Senin, 29 Oktober 2018

Baru Tau, Makanya Tertarik

Hari Ulang Tahun TNI 2018 saat jam menunjukkan pukul delapan lebih lima puluh menit, empat orang wanita berbelok ke sebuah lorong dengan papan bertuliskan “Museum Santa Maria.” 


Dengan ragu-ragu mereka melangkah sampai di depan ruang Misi. Tak lama kemudian pemandu datang menyapa. 

“Selamat pagi ada yang bisa dibantu ?” 

“Eh mau ke museum …. Katanya ada museum disini.” 

“Ooh ada bu, ibu ada di depan ruang Misi. Omong –omong ibu-ibu ini darimana” Tanya Pemandu sambal membukakan pintu ruang misi dan mempersilahkan para ibu masuk.

 “Anak kami sekolah disini udah beberapa tahun tapi baru tahu ada museum. Makanya ini terus kesini” 

"Ooo orang tua murid" Pemandu tersenyum dan mulai menjelaskan ruang misi. 

“Sebetulnya mulainya dari Ruang Angela bu, kalau Ruang Misi ini sudah masuk ruang kedua.” 

“Gapapa pak, kami juga buru-buru mau jemput anak.”

 “Loh kok buru-buru bu?”

“Iya pak, ini anak-anak lagi ujian. Jadi tadi sekalian nunggu eh pas mau jalan ke kantin lihat ada museum ya kita mampir. Kalo tau ada museum kan dari awal mending nungguin anak selesai sekolah sambil keliling museum.” Jelas seorang ibu. 

“Singkat aja pak, ini sudah jam sembilan, bentar lagi anak-anak keluar.” 

“Baik bu, jadi ruang Misi ini tempat menyimpan berbagai macam benda yang dulu digunakan sebagai penunjang karya para suster. Nah ibu bisa lihat dan silahkan dinikmati. Silahkan bertanya kalau memang ada yang ingin diketahui.

“Lanjut pak….” Serempak ibu – ibu Begitulah kalau serba cepat. Pemandu menjelaskan seperlunya saja, selebihnya diserahkan kepada pengunjung. Tetapi saat ditanya kesannya mereka semua kompak menjawab tertarik.

“Baru tau makanya tertarik.” 

“karena sekolahan ada museum.”

Tidak sampai setengah jam menikmati koleksi Museum Santa Maria. Masuk dari ruang Misi lanjut sebagian kecil ke Galeri kemudian pamit karena anak – anak mereka sudah pulang.

“Pamit pak..…. Terima kasih sudah ditemani.” 

“Saya yang berterima kasih, ibu – ibu berkenan datang berkunjung dan mendengarkan penjelasan saya meski hanya sebentar. Semoga lain kali bisa lebih lama dan puas menikmati museum.***

Kamis, 25 Oktober 2018

Tak Ternilai Karena Masih Diopeni

“Kulkase zaman saiki,” gumam Pak Sukirno menyimpulkan setelah pemandu menceritakan fungsi dari kotak kayu penghangat, salah satu koleksi di museum. Kotak kayu itu terletak di salah satu sudut di ruang Galeri. Mudah untuk dilihat dan menarik para pengunjung. 

Kotak kayu berdimensi lebar 50cm panjang 90cm dan tinggi 85cm ini terakhir digunakan tahun 2010 sebelum akhirnya menjadi koleksi museum Santa Maria pada 2011 yang lalu. Kotak Kayu itu sendiri sebelumnya adalah salah satu perlengkapan dapur di komunitas-komunitas. Di Novisiat (calon suster) di Bandung masih menggunakannya sampai sekarang. Kotak Kayu penghangat tesebut menemani para novis sejak sekian puluh tahun yang lalu. Kotak kayu koleksi museum itu berbahan papan kayu yang didalamnya dilapis seng dan diberi alas plastik. Kemudian dua buah bantal berisi kapas diletakkan didalamnya. Fungsi bantal itu untuk menutup mangkok sayur /teko air dimasak agar isinya tetap hangat. 

Pak Sukirno tinggal di Jatinegara, ia bersama Pak Sutarto yang datang dari Solo dan Pak Utomo dari Madiun. Mereka sengaja datang karena mendengar Suster Blandina berada di St Maria dan sudah sekian puluh tahun berpisah.

Kafe unit produksi SMK siang itu (Rabu 26/9/2018) menjadi tempat reuni mengenang masa lalu dan berbagi kisah karya dan tugas masing-masing usai lulus sarjana dari Universitas Widya Mandala tahun 1969. Menurut pengakuan Pak Utomo dan Pak Sutarto, mereka dulu mereka bertiga adalah mahasiswa saat Suster Blandina mengajar sebagai dosen sastra. 

Usai bincang-bincang di kafe, dilanjutkan dengan berkeliling museum. Meski hanya sebentar, mereka kagum dengan museum, mereka heran karena masih ada yang mau merawat benda-benda kuno yang bagi sebagian orang tidak bernilai. “Kesannya bagus, yang pertama. Yang kedua memiliki nilai sejarah yang tak ternilai karena masih di openi barang-barang lama ini. Karena kalau tidak dirawat tentu tidak punya nilai apa-apa,” Kata Pak Sutarto menyampaikan kesannya. 

Sementara pesan yang ia tulis di buku tamu menunjukkan sebuah amanat bagi siapa saja untuk melestarikan sejarah “Benda kuno tanpa dirawat baik-baik akan hilang nilainya.” Terima kasih untuk kunjungan serta amanatnya pak. Mohon doanya semoga Museum Santa Maria mampu merawat dan menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendahulu.***
Ki-ka: Pak Sutarto, Pak Utomo, Sr. Blandina dan Pak Sukirno

Selasa, 23 Oktober 2018

Sebelas MARTIR dari VALENCIENNES-Peringatan 23 Oktober

Clotilde Paillot, Suster Pimpinan  menulis:
«
Berbagilah sukacita dengan saya ..
Ja
nganlah cemas dengan nasib saya.
Saya wanita paling bahagia di dunia
Selamat berpisah selamanya ».
écrit Clotilde Paillot, supérieure.   Prenez part à mon bonheur...  Point d’inquiétude sur mon sort, je suis la plus heureuse du monde... 
Adieu pour toujours 
Sebelas Ursulin ditangkap pada tanggal 3 September 1794. Mereka dipenjara di biara mereka sendiri. Mereka dikutuk karena mengajarkan agama Katolik Romawi dan melakukan karya Apostolik. Mereka bernyanyi saat dipenggal kepalanya pada sore hari di alun-alun kota Valenciennes tanggal 23 Oktober. Pada 13 Juni 1920 mereka dinyatakan BEATA/dibeatifikasi oleh Benediktus XV.

Senin, 22 Oktober 2018

Foto MENOLOGIUM SUSTER EMANUEL HARIS


Baru beberapa hari para suster berada di tanah impian, sudah harus merelakan seorang rekan yang dipanggil Tuhan. 

Suster Emmanuel satu dari tujuh suster pionir di Batavia telah menderita sakit selama pelayaran. Sesudah menerima Sakramen orang sakit, ia mempersembahkan hidupnya yang muda belia dalam usia 27 tahun. 

Pada tanggal 11 Februari l856 ia menyelesaikan  perjalanannya  di dunia ini dan pindah ke tanah air abadi. Sr Emmanuel Harris adalah Misionaris Ursulin pertama yang meninggal di sini. 

Pada tanggal l3 Februari 1856, Monseigneur Vrancken, para pastor dan para suster serta beberapa orang katolik mengantarkan jenazah Suster Emmanuel tercinta ke makam di Bidaracina.
Terjemahan “Menologium” Sr Emmanuel Harris adalah sebagai berikut: 

Sr. Emmanuel lahir di London 21 Januari 1829. Masuk biara Suster Ursulin di Sittard. Walaupun kesehatannya tidak baik namun beliau sangat berapi-api untuk pergi ke misi. Setelah berdoa dan mohon untuk pergi ke misi akhirnya Pastor Lambertz – Pendiri biara Suster Ursulin- mengabulkannya. Selama perjalanan Sr. Emmanuel menderita sakit berat . 

Tanggal 7 Februari 1856 beliau sampai di Noordwijk, tanggal 11 Februari beliau menerima Sakramen orang sakit dan tengah malam beliau menghembuskan nafas terakhir dan menyerahkan jiwanya kepada Tuhan. 

Ini kurban besar yang Tuhan minta sehubungan dengan pembukaan misi baru -karena beliau salah satu pionirnya – bahkan mungkin yang paling utama- beliau mempersembahkan hidupnya. Beliau meninggalkan kenangan yang indah: kerendahan hati dan pemberian diri yang utuh kepada kehendak Tuhan. R.I.P (Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta. Hal. 39&42)

Rabu, 17 Oktober 2018

Foto PASTOR LAMBERT



Johannes C.M. Lambert dilahirkan di kota kecil bernama Hoogstraeten, Belgia pada 8 Februari 1785. Johannes adalah anak sulung dari empat bersaudara. Keluarga Lambertz termasuk keluarga berkecukupan dan Johannes mendapatkan pendidikan yang baik. Orang tuanya memberinya dasar agama katolik yang mendalam. Sejak masa mudanya ia menghormati dan mencintai Bunda Maria dengan cara istimewa. Dengan setia ia melakukan doa Rosario setiap hari sampai akhir hidupnya. 

Ia masuk Seminari di Mechelen tahun 1810 dan tahun 1812 ditahbiskan imam oleh Mgr. van de Velde, Uskup dari Roermond. Kemudian ia ditunjuk menjadi pastor pembantu di Tildonk, kota kecil dekat Leuven. Pada 29 Desember 1815 ia diangkat menjadi kepala paroki di Tildonk. 

Pastor Lambertz mendirikan sekolah rendah bagi anak laki-laki maupun perempuan atas dorongan sahabatnya seornag Pastor Karmelit, Pater Schueremans. Pada saat itu Eropa sedang dilanda banyak musibah, perang dan pendidikan anak-anak sangat memprihatinkan. Ia juga ingin mendirikan suatu biara untuk meneruskan karya pendidikan yang akan dimulainya itu. 

Saat itu belum ada ruang maupun uang, maka awalnya dipakailah beberapa kamar dari rumah Pastor Lambert sendiri. Kamar-kamar itu diubah menjadi ruang-ruang kelas yang cocok untuk permulaan, dan rupanya Tuhan sendiri menyediakan seorang ibu guru dengan cara yang tidak disangka-sangka. Awalnya ada 2 perempuan yang datang yaitu Anna-Marie Groederbeek 26th disusul Maria van Ackerbrouck 27th. Mereka ingin menempuh hidup membiara dan membaktikan diri bagi anak-anak terlantar. Mereka berdua tinggal disitu juga dengan mengubah kandang sapi menjadi kamar. Lalu ada pembagian tugas, Anna mengurus anak-anak dan Maria mengatur rumah tangga. Suatu hari datanglah Catharina Van den Schriek 26th yang mau menggabungkan diri. 

Menurut Hukum Gereja,, untuk membentuk suatu Komunitas Religius, sekurang-kurangnya harus ada 3 orang. Maka pada tanggal 30 April 1818 segera setelah Catharina tiba, diadakan upacara khusus yang dihadiri oleh pastor Lambert dan orang tua mereka. Setelah upacara itu, mereka mulai menyebut diri “Suster”. Pakaian mereka sopan dan sederhana saja, tidak ada yang khas. Mulai saat itu secara resmi suatu karya besar dalam Gereja Katolik, yaitu “Komunitas Religius dari Tildonk” yang melayani karya pendidikan terbentuk. Mereka mengajar anak laki-laki maupun perempuan. Mereka mengajarkan tiga mata pelajaran, yaitu agama, menulis dan membaca.

Pastor Lambertz berusaha menyusun semacam “pedoman hidup” bagi ketiga Suster itu, agar Komunitas ini dapat memperoleh status Kongregasi. Lalu Pastor Lambert menghadap Uskup Agung Mechelen yang baru, yaitu Mgr.Sterckx untuk menyampaikan maksudnya.
Menurut Bapa Uskup, tidak perlu mendirikan Kongregasi Religius yang baru, karena di Perancis sudah ada Kongregasi Suster Ursulin yang sudah lama menjalankan karya pendidikan dengan sukses. Maka diputuskan biara di Tildonk menjadi biara Ursulin. Segera Pastor Lambert meminta Konstitusi Ursulin Bordeaux untuk dipelajari dan meminjam contoh busana biara beserta kerudung dan kap-nya. 

Dengan maksud memohon agar sekelompok Suster diutus demi karya Misi di kawasan pulau Jawa, Mgr Vrancken mendesak agar beberapa Suster boleh berangkat ke Batavia guna menunjang penyebaran Injil dengan mendidik kaum perempuan di pulau yang jauh itu. Lama sekali Pastor Lambertz tidak memberi jawaban kepada Monseigneur. Bukan karena ia takut mengambil keputusan atau karena semangatnya untuk Misi itu kurang berkobar dalam hatinya. Beliau berdoa sambil berkali-kali membicarakan hal itu dengan Uskup Agung Sterckx untuk mengetahui Kehendak Tuhan. Para Suster pun menunggu dengan sabar keputusannya, walaupun mereka ingin sekali melaksanakan Perintah Tuhan, seperti kata Injil “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk”. (Markus: 16:15) 

Ketika Pastor Lambertz akhirnya berkeyakinan, bahwa Tuhan memang menghendaki kehadiran Suster Ursulin di Jawa, ia segera memberi tahu Mgr Vrancken. Lalu dipilihnya 6 Suster dari biara Sittard dan satu dari biara di Maeseyck yaitu Suster Ursula Meertens. Sr Ursula ditunjuk sebagai pemimpin kelompok kecil itu. 

Keberangkatan para suster Ursulin ke tanah Misi, merupakan suatu puncak dalam kehidupan Pastor Lambertz. Nasib Suster di pulau Jawa tetap diperhatikannya dan ia mengiringi mereka dengan doanya. Jumlah biara Ursulin di Belgia dan Nederland sudah besar sekali. Menjelang Pastor Lambertz meninggal dalam tahun 1869, 40 biara telah didirikannya dan ratusan Suster Ursulin berkecimpung dalam karya pendidikan. Setiap tahun beliau mengunjungi setiap biara. Untuk memupuk rasa persaudaraan dan kesatuan, para pemimpin biara sering berkumpul, paling sedikit sekali setahun. Pada kesempatan itu mereka dibina dan dibimbing supaya semangat Injil meresap dalam hatinya. Dengan singkat dapat dikatakan, bahwa Pastor Lambertz seorang pencinta doa. Ia hidup dari doa. Walaupun jasanya besar sekali, ia menganggap dirinya sebagai hamba yang tak berguna. 

Hidup dan tenaganya dihabiskan untuk umat parokinya. Kongregasi Ursulin dari Tildonk dicintainya dengan cinta yang tidak kenal batas, sampai akhir hidupnya. Ia hidup dengan amat sederhana. Untuk membantu orang miskin, ia membagi-bagikan kepada mereka pakaiannya sendiri, bahkan kemeja pun diberikannya. Ia tidak segan menerima orang miskin yang sakit dalam rumahnya dan ia merawat mereka sampai sembuh kembali. 

Pada tanggal 30 April 1868 Kongregasi Ursulin Tildonk berdiri 50 tahun. Peringatan itubaru dirayakan pada pesta Santa Ursula, tanggal 21 Oktober. Semua Suster memperbaharui kaulnya dan mereka menerima Berkat Pastor Lambert. Semua hadirin terharu ketika beliau mengucapkan “Berkatnya” kepada para Suster yang hadir demi generasi-generasi Suster yang akan datang. Perayaan Ekaristi dilangsungkan dengan meriah oleh 8 imam. 

Sesudah peristiwa perayaan itu, tenaga Pastor Lambertz makin berkurang. Beliau menyadari, bahwa tugasnya hampir selesai. Untuk terakhir kalinya ia memanggil semua pemimpin biara untuk menyampaikan nasehatnya kepada mereka. Semua pemimpin berkumpul di Tildonk tanggal 6 April 1869 kecuali mereka yang dari Batavia dan Surabaya. Mereka mengerti bahwa pertemuan ini sekaligus merupakan perpisahan dengan Pastor yang puluhan tahun menjadi bapa rohani mereka. 

Tibalah hari yang terakhir dalam hidup Pastor Lambertz. Dengan suara lemah ia sering mengucapkan nama Yesus, Maria dan Yosef. Tanpa mengeluh ia menderita bersama Yesus di Kayu Salib. Sampai saat terakhir ia sadar dan mengikuti doa para Suster dan Imam yang mengelilingi tempat tidurnya. 

Pada tanggal 12 Mei 1869 jam 20.00, pastor Lambertz menyelesaikan perjuangannya di dunia ini dan ia menyerahkan jiwanya kembali dalam tangan Tuhan. Jenazahnya diistirahatkan di makam umum di Tildonk. Misa Requiem dan upacara pemakaman dihadiri oleh 60 Imam dan ratusan Suster dari Kongregasi Ursulin. Semua orang yang mengenal Pastor Lambertz dari dekat, merasa bahwa dunia kehilangan seorang saleh dan suci yang sangat berharga hidupnya. Pastor Lambertz meninggal dunia dalam usia 84 tahun.***(Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta. Hal. 22-25)

Jumat, 12 Oktober 2018

Mgr. PETRUS MARIA VRANCKEN



Petrus Vrancken adalah Uskup Batavia yang mengundang para Suster Ursulin datang ke Batavia. Ia lahir 8 November 1806 di Montenaken, Limburg, Belgia. 

Pada awal abad 19 Belgia dan Belanda belum dipisahkan. Kemudian ketika ia menjadi pastor di Wijlre, Vrancken diangkat sebagai pastor di St. Geertruid (Limburg Selatan). Cornelis van Bommel, seorang Uskup Belanda di Liège, menunjuk Vrancken pada 1838 untuk menangani kota Sittard. 

Vrancken digambarkan sebagai pribadi yang giat. Sebagai deken di Sittard, ia berelasi dengan Pastor John Lambertz di Belgia Tildonk. Kedua pastor itu berelasi baik dengan para suster, pengikut Angela Merici. (dari Kompani Brescia, di Italia, di abad ke 16). Lalu mereka pindah ke lahan di Belanda Limburg. Pada April 27, 1843 Ursulin menetap di Pasar Lama di Sittard. Mere Olive (Angelica van Noten) adalah kepala biara. Para suster memberi pendidikan Katolik untuk gadis-gadis di daerah Sittard dan daerah-daerah terpencil. 

Di kerajaan Belanda, umat Katolik masih mengalami banyak hambatan. Di Belanda, orang Protestan menentang umat Katolik. Di Indonesia Uskup Grooff dideportasi dan diasingkan ke Belanda. Maka Pierre Vrancken dari Sittard diminta berangkat ke Batavia sebagai pembantu (Ko-Ajutor ) dan penerus dari Uskup Grooff. Banyak pastor ingin menjadi misionaris ke dunia karena mereka merasa terpanggil untuk menyebarkan iman yang benar. Tetapi ketika Vrancken ditunjuk untuk menjadi misionaris ia berkeberatan. 

Setelah beberapa hari Vrancken merasa “belas kasihan” terhadap saudara dan orang-orang malang dan miskin di Hindia Belanda/Indonesia. Lalu Paus Pius IX menunjuk Vrancken sebagai uskup Misionaris baru dengan mengatakan, “ketakutan dan penderitaan orang-orang di Indonesia adalah tanggung jawab Roma.” Tidak lama sesudahnya berangkat dua kapal dengan 6 pastor baru ke Hindia Belanda. Vrancken mengajak Adam Claessens pastor di Venlo yang juga lahir di Sittard, untuk ikut serta berangkat Ke Hindia Belanda bulan Desember 1847.
Di Batavia Mgr Vrancken tidak paham mengapa ia diterima dengan “Naik Kereta empat kuda” menuju ke tempat kediaman barunya. Kemudian, ia mulai kerja keras. Ada banyak hal yang harus dilakukannya di Batavia. Kalau dihitung dari 600 umat Katolik, hanya 25 yang menerima komuni Paskah. Semuanya kurang: uang, pastor dan suster muda untuk memberikan pendidikan yang baik. 

Uskup lalu menghubungi suster Ursulin di Sittard untuk datang membantunya. Pada tahun 1854 ia kembali ke Belanda. September 1855, ia berhasil membawa 9 religius ke atas kapal dari Rotterdam menuju Batavia. Di antara mereka ada tujuh suster Ursulin Sittard. Vrancken sendiri melakukan perjalanan darat ke Hindia Belanda. 

Setelah beberapa tahun di Sittard, Vrancken melaporkan bahwa di tahun ke 6, puluhan gadis datang dari kelas menengah ke atas. Dari kedua biara yang didirikan, sudah terkumpul 94 siswa. Pada tahun 1866, ada 12 Pastor dan 46 Suster Ursulin di Pulau Jawa. Pada waktu itu kami bahkan mendapat novisiat Ursulin di Venray khusus untuk misi di Jawa. 

Mgr Petrus Vrancken harus berjuang di daerah tropis. Ia harus kembali secara teratur ke Belanda karena masalah dengan kesehatannya. Pada tahun 1874, dokter menyatakan bahwa secara medis ia tidak lagi diperbolehkan berangkat ke Batavia. Sudah saatnya mencari pengganti. 

Atas saran dari Vrancken, diangkatlah Adam Claessens sebagai penggantinya menjadi Uskup di Batavia. Seorang misionaris yang lahir di Sittard. Ia terpilih sebagai Uskup Transpolis ketika tiba di kampung halamannya pada akhir tahun. 

Pada 2 Februari 1875 Claessens berada di Sittard, oleh superior uskup pribadinya Vrancken didedikasikan. Dengan demikian, kota Limburg Selatan terus memainkan peran penting dalam misi di Jawa, Ursulin tetap bertahan pada pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. 

Pada perayaan seratus tahun misi pada tahun 1955, ada 400 suster di Jawa. Ada dua belas biara dan 11.500 murid. Dari Sittard-lah semuanya dimulai. Tanggal 17 Agustus 1879 Mgr Petrus Vrancken meninggal di Belgia dalam usia 73 tahun.*** (Sumber dari Buku URSULIN PENDIDIK PEREMPUAN PERTAMA DI INDONESIA Derap Langkah 160 Tahun, Komunitas Ursulin Santa Maria, Jakarta. Hal. 34)

Senin, 08 Oktober 2018

Rekor MURI untuk SEKOLAH PUTRI BERASRAMA PERTAMA DI INDONESIA.


Museum Rekor-dunia Indonesia / MURI memberikan penghargaan kepada para Suster Ursuline komunitas Santa Maria Jakarta sebagai Sekolah Katolik Putri Berasrama Pertama di Indonesia.             

Pemberian penghargaan dilaksanakan di Kompleks Santa Maria Jl. Juanda Raya no.29 Jakarta pada perayaan 160 tahun Ursulin di Indonesia, Sabtu 6 Februari 2016. 

Berdasarkan catatan kronik para Suster Ursulin komunitas Santa Maria di Jalan Juanda (Noordwijk) , tercatat 3 putri pertama kali diterima di asrama pada 13 Mei 1856. Dan dalam bulan Oktober di tahun yang sama, penghuni asrama tercatat sebanyak 40 orang.
Mereka ada di asrama karena orang tuanya banyak bekerja di perkebunan-perkebunan di luar kota. Ada juga yang orang tua mereka adalah tentara Belanda yang sering berpindah-pindah tugas. Pada masa itu sedang berlangsung tanam paksa atau cultuurstelsel sehingga para orang tua terpaksa meninggalkan anak-anaknya di Batavia. Masa itu banyak sekali anak-anak yatim piatu di Batavia. 

Para suster merasa sedih dan iba melihat mereka. Suster Ursula Mertens, pemimpin komunitas, sepakat membuka suatu asrama dan sekolah untuk anak miskin di daerah “Weltevreden”. Pada 18 Januari 1859 para Suster serta anak-anak asuhnya pindah ke rumah yang sudah dibeli di Jalan Pos 2. Komunitas ini dipimpin oleh Suster Andre van Gemert. Baik di komunitas Juanda maupun Jalan Pos, semua melayani anak-anak perempuan Belanda. 

Pada Mei 1859 untuk pertama kalinya para suster komunitas jalan Pos merawat seorang pribumi pertama. Seorang pribumi diusir orang tuanya. Anak perempuan itu lari ke biara dan para suster merawat dengan penuh cinta. Suster Ursula mengadopsi anak itu dan ia tinggal di asrama dengan anak-anak lain. Sejak saat itu para suster menerima perempuan dari berbagai latar suku bangsa, agama dan berlangsung terus hingga saat ini.*** (Sumber: Ursulin Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia & Kronik Suster)

Jumat, 05 Oktober 2018

REPLIKA KAPAL HERMAN


Foto dan replika kapal Herman di museum Santa Maria merupakan bagian tak terpisahkan dari kisah perjalanan para suster Ursulin di Indonesia untuk pertama kalinya. Oleh karena itu foto dan replika kapal Herman ditempatkan di Ruang Angela. 

Ruang Angela adalah ruang pertama dari rangkaian ruang ruang yang ada di museum bila mengunjungi Museum Santa Maria. Pemilik kapal Herman yang sesungguhnya adalah Nicolaas Adriaan Koning dan selesai dibuat pada bulan Juni tahun 1855. Kapal yang masih baru itulah yang ditumpangi tujuh suster Ursulin pertama yang datang ke Batavia. Tujuh suster Ursulin pionir ke Batavia tiba bersama tiga pastor diosesan yaitu: Pst. Frassen, Pst. Verhaag dan Pst. Van Ophoven.
Kapal Herman memulai pelayaran dari Pelabuhan Rotterdam Belanda pada 20 September 1855 dengan dinahkodai oleh Matthijs van Velthoven. Sampai di pelabuhan Batavia pada 5 Februari 1856. Karena cuaca buruk, Kapal Herman tertahan di laut sekitar teluk Batavia dan baru bersandar di pelabuhan pada 7 Februari 1856. Matthijs van Velthoven sendiri seorang pelaut berpengalaman dan terhitung sudah bolak balik 26 kali menahkodai berbagai jenis kapal dari Belanda ke Jawa selama 40 tahun. 

Kapal Herman termasuk tipe kapal Barque dengan tiga tiang layar. Lambung kapal dari kayu berlapis tembaga dan termasuk ke dalam jenis kapal kargo. Tahun 1861 kapal Herman diganti namanya menjadi JOHANNA ELISABETH. Ganti nama berarti ganti pemilik dan manager. 

Setelah beberapa tahun digunakan untuk pelayaran dari Eropa ke Asia melalui semananjung Harapan Afrika, menuju ke Hindia Belanda kapal Herman sempat beberapa kali berganti nama yaitu JOHANNA ELISABETH kemudian PASSAROEANG. Terakhir namanya menjadi ST. OLAF dan akhirnya tenggelam di laut tak jauh dari London, Inggris tahun 1893.***

Rabu, 03 Oktober 2018

Bukan Ke Mall Tapi Ke Museum

“Eeh bukannya ke mall malah ke museum, waktu diajak merasa agak aneh tapi ya ditemani saja. Pertama ke Museum Taman Prasasti, ternyata tutup. Ke museum Katedral masih renovasi, pilihannya ya kesini Museum Santa Maria.” 



Cerita Pak Lius mengisahkan perjalanannya dengan Mas Bona saat berkeliling Museum Santa Maria, Senin 24 September 2018. Mereka berdua datang hampir jam 11 dan selama satu setengah jam menikmati sejarah koleksi Museum Santa Maria. 

Mas Bona mengunjungi museum Santa Maria setelah seminggu sebelumnya mengikuti seminar yang diselenggarakan kantornya di Jakarta. Sementara Pak Lius warga asli Jakarta tinggal di sekitar Gunung Sahari. “Ke Santa Maria sudah beberapa kali tapi kalo ke Museumnya ya baru ini, dan ternyata menarik juga.” Pak Lius melanjutkan. 

“Sejarahnya, saya suka dengan sejarahnya. Tiap mampir ke kota lain selalu yang dicari museumnya atau tempat lain yang menarik. Bukan mall.” Timpal Mas Bona.yang tinggal di Solo tetapi bekerja di sebuah bank di Jogja.

Kecintaannya dengan museum dan sejarah ditunjukkan Mas Bona lewat foto-foto yang tersimpan di kameranya. Mas Bona sendiri seorang jurnalis, aktif terlibat dalam media online terutama bidang sejarah. Sudah banyak tempat bersejarah yang ia kunjungi. Dan Museum Santa Maria menjadi salah satu tempat yang istimewa bagi Mas Bona. 

Sejarah sekolah Santa Maria yang sudah seratus enampuluh tahun dan masih akan terus berlanjut menjadi salah satu alasan menarik. Suasana museum yang damai karena berbatasan langsung dengan kebun biara juga menjadi salah satu alasan mengapa harus datang ke Santa Maria. 

Mas Bona pun memvideokan suasana sekitar museum dan kebun biara dengan kamera handphonenya. Mas Bona berharap Museum Santa Maria dapat dikenal publik lebih luas. Hal itu ia tekankan saat menulis pesan di buku tamu “ Nice, semoga bisa dikenal oleh masyarakat awam lainnya.” Sementara pak Virgilius menulis “semoga selalu dipelihara, sejarah yang sangat berharga.”.***

Senin, 01 Oktober 2018

“Baru Tahu Kalau Ada Museum”…

Kamis Siang 20/9/2018 setengah jam sebelum tengah hari, seorang Ibu bergegas masuk ke Museum dari arah lorong SMK. Tak lama kemudian beberapa bapak ikut menyusul. Mereka diajak ke Museum oleh seorang guru SMK lalu masuk langsung menuju Ruang Misi. 



Rombongan berpakaian batik rapi yang datang ke Museum Santa Maria itu adalah rombongan dari Suku Dinas Pendidikan (Sudin) Provinsi bagian Lingkungan Hidup yang sedang mem-verifikasi Kebersihan dan Keasrian Kompleks SMK St Maria. Beberapa dari mereka mengunjungi lokasi dapur SMK yang bersebelahan dengan Museum. SMK Santa Maria masuk dalam nominasi sekolah dengan penataan lingkungan hidup terbaik untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata dari DKI. 

Mereka bergegas datang ingin tahu dan melihat seperti apakah museumnya. Mereka terkejut dan kagum bahwa di lingkungan Sekolah ada Museum. “Baru tahu kalau ada Museum,” ujar Ibu Diana Pakpahan. Agenda yang padat, membuat mereka langsung menuju ke Ruang Misi dimana tersimpan berbagai koleksi dari daerah-daerah tempat para Suster Ursulin berkarya. Disitu juga tersimpan penghargaan MURI untuk Sekolah Ber-asrama Putri Pertama di Indonesia.
Dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan, mereka cukup antusias dengan numismatik atau koleksi uang. Koleksi uang Museum Santa Maria adalah milik para suster sejak lampau hingga sekarang yang menunjukkan luasnya relasi dan transaksi karya. 

Uang yang dipamerkan berasal dari berbagai negara di seluruh dunia dari 5 benua, sejak abad 18 sampai dengan sekarang. Rupanya ada seorang Bapak yang mempunyai koleksi koin lama tahun 1930 dan dibawa kemana-mana. “Saya juga punya ini, “ katanya dengan bangga, ingin menunjukkan bahwa ia juga penggemar koleksi koin lama. 

Dari Ruang Misi mereka melanjutkan ke Galeri, namun karena waktu yang sangat singkat, mereka hanya sempat melihat sepintas dan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Ada yang berkomentar: “Lain kali kalau datang kesini mesti dijadwalkan untuk mengunjungi museum.” Sebelum pamit mereka meninggalkan pesan di buku tamu “Sangat baik, ramah & mohon diinfokan ke masyarakat, ada museum Santa Maria.”***


Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...