Sabtu, 15 Agustus 2020

Garpu Berukir Nama Penanda Hidup Sederhana

 

dessert fork milik Sr. Floribertha
Dessert Fork milik Sr. Floribertha

Koleksi sendok garpu berukir nama para suster di museum Santa Maria menjadi saksi sekaligus bukti perjalanan panjang para suster Ursulin dalam hidup keseharian yang penuh tanggung jawab.

Tiap Suster memiliki satu set peralatan makan sendiri yang diberi nama dan terukir pada sendok garpu dan peralatan makan lain miliknya. Para Suster tidak akan menggunakan alat makan selain milik sendiri karena sudah ada namanya.

Dan masing masing menjaga serta merawat miliknya jangan sampai ada yang hilang. Usai makan bersama, masing-masing mencuci peralatan makan sendiri, dilap kemudian disimpan ditempatnya sendiri.

Penggunaan alat makan yang itu itu saja bukan karena fanatik tetapi menunjukkan sikap hidup yang sederhana. Tidak perlu memiliki banyak model, toh yang digunakan hanya satu. Lagi pula memiliki satu saja dan merawatnya juga menunjukkan kesetiaan, tidak mudah tergoda untuk memiliki yang lain.

Merawat satu yang dimilikinya juga menunjukkan sikap bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan. Kalau satu saja tidak terawat apalagi dua atau lebih, pasti terbengkalai. Hal ini merupakan perwujudan secara sederhana Kaul kemiskinan, cukup satu, asal dirawat dengan baik.


Para suster di masa lalu ternyata sudah menerapkan jaga jarak dan kebersihan diri. Jaga jarak karena suasana keseharian yang hening serta kebersihan diri dengan menggunakan alat makan pribadi.

Para suster menjaga jarak untuk menghindari pembicaraan yang mengarah pada gossip. Bicarapun sesuai kepentingannya dan dari hati ke hati tidak perlu meninggikan volume suara. Suasana hening tetap terjaga.

 Soal kebersihan diri, para suster tak pernah lupa. Makan tetap bersama, menu juga sama. Alat makan saja yang berbeda. Piring ada yang sama ada pula yang berbeda, tetapi sendok garpu dan alat makan yang masuk ke mulut tidak sama. Masing-masing punya sendiri.

Penggunaan alat makan milik pribadi juga mencegah penyebaran penyakit. Virus, bakteri dan penyakit tidak bisa ditolak, tetapi penggunaan alat makan milik pribadi yang tidak tercampur meminimalisir penyebarannya.

Kebiasaan “hidup bersih” dan “jaga jarak” bukan suatu hal yang baru bagi para suster. Dimasa pandemi covid-19 sekarang ini, semua harus serba jaga jarak dan jaga kebersihan, diri dan orang lain setelah menggunakan fasilitas umum. Ini menjadi bukti nyata bahwa hidup sederhana/kaul kemiskinan masih up to date sampai sekarang.

Di Museum Santa Maria kita dapat melihat bukti nyata, koleksi peralatan makan berukir nama pemiliknya. Koleksi itu menjadi tanda, jauh sebelum pandemi, para suster sudah jaga diri.***

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...