Senin, 27 April 2020

PIONIR PENDIDIKAN PEREMPUAN PERTAMA

Ketika Biara dan Sekolah Santa Maria didirikan pertama kali pada tahun 1856, para Suster Ursulin juga diminta mendirikan Asrama atau dalam bahasa Belanda “Internaat”. Asrama ini dimaksudkan untuk menunjang adanya persekolahan dan kebutuhan tempat tinggal anak-anak yang orang tuanya kebanyakan tinggal di ‘luar kota’ karena bekerja di onderneming (=perkebunan).

Begitu sampai di rumah Noordwijk nomor 29, rupanya para suster sudah tidak sabar lagi, karena ingin segera memulai tugas pelayanannya. Mereka ingin segera membuka sekolah. Namun hal itu tidak disetujui oleh Mgr. Vrancken karena persiapan untuk membuka sekolah itu tidak mudah. Banyak sekali persiapan yang harus dilakukan, terutama membiasakan diri dengan iklim tropis dan memahami adat-istiadat budaya masyarakat Batavia.

Selain itu para suster harus menyiapkan segala persyaratan pendirian sekolah, antara lain: tempat / gedung sekolah beserta ruanganruangannya, ijazah dari para calon pengajarnya, serta perizinan dari pemerintah yaitu Komisi Pengajaran Umum, dll. Pada pertengahan bulan Februari Mgr. Vrancken sendiri datang dan seluruh kompleks serta kebun yang luas itu, diberkati oleh Monseigneur.
Sebagai pimpinan, Suster Ursula Meertens segera mempersiapkan segala persyaratan pendirian sekolah kepada Komisi Pengajaran Umum, yaitu: Mengajukan permohonan tertulis / izin pendirian sekolah dan mengirimkan ijazah dari para pengajarnya sebagai bukti kelayakan mengajar. Segala proses pengurusan itu dibantu oleh Mgr. Vrancken, sehingga semuanya dapat berjalan lancar. Pada tanggal 17 April 1856 semua surat permintaan izin mengajar diserahkan kepada pemerintah, kemudian pada tanggal 10 Juli, dokumen dengan persetujuan Komisi Pengajaran Umum telah diterima kembali.

Ketika segala persiapan telah dirasa cukup, maka pada tanggal 1 Agustus 1856 Suster pimpinan Komunitas Ursula Meertens, resmi membuka pendaftaran murid baru. Satu per satu murid yang berminat masuk sekolah diterima dan dilayani para suster dengan penuh kesabaran. Bulan demi bulan murid yang datang kian banyak.

Dibalik kegembiraan mengalirnya banyak murid, para suster masih harus memikirkan hal-hal lain yang tidak kalah penting dalam penyelenggaraan persekolahan. Walaupun tujuan dibukanya persekolahan ini adalah membantu pemerintah sepenuhnya supaya anak-anak mendapatkan kesempatan belajar, namun segala persyaratan administratif tetap harus dipenuhi.***(Sumber: buku Ursulin Pendidik Perempuan Pertama Di Indonesia. hal.53)

Senin, 13 April 2020

Kaleidoskop 2019

Kaleidoskop Santa Maria tahun 2019 terbagi dalam dua video. Video bagian pertama  berisi  kumpulan berbagai foto kegiatan dari Januari sampai dengan Juni 2019.  Video bagian kedua, foto kegiatan dari bulan Juli sampai Desember 2019. Berbagai kegiatan internal maupun  eksternal kami rangkum dalam dua video pendek ini. Masih banyak  kekurangan dalam video tersebut karena keterbatasan kami. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan untuk evaluasi kami. Selamat menikmati. 
Terima kasih.



Bagian 1

Bagian 2 


Rabu, 08 April 2020

Museum, Cara Baru Berkatekese


Museum menjadi sarana berkatekese model baru memperkenalkan katolik kepada masyarakat. Museum Santa Maria mempraktekkan hal tersebut saat menerima kunjungan tamu dari non katolik.

Banyak dari masyarakat yang belum paham mengenai katolik, dan ketika berkunjung ke Museum Santa Maria mereka biasanya bertanya banyak hal tentang katolik dimulai dari benda koleksi museum kemudian kebiasaan hidup atau tradisi para suster yang menjadi bagian dari cerita dalam tour Museum Santa Maria.

Museum Santa Maria mulai 2016 terbuka dan menerima tamu masyarakat umum. Sejak itu sering menerima tamu yang didominasi non katolik. Mereka tertarik mengunjungi Museum Santa Maria karena letak Gedung Santa Maria yang tampak berusia tua berada diantara Weltevreden (kawasan Gambir) menuju Old Batavia (Kota Tua) dimana kedua tempat tersebut adalah pusat pemerintahan dari jaman VOC sampai ke pemerintah Belanda sehingga menjadi salah satu destinasi walking tour dari berbagai komunitas pencinta sejarah.













Beberapa komunitas yang sering berkunjung ke Museum Santa Maria antara lain Komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak) Indonesia Hidden Heritage (IHH) Sahabat Budaya, Jelajah Budaya, Sejarah Museum (Semu) dan berbagai komunitas lain. Ada pula yang datang secara pribadi karena tertarik dengan keberadaan museum yang baru diketahui. Kunjungan terakhir dari komunitas Indonesia Hidden Heritage (IHH) Sabtu 29/2/2020 lalu.

Dalam kunjungannya, masih banyak masyarakat yang kesulitan membedakan antara Katolik dan Kristen lain. Mayoritas tamu memahami bahwa katolik itu sama dengan Kristen yang lain karena kitab suci, nama tempat ibadah dan Tuhannya sama. Ketiga hal tersebut, menjadi pertanyaan yang sering ditanyakan dan kemudian melebar kebanyak hal, dari hirarki gereja, wilayah paroki, pernikahan dan sebagainya.

Banyaknya pertanyaan terkait gereja katolik, membuat pemandu museum harus belajar banyak tentang kekatolikan. Karena masyarakat yang datang, bertanya dengan jujur dan tulus karena ketidak tahuannya dan bukan mengajak berdebat.

Selain cerita sejarah kedatangan, perjuangan dan merawat karya para Suster Ursulin, Museum Santa Maria juga menjadi sarana memperkenalkan dan mengkomunikasikan katolik dengan tradisinya serta menyebarluaskan kebijakan para gembala gereja gereja khususnya di keuskupan Agung Jakarta (KAJ) kepada masyarakat umum secara khusus di tahun keadilan saat ini.***



Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...