Senin, 29 April 2019

DISIPLIN dan ATTITUDE yang BAIK

“Waah luar biasa ya…. Ini bagus sekali…. Ini fakta sejarah” ungkapan kekaguman terlontar berulang-ulang dari mulut Ibu Meitty Manegeng dan Pak Michael Perera dari Duren Tiga, Jakarta Selatan Kamis siang 25/10/2018, ketika pemandu Museum memberi penjelasan.

Mereka baru saja menghantar Benjamin, 5 tahun, putra Pak Michael yang mendaftar sebagai calon murid untuk masuk SD Santa Maria. Sekolah Santa Maria memang sudah membuka pendaftaran sejak 1 Oktober untuk para murid di tahun ajaran berikut.

Saat ditanya mengapa memilih sekolah di Santa Maria ia mengatakan “Memang banyak sekolah internasional tapi saya mau anak saya disiplin dan attitude-nya bagus, bukan hanya sekedar pintar saja,” jawab Pak Michael untuk menegaskan pilihannya di sekolah Santa Maria.

Oleh karena itulah, ketika diberi tahu oleh sekuriti Pak Sigit, bahwa di Santa Maria ada museum, Pak Michael antusias untuk melihat.

“Ini Sekolah tahun berapa ada?” Sudah berapa lama bangunan ini? Jumlah muridnya berapa? Sama ga dengan suster yang di Jalan Pos,” Pak Michael banyak bertanya karena ia ingin memastikan anaknya masuk sekolah ditempat yang tepat.

Pemandu dengan semangat menjelaskan bahwa bangunan gedung sudah ada sejak kedatangan Suster Ursulin pertama kali tahun 1856 dan sekolah TK dan SD dibuka pertama kali di tahun yang sama, 1856. Karya pertama para Suster Ursulin adalah adalah Asrama putri kemudian TK dan SD. Baru kemudian mendirikan di Jalan Pos.

Ketika mendengar penjelasan pemandu, Pak Michael manggut-manggut. Puas dengan penjelasan pemandu dan semakin yakin sekolah Santa Maria berkualitas, terbukti dari rentang waktu yang sangat panjang seratus enampuluh tahun lebih. Memasuki usia tua, namun tetap bertahan dan berusaha mengikuti perkembangan zaman. Suatu bukti nyata keberadaan yang terjaga baik, bukanlah sekedar sebuah angka yang antik dan unik tetapi menunjukkan fakta sejarah tak terbantahkan sebagai sekolah berkualitas.

Sementara pemandu menjelaskan sejarah dan riwayat benda-benda koleksi, Ibu Meitty Oma dari Benjamin, justru asyik berfoto dan mengambil gambar. Ia kagum dan berencana mau datang lagi “Nanti saya akan datang lagi ya, ini masih belum puas “ katanya sambil tangannya sibuk memotret dengan HPnya. Sebentar saja di Museum hanya sekitar setengah jam. Sebelum pergi, Ibu Meitty mengungkapkan kekagumannya dengan menulis di buku tamu “Sangat baik, info lengkap, ramah, God Bless & keep all of St. Maria”

“Sebentar lagi masuk kerja. Di Blok M,” kata Pak Michael menutup pembicaraan.. ***

Senin, 15 April 2019

Cerita Kerkhoff Tana Abang



Hampir tiga jam pemandu mengajak Pak Frans berkeliling museum Santa Maria. Di ruang Audio visual, terdapat foto makam kuno dengan tulisan “Kerkhoff tana abang”. Pemandu menceritakan kisah tentang makam tersebut. 

Suster Emmanuel Harris, satu dari tujuh suster pionir dimakamkan di Bidaracina tahun 1856. Kemudian makamnya dipindah ke Tanah Abang pada Februari 1869 karena para Suster sudah membeli tanah di komplek pemakaman tersebut agar makan para suster menjadi satu. 

Tahun 1975, Makam Para suster di Tanah Abang dibongkar pada masa Gubernur Ali Sadikin, karena Pak Gubernur membutuhkan lahan untuk mendirikan gedung pemerintahan /Balaikota. Awalnya pemakaman itu luasnya 5 ha, kini disisakan 1 ha. 

Sisa yang dipertahakan itu adalah makam para petinggi dan orang-orang penting di Batavia, seperti kepala Kantor Pos, Orang-orang terpandang dan kaya, termasuk pendiri Perhimpunan Vincentius Jakarta yaitu Romo Van den Grintten dan Bapak Uskup Mgr. Adam Classens. Semua makam para suster dipindahkan ke Tanah Kusir. Sekarang tempat itu dilestarikan menjadi Museum Taman Prasasti.
Makam Tanah Kusir merupakan makam umum, dan sudah banyak terisi, sehingga tidak memungkinkan mendapatkan kapling yang cukup luas untuk makam para suster yang dipindahkan. Mau tidak mau makam para suster terpencar-pencar satu sama lain. 

Tahun 1998 setelah para suster membeli tanah kapling makam di Selapajang Tangerang, semua makam di Tanah Kusir dipindahkan ke Selapajang sampai sekarang. 

Mendengar cerita tersebut, Pak Frans kemudian memberikan usul, agar tanah milik para suster itu ditelusuri kembali dan disampaikan kepada pemerintah, agar diberi ganti rugi atau jika memang diberikan saja maka nama Suster Ursulin atau Ordo Santa Ursula dicatat dan dibuatkan papan nama bahwa sebagian tanah gedung walikota ini sumbangan dari para suster. 

Mendengar usul dari Pak Frans, pemandu berharap ide dan usulan Pak Frans dapat menjadi masukan untuk melacak kembali jejak karya para Suster Ursulin di Batavia.***

Jumat, 12 April 2019

“Kawan, Jangan Kesal.”

Dari ruang Makan, Pak Frans melanjutkan tour ke Ruang Rekreasi. Ruang rekreasi bersebelahan dengan Ruang Makan. Di Ruang Rekreasi dipamerkan berbagai macam papan permainan yang dahulu digunakan para suster dalam setiap acara kebersamaaan, khususnya setelah makan malam. 

Salah satu papan permainan adalah Ludo. Ludo biasa dimainkan dua sampai empat orang, tetapi di Museum Santa Maria, papan Ludo bisa dimainkan sampai enam orang. Masing masing pemain memiliki empat pion. Tujuan permainan ini adalah memasukkan semua pion ke dalam “rumah” yang berada di tengah papan. 

 Di tengah papan terdapat tulisan berbahasa Belanda “Mens eiger je niet!” yang artinya “Kawan, jangan kesal,” jelas pak Frans. Kalimat itu untuk mengingatkan para pemain Ludo. Mengapa demikian? Karena untuk bisa memainkan buah pion-nya, pertama-tama pemain harus dapat mengeluarkan pion dari dalam kotaknya. Sedangkan syarat untuk bisa mengeluarkan pion dari kotak, ke 2 dadu harus menunjuk angka enam, jadi jumlah nilainya 12. Padahal untuk bisa mendapatkan double angka enam peluangnya kecil. Itu berarti pemain harus berkali-kali mengulangnya. Hal itulah yang sering menimbulkan kejengkelan pemain.
Selain Ludo, alat permainan lain adalah Scrable. Scrabble adalah permainan yang menyenangkan dan memperkaya kosakata. 

Tujuan permainan ini adalah untuk memperoleh poin terbanyak dengan menyusun huruf-huruf membentuk kata yang menyambung dengan salah satu huruf dari kata yang dibuat lawan main. Untuk bermain Scrabble, dibutuhkan minimal dua orang. Saat bermain, pemain akan membuat kata, mengumpulkan poin, menantang lawan, dan bahkan menukar huruf jika terpaksa. Sementara itu, pencatat skor akan menghitung poin semua pemain untuk menentukan pemenang dari permainan ini. Papan scrabble yang dipajang masih dalam bahasa Belanda. 

Sejak 2017 permainan tersebut jarang dimainkan oleh para suster, maka beberapa permainan diserahkan ke Museum dengan tujuan agar pengunjung tahu, memahami dan bisa merasakan permainan tersebut. Untuk yang mau bermain disediakan papan Ludo dan Scrabble baru yang dapat digunakan untuk bermain. (Bersambung ke Cerita Kerkhoff Tana Abang )

Rabu, 10 April 2019

Cerita Mesin Ketik


Tahun 1926 adalah sebuah angka tahun yang tercetak disebuah arsip dokumen menggunakan mesin ketik. Arsip tersebut menjadi tulisan mesin ketik tertua yang ditemukan petugas museum saat memeriksa dokumen koleksi Museum Santa Maria pada tahun 2016 lalu. 

Dokumen yang diperiksa belum sampai dua puluh lima persen dari keseluruhan dokumen. Artinya masih ada kemungkinan arsip dengan tulisan mesin ketik yang lebih tua dari yang sudah ditemukan. Untuk sementara dapat disimpulkan mulai tahun 1926 Biara dan sekolah Santa Maria menggunakan mesin ketik untuk pekerjaan administrasi. 

Mesin ketik koleksi Museum Santa Maria memiliki berbagai jenis merek dan ditempatkan di satu lemari khusus. Sebelum ada komputer, mesin ketik menjadi kebutuhan pokok setiap kantor dan komunitas. Pengunjung dapat melihat koleksi tersebut di bagian Ruang Studi.



Mas Albert, salah satu pengunjung menceritakan kenangannya dengan mesin ketik. 

“Dulu waktu tahun sembilan puluhan banyak sekali rental mesin ketik. Ya kayak rental computer zaman sekarang, seperti sekarang kalau di warnet,” komentarnya. 

“Saya jadi ingat waktu zaman kos dulu,” lanjut Mas Albert “Orang tua kan di Lampung, saya kost di Jakarta. Nah, kiriman orang tua kadang nggak cukup buat sebulan. Saya putar otak tuh, gimana caranya dapat tambahan uang jajan. Akhirnya saya menawarkan jasa pengetikan kepada para mahasiswa yang mau buat skripsi itu,” kenangnya.    

Dulu selembar harganya seribu, kalo di tukang rental mesin ketik seribu lima ratus. Seribu saja saya bisa dapat dua puluh ribu untuk sekali jasa pengetikan tugas atau skripsi, kadang malah lebih. Uang segitu lumayan banyak buat nambah jajan saya.” 

“Kita memang harus pintar-pintar cari duit. Harus kreatif, gitu maksudnya. Mumpung masih muda banyakin tuh cari duitnya,” katanya menutup cerita. 

Sabtu pagi di awal Februari 2019 itu Mas Albert menuntaskan perjalanan keliling museumnya jam sepuluh pagi. Ia buru-buru meninggalkan museum karena mau melihat anaknya tampil dalam lomba paduan suara di SMP Santa Maria yang masih satu komplek dengan Museum. Selama satu setengah jam ia mengagumi koleksi Museum. Tapi ia belum puas, “Ntar lain kali aku datang lagi.” Janjinya seraya pamit.***

Senin, 08 April 2019

Piring Sup, Bukan Piring Nasi


Piring koleksi museum yang dipamerkan di meja makan adalah piring untuk soup bukan nasi karena orang eropa tidak makan nasi. Orang eropa khususnya Belanda dan Belgia biasa makan roti tidak makan nasi. 

Kalimat itu disampaikan Pak Frans saat melihat koleksi piring yang tertata dimeja makan di area Dining Room. Fransiskus Panggih Purwoko atau Pak Frans, Jumat, 25/1/2019 bertamu ke Museum Santa Maria. Pak Frans sudah 20 tahun tinggal di Belgia dan bekerja di Universitas Leuven. Ia datang ke Jakarta karena sedang ada urusan keluarga. Karena masih ada waktu ia menyempatkan diri untuk reunian dengan teman kuliahnya di Yogya Ibu Maya guru Bahasa Inggris SD Santa Maria. Lalu Ibu Maya mengajak Pak Frans mampir ke Museum Santa Maria. 

Di area Ruang Makan itulah Pak Frans memberikan informasi penting bahwa orang Eropa tidak pernah makan nasi. Mereka makan roti. Dan piring yang mereka punya biasa untuk menampung sup sebelum disantap. Sendoknya pun lebar dan besar. Sedangkan piring untuk roti biasanya datar dan tidak ada cekungan ditengahnya.
Dari sekian banyak koleksi yang ada, menurut pak Frans, ada yang kurang atau tidak ada yaitu pisau. Ia masih penasaran kenapa pisau tidak ada dalam koleksi museum. 

Yang tersaji di lemari display berdasarkan modelnya adalah pisau untuk mentega dan pisau untuk memotong dan menyantap ikan, tidak ada pisau untuk daging seperti yang biasa digunakannya atau seperti yang ia lihat pada saat makan. Ia juga heran mengapa justru di museum ini banyak pisau untuk ikan dibanding pisau daging. Menurutnya, tradisi makan para suster dari eropa adalah menyantap daging bukan ikan. 

Informasi dari Pak Frans menambah narasi pemandu dan memancing untuk lebih banyak membaca buku. Pak Frans sendiri sebelum pulang menuliskan kontak yang bisa dihubungi agar ia mendapatkan informasi mengapa para suster eropa di Indonesia lebih suka menyantap ikan. Berdasarkan koleksi museum, muncul pertanyaan Ada apakah di Batavia (dulu) yang menyebabkan orang Belanda lebih banyak makan ikan dibanding makan daging? (Bersambung ke Kawan, Jangan Kesal)

Jumat, 05 April 2019

REMINDER LOMBA FOTO



PERHATIAN!!!!

Mengingatkan kepada seluruh peserta lomba foto HUT Sewindu Museum Santa Maria, bahwa lomba foto tinggal 1 minggu lagi.

SEGERA kirimkan karya anda melalui email ke alamat email Museum di : susteran.ursulin@gmail.com, paling lambat tanggal 13 April 2019 pukul 13.00 WIB.

Bagi yang belum melakukan registrasi ulang, silahkan datang ke Museum Santa Maria pada hari operasional Museum Santa Maria.

Jangan lupakan juga beberapa syarat & ketentuan lomba foto berikut :
1. Wajib follow akun Instagram Museum Santa Maria di @museumsantamaria
2. Repost atau regram poster lomba foto Museum Santa Maria, dengan mencantumkan beberapa tagar berikut :
     #museumsantamaria
     #ayokemuseum
     #museum
     #museumsantamariajuanda
 dan mention @museumsantamaria serta 5 teman lainnya.

Terima kasih. 
Tetap semangat dalam berkarya :)

Tuhan memberkati :)

Kamis, 04 April 2019

Lomba Foto: Mengajak Kaum Milenial Mengenal Sejarah

Kaum milenial yang didominasi pelajar “zaman now” tak lepas dari teknologi dalam kesehariannya. Mereka ikut lomba foto karena ikut ekstra kurikuler di sekolah ataupun karena hobi. Mereka datang dengan berbagai gadget atau pun peralatan kamera digital terbaru. Mereka tidak kalah dengan fotografer senior, mereka siap berlomba. 

Museum Santa Maria merayakannya ulang tahunnya ke delapan dengan kegiatan lomba fotografi. Lomba fotografi ini bertujuan mengajak para milenial mengenal sejarah. Khususnya mengenal peran dan karya para suster pionir dalam pendidikan. Selain itu mereka diajak mengenang dan belajar dari sejarah para remaja perempuan seusia mereka zaman itu (1856) yang merupakan sasaran didik para suster Ursulin. 

Setelah registrasi, para peserta diajak ke hall untuk menonton film pendek sejarah karya para suster. Film berdurasi duabelas menit membuka mata mereka bahwa pendidikan bagi perempuan sudah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan karya pendidikan Suster Ursulin masih terus berlangsung bahkan di banyak wilayah di Indonesia sampai sekarang. 

Mereka mengagumi Museum Santa Maria karena baru pertama kali ke museum Santa Maria dan berbagai koleksi artefak peninggalan berharga para Suster yang menjadi bagian dari sejarah awal karya para Suster Ursulin di bidang pendidikan. Situasi para remaja perempuan pada masa itu, yang mengalami degradasi moral karena terpengaruh dan terbawa arus warga kota yang selalu mempertontonkan kemewahan, semakin menarik perhatian mereka.


Dalam bukunya Gereja-gereja Tua di Jakarta, Romo Adolf Heuken, SJ; menceritakan: “macam-macam peraturan dan denda tidak berhasil membatasi nafsu mempertontonkan kemewahan waktu pernikahannya, ulang tahun, waktu ibadat dan pada hari pemakaman. Wanita-wanita Indo tampil seperti puteri-puteri ningrat. (halaman 100) 

Situasi tersebut menyebabkan Pemerintah tidak sanggup mengurusi pendidikan, bahkan gereja pun tidak. “....Gereja tidak sanggup mengurusi lembaga pendidikan dan pemerintahan kurang stabil serta dipusingkan oleh berbagai masalah militer maupun politik....”(Gereja-gereja Tua di Jakarta, Adolf Heuken SJ. Halaman 132) 


Dimasa-masa sulit itulah, para Suster Ursulin hadir atas Undangan Uskup Petrus Maria Vrancken, Pemimpin Gereja Katolik di Batavia. Mereka datang dengan segala keterbatasannya mengemban tugas berat, mendidik remaja perempuan menjadi wanita dewasa yang beretika dan bermoral. 

Bagaimanapun juga wanita menjadi bagian penting dari sebuah bangsa. Bangsa yang besar dimulai dari masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik berasal dari keluarga-keluarga yang baik, dan keluarga yang baik karena memiliki ibu yang baik dan ibu yang baik berasal dari wanita yang baik. 

Kekaguman lain adalah koleksi yang baru mereka lihat. Bangunan tua, benda-benda seperti lemari tempat menyimpan koleksi, meja dengan batu marmer dan kursinya, sampai kepada hal-hal kecil dan sederhana seperti sendok makan bergrafir nama pemiliknya. Foto-foto kuno, dan masih banyak lagi. 

Di balik Gedung Biara-Sekolah Santa Maria mempunyai banyak kisah yang menarik bagi mereka. Mereka ingin datang kembali karena ingin mendengar kembali cerita sejarahnya juga karena tidak puas karena pengunjung terlalu banyak. Mereka ingin menikmati museum dan memotret dalam suasana yang lebih tenang. SELAMAT BERLOMBA***

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...