Sabtu, 29 Desember 2018

Rumah Di Noordwijk no.29

TE KOOP of TE HUUR (dijual atau disewakan) TH. F Schill memasang iklan di Koran Java Bode tentang rumah di Noordwijk sampai 3 kali berturut-turut. 

Pertama tanggal 9 November 1853 (seperti yg tertera pada cuplikan). Yang kedua iklan tanggal 26 November 1853 hanya tertulis “dijual” /TE KOOP. Rupanya belum ada pembeli, maka Iklan dipasang lagi pada tanggal 30 November 1853, namun tertulis rumah itu akan dijual dengan cara dilelang pada bulan berikutnya. 

Dalam pelelangan itu Mgr Vrancken yang sedang mencari rumah untuk Ursulin yang akan diundangnya ke Batavia, diwakili bendaharanya oleh Pastor Classens memenangkan lelang sesuai dengan surat taksiran harga. Surat itu tertanda pemilik yaitu Elisabeth Adriana Roseboom, Janda mendiang Jeremias Schill. 



Lalu pada tanggal 10 Januari 1854 surat transaksi serah terima dari Adriana E Roseboom kepada Keuskupan Batavia ditanda tangani, sebelum Mgr Vrancken berangkat ke Eropa. 

Th. F. Schill adalah anak dari seorang Pendeta kaya bernama Jeremias Schill, yang waktu rumah itu diiklankan, si ayah sudah meninggal. Saat  iklan ketiga   muncul,  ibunya Th. F. Schill , E.A Roseboome masih hidup. Ibunya meninggal dunia 2 tahun kemudian. 

Makam suami-istri itu ada di Museum Taman Prasasti, Tanah Abang, Jakarta Pusat


Sumber: (buku  URSULIN Pendidik Perempuan Pertama Di Indonesia halaman 35)

Sabtu, 22 Desember 2018

TAMU dari MARITIEM MUSEUM, BELANDA

Di depan Museum Santa Maria

Sekitar jam 11 Senin 3/12/2018, Bu Siska penanggung jawab kantin unit produksi SMK Santa Maria mengetok pintu sekretariat. 

“Permisi, Suster Lucia ada?”
 “Sedang keluar kota, Bu. Ada yang bisa dibantu?” “”Ada Pak Max, teman suster.” 
“Pak Max? ooh di mana Bu?” Bergegas, pemandu keluar mengikuti Bu Siska. 

Pak Max menunggu di depan kasir bersama seorang wanita, bukan Petra istrinya. Setelah bertanya kabarnya, Pak Max memperkenalkan wanita disebelahnya,  Liesbeth "My collegue" So, “Where is Ibu Petra?” “She is in Bali.” 
“Lho, kenapa ditinggal?” 

Rupanya Pak Max diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional menjadi narasumber seminar selama sepekan di Senayan. Setelah itu dia ada acara di China. Dua hari di negeri Tirai Bambu, baru terbang ke Bali. 

Ibu Petra ada acara sendiri di Bali. Jadi sementara berpisah dulu. Sedangkan Liesbeth dari Museum Maritim Belanda ada di Jakarta dalam rangka liburan. Pak Max mengajak koleganya Liesbeth mampir ke Museum. 

Setelah dijelaskan bahwa Suster Lucia sedang ada acara di Bandung selama seminggu, Pak Max menitipkan sebuah paket dengan sebuah catatan untuk Suster Lucia. 
Sr. Maria & Sr. Lucia  say  "Thank you Pak Max & Ibu Petra for this present."
Kemudian ia mengajak Liesbeth keliling museum dan menjelaskan berbagai artifaks. Saat di Ruang Angela ada foto Kapal Herman, dibawah foto itu ada tulisan Modele du “Herman” 1855- Copy-right- Maritiem Museum, Rotterdam.” 
 “There is my office. I work there,” kata Liesbeth girang sambil menunjuk sebuah tulisan “Maritiem Museum, Rotterdam”. Sengaja Pak Max mengajaknya mampir ke Museum untuk menunjukkannya pada Liesbeth. “You will be her colleague” kata Pak Max ke pemandu.
“There is my office. I work there,” kata Liesbeth

Liesbeth mengagumi museum dan bangunan yang masih asli dan terawat. Terutama ia suka dengan kebunnya “Very beautiful. A quite place …..very beautiful” katanya berulang ulang. 

Pak Max yang akhirnya menjadi guide Liesbeth menjelaskan seluruh isi museum. Pak Max pernah dua kali ke museum, ia hafal ruang ruang dan koleksinya (lihat disini dan disini ).


Terima kasih Pak Max sudah memandu Liesbeth. Tidak lama di museum, pemandu mengajak Pak Max dan Liesbeth keliling area kompleks sekolah Santa Maria. Mereka melihat kapel, dan bangunan gedung lainnya. Sementara Liesbeth lebih suka menyapa anak-anak. Ia senang melihat anak-anak itu berlarian. 

Ia bertanya berapa murid disini. Saat dijawab “almost two thousand.” Ia terkejut “wow”.. “Santa Maria is a good school,” sahut Pak Max. Jumlah murid membuktikan bagusnya sekolah Santa Maria. 

Saat berada di samping kapel dan melihat kebun kecil, Liesbeth berseru “Wow beautiful.” Ia menanyakan apakah pemandu yang merawat. “No, not me but Pak Riyono, who take cares this small garden.“ Ia pun meminta foto bersama Pak Riyono. Liesbeth juga mengagumi beberapa pohon yang tumbuh di halaman kampus Santa Maria. Ada pohon sukun. “Its first time I see this tree.” Saat melihat jeruk bali sama juga “This is the first time I see. In Netherland there is no this tree.” 
Bersama Pak Riyono

Waktu melewati pohon nangka ia mengira ini durian “Hei, is this durian?” Noooo.. this is Nangka. “Hmmm.. jackfruit” Pak Max mengkoreksi. Sementara di SMP, Pak Max dan Liesbeth melihat pohon besar. Kami asik diskusi dibawah pohon besar itu. Apa itu nama pohonnya? Beringin bukan? Ah pemandu tidak tahu apa nama pohonnya. Pemandu hanya tau barang barang tua dan kuno. Nanti diusulkan kepada suster untuk memberi keterangan nama di setiap pohon yang tumbuh. 

Puas berkeliling, Pak Max & Liesbeth pamit. Mereka harus tiba kembali di Hotel Century Senayan jam 2 siang. Setelah mengisi buku tamu, mereka pamit dan berjalan ke arah jalan Pecenongan mencari taksi.***

Rabu, 19 Desember 2018

Tugas Kurator Menjadikan Artefak Memiliki Roh.


Museum Santa Maria turut hadir dalam Bimbinan Teknis (Bimtek) Kurator Museum yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Museum Provinsi DKI Jakarta di Hotel Bidakara pada 26-28 November 2018. 

Pesan panitia yang tercantum dalam undangan, peserta Bimtek harus yang menangani tentang koleksi museum. Namun karena keterbatasan sumber daya serta padatnya jadwal acara baik komunitas museum daerah DKI PARAMITA JAYA maupun internal maka Museum Santa Maria mengirimkan Suster Lucia, penanggung jawab museum di hari pertama dan pemandu yang sudah tersertifikasi mengikuti Bimtek di hari kedua. 

Pemakalah dalam bimtek sesi pagi sampai jam dua belas siang , Pak Ali Akbar dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Pak Ali mengawali dengan menjelaskan asal Muasal Koleksi dan Kurator. 

“Manusia hobi mengumpulkan sesuatu yang bersifat kebendaan, umumnya bersifat aneh, unik, langka, tua, kuno, antik, ada kenangan setelah itu diteliti secara keilmuan. Arkeolog kemudian meneliti benda itu.” 

Ia melanjutkan “Awal mula museum berawal dari penyimpanan. Jadi Pada awalnya memang disimpan atau ditaruh di laci. Lama lama di kasih catatan biar tidak lupa. 

Setelah itu mengundang relasi untuk dipamerkan saat makan malam atau suasana tertentu. Dari memamerkan kepada relasi itu lama lama muncul banyak pertanyaan yang semakin menarik untuk diteliti. 

Itulah awal mula arkeolog. Setelah itu dikelola baru kemudian menjadi museum. Nah petugas pengelola itu yang merawat mencatat dan sebagainya itulah Kurator. Kemudian berkembang lagi menjadi register, konservator. 

Pada akhirnya saat ini Kurator adalah pengelola museum yang tersertifikasi begitu juga dengan konservator”. 

Dalam paparannya data Arkeologi Ada 5 kategori yaitu Artefak, Fitur, Ekofak, Situs, Kawasan “Artefak itu benda bisa dipotong dibagusin dipindah dan lain-lain. Fitur adalah artefak yang tidak bisa dipindah. 

Contohnya Struktur bangunan gedung. Kalo dipindah malah merusak. Situs adalah lokasinya. Beda Museum Situs dengan Situs. Museum Situs ya situsnya itu adalah koleksinya yang jadi museum, contohnya candi Borobudur. Kawasan adalah beberapa situs yang saling terkait. Contoh candi Mendut, candi Pawon dan Candi Borobudur. Tiga candi itu menjadi satu kawasan. Kemudian berubah lagi menjadi Ekomuseum. 

Ekofak adalah museum alam dimana manusia tidak ikut campur tangan. Contohnya Fosil itu ekofak karena tidak ada campur tangan manusia. “ 

Selanjutnya ia menyarankan Museum mengkoleksi benda dan kebendaan. Maksudnya benda adalah artefak dan Kebendaan yaitu ide, gagasan dan perilaku yang direkonstruksi dari artefak yang dipamerkan. Dan tugas menggali ide, gagasan, dan merekonstruksinya adalah tugas Kurator. 

Setelah istirahat , dilanjutkan dengan metode pengkajian koleksi dengan memunculkan masalah sebagai pemantik bagi Kurator untuk memulai riset atau pengkajian. Kajian koleksi dilakukan bertujuan: Meningkatkan potensi nilai dan informasi untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, Pengembangan ilmu pengetahuan, Pengembangan kebudayaan, Menjaga kelestarian Koleksi. 

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan Survey, FGD, literasi dan lain-lain. Pengolahan data dimulai analisis atau diurai akhirnya diketahui relevan atau tidak. Baru diketahui detailnya. Setelah itu Penafsiran data atau kesimpulan. 

Pameran harus ditafsirkan tidak hanya dipamerkan diinfokan data saja. Setiap benda koleksi harus ada tafisrannya. Persoalan ada pendapat yang berbeda tidak masalah yang penting diberi ruang bagi pendapat yang berbeda.

Dari hasil paparan sesi pertama dapat disimpulkan bahwa museum tidak hanya memamerkan benda saja tetapi kisah ide, dan gagasan serta tafsiran dibalik benda itu juga perlu diinformasikan kepada publik. 

Pada sesi kedua setelah istirahat siang, dibawakan oleh Pak Prioyulianto M.Ed. Mantan Kepala SubDirektorat Pengamanan dan Pengendalian, Direktorat Museum, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta. 

Dalam paparannya, ia menekankan bagaimana proses pengadaan koleksi sejak diusulkan sampai dengan dipamerkan. “Beda museum dengan galeri adalah Galeri boleh ada jual beli koleksi sedangkan museum tidak boleh. Kurator adalah pengawal bukti sejarah. 

Kurator yang mengkaji sejarah dari koleksi tersebut. Koleksi Museum merupakan inti yang menjadi "jiwa/roh" museum. Sejarah koleksi di dunia berawal dari pengumpul. Hakekat koleksi Menyimpan memori umat manusia, Masyarakat dapat mengetahui asal usulnya / identitas nya, Masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang perjalanan (perubahan) kebudayaan nya, Merasakan manfaat dan mendapatkan pengetahuan tentang hubungan masa lampau dengan masa kini dan Menjadikan pengetahuan itu untuk menyongsong masa yang akan datang. 

Oleh karena itu Koleksi yang dimiliki merupakan representasi unik yang mencerminkan usaha dan kemajuan budaya yang telah dilalui oleh sebuah komunitas (historical development) Hal itu menjadikan Koleksi yang dimiliki setiap museum merupakan aset utama dan harus dikelola dengan baik. 

Benda yang dapat dikoleksi museum:Benda utuh, fragmen, replika, spesimen, hasil rekonstruksi dan/atau hasil restorasi. Syarat benda yang akan dijadikan koleksi: Sesuai visi misi museum, Jelas asal-usulnya, Cara perolehan yg sah, Kondisi keterawatan, Tidak menimbulkan efek negatif bagi manusia & alam. Sedangkan pengelolaan koleksi meliputi : Pengelolaan Administrasi: pengadaan & pencatatan, penghapusan & pengalihan, peminjaman dan Pengelola an Teknis: 

Pengadaan Koleksi dilakukan oleh tim dengan mempertimbangkan Aspek ilmiah, legalitas & fisik. Maka salah satu syarat kurator adalah berpendidikan S1 yang sesuai dengan kebutuhan museum. 

Registrasi : pendokumentasian koleksi ke dalam buku registrasi. Registrasi meliputi pemberian nomor registrasi, membuat foto koleksi, dan pencatatan lalu lintas. Registrasi benda koleksi melalui tahapan: A. Benda yang dibawa ke museum dibuatkan: Deskripsi singkat; tanggal dicatat; nama dan tanda tangan petugas yang menerima; nama, tanda tangan orang yang membawa benda tersebut serta alamat lengkapnya. 

B. Benda diregistrasi dengan memasukkan informasi yang sudah ada (tahap 1) ke dalam lembaran kolom data ditambah data : nomor sementara ; tanggal kedatangan benda; alasan pemberian, hibah, dan sebagainya; lokasi penyimpanan sementara; nama petugas museum yang menerima benda atau yang membawa. 

Pengklasifikasian koleksi disesuaikan dengan fungsi yang paling menonjol. Registrasi adalah pendokumentasian koleksi ke dalam buku registrasi. Registrasi meliputi pemberian nomor registrasi , membuat foto koleksi, dan pencatatan lalu lintas koleksi. 

Inventarisasi adalah pencatatan koleksi, yang mencakup pengklasifikasian koleksi, pemberian nomor inventaris, pembuatan kartu katalog koleksi, dan pengisian lembar kerja kuratorial. 

Kesimpulan dari sesi kedua adalah koleksi menjadi jiwa atau roh museum. Tugas Kurator memastikan artefak tercatat, terawat, terpelihara dengan baik dan menjadi sarana penelitian untuk perkembangan ilmu pengetahuan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. 

Dari Bimtek ini, Museum Santa Maria menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Museum Provinsi DKI Jakarta atas kesempatan yang diberikan ***

Senin, 17 Desember 2018

MENGISI LIBURAN SEHARI

Pagi hari sekumpulan anak-anak bermain di halaman SD Santa Maria, tanggal merah Maulud Nabi Mohammad SAW, Selasa 20 November 2018. 

Mereka adalah rombongan anak –katekumen anak, calon baptis, dari Kalideres Gereja Santa Maria Imakulata yang akan mengadakan rekoleksi sehari dan kunjungan ke Museum. 

Menurut pendampingnya, Ibu Suyatmi, rencana awal hanya akan kunjungan ke Museum Santa Maria, namun dalam survey sebelumnya, boleh ada kegiatan lain sambil menunggu antrian keliling museum, mereka kemudian meminta suster untuk sekaligus memberi rekoleksi. Syukurlah Suster Atty dan Suster Yoan bersedia memberi rekoleksi walau permohonannya mendadak persis di hari libur.




Rekoleksi berjalan seru dan menarik walau sempat terganggu di awal karena sound system tiba-tiba macet, tidak mau “diajak kerjasama”. Beberapa saat kemudian situasi dapat teratasi dan rekoleksi dilanjutkan. 

Anak-anak antusias ikut rekoleksi, sehingga setelah makan siang, sekitar jam 12 barulah anak-anak keliling museum. Empat puluh lima anak dibagi kedalam tiga kelompok. Masing-masing didampingi seorang pemandu. 

Namun karena anak-anak sejak pagi beraktifitas, mereka kelelahan. Imbasnya saat pemandu menceritakan sejarah dari masing-masing koleksi museum, mereka kurang aktif menanggapi, padahal sebelum tour anak-anak diberi kesempatan istirahat dan makan. 


Belum tuntas tour, ternyata rombongan lain sudah menanti untuk masuk ke museum. Mereka menunggu di halaman SD. Rombongan katekumen tak sempat foto bersama dengan suster dan pemandu, mereka segera pamit. 

Menjadi koreksi bagi panitia dan pengelola museum ke depan bagaimana mengelola waktu, acara dan cara mendampingi anak-anak agar mereka dapat menikmati acara yang sudah disusun dengan baik. Semoga kunjungan berikutnya, akan lebih baik lagi.***

Jumat, 14 Desember 2018

BEJANA DAN BASKOM

Bejana dan Baskom menjadi salah satu cirikhas di setiap kamar para suster Ursulin sebelum pra konsili. 

Menurut Suster Blandina yang di tahun 2018 merayakan ulang tahun ke 83, saat ia masuk biara tahun 1957 masih menggunakan bejana dan baskom dari keramik di setiap kamar. Bejana itu berisi air yang digunakan untuk mencuci muka sebelum tidur dan saat bangun pagi. 

Air dalam bejana dituangkan dalam baskom kemudian lap kering diambil dan dicelupkan ke dalam baskom tersebut lalu digunakan untuk membersihakan wajah. Setelah itu wajah di lap dengan kain yang kering dan bersih.


Sr. Blandina. OSU

Tidak ada pispot dalam kamar. Pispot digunakan untuk suster yang sakit saja. “Kalau malam-malam mau buang air kecil ya ke kamar mandi.” Untuk mandi hanya diijinkan sekali sehari setiap sore. 

Penggunaan air untuk mandi dibatasi hanya tujuh gayung saja. Para suster diajarkan untuk menghemat air sejak mereka masuk ke dalam biara. Gayung yang digunakan mirip seperti ember kecil terbuat dari besi seng dengan pegangan kayu berukuran lebih dari satu liter. “Lebih besar dari gayung yang sekarang, “ kata suster Blandina 

Sedangkan menurut Hay Coopens, salah seorang tamu yang pernah berkunjung ke Museum Santa Maria (lihat  You speak English, I speak Indonesia ) Pada masa lalu (pra konsili) , instalasi air belum sebaik saat ini dimana di setiap kamar tidur (di lantai atas) ada kamar mandi. 

Dulu tidak ada (kamar mandi didalam kamar tidur) sehingga diperlukan pispot sebagai tempat buang air kecil dan bejana serta baskom untuk tempat air bersih dalam satu kamar.***

Senin, 10 Desember 2018

MAKAM PARA SUSTER URSULIN


Tanah makam para suster awalnya ada di Bidaracina. Semula tanah itu adalah pemberian Bapak Heugen, kepada Uskup Vrancken dengan maksud supaya para pastor kelak mendapat tempat peristirahatan yang pantas. 

Suster Emmanuel Harris (1856) dimakamkan di sana. Kemudian menyusul 3 suster lagi yang dimakamkan disitu yaitu Suster Leonie Evers (1862) dan 2 Suster dari Weltevreden. 

PINDAH KE TANAH ABANG 1869. 
Sudah lama Bapak Uskup Vrancken berusaha membeli sebidang tanah di lokasi Pemakaman Umum di daerah Tanah Abang. Tujuannya supaya semua Suster dari biara Noordwijk dan Weltevreden dapat dimakamkan di tempat khusus itu. Akhirnya ia berhasil mendapatkannya. 

Maka sejak tahun 1869 Suster Ursulin yang meninggal dari biara Noordwijk atau Weltevreden dimakamkan di Tanah Abang. Empat jenazah dari Bidara cina dan 6 jenazah yang lain dari pemakaman umum juga dipindahkan. Makam dibuka dan kerangka yang masih ada dikumpulkan, lalu dibawa ketempat khusus yang sudah diberkati Uskup, kemudian dimakamkan kembali. 

Pada tahun 1869 Pastor Claessens ditunjuk Mgr. Vrancken sebagai “penggantinya“ untuk mengurus perpindahan itu bersama Sr Ursula Meertens dan Sr Odile. Sampai dengan tahun 1894 ada lebih dari 40 Suster yang dimakamkan di situ. Sampai tahun 1931 lebih dari 100 Suster dimakamkan di sana.
PINDAH KE TANAH KUSIR 
“Tanggal l6 Oktober 1975, Surat Kabar “Sinar Harapan“ memuat suatu berita yang mengejutkan: Semua makam di Tanah Abang harus dipindahkan ke Tanah Kusir.” Menurut arsip yang di dapat di Museum Santa Maria, tahun 1974 terdaftar 92 nama Suster dari biara Noordwijk yang dimakamkan di pemakaman Tanah Abang dan 1 suster di Menteng Pulo. 

Pada tahun 1975, ketika Gubernur Ali Sadikin menertibkan pemakaman di dalam kota. Pada tanah makam orang-orang Belanda di tengah kota Jakarta itu, direncanakanakan dibangun Gedung Walikota. Luas tanahnya sekitar 5 hektar, hanya akan disisakan 1 hektar saja untuk tempat pemakaman ‘orangorang’ yang dianggap penting. Jadi sebanyak 4 hektar akan dibebaskan untuk rencana pembangunan itu. 

Pada tanggal 3 November 1975, semua makam Suster Ursulin di Tanah Abang digali dan dipindahkan ke Tanah Kusir juga 1 kerangka suster dari Menteng Pulo. Tanah kusir adalah suatu pemakaman umum yang terletak di Jakarta Selatan. Berhubung makam Tanah Kusir sudah lama berdiri, maka Ursulin tidak bisa mendapatkan tanah yang cukup untuk memakamkan kembali peti-peti jenazah berisi kerangka suster di satu lokasi. Dengan terpaksa peti-peti jenazah itu dimakamkan pada lokasi yang terpencar-pencar. 

PINDAH  KE SELAPAJANG TANGERANG 
Menurut arsip yang ditemukan di biara St Ursula Jl Pos, pada tanggal 17-21 November 1998 ada penggalian kerangka para suster Ursulin di pemakaman Tanah Kusir, Joglo dan Menteng Pulo untuk dipindahkan ke tanah pemakaman baru, khusus Suster Ursulin di Sela Pajang, Tangerang. Sr Helena Iskandar dan Sr Leonie Haryati yang mengurusnya. Sebagian ada yang dipindahkan ke pemakaman di pemakaman Pusat, Jalan Supratman-Bandung. *** (Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta.)

Jumat, 07 Desember 2018

ASRAMA


Asrama di Noordwijk berdiri sejak awal kedatangan para suster. Asrama dihuni oleh anak-anak usia dini dari Fröbel School dan Lagere School. Ada 3 putri pertama masuk tanggal 13 Mei 1856 dan dalam bulan Oktober mencapai 40 anak. 

Mereka ada di asrama karena orangtuanya banyak bekerja di perkebunan-perkebunan di luar kota. Bahkan ada juga yang orangtuanya tentara Belanda, yang selalu berpeindah-pindah tugas. Asrama menjadi tempat untuk belajar hidup bersama, berdoa bersama, dan hidup mandiri karena jauh dari orangtua. 

Jumlah anak asrama terus meningkat, sehingga tahun 1863 harus dibuat ruang makan asrama lagi. Pada tahun itu juga terjadi wabah penyakit campak, banyak anak asrama yang terkena wabah sampai sekolah harus ditutup sementara.

“Pada awal tahun l866 kami memperpanjang waktu libur untuk mengadakan beberapa perubahan, antara lain: ruang yang sampai sekarang dipakai untuk kamar makan anak asrama, diubah menjadi ruang kelas-kelas dan bangunan baru yang sudah selesai menjadi ruang makan bagi asrama. Anak asrama juga mendapat suatu ruang rekreasi yang bagus” 

 Tahun 1881, ketika Sekolah Pendidikan Guru dibuka, biara juga membuka asrama untuk kebutuhan murid-murid SPG. Ada 40 tempat tidur yang dibangun di atas ruang kelas, dan baru selesai 1883. “Dalam bulan Februari ruang makan untuk asrama dan ruang-ruang lain hampir selesai. Semua ruang cukup besar dan serambi yang lebar memungkinkan anak-anak pindah ruang tanpa kena hujan. 

 Sejak kedatangan di Batavia para suster memberi perhatian penuh kepada pendidikan asrama, sesuai dengan tradisi Ursulin. Pada akhir tahun 1896 ada 108 anak asrama. Para suster bercita-cita supaya anak-anak dan semua orang yang datang dan belajar di sini menerima pendidikan dan pelajaran yang sebaikbaiknya dan selengkap-lengkapnya. 

Pada tahun 1901 terjadi wabah kolera. Hari itu merupakan suatu “malapetaka” karena ada 3 asramawati yang meninggal berturut-turut. Ada yang di asrama, ada yang di rumah sakit. 
Esok harinya banyak orangtua datang mengambil anak-anaknya. Akibatnya jumlah anak asrama menurun drastis, karena banyak asramawati tidak kembali setelah liburan. 

Pemimpin biara Sr Augustine dan komunitas mempunyai keinginan untuk menutup asrama. Karena selain banyak anak yang tidak kembali ke asrama, waktu itu sudah semakin banyak sekolah-sekolah yang didirikan di luar kota, sehingga mereka tak perlu datang ke Batavia. Namun Mgr Luypen tidak setuju kalua asrama ditutup, apalagi Sr Augustine mau mendirikan asrama di Bandung. 

Setahun kemudian penghuni asrama sudah menjadi 70 putri. Setelah itu jumlah asramawati berangsur-angsur meningkat lagi. Banyak panggilan menjadi suster muncul dari para asramawati. Mereka melihat langsung dan tertarik kehidupan para suster saat itu. 

Januari 1933, ada 3 asramawati asli Jawa yang menjadi calon Suster/postulan dan masuk ke postulat di Bandung.. Hal ini kami anggap suatu kejadian penting dalam Sejarah Ordo kami di kawasan Nusantara ini supaya Gereja berurat-berakar di Tanah Jawa dan di seluruh Wilayah Nusantara ini. Panggilan sebagai suster bertambah ketika para suster Belanda banyak yang meninggal dan ditawan di kamp-kamp Jepang. 

Asramawati sering dilibatkan dan ambil bagian dalam acara atau perayaan para suster di biara. Misalnya pesta perak salah satu suster, hari raya gereja, atau pun mengiringi jenazah suster ke tempat pemakaman dsb. Situasi ini berlangsung hingga sebelum Perang Dunia II. Dalam perang dunia II banyak anak kembali kepada orang tuanya, karena sekolah berhenti. Gedung sekolah dipakai menjadi markas tentara Jepang. Sementara untuk anak-anak yang tidak mempunyai orangtua/ yatim-piatu tetap berada di kompleks biara-asrama bersama para suster. 

Ketika terjadi pengambil alihan gedung asrama dan panti asuhan di Meester Cornelis dan Matraman, anak-anak asramanya terpaksa diungsikan ke kompleks asrama-biara Noordwijk. Mau tidak mau mereka harus berdesak-desakan dengan yang ada di Noordwijk. Mereka hidup dalam situasi keterbatasan tempat dan makanan/minuman, terlebih lagi dalam situasi ketakutan perang. Para Suster yang mendampingi mereka hanya beberapa saja, karena semua suster Belanda ditawan di kamp-kamp. Mereka antara lain suster berkebangsaan Jerman, China dan Indonesia. (Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta.hal.55)

Selasa, 04 Desember 2018

HABYT

Habyt atau model pakaian Para Suster awalnya memakai pakaian biara warna hitam panjang sampai di mata kaki dengan gempt di dada warna putih berbentuk kotak. Untuk bagian kepala memakai muts warna putih untuk menutup rambut supaya tidak kelihatan/keluar, baru kemudian ditutup dengan penutup warna putih dan diatasnya ada slyer kain tipis hitam. 

Pada akhir tahun 1905, bentuk gempt kotak diganti berbentuk bundar/bulat dan muts juga berubah, tidak seperti model di Eropa lagi. Tahun 1933, pada masa Pemimpin Umum Sr Marie de St Jean Martin, warna habyt para suster di Hindia Belanda berubah warna dari hitam menjadi warna putih untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. 

Suster Emmanuel Koch pulang dari Kapitel Umum di Roma. Beliau membawa kabar penting, tetapi kami harus sabar dulu. Suster Clemence serta semua pemimpin biara Ursulin lain dipanggil ke Bandung.

Sesudah kembali dari Bandung, beliau langsung memberitahukan kepada kami bahwa kami akan mengganti busana biara hitam dengan busana putih.
Hari ini, tanggal 19 Maret 1933, pada pesta Santo Yusup, kami tampil untuk pertama kalinya dengan busana biara yang putih! Aduh, betapa enaknya perubahan itu. Untuk “membiasakan diri” kami berekreasi sepanjang hari. Tidak sulit membayangkan keramaian di biara kami hari ini. (Kronik Noordwijk 1856-1986) 

Selama lebih dari 30 tahun para suster Ursulin di Batavia memakai habyt putih panjang. Model slyer dan panjang habyt sama dengan sewaktu habyt masih berwarna hitam. Setelah selesai Konsili Vatikan yang diadakan tahun 1962-1965, ada perubahan besar pada cara hidup dan aturan hidup religius di seluruh dunia. Tidak terkecuali para suster Ursulin, khususnya dalam hal berpakaian.  

Habyt tidak hanya 1 warna putih saja, namun juga bisa warna abu-abu dan slyer-nya juga dapat disesuaikan. Panjang habyt tetap semata kaki, tetapi model slyer berubah lebih sederhana. 

“Tutup kepalanya sekarang tidak lagi seperti model pangsit,” komentar salah satu suster. Tapi berubah menjadi lebih sederhana, hanya masih memakai muts di dalamnya. Warnanya pun boleh lain, misalnya abu-abu. Seragam habyt panjang sampai mata kaki dan memakai kaos kaki dan sepatu tertutup berlangsung sampai dengan Kapitel Umum tahun 1967. 

Pada waktu kembali dari Kapitel Umum, provincial Sr Redempta Dencher memperkenalkan habyt baru yang sederhana, yaitu habyt sederhana tanpa “ploi-ploi”/lipatan dan slyer tanpa muts lagi. Awalnya para suster agak canggung dengan sesuatu yang baru karena belum terbiasa. (Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta.hal.64)

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...