Sabtu, 11 Januari 2020

Temu Mugalemon Edisi Tutup Tahun 2019


Oleh Veronica Wenehen 

Temu Mugalemon edisi penutup Tahun 2019 pada 10 Desember di Gedung Layanan Publik Badan Litbang Kesehatan, tepatnya di Ruang Rajawali Lantai 2. Acara dibuka pada pukul 13.00 WIB dengan Doa Pembukaan dan Sambutan dari Kepala Badan Litbang Kesehatan. Beliau mengatakan bahwa Badan Litbang Kesehatan sedang merayakan ulang tahun ke-44,  sebelumnya ada Lembaga Dinas Kesehatan, dahulu namanya Lembaga Kesehatan Nasional  tahun 1975, cita-citanya adalah mencontoh yang ada di Amerika, di sana sebutannya National Institute of Health.

Sesi pertama Pertemuan Mugalemon diisi oleh Kang Asep Kambali, yang berbicara mengenai Tantangan Museum di Era Industri 4.0 dan Society 5.0. Beliau mencontohkan Spy Museum di Washington, Amerika Serikat, yang untuk masuk museum pengunjung diharuskan menembus laser. Kang Asep mengatakan bahwa kami semua para pejuang museum, dan posisinya mudah-mudahan tidak ada yang dimuseumkan lagi. Kalimat yang menurut saya menyentuh adalah ketika Kang Asep mengatakan bahwa : “Museum adalah tempat bertemunya waktu, kita bisa melihat masa lalu, di masa kini, sambil bermimpi tentang masa depan.

Society 5.0 artinya bagaimana semuanya sudah terintegrasi, dan sekarang sudah terjadi. Sekarang ada google home, yang diciptakan cocok untuk para jomblo atau single. Yang mengingatkan setiap jadwal kita. Society 1.0 dimulai dari jaman batu, Society 2.0 mulai bercocok tanam, Society 3.0 ditandai dengan adanya industrialisasi, Society 4.0 muncul informasi society, yaitu internet, dan terakhir Society 5.0 lebih gila, Internet Of Things menyebabkan big data dan Artificial Intelegent (AI). Sejak bulan Januari tahun 2019, di Jepang mulai diumumkan dimulainya era Society 5.0

Setelah sesi awal, disambung dengan sambutan dari ketua AMI DKI Jakarta, Paramita Jaya, Pak Yoyok, yang mengatakan bahwa telah hadir diantara kita para Duta Museum mewakili DKI Jakarta.

Sesi kedua dipaparkan oleh Pak Prioyulianto Hutomo, dengan tema : Penyusunan Kebijakan dan Standar Prosedur Operasional Pengelolaan Museum di Era Industri 4.0, dengan Dasar Hukum : Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (Pasal 18 ayat 5), dan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.

Menurut ICOMM, Museum adalah Lembaga Pendidikan. Visi dan misi saya sebut sebagai bahasa langit ke tujuh. Visi Museum adalah kata kuncinya : melestarikan dan mengkomunikasikan. Seringkali nama museum tidak dipikirkan, tidak fokus. Misi museum mesti jelas dalam bahasa yang singkat. Museum sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Koleksi museum bisa jadi alat peraga. Museum tanpa koleksi itu mustahil.***

Jumat, 10 Januari 2020

Duka Saat Mulai Melangkah


Vero  promosi Museum Santa Maria saat reuni & Gathering Ikatan Alumni Santa Maria Juanda (IASAJA) 30/11/2019 di halaman SD Santa Maria 

Awal 2020 Museum Santa Maria berduka. Salah satu pemandu, Veronica Wenehen menghadap Sang Pencipta. Akhir Desember 2019, saat diundang untuk rapat persiapan Program Museum tahun 2020, Vero menegaskan bahwa ia akan hadir kalau sudah sembuh. Artinya, hanya sakit sajalah yang menghalangi pelayanan tugasnya. Sabtu 4 Januari 2020, pesan dan panggilan via WhatsApp untuk hadir rapat dibalas dengan pesan “Maaf Kak, aku masih sakit, doain aku ya.”

Museum Santa Maria bersiap melangkah menatap tahun 2020 penuh optimis. Namun “Doain aku” menjadi pesan terakhir Vero . Kami sungguh terkejut mendengar berita kematiannya, bak disengat petir, antara percaya dan tidak. Awan mendung menambah kegalauan hati, seolah ikut berduka. Kami sungguh kehilangan. Ingatan pun melayang mencoba mereka-reka  ulang  awal  perjumpaan  dan pelayanan  Vero di Komunitas Museum Santa Maria.

Vero mulai terlibat melayani di Museum Santa Maria 28 Desember 2015. Saat itu Vero anak ke 8, dan putri bungsu dari 10 bersaudara, diajak kakaknya Lucia Wenehen (putri ke 5) bertemu dengan Suster Lucia OSU  Kepala Museum Santa Maria. Vero diajak terlibat dalam persiapan perayaan syukur 160 tahun Ursulin di Indonesia yang  jatuh pada 7 Februari 2016.
  
Usai perayaan syukur yang meriah, Vero tetap melanjutkan pelayanannya menjadi Pemandu Museum Santa Maria. Bulan Mei 2019 Vero menegaskan bahwa niatnya melayani dibuktikan dengan lulus uji sertifikasi pemandu Museum dan bergabung dalam keanggotaan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI). Kegiatan terakhir yang ia ikuti adalah Kegiatan Bimtek Pengelolaan Database yang diadakan oleh Kemendikbud mewakili Museum Santa Maria, akhir November 2019.

Vero sungguh-sungguh mewujudkan semangat SERVIAM dalam hidupnya, pelayanannya, persaudaraan dan di setiap perjumpaan.  Dedikasi dalam tugas dan pekerjaan membuatnya sering terlambat makan. Ditambah lagi kesukaan dengan masakan pedas  dengan alasan menambah semangat bekerja menjadikan lambungnya rentan dengan asam lambung. Tak kuasa menahan sakit akibat peningkatan asam lambung,  Vero  menghadap Sang Khalik dalam perjalanan menuju Rumah Sakit pada Senin 6 Januari 2020 dini hari dipangkuan suami tercinta Mas Ade, yang kini ditinggalkan sendiri.

Saat kaki mulai melangkah, duka itu menyapa, dan menggantung di hati. Mengingatkan kami bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya. Dialah Yang  Maha Kuasa mengatur  segalanya.  Terima kasih Vero atas kebersamaan dan persaudaraan selama ini. Selamat jalan Vero, tersenyum dan bahagialah di Surga bersama para kudus. Kami akan lanjutkan langkah-langkah berikutnya dalam semangat SERVIAM untuk Museum Santa Maria yang selalu dihati. ***

Kamis, 09 Januari 2020

BIMTEK PENGELOLAAN DATABASE MUSEUM



LAPORAN MENGIKUTI BIMBINGAN TEKNIS PENGELOLAAN DATABASE MUSEUM
26-29 November 2019
Hotel Ambhara, Jakarta Selatan
(oleh : Veronica Wenehen, Pemandu Museum Santa Maria) 


Halo Sahabat Museum! Jumpa lagi! Saya mau melaporkan kegiatan Bimbingan Teknis yang saya ikuti tanggal 26-29 November 2019 yang lalu di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan. Selamat membaca! J

Bimbingan Teknis kali ini, tujuan utamanya dimaksudkan untuk memperkenalkan Sistem Registrasi Nasional Museum yang baru, yang merupakan tindak lanjut dari Sistem Registrasi Museum yang pernah diperkenalkan 2 tahun sebelumnya di Bogor.

Sistem Registrasi Nasional Museum kali ini diawali dengan pendaftaran atau pembuatan login Museum pada alamat link berikut : sso.dapobud.kemdikbud.go.id. Login harus menggunakan email Museum, dengan password bebas, sesuai keinginan masing-masing Museum. Email yang digunakan adalah email Museum, supaya tidak tergantung dengan admin Museum itu sendiri, artinya siapapun bisa membuka dan mengakses Sistem Registrasi tersebut.

Setelah akun Dapobud udah sukses dibuat, lalu dilanjutkan dengan login menggunakan website dengan alamat sebagai berikut : museum.kemdikbud.go.id, klik Login, lalu pilih Login menggunakan SSO Dapobud, nanti secara otomatis sistem akan membuka login kita. Jadi akun yang telah kita buat di dapobud tadi seolah merupakan backend Museum.

Setelah kita login sesuai prosedur di atas, lalu kita bisa input segala keperluan sesuai menu yang telah disiapkan, yaitu : Data Museum, Data SDM, Data Fasilitas Museum, Data Program Museum, Data Pembinaan SDM, Data Penghargaan, Data Revitalisasi, Data Pengunjung, dan Data Koleksi.

Pada awal-awal pelatihan, karena semua mengakses, server menjadi error dan lambat sekali pergerakannya. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang paling penting. Mengingat system yang diperkenalkan ini adalah Sistem Registrasi Nasional Museum, yang artinya secara Nasional akan diakses oleh seluruh Museum se Indonesia, maka bukan tidak mungkin yang akan mengakses dalam sehari minimal adalah 50 user. Bayangkan, pada saat uji coba seperti saat Bimbingan Teknis ini, yang login sekitar 35 Museum, dan aksesnya sangat lambat, kemudian server error, bagaimana apabila sudah resmi dilaunch untuk Nasional.

Penting untuk dipikirkan solusi dan juga pencegahan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Saya juga sempat berpikir, apakah system ini akan berjalan secara jangka panjang, melihat bahwa system 2 tahun lalu tidak lagi digunakan, kemudian saat ini menggunakan system baru. Saya hanya prihatin dengan teman-teman di Museum milik Pemerintah, yang sudah mengunggah begitu banyak informasi ke dalam akun tersebut, yang pastinya menghabiskan waktu, tenaga, serta pikiran, kemudian di tahun-tahun berikutnya system ini tidak lagi digunakan. Wauwww,,,, luar biasa mengecewakan kalau terjadi (lagi) seperti itu. Semoga kekhawatiran saya tidak terjadi ya. Karena kita semua pasti maunya yang terbaik untuk Museum di Indonesia.

Anyway, selain perkenalan dan pelatihan Sistem Registrasi Nasional Museum tersebut, saat Bimbingan Teknis kemarin juga ada pelatihan fotografi koleksi oleh Museum Nasional Indonesia dan Feri Latief.

Feri Latief adalah fotografer lepas untuk National Geographic, yang juga di endorse oleh Nikon, sehingga hasil karya fotografi dan videonya tidak aneh kalau luar biasa J Bersama Museum Nasional Indonesia, yang memiliki banyak koleksi, memperkenalkan mengenai teknik sederhana dalam pengambilan gambar untuk pendokumentasian koleksi di Museum. Katanya tidak harus mengeluarkan biaya mahal untuk membayar fotografer professional, kitapun sebagai staf dan pengelola museum bisa melakukannya, dengan alat yang sederhana. Sekarang banyak HP yang sudah tinggi resolusinya, bisa dimanfaatkan untuk proses fotografi, dilengkapi juga dengan lighting dari senter produksi China yang terkenal dengan harga yang ekonomis J

Teknik pencahayaan memang sangat penting dipelajari dalam pengambilan gambar. Karena dari situ kita akan mendapatkan apa yang mau kita tonjolkan dan mau kita ceritakan kepada para penikmat koleksi. Semua peserta terlihat antusias untuk mempelajari dan tentunya membeli peralatan sederhana tersebut J

Bimbingan Teknis diakhiri hari Jumat tanggal 29 November 2019 dengan menyisakan tugas registrasi di akun yang sudah kita daftarkan. SEMANGAT J


Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...