Selasa, 26 Januari 2021

Santa Angela Merici dan Relikwinya

Museum Ursulin Santa Maria mempunyai relikwi Santa Angela Merici. Relikwi ini mengingatkan kita akan Santa Angela yang penuh rahmat, di mana rahmat itu berasal dari Allah sendiri.

Rahmat-rahmat itu antara lain:
 Rahmat mengantar doa-doa dan permohonan kita kepada Allah dengan perantaraan Tuhan Yesus
 Rahmat untuk tetap bertahan dalam masa yang sulit, maju sampai akhir dan bila perlu menempuh hidup baru
 Rahmat untuk mengampuni dan menerima sesama dengan segala kekurangannya
 Rahmat mendampingi orang yang sakit bahkan orang yang ngajal untuk kembali kepada Sang Pencipta dengan damai
 Rahmat untuk menghibur orang yang susah
 Rahmat untuk mendidik terutama anak-anak, gadis-gadis dan perempuan
 Rahmat keberanian untuk memulai sesuatu yang baru
 Rahmat kesetiaan dan peka mendengarkan Roh Kudus
 dst
Jadi relikwi Santa Angela itu mempersatukan kita dengan rahmat itu dan Rahmat Allah ini dapat dirasakan sepanjang masa.

Kami percaya bahwa kehadiran Santa Angela telah menghadirkan kasih Allah sendiri, lengkap dengan muzijat penyembuhan-Nya, sembuh dari keterasingan.

Jadi bagi Museum Ursulin Santa Maria, kehadiran Relikwi Santa Angela meneguhkan iman kami akan kehadiran Santa Angela dan kehadiran Tuhan Yesus yang adalah kekasihnya, dan bersama relikwi Orang Kudus lainnya, meneguhkan iman kami akan Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus.

Dan secara khusus melalui Santa Angela kita dapat memohon rahmat keberanian untuk bersama-sama umat manusia mengatasi pandemic COVID 19 dan menem-puh hidup baru, cara baru dalam berbakti kepada Tuhan.

Senin, 25 Januari 2021

Santa Angela Merici


Santa Angela Merici adalah pendiri Kompani Santa Ursula, di Brecia - Italia tahun 1535. Para pengikut Santa Angela disebut Ursulin. Museum Santa Maria yang berada di dalam kompleks biara Ursulin Santa Maria, merupakan saksi sejarah keberadaan dan perjuangan para Ursulin. Para suster Ursulin ini adalah Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia.
Santa Angela diperingati setiap tanggal 27 Januari, untuk menyambut hari Pestanya ada beberapa video, di mana para sahabat museum Santa Maria dapat mengenal lebih dekat dengan Santa Angela Merici, dengan membuka tautan berikut: 

https://youtu.be/A536jQhOhBg 
https://www.youtube.com/P6Q-0Gfgd18

Kamis, 21 Januari 2021

Santa Angela Merici di Museum Ursulin Santa Maria:

Di (dalam) setiap museum terdapat bagian yang diutamakan, karena di situ terdapat point awal yang menjadi tema atau visi Museum itu.

Di Museum Ursulin Santa Maria, yang menjadi tema utama adalah tentang pendidikan bagi para gadis, sekolah berasrama dan pendidiknya, yaitu para biarawati Ordo Santa Ursula (para Ursulin), pendidikan bagi perempuan ini di Indonesia dirintis pertama kalinya, pada tahun 1856 di Jalan Noordwijk – Batavia (sekarang Ir. H. Juanda) nomor 29 Jakarta.

 Uni Roma Ordo Santa Ursula, salah satu cabang keluarga rohani bernama Kompani Santa Ursula atau Serikat Santa Ursula, didirikan oleh Santa Angela Merici (tahun 1474 – 1540), di Brescia – Italia. Pada zaman sekitar abad 15 – 16, serikat ini sangat istimewa karena merupakan pembaktian diri para perempuan kepada Tuhan yang spiritualitasnya atau semangatnya dapat kita dalami melalui kata-kata Santa Angela, yang tertuang dalam regula, warisan dan nasihat Santa Angela. Juga dengan merenungkan cara dan teladan hidupnya.

Kata-kata Santa Angela, terutama Regula telah memberi hidup dan semangat serta struktur kepada Serikat Santa Ursula. Santa Angela memberi teladan hidup yang dibaktikan sepenuhnya kepada Tuhan dan dalam mendirikan Serikat Santa Ursula terinspirasi oleh Roh Kudus karena relasi beliau yang mendalam dengan Tuhan. Tuhan yang beliau hayati sebagai kekasih.

 Keprihatinan beliau akan keadaan masyarakat dan gereja pada waktu itu, terutama yang diakibatkan oleh perang yang berdampak sangat buruk bagi para perempuan dan gadis-gadis. Santa Angela merenungkan: dalam menghayati kehidupannya, perempuan (juga) mendambakan dapat memusat-kan hidupnya, cintanya, tenaganya, waktunya kepada Tuhan. Pendeknya berbakti sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai jawaban kepada Tuhan yang lebih dahulu mencintai dan mengasihi kita.

Seperti dalam Kitab Ulangan 6: 4 – 7, perempuan juga dipanggil untuk menghidupi Perjanjian Allah Yahwe dengan umat-Nya. Musa berkata kepada Israel: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita hanya satu. Hendaknya engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan (menetap dalam hatimu), haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Santa Angela mencintai Tuhan sepenuhnya, dengan sifat keibuannya yang menonjol beliau membimbing para perempuan dan mengumpulkan puteri-puterinya.

Dari pertemuannya dengan para perempuan dan gadis yang minta bimbingan kepadanya, Santa Angela merenung: Apakah benar-benar mungkin tidak ada orang yang terpikir untuk melindungi hak-hak Allah dan mencari solusi masalah seperti misalnya seorang gadis yang berkata: “Saya merasa Tuhan menginginkan saya bagi diri-Nya, tetapi orang tua saya yang sudah lanjut usia membutuhkan saya, mereka mencarikan suami untuk saya, tapi saya merasa bahwa hidup pernikahan bukanlah untuk saya”.
 Murid-murid (pengikut) Angela adalah gadis-gadis muda yang hatinya terpaut pada Kristus. Gadis-gadis ini telah jatuh cinta pada-Nya dan berniat hidup sebagai mempelai-Nya.

 Akhirnya Santa Angela mendirikan Serikat Santa Ursula dan memberi Regula sebagai pedoman dasar hidup mereka. Dengan menjadi anggota Serikat Santa Ursula, perempuan dan para perawan tetap dalam posisinya di tengah masyarakat, tetapi mereka telah dikukuhkan disatukan untuk melayani Tuhan yang Agung, dan diberi hadiah yang istimewa, yaitu (Allah telah memilih mereka) menjadi puteri kesayangan malahan mempelai yang sejati dan kudus dari Putera Allah. Martabat yang agung ini bukan untuk suatu ambisi menaikkan tingkat sosial tetapi wewenang untuk pelayanan cinta.

Dalam membimbing puteri-puteri, Santa Angela menasihatkan agar …. dalam bertindak, motivasinya hanya karena cinta kepada Tuhan dan kebahagiaan jiwa-jiwa. Inilah pedoman bagi puteri-puterinya bila mengadakan pembedaan roh.
 
Bagi para pengkutnya Santa Angela meninggalkan tulisannya, selain Regula ada Nasihat dan Warisan. Bab-bab dari Nasihat St. Angela memuat norma-norma bagi pemimpin puteri-puterinya, untuk membantu mereka melatih para anggota Serikat St. Ursula. Norma-norma inilah yang selanjutnya menjadi kriteria dasar dari Pendidikan Ursulin.

 Kemudian dalam sejarahnya, puteri-puteri Santa Angela menjadi Ursulin, menjadi pendidik dan menyebarkan semua prinsip yang lahir dari Bunda Angela ke seluruh dunia.

 Prinsip pendidikan bagi perempuan dan para gadis telah sampai di Indonesia berkat Ursulin dari Sittard – Belanda, yang mulai berkarya tahun 1856.

 Sekarang, Angela Merici telah mendapat tempat tersendiri di dalam buku-buku teks sejarah pendidikan, di antara para ahli pendidikan.

Workshop di Penghujung Tahun 2020

 

Foto oleh Bp. Adang Suryana

Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Dirjen Kebudayaan Kementerian Dikbud bersinergi dengan AMI DKI Jakarta Paramita Jaya menggelar Pelatihan Museum dan Transformasi Digital. Hotel Desa Wisata TMII dipilih panitia yang diketuai Bapak Adang Suryana, Wakil ketua II Paramita jaya sebagai tempat penyelenggaraan acara selama dua hari .

 Pemateri Hari ke – 1 Rabu 16/12/2020 dimulai Pukul 09.00 oleh Direktur PTLK, Bapak Judi Wahjudin. Judul Akselerasi Digital Society untuk Museum menjadi tema sesi pertama sekaligus kata sambutan yang menekankan pentingnya museum mengikuti perkembangan dunia teknologi.

 Cindy Tan pemateri berikutnya dari museum MACAN memberi judul Eksibisi Museum dan Strategi Digital pada sesi berikutnya dengan fokus pembahasan Peran Media Digital dalam Sebuah Museum. Menurutnya, Dunia digital saat ini dipengaruhi pandemi.

 Media Digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin machine-readable beberapa Program-program komputer dan perangkat lunak seperti citra digital,digital video, video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data dan database; digital audio, seperti mp3, mp4 dan e-buku adalah contoh media digital.

 Peran media digital adalah sebagai alat bantu komunikasi dan pembelajaran untuk mendukung penyerapan informasi, edukasi, dan ilmu pengetahuan dalam museum. Media Digital Mengundang Orang Untuk Datang ke Museum. Museum dapat disejajarkan dengan pusat hiburan dan perbelanjaan serta destinasi pariwisata.
 
Penggunaan media digital untuk mendukung informasi yang disediakan dalam ruang pameran berperan sebagai daya tarik dan ‘wow factor’ yang mendukung orang banyak dari berbagai latar belakang untuk datang ke dan mengalami apa yang dihadirkan oleh museum.

 Sesi ketiga diisi Bapak Punto Argari Sidarto dengan teori dan praktek Perancangan Pameran Virtual-daring di Museum. Dalam paparan awal Pak Punto menjelaskan, konsep perancangan pameran museum tidak boleh lepas dari visi misi museum itu sendiri.

 Pada saat perancangan konsep tidak boleh lepas dari peran kurator. Setelah konsep terbentuk baru dibuat kerangka alur dan berlanjut ke skenario. Di skenario inilah peran kurator sangat besar karena muatan materinya. Dari skenario bisa berlanjut ke produksi atau dibuat narasi dan storyboard terlebih dahulu.

 Selepas paparan ini, panitia membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk berlatih bekerja sama antar museum membuat sebuah konsep pameran yang kemudian dipresentasikan.

 Hari kedua (17/12/2020), sesi pertama diisi Mbak Yuli Fajar Wulandari, Humas Amida DKI PARAMITA JAYA dengan judul Transformasi Digital dalam Kehumasan Museum.

 Mengutip Frank Jefkins, Mbak Yuli menyatakan definisi Humas adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik ke dalam maupun ke luar, antara semua organisasi dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.

 Sedangkan Humas Digital (Digital PR) adalah bidang ilmu PR yang berfokus pada optimalisasi perkembangan dunia internet/digital yang mampu menyebarkan informasi dengan cepat dan menjangkau pengguna internet di belahan dunia manapun.

 Humas Digital Museum Community Relations antara lain, Media Relations, Digital Campaign, Social Media, Publikasi Online, Digital Ads & Endorsement, Government Relations, Customer Service Website, E-mail.


 Humas Digital Museum harus mempunyai Strategi Pendekatan Komunitas Online meliputi Riset terkait lokasi, usia, gender dan status sosial kemudian membangun reputasi dengan konten menarik dan edukatif dan terus memantau Digital Branded Traffic (Keberhasilan branding institusi di internet) 

 Beberapa Strategi Social Media Marketing antara lain Menggunakan hashtag atau keyword, Memperhatikan waktu prime time setiap media social. Promosi oleh Influencer, memanfaatkan testimoni pengunjung atau khalayak untuk share yang tinggi serta Sering berinteraksi secara online, terutama di golden time, yakni 1 jam pertama saat konten dipublikasikan.

 Usai paparan Mba Yuli, dilanjutkan pemateri hebat lainnya tentang Media Sosial Museum dan Pemasaran Digital , Mas Reza Zefanya Mulia dari Museum MACAN.

 Mas Reza mengajak museum mengoptimalkan konten dengan memecah konten yang sudah dibuat menjadi beberapa konten untuk media sosial sesuai target audiens. Kemudian pelajari, pahami dan maksimalkan fitur yang ada di setiap aplikasi sosial media untuk mendukung konten.

Dari hasil publikasi di sosial media, museum harus tanggap dan bereaksi cepat apabila audiens memberi respon atas konten yang di publish. Reaksi cepat itu menandakan bahwa kita dekat dengan audiens. Dari hasil pendekatan tersebut museum dapat mengkonversi menjadi pertemuan lanjutan, penjualan souvenir /merchandise, kehadiran dalam program publik dan rujukan.

Usai santap siang dilanjutkan pemateri akhir sekaligus praktek (Workshop) oleh Ibu Resita I. Kuntjoro-Jakti tentang membuat konten digital marketing dan membuat planning promo kegiatan di media sosial.

 Komponen Strategi Pemasaran Digital antara lain menentukan USP (Unique Selling Point) bisnis, memahami personal pelanggan, mendefinisikan tujuan dan KPI pemasaran (Spesifik, Terukur, Dapat dicapai Relevan, Sasaran Berbatas Waktu), Identifikasi target pasar, melakukan analisis kompetitif, Kelola dan alokasikan sumber daya dengan tepat untuk mencapai tujuan, Pantau dan optimalkan kinerja kampanye.

 Panduan untuk membantu pembuatan konten visual dan teks yaitu Narasi, Warna, Typeface/Font, Kalender, Fotografi (mood board), Konten: Pilar, Visual, Copy Text.

 Pilar topik konten memudahkan pembuatan Kalender Konten untuk rencana editorial. Topik apa saja yang bisa digunakan untuk pilar konten? Antara lain: Produk, Info program/Kegiatan, Kontekstual (ucapan Hari Besar, dll), Brand, Sejarah. Berapa jumlah pilar yang sebaiknya dibuat? Cukup 3 - 5 topik Konten Visual merupakan aset visual yang digunakan/dirancang untuk konten mengikuti kaidah identitas brand. Aset dapat berupa still photo, animasi ataupun video yang atraktif. Dapat menggunakan logo brand atau ciri visual khas identitas brand (seperti swoosh, ilustrasi, dll). Perhatikan ukuran aset visual dibutuhkan untuk setiap platform media sosial.

 Konten Copy Text pada konten caption dibuat dengan isi yang menarik keingintahuan, informatif, dapat diandalkan, menggunakan gaya bahasa yang cocok dengan target sasaran, dan mendorong keterlibatan tinggi (untuk like, comment, share), juga klik tinggi. Penggunaan tagar/hashtag dalam konten sesuai netiket adalah maksimal 3 tagar. Sisa tagar lainnya dipasang pada kolom komen. Tidak terlalu panjang membuat kalimat atau paragraf pada caption.

 Sesi pemaparan oleh Ayumurti Bulandini, S.Sn, M.Sn asisten Ibu Resita I.Kuntjoro-Jakti diakhiri dengan workshop dan presentasi oleh peserta.

 Workshop yang sangat menarik ini dihadiri perwakilan dari 35 museum anggota Amida DKI Paramita Jaya. Sangat disayangkan banyak museum yang tidak mengirimkan wakilnya karena materi workshop sangat bermanfaat bagi museum dalam menghadapi perkembangan teknologi dan di masa pandemi sekarang ini. Selain itu workshop di akhir tahun 2020 ini menjadi sarana temu kangen setelah hampir setahun pertemuan di udara.***

Minggu, 10 Januari 2021

PANGGILAN SUCI DUA SAHABAT

Gambar Yesus dibaptis oleh Yohanes, sumber:  https://images.app.goo.gl/9tkHc7q7t8aLPz6v8

 Ketika Yohanes sudah saatnya mewujudkan panggilannya, ia segera pergi ke padang gurun dan tinggal di sana. Yesus juga sering mengunjungi rumah Elisabeth dan terus berelasi akrab dengan dengan anaknya Yohanes. Mungkin Yesus juga pernah bersama-sama Yohanes pergi ke Padang Gurun. Dan kalau Yohanes mengajar murid-muridnya, ia datang ke dekat sungai Yordan dan kemudian membaptis mereka.

Suatu saat Yesus juga datang ke dekat Sungai Yordan di mana Yohanes sedang mengajar orang banyak dan Yohanes berkata “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”
Kemudian banyak diantara mereka yang datang dan memberikan diri untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Namun banyak juga orang yang bertanya-tanya satu sama lain: “Siapakah dia?” “Mengapa dia membaptis? “Apakah dia mesias?” Mendengar orang banyak saling bertanya, akhirnya Yohanes menjawab: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasudnya pun aku tidak layak.”

 Tidak lama kemudian Yesus muncul dan ikut bersama orang-orang lain datang kepada Yohanes untuk dibabtis. Ketika Yesus sampai di depan Yohanes dan siap dibaptis, sesaat Yohanes terhenyak, ternyata Yesus sahabatnya ada di depannya.

Ketika Yohanes sedang membabtis Yesus, Yohanes melihat burung merpati turun ke atas-Nya dan ia juga mendengar suara “Engkaulah anak-Ku yang kukasihi, kepadamu-lah Aku berkenan.” (Lihat: Injil Lk 3: 15-22).

 



 

Persahabatan Yesus dan Yohanes Pemandi 

 


Gambar Lukisan “Madonna Del Cardellino”, lukisan Rafaello Sanzio (1483-1520)

Tiga sosok: Maria, Yesus dan Yohanes Pemandi. Maria yang masih sangat muda dan Yesus serta Yohanes yang masih balita. Gambar itu ditemukan di salah satu kamar biarawati Ursulin zaman dulu, sekarang menjadi salah satu koleksi Museum Ursulin Santa Maria.

Gambar ini mengingatkan saya, akan persahabatan antara Yesus dan Yohanes Pemandi, yang dapat kita ketahui dari ke empat Injil. Yesus dan Yohanes berbeda usia 6 bulan (Luk. 1: 36).  Penginjil Lukas menulis bahwa kedua balita itu sudah saling mengenal ketika masih di kandungan. Karena ketika Elisabeth, ibunda Yohanes bertemu Maria di rumah Elisabeth (waktu itu Maria sudah mengandung Yesus dari Roh Kudus), Yohanes dalam kandungan Elisabeth melonjak dan Elisabeth penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).

Dahulu Yohanes dan orang tuanya tinggal di Yudea, dekat Yerusalem, sedangkan Yesus bersama Maria dan Yusuf di Nazareth, di Galilea (Luk 2: 39). Dari sejak lahir kedua balita ini sudah membuat tercengang tetangga-tetangga dan sanak saudara orangtuanya. Kelahiran Yohanes membuat Zakaria, ayahnya bisu, tidak bisa bicara apa-apa, sampai-sampai mereka itu setelah merenungkannya berkata “Menjadi apakah anak ini nanti?” Lukas menulis, “tangan Tuhan menyertai bayi Yohanes” (Luk 1: 66).  Sedangkan Lukas menulis tentang Yesus, setelah menarasikan kelahiran-Nya “Anak ini bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”.

Yohanes pasti belajar mengenai Taurat dan pengenalan akan Allah menurut para nabi, mazmur puji-pujian, Kidung dari orangtuanya, terutama Zakharia ayahnya dan hidup sehari-hari dari ibunya Elisabeth. Sedangkan Yesus, dari Maria dan Yusuf. Karena Yusuf seorang tukang kayu, Yesus juga belajar menukang.

Menurut Lukas tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Besar kemungkinan bahwa ketika Yesus masih kecil, Ia dititipkan Elisabeth sehingga Yesus berteman baik dengan Yohanes. Dalam kunjungan ke Yerusalem itu lamanya kira-kira 2 minggu sampai satu bulan. Ketika di rumah Zakaria, Yesus juga ikut belajar tentang Taurat, pewartaan para nabi, Mazmur dst dari Zakaria seperti Yohanes. Sampai umur 12 tahun Yesus pergi ke Yerusalem, ke Bait Allah. Mungkin Yohanes itu sekolah di Yerusalem, di kompleks Bait Allah, dan Yohanes tidak berkeberatan kalau Yesus  ikut. Sampai keduanya itu akrab dan berteman sangat baik. Mereka mendalami dan mendiskusikan bersama Taurat dan kitab para Nabi, sampai suatu ketika orangtua Yesus mendapati Yesus duduk ditengah-tengah alim-ulama, setelah mencari Yesus 3 hari 3 malam. Yesus mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Sejak pengalaman di Bait Allah itu Yesus makin sering ke rumah Elisabeth untuk menjumpai Yohanes dan belajar dari Imam Zakaria, juga hal-hal mengenai Bait Allah. Maria tidak berkeberatan Yesus ke rumah Elisabeth karena Maria dan Elisabeth bersaudara dan Maria sering mengunjunginya.

 

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...