Rabu, 30 Januari 2019

SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA FOTO HUT SEWINDU MUSEUM SANTA MARIA




Tema: Museum Santa Maria
Obyek Foto: Museum Santa Maria
Syarat dan ketentuan lomba:
1.      Pendaftaran melalui link https://goo.gl/forms/uv2bbjXPmtvUf2Dv2
2.      Registrasi ulang   ke Museum Santa Maria mulai 7 Februari 2019 (sesuai jam buka museum)
3.      Kunjungan Museum pada hari Minggu, dikonfirmasikan seminggu sebelumnya ke no HP/WA Museum Santa Maria  : 0896-5589-3880 pada jam kerja
4.      Peserta bebas segala usia 
5.      GRATIS
6.      Wajib follow akun instagram @museumsantamaria
7.      Repost atau regram poster lomba foto Museum Santa Maria
8.      Repost atau regram poster lomba foto Museum Santa Maria wajib mencantumkan tagar #MuseumSantaMaria #ayokemuseum dan dimention kepada @museumsantamaria serta 5 teman
9.      Obyek foto adalah Museum Santa Maria.
10.  Setiap peserta diperbolehkan mengirim maksimal 3 foto  ukuran minimal 12 megapixel
11.  Setiap peserta bebas menggunakan jenis kamera apa saja tanpa blitz / flash
12.  Olah digital diperkenankan sepanjang tidak mengubah realita atau memanipulasi foto
13.  Foto bersifat original  dan belum pernah dipublikasikan.
14.  Dikirimkan ke email dalam bentuk JPG/JPEG susteran.ursulin@gmail.com  dengan subjek:  
nama_nomor registrasi_lombafotomuseumsantamaria  paling lambat  Sabtu 13 April 2019 Pukul  13.00 WIB (sesuai jam tutup museum)
15.  Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
16.  Dengan mengikuti lomba ini,  peserta  mengizinkan pihak Museum Santa Maria, untuk menggunakan sebagai materi promosi Museum Santa Maria dengan mencantumkan nama fotografernya.
17.  Pemenang lomba foto diumumkan  pada jumat 17 Mei 2019 di Museum Santa Maria  pada pertemuan Mugalemon DKI  (Museum Galeri Monumen) bulan Mei 2019


Ttd. Panitia

Kamis, 24 Januari 2019

OPEN HOUSE MUSEUM


Museum St Maria merupakan  “living heritage”  dari Biara dan Sekolah Santa Maria yang berdiri sejak 1856. Museum menghayati semboyan  berakar di masa lampau, hidup di masa sekarang, dan menggapai  ke masa depan.

Dalam rangka memperingati  dan mensyukuri  Sewindu/8 tahun (2011-2019) Museum Santa Maria Jakarta, yang lokasinya berada di dalam kompleks Sekolah-Biara Santa Maria, Jl. Ir. H. Juanda 29, Museum Santa Maria  akan mengadakan serangkaian kegiatan yang melibatkan murid-umat dan masyarakat yang peduli pada sejarah dan pendidikan.

Oleh karena itu, kami mengundang  anda untuk hadir  dan terlibat dalam
·         OPEN HOUSE    dilaksanakan  pada :
Hari & tanggal       : Kamis – Minggu, 7 – 10 Februari 2019 (Pelajar)  
   Jumat – Minggu 8-10 Maret 2019 (Umum)
Waktu                   : Pukul 08.00 – 16.00
·         LOMBA FOTO : 7 Februari – 13 April 2019 ( klik disini )

Demi kenyamanan pengunjung, kami mohon konfirmasi waktu kunjungan dan jumlah peserta melalui  telp. / WA  Museum Santa Maria : 0896 – 5589-3880 /  Bpk. Thomas Aji : 0856-7339-613. Konfirmasi untuk sekolah / pelajar diterima panitia paling lambat 31 Januari 2019.  Konfirmasi untuk umum diterima panitia paling lambat 28 Februari 2019. 


Salam SERVIAM & SOLI DEO GLORIA


Rabu, 23 Januari 2019

SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA FOTO HUT SEWINDU MUSEUM


SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA FOTO 
HUT SEWINDU MUSEUM SANTA MARIA

Tema: Museum Santa Maria
Obyek foto: Museum Santa Maria



1.      Pendaftaran melalui link https://goo.gl/forms/uv2bbjXPmtvUf2Dv2
2.      Registrasi ulang   ke Museum Santa Maria mulai 7 Februari 2019 (sesuai jam buka museum)
3.      Kunjungan Museum pada hari Minggu, dikonfirmasikan seminggu sebelumnya ke no HP/WA Museum Santa Maria  : 0896-5589-3880 pada jam kerja
4.      Peserta bebas segala usia 
5.      GRATIS
6.      Wajib follow akun instagram @museumsantamaria
7.      Repost atau regram poster lomba foto Museum Santa Maria
8.      Setiap foto yang diunggah wajib mencantumkan tagar #MuseumSantaMaria #ayokemuseum dan dimention kepada @museumsantamaria serta 5 teman
9.      Obyek foto adalah Museum Santa Maria.
10.  Setiap peserta diperbolehkan mengirim maksimal 3 foto  ukuran minimal 12 megapixel
11.  Setiap peserta bebas menggunakan jenis kamera apa saja tanpa blitz / flash
12.  Olah digital diperkenankan sepanjang tidak mengubah realita atau memanipulasi foto
13.  Foto bersifat original  dan belum pernah dipublikasikan.
14.  Dikirimkan ke email dalam bentuk JPG/JPEG susteran.ursulin@gmail.com  dengan subjek:  
nama_nomor registrasi_lombafotomuseumsantamaria  paling lambat  Sabtu 13 April 2019 Pukul  13.00 WIB (sesuai jam tutup museum)
15.  Keputusan dewan juri mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
16.  Dengan mengikuti lomba ini,  peserta  mengizinkan pihak Museum Santa Maria, untuk menggunakan sebagai materi promosi Museum Santa Maria dengan mencantumkan nama fotografernya.
17.  Pemenang lomba foto diumumkan  pada jumat 17 Mei 2019 di Museum Santa Maria  pada pertemuan Mugalemon DKI  (Museum Galeri Monumen) bulan Mei 2019


Ttd. Panitia

Selasa, 15 Januari 2019

Tour Dua Oma


Sekecil apapun penghargaan, bila itu didapat karena sebuah prestasi tentu sangat menggembirakan. Museum Santa Maria memberikan sebuah hadiah kecil atas ketelitian seorang pengunjung.    

Jam 14.20 sudah lewat, waktunya museum tutup. Tiba-tiba datang Bu Siska pengelola kantin unit produksi SMK datang mengetuk pintu dan memberitahu bahwa ada tamu datang ingin melihat museum. “Sudah tutup belum museumnya?” Tanya Bu Siska. Namun karena pintu ruang-ruang museum masih terbuka, pemandu menerima pengunjung dengan senang hati. 

Tamu itu bertiga, Oma Tekla, oma Yuliana Mindarti Sumargo dan Jessica, cucu mereka. Mereka sudah merencanakan akan mengunjungi Museum Santa Maria untuk mengisi liburan sekolah Jessica. Mereka berangkat sebelum jam dua belas tetapi karena terjebak macet, mobil ojek online yang mereka tumpangi terjebak macet dan akhirnya sampai di museum menjelang tutup. 

Beruntung, museum masih buka dan pemandu menerima dengan ramah dan mengajak mereka bertiga keliling museum. Menurut Oma Tekla, Jessica suka ke museum. Kemarin sudah mengunjungi beberapa museum dan hari ini khusus mengunjungi Museum Santa Maria. 

Oma Mindarti ternyata juga tertarik dengan biara para Suster Ursulin. Oma Mindarti berkisah bahwa ia dulu pernah tinggal di Cirebon dan lulus SMA Santa Maria tahun 1979. Ia juga tahu bahwa Sekolah Santa Maria Cirebon pada awalnya adalah biara para Suster Ursulin. Selain itu Oma Mindarti juga serius mendengarkan penjelasan pemandu. Ia aktif menanggapi apa yang disampaikan pemandu. 



Di ruang Audio Visual, mereka berhenti didepan sebuah benda pamer berupa pigura dengan tulisan tangan berisi daftar nama para suster di komunitas Biara Santa Maria Juanda yang sudah meninggal sejak tahun 1856 sampai tahun 1964 

Pemandu menjelaskan bahwa ada 92 nama suster yang tercantum dalam daftar tersebut. Mendengar penjelasan pemandu, Oma Mindarti langsung mendekat dan menghitung perlahan. Ternyata ada 88 nama suster. Karena masih penasaran Ia ulangi menghitung sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama 88 nama. Dari sekian banyak tamu yang berkunjung, hanya Oma Mindarti yang menghitung daftar nama para suster itu. 

Pemandu mengucapkan terima kasih atas koreksi dan ketelitian Oma Mindarti. Sebagai penghargaan atas ketelitiannya, Pemandu memberikan sebuah kenang-kenangan yang diberikan usai keliling museum berupa pembatas buku dengan tulisan berupa nasehat Santa Angela “ Apa yang anda ingin mereka lakukan, lakukan sendiri itu lebih dahulu.” 

Oma Mindarti gembira mendapat hadiah kecil itu. Oma Tekla dan Jessica juga mendapatkannya. Begitu senangnya mendapat hadiah, ia meminta tanda tangan pemandu di balik kartu pembatas buku. Oma Tekla pun meminta hal yang sama, tanda tangan pemandu. Selesai keliling museum, mereka ingin ke kapel, namun karena sudah lebih dari satu jam melewati batas jam kunjungan tamu, pemandu tidak mengijinkan tamu memasuki kapel. 

Sebelum pamit mereka menuliskan pesan di buku tamu “Sangat menyentuh hati kita. Memberi kekuatan iman akan perjuangan para Suster Ursulin.” ***


Rabu, 09 Januari 2019

ALUMNI Yang Penasaran Dengan BANGUNAN TUA



Sepanjang Jalan Juanda Raya-Jakarta Pusat, persis di belakang Istana Presiden, bila diperhatikan dengan seksama, ternyata masih ada beberapa bangunan tua bersejarah. 

Salah Satunya adalah Gedung Santa Maria yang bersebelahan dengan Kantor Bank Indonesia cabang Jakarta. Masyarakat umum tidak banyak yang tahu, hanya tahu bahwa gedung itu adalah sekolah yang sudah lama. Mereka tidak tahu ada kisah-kisah tersembunyi haru-sedih-menegangkan dibalik tebalnya tembok Kompleks Santa Maria. 

Sabtu 4 Januari 2019 dua perempuan pendiri komunitas Jakarta Hidden Heritage Mbak Any & Mbak Nova datang ke Museum Santa Maria. Komunitas Jakarta Hidden Heritage sendiri merupakan komunitas pencinta bangunan dan gedung-gedung tua. 

Awalnya secara tidak sengaja, ketika mereka survey untuk mencari route perjalanan tour komunitasnya, menyusuri gedung-gedung tua dari Weltevreden (sekarang daerah Pasar Baru) menuju Molenvliet atau Hayam Wuruk-Harmoni, tiba-tiba mereka berhenti di depan pintu masuk. 

Gedung Santa Maria yang memang tampak menjulang, mereka penasaran masuk ke dalam kantin unit produksi SMK. Sambil melihat-lihat foto-foto gedung lama yang terpajang di situ, mereka lalu masuk lebih dalam dan melihat spanduk dengan tulisan Museum Santa Maria. Mereka semakin penasaran dan ingin melihat lebih dalam apa saja isi museum dan gedung tua ini?

Di lobi museum, mereka bertemu Suster Lucia.. Dengan gembira Suster menyambut kedua tamu tersebut. “Beberapa waktu lalu juga ada komunitas mirip kelompok ini yang berkunjung ke sini,” kata Suster ramah seraya mengajak mereka masuk ruang tamu sekretariat dan memperkenalkan Museum Santa Maria. 

Mbak Nova dan Mbak Any, takjub mendengar penjelasan kami, saat berkeliling ke museum. Melihat gedung yang masih terawat baik dan koleksi yang berusia tua lagi-lagi dengan kondisi masih terawat baik pula membuat mereka semakin kagum. 


Menurut Mbak Nova, melihat benda-benda kuno di Museum Santa Maria seolah membawanya kembali ke masa silam. Mereka memperhatikan betul koleksi yang ada di museum dan menikmatinya. 

Satu jam lebih keliling museum dan mengunjungi Kapel Susteran membuat mereka gembira. Di kapel pun mereka tak kalah terkejutnya. Tampak dari luar gedung kapel yang menjadi bagian biara kokoh dan interior didalamnya sungguh cantik. 

“Amazing banget,” begitu seru mereka berdua, sulit menggambarkan rasa di hati melihat dan mengalami bisa masuk ke Gedung Biara Santa Maria sampai ke bagian dalam. Menurut Mbak Any, lulusan SMA Santa Ursula-Jalan Pos, waktu masih sekolah ia belum pernah sampai sejauh ini masuk ke dalam kompleks sekolah. Jadi pengalaman hari ini merupakan pengalaman yang betul-betul luar biasa. 

Sebelum pamit, mereka menjanjikan akan membawa rombongan komunitasnya, “kurang lebih tiga puluh orang” kata Mbak Nova memastikan. Tak lupa mereka menuliskan kesan di buku tamu “Luar biasa, memberikan banyak informasi dan sejarah”.***

Jumat, 04 Januari 2019

Belajar Keberagaman



Museum bukan sekedar tempat menyimpan benda bersejarah tetapi juga bisa jadi tempat belajar keberagaman. Hal itu dikatakan salah satu pengurus OSIS SMAK Penabur Gunung Sahari, Yohanes saat mengunjungi Museum Santa Maria. 

Bermula dari Inisiatif Yohanes menelpon Museum pada Sabtu siang 8 Desember 2018,

 “Selamat siang apakah kami bisa mengunjungi Museum dan kapel Santa Maria?” 
“Siapa ya dan dari mana?” 
“Saya Yohanes, dari SMAK Penabur Gunung Sahari.”
 “Sejam lagi museum akan tutup, Jadi silahkan datang segera, kami akan tunggu”
 “Kalau begitu, kami datang Senin saja.Terima kasih.” 

Senin siang, Yohanes, Ketua OSIS memenuhi janjinya, ia datang menjelang jam dua belas. Yohanes ditemani Putri dan Cecilia, pengurus OSIS. 

 “Mau survei tempat , dari OSIS ini hanya perwakilan saja. Kami mau ada kegiatan temanya tentang keragaman budaya. Kebetulan saya SMP nya kan disini juga makanya teman teman mau saya ajak kesini. Soal waktu baru akan kami bahas setelah survey ini,” Terang Yohanes saat ditanya Suster Lucia, penanggung jawab Museum.

Setelah berbincang sejenak dengan Suster Lucia, mereka melanjutkan tour keliling museum. Di ruang Misi, mereka melihat koleksi uang dan bertanya “Ini mereka bawa semua ya?” Pemandu menjelaskan bahwa semua uang yang ada di ruang MISI terkait dengan karya para Suster. Uang tersebut menjadi sarana pendukung karya juga menjadi bukti keberadaan para Suster Ursulin jauh sebelum Indonesia Merdeka. 

Uang yang menjadi koleksi museum menjadi bukti para Suster Ursulin di Biara dan sekolah Santa Maria ini menjadi pelaku sejarah dari sejak kedatangannya, turut berjuang dalam proses kemerdekaan Republik Indonesi, mengalami masa awal kemerdekaan, masa reformasi , saat ini dan masih akan terus berlanjut. 

Sekolah Santa Maria dengan para susternya dalam mendidik kaum perempuan dari berbagai suku, bangsa dan agama serta mampu melewati masa lebih dari se abad menjadi bukti Santa Maria layak untuk menjadi tempat belajar, bagaimana mereka mengelola keberagaman. 

 Di akhir kunjungan, Yohanes , Putri dan Cecilia menyempatkan diri foto bersama di depan kapel. Tak lupa ia menuliskan kata hatinya di buku tamu “Sangat berkesan, ramah dan tentunya menambah pengetahuan kami.” ***

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...