Sabtu, 05 September 2020

Museum, Masih relevankah Bagi Generasi Milenial?


 Karina Aulia mewakili millennial menyuarakan keinginan yang selama ini terpendam. Keinginan itu disampaikan Karina pada Temu Mugalemon edisi September 2020.

Museum Bank Mandiri sebagai pelaksana Temu Mugalemon menyelenggarkan acara tersebut lewat pertemuan online atau daring. Temu Mugalemon pada Kamis 3 September 2020 mengambil tema Museum, Masih relevankah Bagi Generasi Milenial?

Karina Aulia, Putri Duta Museum DKI Jakarta 2019, menolak dianggap sebagai pemateri karena merasa lebih pas memberikan sharing mewakili suara millenial.

Dalam sharingnya, Dara kelahiran 1992 ini menunjukkan paparan grafik dan informasi tentang millennial dan generasi Z (Gen -Z) . Milenial dikategorikan lahir pada 80an sampai 96 dan sesudahnya disebut generasi Z. Berdasarkan data grafik tersebut Karina menegaskan ia termasuk kategori milenial.

Kebiasaan umum milenial adalah rela mengeluarkan uang untuk menghargai pengalaman. Artinya mereka mau keluar uang berapapun hanya untuk menikmati sebuah pengalaman yang membuat mereka semakin bahagia. Maka museum seharusnya dapat membuat suatu program yang membuat millenial mengalami suatu experience atau pengalaman ‘bahagia’ itu.

Ia juga mengatakan bahwa belum pernah mengetahui museum mengundang pakar dari universitas dan bekerja sama dengan universitas membuka perkuliahan di museum, “
Museum menjadi pusat dari peradaban dan pendidikan seharusnya museum mengundang para pakar dari universatas. Jujur saya sebagai mahasiswa sejarah belum pernah diundang atau bekerja sama dengan museum atau kuliah di museum,”tuturnya. Karina Aulia, alumni fakultas sejarah Universitas Padjajaran berharap suatu saat harapanya terwujud.

Ia juga menyoroti jam operasional museum yang selalu office hour jam 17.00 tutup. “Beberapa museum buka hanya jam kantor, office hour jam 17.00 tutup. Kalo bisa lebih malam lagi karena memang millennial pulang kantor ya jam segitu.
Manusia membutuhkan entertainment di luar rumah. Sehingga kalo ada membership museum orang-orang millennial berminat untuk datang . Exclusive member sekaligus store discount, free admission, Gallery Rental. Bila museum dapat venue tempat yang bisa buat kerja, open space, tentu sangat menyenangkan sekali.

Hal lainnya adalah survey, museum harus membuat survey. Hal ini penting karena
milenial bekerja mengunakan survey demografi dan data sebagai strategi untuk mengambil langkah berikutnya.

Firman Haris, Kepala Museum Bank Mandiri, Pemateri kedua, mengamini sharing Karina Aulia , bonus demografi seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. “Saya terbantu oleh paparan Mba Karina, intinya adalah bonus demografi harus dimanfaatkan. Museum harus mendengar suara mereka. Salah satunya game, Millennial suka dengan game, museum harus dapat masuk melalui apa yang mereka akrabi, game itu salah satunya. Kemudian tata pamer museum harus diperbaiki karena sangat menentukan.

Senada dengan Firman Haris, Nara sumber ketiga dari III Musketeers Consulting R. Andi Kartika Utomo MBA, mengatakan Digital tecnologi adalah konspirasi pembunuh maut. Karena digital saja banyak yang mati bisnisnya ditambah covid-19 maka semakin terpuruk. Stagnation adalah mati, maka jangan sampai stagnan. Kalau tidak ada perubahan tidak ada transformasi maka tunggu saat kematian, apalagi menyasar millennial.

Fokus berubah bukan pada sesuatu yang lama tetapi fokus pada sesuatu yang baru. Ciri cirinya mereka tidak suka cash, dompetnya kosong bukan berarti tidak punya uang, sukanya e-money ada perpindahan model. Itu millennial sekarang.

 Milenial belum tertarik ke tempat bersejarah. Mengapa mereka malas ke museum? Persoalannya apakah kita connect dengan tradisional market seperti Museum Bank Mandiri yang dekat dengan pasar Asemka dan pusat transportasi umum. Ekosistemnya yang harus dibuat, ada food center, tidak hanya museum saja. Nilai sejarah, nilai budaya, nilai teknologi semuanya digabung. Nilai teknologi itu menggunakan teknologi. Bukan sekedar kampanyanyenya di media social. Kalau millennial mengatakan : “gila, seru nih!” adalah kombinasi antara fun ditambah knowledge ditambah selfie. Intinya adalah Inovasi harus, tetapi ditambah transformasi, itulah konsep penyajiannya.***

 

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...