah dikuasi tentara. Mulai dari tentara Belanda, Jepang, Gurkha, Inggris dan Kembali ke tentara Belanda. Para suster hanya mendapatkan Sebagian kecil ruangan di Kapel yang digunakan bersama-sama para suster, anak asrama dan panti asuhan dari Jalan Pos serta titipan dari para suster Gembala Baik di Jatinegara (1942).

 Setelah perang Kemerdekaan, Seluruh ruangan tidak dapat digunakan karena kotor, berantakan dan fasilitas belajar sekolah, biara dan asrama rusak berat, tidak dapat digunakan lagi. Sabtu Suci sebelum Malam Paskah 1949 Lonceng di Kapel dibunyikan setelah selama 6 tahun senyap. Pada Agustus tahun tersebut, seluruh kompleks sekolah dan biara merayakan pesta Santa Maria diangkat ke Surga dan sejak saat itu seluruh kompleks diberi nama Santa Maria.

 Dimulai dari para suster yang mengusulkan nama Kapel sampai terjadinya berbagai peristiwa yang dialami para suster, Santa Maria menjadi sebuah nama yang digunakan biara, sekolah, asrama dan museum di Jalan Ir. H. Juanda no. 29 Jakarta Pusat  sampai saat ini. ***

Rabu, 22 Februari 2023

Suara Cinta Santa Maria

 

Peringatan HUT Museum Ursulin Santa Maria ke 12 dirayakan dengan sederhana. Perayaan yang digagas oleh beberapa alumni dan pensiunan para guru Santa Maria diawali misa bersama dengan seluruh unit di Kampus Santa Maria pada Selasa 7 Februai 2023 pukul 07.30 WIB

 Usai misa, para pensiunan guru dan alumni diarahkan menuju hall museum. Di hall museum tersaji pameran museum. Pameran bertajuk Suara Cinta Santa Maria dimulai dengan sambutan Suster Marie Louise Kepala Museum dilanjutkan pemotongan tumpeng.

 Suster Marie Louise mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu yang hadir dan memohon doa agar proses renovasi dapat terlaksana dengan baik. Dalam kesempatan sambutannya, Suster Marie Louise juga menjelaskan tentang pameran mini yang dibuka selama lima hari mulai 7 sampai 11 Februari 2023.

 Tema pameran, Suara Cinta Santa Maria diwujudkan Ketika proses relokasi benda koleksi dari ruang pamer menuju hall museum, staff museum menemukan buku-buku catatan lagu tulisan Suster Mechtilde. Suster Mechtilde menulis ulang dengan pena lagu-lagu liturgi gereja. Terdapat dua buah buku tulisan tangan Suster Mechtilde berisi not balok dan syair lagu berbahasa Belanda. Buku tulisan tangan karya Suster Mechtilde tersebut kemudian difoto dan dicetak ulang agar dapat dinikmati pengunjung. Buku aslinya juga turut dipamerkan dalam sebuah lemari kaca.

Usai sambutan, Ibu Marita selaku pemandu acara mengajak peserta untuk menikmati tour dengan menjelaskan alur dan cerita pameran mini. Tour berlangsung singkat karena seluruh area pameran berada dalam satu ruangan.
Acara puncak mini pameran dalam rangka HUT Museum adalah penampilan dari Cindy dan Vera alumni SMP Santa Maria. Cindy memainkan piano mengiringi Vera menyanyikan lagu Panis Angelicus. Lagu Panis Angelicus tertulis dalam buku catatan lagu milik Suster Mechtilde.

 Lantunan lagu yang dinyanyikan Vera terdengar jernih meski tanpa bantuan audio. Suara Vera yang merdu dan lantang, memukau penonton. Usai lagu pertama dinyanyikan, tepuk tangan menggema. Beberapa pengunjung berkomentar, “Suaranya bagus banget”, ada juga yang berkomentar “Merinding denger suaranya”

 Vera mengajak penonton untuk mendengarkan sekaligus berdoa saat lagu kedua dinyanyikan. “Saya mengajak bapak ibu mendengarkan lagu ini sambil berdoa.” Lagu Ave Maria perlahan mengalir penuh penghayatan. Suara tuts piano dan vocal dari Vera memenuhi ruangan, semua penonton diam mendengarkan. Tepuk tangan Kembali menggema Ketika lagu Ave Maria selesai dinyanyikan. Seorang ibu berkomentar penuh semangat “Ntar pas gue mantu, gue mau undang Vera.”

 Usai penampilan Cindy dan Vera, dilanjutkan acara ramah tamah. Para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan atau melanjutkan melihat pameran secara pribadi. Staff museum menemani pengunjung dengan memandu dan bercerita tentang pameran dan museum.

Dokumentasi pameran museum mini "suara Cinta Santa Maria dapat di lihat pada youtube Museum Ursulin Santa Maria ***


Kamis, 02 Februari 2023

KALEIDOSKOP 2022

 


Para saudara saudari terkasih Selamat Tahun baru 2023. Presiden, Ir. H. Joko Widodo pada Jumat 30 Desember resmi menghentikan masa Pemberlaku-an Pembatasan Kegiatan Ma-syarakat (PPKM). Pengumuman penghentian PPKM menjadi salah satu yang harus disyukuri setelah hampir tiga tahun mengalami pembatasan kegiatan dan situasi yang tidak nyaman. Marilah kita persembahkan seluruh peristiwa tersebut dan bersyukur agar mampu menatap hari depan dengan harapan baru.

Mari, sejenak melihat berbagai peristiwa di tahun 2022. Ada peristiwa dan kegiatan apa sepanjang tahun tersebut di museum Ursulin Santa Maria?

 Dokumen dan arsip yang tersimpan di Museum Ursulin Santa Maria sangat banyak. Sebagian besar perlu pemelihara-an dan perawatan agar tetap awet dan dapat diakses di kemudian hari. Salah satu cara untuk menjaga agar arsip dan dokumen dapat berumur Panjang dan diakses dikemudian hari adalah dengan mendigitalisasi arsip tersebut.

 Jumat, 18 Februari 2022 Museum Ursulin mengunjungi PT Aliz Dinamika di Tangerang Selatan untuk mempelajari proses digitalisasi. Bapak Hendrik E. Niemeijer Bersama Ibu Demitria Niken menyambut langsung sekaligus mengajari proses digitalisasi menggunakan mesin digital arsip. Beberapa hari kemudian Pak Hendrik dan Ibu Niken gentian berkunjung.

 Masih di bulan Februari, rombongan para suster Ursulin probanis datang berkunjung untuk melihat dan mempelajari berbagai karya para suster Ursulin. Suster Probanis adalah Suster yang baru saja berkaul kekal.

 Di Museum, para suster probanis tersebut mempelajari sejarah ursulin pionir di Indonesia serta karyanya bagi perempuan. Selama setengah hari mereka belajar sambil melihat langsung situasi dan pengelolaan museum.

 Situasi pandemic masih belum sepenuhnya reda, maka di bulan April, kunjungan TK Santa Maria dilaksanakan secara online. Virtual tour museum dilaksanakan pagi hari 22 April 2022. Anak-anak antusias ingin berkunjung dan melihat langusng koleksi museum.

 Di bulan Mei, seluruh staff museum studi banding ke museum – museum di Jakarta Pusat yaitu Museum MH. Thamrin, Museum Sumpah Pemuda, Joang 45, Museum Nasional, Sasmitaloka Jenderal Nasution dan Museum Ahmad Yani. Tour sehari yang dilaksanakan 21 Mei tersebut bertujuan untuk mempelajari tata Kelola dan pamer.

 
Di Bulan Juni tanggal 15, Pak Agus Staff Ahli Wamen PUPR dan Pak Widodo mantan kepala tata pamer Museum Nasional datang bersilaturahmi. Suster Lucia dan Suster Marie Louise menyambut dengan gembira kedua tokoh tersebut. Pak Agus dan Pak Widodo memberikan saran dan masukan terkait pengelolaan museum Ursulin Santa Maria agar dapat berkembang baik.

Di akhir bulan Juni tepat di hari Sabtu tanggal 26, penanggung jawab Museum Ursulin Santa Maria diserahkan dari Suster Lucia Anggraini, OSU kepada Suster Marie Louise Nastiti, OSU. Serah terima penanggung jawab museum disaksikan Suster Hilsa Sri Purwaningsih, OSU Pemimpin komunitas Biara Ursulin Santa Maria Juanda Jakarta. Suster Lucia Anggraini, OSU sdelanjutnya akan bertugas di Cor Jesu Malang.

 Bulan Juli menjadi masa MPLS, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi siswa siswi baru di Kampus Santa Maria. MPLS Dimulai dari SMP pada 8 dan 11 Juli dilanjutkan SMK pada 12 Juli. Sementara MPLS SD yang semula dijadwalkan pada 13 Juli berubah menjadi virtual tour. Hampir seluruh siswa antusias berkunjung langsung ke museum, apalagi setelah mengalami pembatasan kegiatan akibat pandemi.

 Di awal bulan November, pada pesta semua orang Kudus, pameran mini sekaligus penghoirmatan kepada para kudus dilaksanakan di Kapel Santa Maria. Semua murid dari KBTK, SD, SMP dan SMK terlibat secara bergantian dalam acara tersebut. selain Penghormatan relikui, juga dilaksanakan webinar tentang relikui yang menghadirkan fotografer senior, Arbain Rambey, Ibu Gina Sutono, relawan pertama di museum dan Romo Thomas Ferry Suharto, OFM ahli spiritual fransiskan. Para narasumber membahas salah satu koleksi museum yaitu Relikui. Dokumentasi dan webinar dapat dilihat di youtube museum Ursulin Santa Maria

 Sepanjang 2022 Museum Ursulin Santa Maria juga terliabt aktif mengikuti program pemerintah berupa bimbingan teknis (BimTek) bagi tenaga teknis museum. Bimbingan bagi tenaga teknis dimulai pada bulan juni untuk tenaga teknis Penata Pameran. Pada Bulan Juli diselenggarakan bimtek bagi tenaga teknis Edukator dan Register. BBimtek bagi tenaga teknis Humas dan Pemasaran pada Agustus, Konservator pada September dan Kurator pada Oktober. Bimbingan teksnis tersebut diselenggarakan pemerintah bekerjasama dengan Asosiasi museum Indonesia daerah Jakarta (Amida) Jakarta Paramita Jaya. Silahkan cek video kaleidoskop 2022 disini.***

Edukator, Mengkomunikasikan Koleksi dan Program Edukasi

  ki-ka: Ibu Jumiati ,Bpk. Gumilar Ekalaya, Bpk. Yiyok T. Herlambang, Bpk. Mursidi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif PemProv DKI Jakarta...