Jumat, 13 Juli 2018

MENGGALI INGATAN ZAMAN DOELOE

Usai Lebaran, Senin, 18/06/2018 Museum Santa Maria mendapat kunjungan tamu dari Lampung. Satu keluarga datang karena tertarik dengan hal-hal klasik dan kuno, juga untuk mengisi libur Lebaran. 


Pak Agustinus Djang Tjik, Marselina Trise dan Cristine Natalia datang ke museum usai jam makan siang. “Zaman Belanda, pendidikannya itu bagus, saya suka sekali,” kata Pak Jangcik sapaan akrab Agustinus Djang Tjik mengungkapkan kekaguman dan kenangan masa lalunya. 

Di usianya saat ini yang sudah 70 tahun lebih, ia mengenang saat tinggal di asrama di kota Palembang. Di Asrama itu, ia dididik oleh para Bruder dan cara mendidiknya sungguh tertanam kuat dalam diri dan ingatannya. Sampai-sampai putrinya pun ia masukkan di asrama mengikuti jejaknya.


“Ini gedung bangunan asli zaman Belanda,” komentarnya mengagumi interior gedung yang masih berdiri kokoh. Lantai gedung dari marmer tak luput dari perhatiannya. Saat di Ruang Misi dan melihat koleksi uang kuno Pak Jangcik langsung teringat kembali “Dulu zaman tahun enam lima, uang sepuluh ribu dipotong jadi sepuluh rupiah nilainya. Nahh yang ini sama, ini uangnya yang dulu kena potong,” katanya seraya menunjuk ke beberapa mata uang kertas kuno. 

Koleksi uang kuno yang tersimpan di museum Santa Maria adalah uang yang digunakan para suster pada masa lalu sesuai zamannya. Saat ini uang –uang tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran, namun uang –uang tersebut memiliki nilai sejarah karena menjadi saksi bagaimana para suster mengelola dunia pendidikan dan menghidupi komunitas biara hingga bertahan sampai saat ini. 

Sekitar dua jam berkeliling museum dan diakhiri doa di kapel, Pak Jangcik dan keluarga akhirnya pamit. Ia berharap suatu saat bisa datang lagi. Di buku tamu ia menulis “Sangat mengesankan dan banyak hal /pengetahuannya.”.***

Jumat, 06 Juli 2018

ISTIMEWA



“Istimewa“ kesan yang tertulis di buku tamu oleh rombongan guru dari SD Katolik Santa Maria Malang (Asuhan Suster SPM) saat mengunjungi Museum Santa Maria, Rabu 23/05/2018. 


Rombongan guru dan suster sebanyak lima orang sebelumnya mengunjungi SD Santa Maria-Jakarta untuk studi banding. Usai acara pokok di SD, Ibu Marita, kepala sekolah SD Santa Maria, mengajak rombongan ke Museum Santa Maria. Di Museum, rombongan diterima dengan hangat. Mereka diajak menonton video pendek di aula museum terlebih dahulu sebelum berkeliling. 

Dalam perjalanan tour, pemandu juga mendapat banyak informasi baru terkait dengan kehidupan para suster pada masa lalu. Salah satunya adalah Kotak Kayu Penghangat.

Kotak Kayu yang terbuat dari bahan kayu dengan dilapisi besi seng pada bagian dalam kotak digunakan sebagai tempat untuk menyimpan masakan yang sudah siap saji. Masakan itu sengaja disimpan karena pada masa lalu, para suster hanya masak sekali dalam sehari yaitu pada siang hari. Namun para suster memasak langsung untuk tiga kali makan, makan siang, makan malam dan sarapan keesokan harinya. 

Ternyata Kotak Kayu Penghangat itu digunakan sejak dahulu dan sampai saat ini masih digunakan di komunitas para suster khususnya komunitas suster muda atau biasa disebut novis. 

Sayangnya, tour museum dirasa terlalu singkat. Makan siang di café sudah siap untuk disantap. Rombongan pun pamit setelah beberapa foto selfi bersama.***


Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...