Kamis, 25 Januari 2018

MENEMANI ARBAIN MOTRET

   

Arbain Rambey, seorang fotografer professional dan seorang wartawan foto salah satu media nasional, memperbarui foto area kompleks Santa Maria. Foto lama koleksi museum Santa Maria hanya menampilkan tampak muka dan bagian depan gedung Santa Maria, tidak ada foto area komplek Santa Maria dan sekitarnya. 


Menggunakan drone, Rabu pagi 20 Desember 2017 di halaman kebun Biara Santa Maria, Arbain, menjadi relawan yang khusus membantu bagian dokumentasi foto, mengendalikan drone dari panel yang menyatu dengan gawainya. Setelah beradaptasi dengan cuaca, Arbain mulai mengarahkan drone untuk mengambil gambar di bawahnya.
Sayangnya area depan dari Komplek Santa Maria di jalan Juanda tidak dapat diambil gambarnya. Hal ini karena komplek Santa Maria berada di area ring satu Istana Negara. Bila drone diarahkan ke atas gedung Santa Maria bagian depan, dikhawatirkan dicurigai sebagai mata mata musuh, maka pengambilan foto tampak depan gedung Santa Maria dibatalkan. Sekitar sejam sejak jam sepuluh pagi, pengambilan foto diulang dua hari kemudian karena cuaca yang kurang bersahabat. 

Di hari kedua pemotretan, Jumat 22 Desember, Arbain mengendalikan drone dari halaman parkir SMP Santa Maria di jalan Batu Tulis Raya. Cuaca hari itu sangat mendukung proses pemotretan yang dilakukan sejak jam delapan pagi. Selama kurang lebih sejam Arbain ditemani Pak Amir assistennya, memotret area komplek Santa Maria dan sekitarnya.***

Senin, 08 Januari 2018

Bertemu Mr. Max Meijer dan Petra Timmerman

TROPEN MUSEUM disebut-sebut sebagai salah satu Museum ‘menarik’ di ibukota negeri Belanda, Amsterdam. 
Sr. Lucia, OSU berpose di depan Tropen Museum

Kalau panasaran bisa dicari lewat google-maps. Pasti ketemu. Yang lebih menarik lagi adalah ada “deal” untuk berjumpa dengan seseorang di situ, karena di situ ada sudut “Indonesia”. Nah,..itulah. 

Untuk menuju ke lokasi di tengah kota Amsterdam mesti pandai-pandai mensiasati. Pasalnya, kalau bawa mobil pribadi dan parkir di dekat lokasi… tarifnya mahal sekali. Paling tidak 5euro/jam-nya. Bayangkan saja, mengunjungi Museum mana bisa hanya sebentar. Selain rugi karena Tiket masuknya mahal (15 euro/orang), jam bukanya cukup pendek 10.00-17.00. 

Beruntung ada teman sekolah yang sudah lama tinggal di Belanda. Ia mengambil fasilitas “park and ride” yang jauh lebih murah yaitu, parkir mobil di tempat yang agak jauh dari kota dengan biaya 1 euro/jam, lalu dilanjutkan dengan naik kereta/trem. 

Di sepanjang jalan dapat melihat-lihat keramaian kota dan juga, bangunan-bangunan kuno yang masih tetap dirawat. Dalam membangun, warga dan pemerintah di sana sangat menghargai yang namanya peninggalan/heritage. Entah itu bangunan, sungai, makam dsb. Kalau mau membangun yang baru mereka berusaha mengintegrasikan yang sudah ada, tidak menghancurkannya tanpa jejak. 

Meeting point dengan Mr Max Meijer, konsultan ahli permuseuman anggota Unesco ditentukan di café Tropen Museum. Dari dalam kereta sudah kelihatan dari jauh gedung dan tulisan Tropen Museum yang khas-unik. Setelah bertanya pada bagian informasi dimana letak café, segera kami menuju ke café tak jauh dari situ. 






Beruntung cuaca bagus, tidak hujan, meski di luar sudah 3 derajat Celsius. Jalan menuju café disamping pintu museum tidak terlalu sulit kami temukan. Setelah tengok kiri-kanan, akhirnya kami saling mengenali satu sama lain. 

Bertemu Pak Max (begitu biasa dipanggil) didampingi istrinya yang cantik dengan rambut keemasan Petra Timmerman, PhD bidang Art History sangat menyenangkan. Rasanya pembicaraan selama 3 jam hampir tak terasa, karena diselingi minum, makan dan tawa apalagi dengan ahli yang punya kepedulian pada budaya Indonesia.

Omong punya omong, sampailah kami pada titik kepedulian pembicaraan, khususnya tentang Museum Santa Maria di Indonesia. Ternyata Pak Max masih punya campuran darah Belanda dan Indonesia. 

Mereka bahkan mempunyai villa di Bali dan sudah sering ke Indonesia untuk sekedar libur ataupun menjadi konsultan ahli di beberapa Museum di Indonesia, al. Museum Tsunami Aceh dan Museum Kereta Api, Ambarawa. Petra sendiri menyatakan ingin belajar bahasa Indonesia..wow. Memang seseorang yang sungguh punya passion, pasti berusaha sekuat tenaga untuk mendalaminya dengan berbagai cara. 

Setelah selesai pembicaraan, Pak Max menunjukkan Lokasi Heritage negara Indonesia di lantai 2. Yang menarik di sana terdapat banyak patung manusia yang dibuat mirip sekali dengan aslinya. Pengunjung dibuat terkejut dan kagum, ketika pertama melihat kemiripan dan ukuran patung tersebut, tidak beda dengan manusia asli. 




Maka untuk menjaga keamanan baik pengunjung maupun benda koleksi, di setiap patung terdapat penanda berupa sebagian tubuhnya diganti dengan bahan bening di bagian siku tangan patung ataupun di pergelangan kaki. Peletakkan masing-masing patung terbuka dan mudah disentuh ataupun di foto. Segala lekak-likuk ukuran tinggi badan, keriput wajah, warna kulit, pakaian dan ekspresi wajah. Semuanya. Sungguh luar biasa. 

Selain itu juga dicantumkan profil dan riwayat hidupnya. Lampu penerang dipasang dengan sistem sensor yang akan menyala bila ada yang membacanya, begitu pula sebaliknya. Selain stand Indonesia, Tropen Museum (Tropen=tropis) juga ada stand negara-negara tropis lain seperti Suriname, dan negara-negara di Afrika. 

Sebelum berpisah kami sempat berfoto untuk kenang-kenangan agar besok ketika Pak Max dan Petra datang ke Indonesia, tetap ada cerita bersambung yang hangat dan menarik, terlebih kepeduliaannya untuk menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia.***(Sr. Lucia, OSU)
Sr. Lucia, OSU berpose di bagian dalam Tropen Museum

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...