Jumat, 30 November 2018

Tidak Cukup Dua Jam


Komunitas paduan suara atau koor Bina Iman Remaja atau BIR Ancilla Angeli Choir dari paroki Santo Laurentius Alam Sutera datang bersama para orang tua ke Museum sekitar jam 11 pada Minggu 02/9/2018. Sambil menunggu rombongan lain selesai berkunjung, mereka dikumpulkan di Hall Museum, tempat diputar video pendek masuk museum.

Selain itu Suster Lucia juga mempromosikan panggilan menjadi suster khususnya Ordo Santa Ursula. Suster mengisahkan bagaimana proses panggilan nya sehingga memilih jalan Hidup Bakti sebagai seorang Suster dan proses menjadi seorang biarawati dari masa pengenalan hingga kaul kekal. Anak-anak mendengarkan penuh perhatian. Ketika ditanya, siapa mau meneruskan cita-cita itu, ada beberapa anak yang mengangkat tangannya…

Sebelum berkeliling, rombongan dibagi dua kelompok, kelompok koor dan para orang tua dengan setiap kelompok didampingi seorang pemandu. Di hampir setiap ruang masing-masing kelompok antusias memperhatikan apa yang disampaikan pemandu. Antusiasme tampak dari setiap pertanyaan dan tanggapan yang muncul di hampir setiap ruang dan perhentian. Bagaimana kondisi pada saat itu, perjalanan dengan kapal, karya para suster, situasi zaman dan masih banyak hal yang menjadi pertanyaan.

Sampai saat rombongan anak-anak sudah selesai rombongan orang tua masih belum menyelesaikan seluruh ruangan sampai akhirnya seorang peserta mengingatkan bahwa rombongan anak-anak sudah selesai dan menunggu mereka. Akhirnya beberapa ruang terakhir hanya penjelasan singkat.

Pemandu memohon maaf karena keterbatasan waktu, sehingga tidak memuaskan pengunjung. Pemandu berjanji akan memuaskan pengunjung apabila datang kembali di lain waktu dengan persiapan waktu yang lebih luang. Karena ternyata waktu berkunjung selama dua jam dirasa tidak cukup dan masih merasa ada yang kurang karena tidak semua ruang dapat dijelaskan dengan detail.
Sementara rombongan anak-anak menikmati betul tour museum, hal itu diketahui lewat kesan dan pesan yang mereka tuliskan di lembar kesan dan pesan.

“Saya sangat bahagia karena bisa berkunjung ke museum biara suster Ursulin,” Kata Erick. Sedangkan Benedicta merasa mendapatkan tambahan pengetahuan dan iman “Menarik, menambah pengetahuan dan iman.”

Eilen lain lagi, ia mendapatkan banyak sekali informasi dari kunjungan ini “Banyak informasi dan barang-barang / artefak yang menarik dan menambah wawasan tentang suster Ursulin.”

Enggar lain lagi, ia merasa senang karena “Bisa mempelajari tentang sejarah museum Santa Maria.”

Ada juga peserta yang senang karena bisa berkeliling museum seperti yang ditulis Kezia “Saya sangat senang karena bisa berkeliling museum.” Peserta yang lain, Maren, menuliskan kesannya “Lengkap dengan barang-barang dan sejarah dan menginspirasi sekolah santa maria / Ursulin.”

Lala salah seorang peserta yang lain menitipkan pesan dalam tulisannya “ Semoga Museum ini dikembangkan, museum ini selalu di rawat, agar generasi muda dapat mengetahui sejarahnya.”

Terima kasih Lala dan kawan kawan untuk kehadiran dan kesan pesannya.***

Senin, 26 November 2018

"Seru Banget Dan Mendidik......"

Rombongan Mistagogi paroki Pulomas datang di Minggu pagi 02/9/2018 jam 09.30. Dihantar Pak Yedi, guru agama SD St Maria, sekaligus pendamping Mistagogi. Rombongan yang mayoritas anak-anak SD dari berbagai sekolah di Paroki Pulomas diarahkan menuju aula museum.

Mereka disambut dengan sukacita. Museum Santa Maria meperkenalkan “profil” nya kepada anak-anak melalui film pendek museum dan cerita singkat. Sebelum keliling, Suster menghibur anak-anak dengan film animasi yang lucu.

Yang mengesan, setelah menonton tayangan video “Jadi Suster, siapa takut?” ada beberapa anak perempuan yang ketika ditanya “siapa ingin jadi Suster?” Ternyata cukup banyak yang tunjuk jari. Entah karena mau dapat gambar atau sungguh-sungguh. Mereka sempat foto bersama dengan Suster. Semoga cita-cita mereka tetap membara dan didukung orangtuanya.

Usai nonton, rombongan kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok didampingi seorang pemandu. Sebelum melangkah ke ruang pertama, pemandu memberi arahan dan himbauan untuk menjaga keheningan, karena Museum bersebelahan dengan biara dan kebetulan para Suster sedang rekoleksi. Dalam prosesnya, anak-anak meski agak susah diatur untuk hening, mereka mampu menjaga volume suara saat di ruang Gallery, Hebat. Salut. Biar bagaimana pun kalau anak-anak diarahkan dengan baik, mereka bisa mengerti.




Usai berkeliling, anak-anak diminta untuk memberikan kesan mereka dengan menempelkan 3 stiker warna merah-biru dan hijau. Stiker warna merah, untuk ruang yang paling disenangi pertama, warna hijau untuk yang kedua dan warna biru untuk yang ketiga. Tampaknya anak-anak itu sungguh antusias menempelkan stiker. Dibantu guru pendamping, pemandu membagikan stiker dan anak-anak itu berusaha menempelkan stiker di papan yang sudah disediakan.

Selain menempelkan stiker, beberapa anak juga menuliskan kesannya selama mengunjungi Museum Santa Maria. “Museum ini bagus dan mengajari saya banyak hal, senang dan bahagia  “ Tulis Faith Christabelle. “Museum Bagus, pendampingnya baik” kata Celyn. Sementara Chaterina mengagumi apa yang dilihatnya: “Museum ini bagus, rapih dan besar.”

Yovela, mengakui dalam tulisannya bahwa pengalamannya berkunjung ke museum ini menarik dan seru karena ia jadi tau cerita tentang santa-santa dan para suster “Menarik dan seru. Dan kita juga bisa tau tentang suster-suster dan Santa-santa.” Sementara Roseline menuliskan pesan untuk para suster: “Semoga suster-suster di museum dapat lebih semangat melayani Tuhan. Kesan: seru bgt & mendidik.”

Puas menempel stiker dan menuliskan pesan, anak-anak berkumpul kembali untuk melanjutan kebersamaa mereka...***

Jumat, 23 November 2018

Kunjungan Bu Dosen

Ibu Lutfia Zahra, dosen Universitas Negeri Jakarta disela pendampingan  mahasiswa magang mengajar di Sekolah Santa Maria mengunjungi Museum yang berada di dalam kompleks Sekolah. Senin 1/10/2018 

Ditemani Ibu Herni, Ibu Lutfia berkeliling ke Museum Santa Maria. Meski hanya sebentar dan tidak sempat melihat seluruh ruangan karena keterbatasan waktu, Ibu Lutfia terkesan dan menuliskannya di buku tamu " Museum yang bersejarah, pemandu menerangkan dengan rinci dan jelas." ***


Rabu, 21 November 2018

Survei “Komunitas” Ngopi (di) Jakarta

Bang Reyhan dan 5 kawannya dari Ngopi (di) Jakarta mengadakan kunjungan awal ke Museum Santa Maria Sabtu 3/11/2018 diantar oleh salah satu Ortu siswa St Maria. Kekaguman akan sejarah Jakarta dan sekitarnya “menyatukan” minat mereka, terlebih pada bangunan-bangunan tua. 

Salah satunya adalah Kapel Suster Ursulin Santa Maria yang dibangun kembali tahun 1924. Bangunan hasil karya Biro Hulswit-Fermont-E. Cuyers ini dapat dijangkau lewat Jl. Batutulis Raya 30 ataupun lewat Jalan Ir. H. Juanda 29 Jakarta Pusat, karena letaknya persis di tengah-kedua jalan itu. Yang mereka amati antara lain dinding yang tebal, lantai yang masih menggunakan keramik asli sejak zaman Belanda. Jendela kaca patri yang tinggi besar dengan nama aneka para kudus untuk devosi dan susunan bangku yang unik, tak luput dari pengamatan mereka. 

Dari kapel, barulah rombongan menuju ke area museum. Di ruang Angela, kawan-kawan komunitas diperkenalkan dengan para suster perintis Sekolah Santa Maria. Asal para suster, tujuan kedatangan dan ditunjukkan foto komplek sekolah. Dalam foto tersebut jalan Noordwijk tidak selebar jalan Juanda Raya sekarang. 

 Nordwijk pernah berubah nama menjadi Jalan Nusantara di tahun 1970 an, dan setelah itu menjadi Jalan Insinyur Haji Juanda, namun nomor rumah tidak berubah sejak awal berdiri sampai sekarang, tetap nomor 29. Yang berubah adalah lebar halaman depan, karena kebun biara sudah dipangkas hampir 2/3 bagian untuk pelebaran jalan protokol Juanda Raya.

Di ruang MISI seperti umumnya pengunjung, kawan kawan kita ini tertarik dengan koleksi numismatik. Mereka teringat masa lalu dengan cerita dan kisahnya masing masing. 

 “Zaman dulu mah ini...ini...ini….”
 “Dulu pernah aku ngrasain uang lima rupiah.
” “Yang dulu buat kerokan mana? Apa itu namanya? Goban… ehh gobang…”
 “Iya gobang” 

 Hampir tiga jam kawan kawan kita ini keliling . Sudah puas? “Belum!” kata Bang Reyhan. 

“Nanti kami datang lagi bawa pasukan. Sekitar tiga puluh sampai empatpuluh oranglah.” 
 “Yang bener?”
 “Iya bener, anggap aja ini survey lokasi.” “Kapan itu?” 
“ Sabtu depan 10 November anggota komunitas Ngopi Jakarta ngumpul disini.“ 

 Okey siap Bang Reyhan. Kami tunggu kedatangan kawan-kawan Ngopi-Jakarta di Museum Santa Maria.***







Jumat, 16 November 2018

PENGHORMATAN RELIKUI PARA KUDUS

Hari Raya Semua Orang Kudus diperingati setiap tanggal 1 November. Museum Santa Maria turut memeriahkan hari raya tersebut dengan pameran kecil. 

Pameran dilaksanakan di kapel Santa Maria dengan menampilkan beberapa relikui koleksi museum. Koleksi itu antara lain Relikui Santa Ursula, Santa Angela, Santo Fransiskus dari Assisi, Santo Ignatius dari Loyola, Santa Clara dan Santa Coleta serta beberapa relikui orang kudus yang tergabung dalam satu wadah berbentuk salib dari kayu. 

Penghormatan relikui ini untuk kedua kalinya mau mengajak seluruh warga kampus Santa Maria dan para orang tua murid untuk berdoa bersama dan melalui para kudus yang selalu mendampingi dan memberi teladan pada jalan hidup kita.







Jadwal kunjungan mulai jam 7.00 dari anak-anak TK Santa Maria kemudian siswa-siswi SD dilanjutkan dengan siswa siswi SMP kelas 7, dan yang terakhir bagi siswa siswi SMK yang beragama katolik. Sementara yang non katolik diberi kebebasan. 

Bapak-Ibu Guru setiap unit mendampingi siswa-siswinya dan memimpin sendiri doa-daoanya dalam setiap kunjungan. Selain doa, anak-anak TK mendengarkan cerita singkat tentang relikui dari pemandu. Begitu pula dengan unit SD dan SMP; mengapa dan bagaimana jalan hidup orang kudus itu juga disampaikan oleh Suster Atty. Sementara SMK berdoa litani para kudus dan Rosario setelah sebelumnya diceritakan relikui secara singkat . 

Penghormatan pada Relikui dibuka sejak jam 07.00 sampai dengan jam 15.00. Pentahtaan relikui juga terbuka untuk umum sejak Kamis 1 November sampai Minggu 4 November. ***



Rabu, 14 November 2018

NOSTALGIA UANG KERTAS 500 RUPIAH

Museum Santa Maria mendapat kunjungan tiga tamu Wanita dari Kalideres yaitu Ibu Suyatmi, Ibu Yenlie dan Ibu Christin pada Sabtu 13/10/2018. Mereka sengaja datang untuk survey sebelum membawa rombongan anak-anak yang direncanakan akan berkunjung tanggal 20 November, persis hari libur Maulid Nabi.




Beberapa menit sebelum jam sepuluh, mereka dihantar sekuriti tiba di museum dan memastikan fasilitas yang tersedia di Museum untuk kunjungan nanti. Toilet, tersedia, Aula atau hall nyaman lengkap dengan proyektor dan sound. Konsumsi bagaimana? Ooh ada, tersedia kantin unit produksi tempat praktek siswa siswi SMK Santa Maria jurusan tataboga. Mereka siap membantu rombongan pengunjung yang akan memesan makan siang setelah lelah berkeliling museum. 

”Ya sudah kalo gitu konsumsi disini saja, ga usah repot-repot nyiapin,” kata Bu Suyatmi. Yang lain mengangguk setuju. “Mohon info kontak pengelola kantinnya?” 

“Siap bu, silahkan dicatat. Kosong delapan sekian… sekian… sekian….” Selesai mencatat dilanjutkan dengan keliling Museum. 

“Mumpung lagi survey jadi puas-puasin keliling museumnya. Ntar kalo pas bareng rombongan pasti sibuk ngatur-ngatur jadi nggak bisa menikmati.” Setuju Bu. Dan akhirnya selama dua setengah jam, mereka bertiga betul-betul puas menikmati jelajah museum Santa Maria. 

Di Ruang Misi, begitu melihat koleksi numismatic atau uang kuno segera saja mereka mendekat. Naluri alam melihat uang langsung lupa bahwa di museum banyak koleksi lain. Tidak apa apa, sangat wajar dan tentu uang bukan perkara hasrat tetapi juga kenangan dimana masa yang lalu kembali datang saat melihat uang yang dulu dimiliki.


“Eeh.. ada uang yang gambar monyet.” 

“Dulu aku punya uang yang gambar monyet ini.” 

“Hahaha… iya…aku juga loh.” 

 Kayaknya kita ngrasain semua deh pas ada uang gambar monyet ini.” 

“Hahahaha….” Uang dengan dasar warna hijau, bergambar binatang Orang Utan seperti yang tertulis di uang kertas dengan angka nominal 500 rupiah itu menjadi perhatian pertama, padahal ada banyak uang kertas yang lain. 

Uang kertas itu rupanya membawa para ibu kembali ke masa lalu. Setelah puas memandang dan mengenangkan masa–masa saat memiliki uang kertas limaratusan bergambar Orang Utan itu, baru kemudian mereka melihat uang kertas lain dari Indonesia dan dari berbagai negara lain. 

Di ruang Misi pula, penjelasan mengenai pendidikan kaum perempuan yang dimulai sejak 1856 baru mereka pahami. Bahwa gereja katolik hadir untuk mendidik para perempuan pada masa di mana perempuan menjadi sasaran eksploitasi akibat dari sistem tanam paksa penjajah Belanda. 

Mereka sungguh terkesan dengan sejarah para Suster yang mendidik para perempuan jauh sebelum Indonesia merdeka. Kesan itu mereka tuangkan dalam tulisan di buku pemandu: 

- Sangat Bagus. 
- Benar-benar bersejarah. - Pengajaran berbagai karakter: relijius, nasionalis dll. 
- Penjelasan yang jelas dan ramah.

Menjelang jam satu siang, para ibu mulai meninggalkan Santa Maria. Sebelum pergi, tak lupa mereka mengambil foto-foto dulu di area kompleks sekolah Santa Maria.***

Selasa, 13 November 2018

BELAJAR dari Workshop Kang ASEP

Museum harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman dan teknologi agar tetap dapat menjadi sarana belajar bagi semua usia sesuai zaman. 

Maka Lokakarya teknik videografi menggunakan gawai yang diselenggarakan Museum Basoeki Abdoellah sungguh sangat membantu para pengelola museum untuk turut bergerak mengikuti perkembangan jaman. Museum Santa Maria tak ketinggalan turut terlibat dalam lokakarya tersebut sebagai peserta pada Rabu 10/10/2018. 

Di flyer workshop tercantum sesi workshop untuk pelajar jam 07.30 dan umum jam 11.30. Semuanya gratis. Namun jam 11.30 sesi untuk pelajar baru mulai praktek nge-vlog. Sementara peserta umum yang sudah datang terpaksa menunggu di luar aula karena aula masih digunakan untuk sesi pelajar. Menurut Pak Joko Susilo, sekuriti, sesi 1 baru mulai jam 09.30 Ketika jam menunjukkan pukul 12.30 sesi 2 untuk umum belum mulai, saya coba menghubungi Ibu Maeva, kepala museum. Saat dihubungi via WA dan bertemu langsung sebelum acara dimulai Ibu Maeva menyampaikan bahwa jam 11.30 yang tercantum di flier adalah jam registrasi dan makan siang. workshopnya sendiri dimulai jam 13.00. 

Akhirnya jam 13.05 workshop dibuka dengan sambutan oleh Ibu Maeva selama sekitar 10 menit. Usai Bu Maevah dilanjutkan Kang Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI). Kang Asep sapaan akrabnya menekankan pentingnya sejarah sebagai butir penting yang menjaga kokohnya sebuah bangsa. Tugas kaum muda untuk merawat dan menjaga sejarah bangsa lewat teknologi yang ada. 

Kang Asep mengakui bahwa ia lebih banyak berteori dalam penggunaan teknologi untuk merawat sejarah, namun hal ini dilakukan karena saat ini ia lebih banyak dibutuhkan untuk mengingatkan masyarakat dari seluruh tanah air. Untuk merawat dan menjaga sejarah itu melalui tatap muka sehingga untuk praktek menggunakan teknologi seperti vlog, ia masih mengalami keterbatasan waktu. Masih banyak masyarakat terutama anak muda yang kurang paham sejarah dan pentingnya sejarah bagi sebuah bangsa.




Selain itu juga karena prihatin dengan banyaknya konten acara atau tayangan di televisi, vlog ataupun sosial media yang kontennya tidak bermutu. Anehnya, justru hoax diminati masyarakat dibanding konten yang bernilai seperti sejarah. 

Maka melalui Komunitas Historia besutannya, Kang Asep mengajak masyarakat terutama kaum muda untuk mengenal sejarah dengan datang langsung ke museum-museum atau lokasi bersejarah di mana saja. “Kenali sejarahnya, pilih mana yang baik dan jadikan materi vlog untuk bekal masa depan kita terutama bangsa kita dimasa mendatang,” tegas Kang Asep yang juga Presiden kelompok bernama “Asep” se-dunia ini. 

Sementara Bima Prasena seorang Travel Blogger berbagi pengalaman bagaimana mengambil gambar atau merekam dan saat traveling. Contoh yang ditampilkan lebih banyak suasana pemandangan alam karena memang Bima lebih berfokus pada tema alam. “Bedanya foto dan video, kalo video itu lebih banyak feature-nya. 

Dan yang penting, apapun piranti yang kita punyai harus digunakan dan menjadikannya yang terhebat. Maka kita harus menguasainya. Kuasai dan pahami HP yang kita miliki,” tegas Mas Bima membuka sesi. 

“Talking Head adalah momen kebersamaan dalam perjalanan yang menjadi vlog, kemudian How to, semacang bincang–bindang santai membahas suatu problem dan langsung dapat solusinya. Adventure atau Reality itu pengalaman berpetualang itu yang jadi materi vlog nya,” papar Mas Bima menerangkan jenis vlog. 

 “Untuk bisa nge-vlog diperlukan perlengkapan kayak HP, pastikan dulu spek-nya, fungsi dan aplikasi di HP kita. Audio jangan lupa dicek. Pas nge-vlog atur pada mode pesawat. Jadi jangan sampai pas lagi nge-vlog tiba-tiba muncul notifikasi pesan masuk kan mengganggu banget. Merusak konsentrasi. Kemudian lighting. Pastikan lighting, kalo di dalam ruangan atau suasana gelap lighting-nya cukup yang terakhir Tripod untuk menjaga kestabilan pengambilan kamera,” lanjutnya Untuk pengambilan gambar pahami arah datangnya cahaya dan yang terpenting pada saat ngevlog, perlakukan Hp kita sebagai kamera BUKAN TELEPON. Dan dari semuanya itu pada akhirnya cerita menentukan segalanya,” tutup mas Bima. Acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan praktek membuat vlog dengan materi dari Museum Basoeki Abdullah. Seluruh peserta meninggalkan workshop pada jam 17.00.***


Jumat, 09 November 2018

Turis Dari Bogor

“Selamat pagi Bu Endah, Kami dari Museum Santa Maria. Mau konfirmasi saja bu, apakah betul Kamis 4 Oktober yang akan datang ibu akan berkunjung?” 

“Benar pak, jam berapa buka dan berapa tiket masuknya?”

 “Museum buka dari jam 09.00 sampai jam 14.00. Tidak ada tiket masuk tetapi disediakan kotak donasi sukarela.” 

Komunikasi di aplikasi Whatsapp antara pemandu Museum Santa Maria dengan Bu Endah itu bertanggal 18 September 2018. Komunikasi yang dilakukan pemandu dengan Bu Endah untuk memastikan kedatangan rombongan dari arisan ibu-ibu wilayah Malaikat Mikael Agung paroki Katedral Bogor ke Museum Santa Maria. Rombongan Arisan ibu-ibu tersebut akhirnya datang sesuai yang dijanjikan, Kamis 4 Oktober.

Sebelumnya mereka singgah di gereja Katedral untuk berdoa dan berziarah dalam rangka bulan Rosario setelah itu dilanjutkan tour wisata ke Museum Santa Maria. Meski sempat mengalami kendala parkir karena berbarengan dengan jam pulang anak sekolah, pada akhirnya masalah tersebut dapat teratasi dan rombongan dapat masuk ke Museum.

Sebelum berkeliling, pemandu ditemani Suster Elisa dan Suster Blandina menyambut tamu dengan sukacita dan dihantar ke aula Museum. Di aula, para tamu disajikan film pendek museum dan dijelaskan singkat sejarah museum Santa Maria.

Sekitar 15 menit saja di aula dilanjutkan dengan foto bersama dengan suster. Perjalanan keliling museum selama kurang lebih satu jam cukup menambah pengetahuan dan informasi. Setidaknya banyak yang mulai tahu dan mengenal adanya Museum Santa Maria yang menjadi sarana informasi keberadaan para Suster Ursulin sejak lebih dari seratus enam puluh tahun lalu. Keberadaan para suster Ursulin dengan kehidupan dan karyanya dalam mendidik kaum perempuan jauh sebelum negara Republik Indonesia berdiri hingga kini dan masih akan terus berlangsung.

Kesan menarik dan mendapatkan info yang berguna disampaikan Ibu Linda Gani, salah satu peserta yang menuliskannya di selembar kertas, ia menulis dengan huruf kapital -

MENGENAL MUSEUM BIARA SUSTER URSULIN - MENDAPAT INFO YANG BERGUNA”

Peserta yang lain memberikan catatan untuk pemandu, menarik dan sangat memuaskan dalam pemberian informasi tentang museum. Sementara di buku tamu, pesan yang tertulis “Luar biasa, menyimpan benda-benda bersejarah.” 

Usai keliling makan siang di kafe untit produksi SMK, rombongan pamit mau melanjutkan perjalanan. “Turis dari Bogor mau pamit. Masih mau lanjut jalan-jalannya.” Kata seorang peserta. Terima kasih ibu-ibu, sudah berkenan singgah di Museum Santa Maria. Semoga menyenangkan dan selamat melanjutkan tournya.***

Rabu, 07 November 2018

Ini Masih Asli Ini

Senin 22 Oktober 2018 waktunya makan siang saat dua orang bapak berbaju safari datang ke Kantin unit produksi SMK Santa Maria. 

Setelah memesan dan menikmati Soto Betawi mereka berdua langsung mengunjungi museum Santa Maria yang bersebelahan dengan kantin unit produksi SMK. "Sengaja mampir menikmati istirahat siang karena menurut Pak Raharjo tempatnya tenang dan damai, cocok untuk tempat doa.” Kata Pak Agus seraya menatap Pak Raharjo. 

Pak Raharjo tersenyum, teringat saat ia datang pertama kali hanya mampir makan siang karena kantornya tak jauh dari Sekolah Santa Maria. Pak Raharjo terkesan dengan suasana museum. Kali ini datang mengajak rekannya. 

Pak Agus terkesan dengan koleksi museum Santa Maria. Terutama koleksi uang dan lemari kuno di ruang Galeri. Di Ruang Misi tempat dipamerkannya uang kuno, Pak Agus dan Pak Raharjo mengenang kembali masa masa muda dahulu.



Mengenang saat-saat muda ketika mereka masih mengalami menggunakan mata uang itu … zaman doeloe bertransaksi-membeli dan menerima mata uang yang sekarang menjadi koleksi museum. 

 “Ini saya pernah …. Ini juga pernah ngalamin, waktu itu…..” kenangnya. Dan cerita masa muda mengalir lancar . Mereka terhanyut dengan masa lalu yang mengesankan. 

“Mari pak kita lanjutkan ke ruang berikutnya, Ruang Galeri.” Pemandu mengingatkan untuk lanjut. Begitu melihat lemari kuno berukiran unik, Pak Agus langsung mendekat dan menatap serius. Kemudian menoleh ke Pak Raharjo dan berkata “ini lemari yang biasa di keraton.” Pak Raharjo pun mendekat dan serius berdiskusi tentang lemari. 

Tidak hanya satu lemari tetapi beberapa lemari dengan model ukiran yang berbeda-beda menjadi perhatian mereka. “Ini masih asli ini.” kata Pak Agus dengan yakin. “Betul pak, kacanya juga,” diteguhkan pemandu. Tapi sayang ada beberapa yang sudah nggak asli.” Pak Raharjo merespon. 

Mereka memperhatikan betul kaca disetiap lemari. Kaca beberapa lemari memang tampak berair, setelah diraba ternyata halus tidak bergelombang dan itu menandakan bahwa lemari itu sudah sangat tua. 

Keterbatasan waktu membuat Pak Raharjo dan Pak Agus hanya sebentar saja singgah di museum. Mereka berjanji akan datang lagi lain kali. Sebelum pamit Pak Agus menulis pesan dibuku tamu “Bagus dan tenang.”***

Jumat, 02 November 2018

Mau Datang Lagi Bawa Rombongan


Sekitar 60an remaja putri dan para biarawan baik suster dan bruder hadir setelah makan siang Minggu 2 September 2018. Mereka adalah rombongan acara Pra Live-in dari Komisi Panggilan Keuskupan Agung Jakarta atau KAJ. Acara mereka berlangsung di aula SMP Santa Maria. Program ini diperuntukkan bagi seluruh putra putri di paroki KAJ yang ingin live in atau tinggal bersama untuk merasakan kehidupan di komunitas biara. 

Siang itu secara bergelombang, kelompok-kelompok kecil beranggotakan sekitar sepuluh orang datang ke museum. Mereka datang karena ingin mengenal museum. Syukurlah ada beberapa volunteer museum yang datang membantu Vero dan Angel. sehingga kebutuhan mereka dapat terlayani. 

Mereka merupakan kelompok campuran dari berbagai paroki sehingga keakraban masih belum terjalin dengan baik. Pemandu mencoba menggabungkan diri dengan mereka yang sudah datang dan langsung mengarahkan. Ruangan yang dimasuki pun menyesuaikan dengan keinginan tamu meski sesungguhnya tidak sebagaimana biasanya. Pemandu tetap berusaha melayani tamu dengan baik siapapun yang ingin mengenal museum.

Secara keseluruhan tamu senang. Mereka meminta nomor kontak museum dan pemandu karena mereka ingin berkunjung lagi dengan waktu yang lebih leluasa. “Kunjungan yang dibarengi dengan kegiatan lain membuat mereka tidak menikmati kunjungan,” kata Pak Michael dari paroki Regina Caeli. Pak Michael adalah salah satu pengurus seksi panggilan yang berjanji akan datang membawa rombongan umat khusus mengunjungi Museum Santa Maria.(semoga) 

Beberapa tamu yang menuliskan kesan mereka antara lain Br. Komang, ia menulis “Bagus, Sejarah menjadi bagian perjalanan.” Ulbadina dari paroki Duren Sawit menuliskan kesannya demikian “merasa damai, tenang dan ingin mengajak teman” gereja kesini juga.” Suster Stefani AK memuji penataan koleksi museum ia menulis demikian “Luar Biasa, koleksinya dapat tertata dengan baik dan lengkap.” Suster Romana lain lagi, ia menulis kesannya kepada para misionaris “Luar Biasa, Sungguh mengguggah hati, terharu dengan semangat para misionaris.” 

Ada pula peserta yang bangga dengan keberadaan para Suster Ursulin “ Kesannya, bangga saja biara St. Ursulin mempunyai museum.” Di kertas yang tertulis tersebut tercatat namanya Saskia. Hana, seorang peserta pra Live-in seperti yang tertulis dalam lembar kesan dan pesan, begitu senangnya kesulitan mengungkapkan kesan sehingga ia menulis satu kata “Amazing.” Sementara Josephine Novia menuliskan saran dalam lembar kesan dan pesan. Huruf kapital yang dipilih untuk menuliskan kesan menunjukkan semangatnya. Ia menganjurkan untuk menginformasikan kepada murid-murid sekolah katolik di KAJ, “KEREN, HARUS LEBIH DI INFOKAN UNTUK MURID2 SEKOLAH KATOLIK DI KAJ.” 

Menjelang jam empat sore museum baru sepi dari pengunjung. Meski lelah, petugas museum senang dapat melayani para tamu yang berkunjung meski tidak semua dapat dilayani satu persatu. Kunjungan mereka berkesan dan memberi semangat bagi pengelola museum.***

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...