Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Museum. Peluncuran program SDGs in Museum secara simbolik dilakukan dengan pemasangan Pin SDGs oleh Ibu Siska Widyawati, Deputy director, UN Information Centre (UNIC) dan Penabuhan Rebana. Beliau menggantikan Miklos Gaspar Direktur UN Information Centre Indonesia yang berhalangan hadir.
Para penerima Pin adalah Bapak Yiyok, T. Herlambang ketua umum Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Paramita Jakarta, Ibu Nova Wasir Direktur Eksekutif Musee ID dan Ibu Misari, Kepala Unit Pengelola Kebaharian.
Ibu Misari mendapatkan kehormatan menerima Pin MDGs karena museum dibawah pengelolaanya, Museum Bahari, menjadi contoh penerapan MDGs di wilayah Jakarta. Pin MDGs berbentuk lingkaran dengan warna-warna yang menjadi filosofi dari SDGs.
Peluncuran program tersebut dilaksanakan di Ruang Elang Bandol Gedung Grha Ali Sadikin Lantai 22 Komplek Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu,15 Juli 2026. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih 3 jam sejak pukul 09.30.
Mainstreaming SDGs in Museum atau dalam Bahasa Ibu Nova Wasir Direktur Eksekutif Musee ID yang menjadi narasumber adalah Pengarusutamaan SDGs, menjadikan Museum sebagai agen perubahan menuju masa depan berkelanjutan.
SDGs sendiri adalah singkatan dari Sustainable Development Goals atau Pembangunan Berkelanjutan. Ibu Siska Widyawati, yang menjadi salah satu narasumber memaparkan sejarah tujuan SDGs. Sejarah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) berakar dari KTT Bumi PBB (UN) di Rio de Janeiro pada 1992. Ini memicu lahirnya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) pada 2000, sebelum akhirnya 193 negara anggota PBB secara resmi mengesahkan 17 Tujuan SDGs pada 25 September 2015. UNIC hadir di Indonesia bertujuan untuk menyebarluaskan berita, kampanye global, dan tujuan pembangunan PBB (seperti SDGs) kepada masyarakat lokal menggunakan bahasa mereka sendiri
Berikut adalah daftar lengkap 17 Tujuan SDGs beserta fokus utamanya:
Pilar Pembangunan Sosial
- Goals/Tujuan
1: Tanpa Kemiskinan – Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di
mana pun berada.
- Goals/Tujuan
2: Tanpa Kelaparan – Menghilangkan kelaparan, mencapai
ketahanan pangan, meningkatkan nutrisi, dan mendukung pertanian
berkelanjutan.
- Goals/Tujuan
3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera – Menjamin kehidupan yang sehat dan
meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia.
- Goals/Tujuan
4: Pendidikan Berkualitas – Menjamin pendidikan yang inklusif,
adil, bermutu, dan meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat.
- Goals/Tujuan
5: Kesetaraan Gender – Mencapai kesetaraan gender dan
memberdayakan kaum perempuan serta anak perempuan.
Pilar Pembangunan
Ekonomi
- Goals/Tujuan
7: Energi Bersih dan Terjangkau – Menjamin akses terhadap energi yang
terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern.
- Goals/Tujuan
8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi –
Mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, lapangan kerja penuh
dan produktif, serta pekerjaan yang layak.
- Goals/Tujuan
9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur – Membangun infrastruktur tangguh,
mendukung industrialisasi inklusif berkelanjutan, dan mendorong inovasi.
- Goals/Tujuan
10: Berkurangnya Kesenjangan – Mengurangi kesenjangan di dalam dan
antarnegara.
- Goals/Tujuan
12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab –
Menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
Pilar Pembangunan
Lingkungan
- Goals/Tujuan
6: Air Bersih dan Sanitasi Layak – Menjamin ketersediaan dan pengelolaan
air serta sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.
- Goals/Tujuan
11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan –
Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
- Goals/Tujuan
13: Penanganan Perubahan Iklim – Mengambil tindakan cepat untuk
mengatasi perubahan iklim beserta dampaknya.
- Goals/Tujuan
14: Ekosistem Laut – Melestarikan dan memanfaatkan
samudera, laut, serta sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
- Goals/Tujuan
15: Ekosistem Darat – Melindungi, merestorasi, dan
meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat, mengelola hutan
secara berkelanjutan, menghentikan degradasi lahan, serta menghentikan
kehilangan keanekaragaman hayati.
Pilar Hukum, Tata
Kelola, dan Kemitraan
- Goals/Tujuan
16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh –
Mendukung masyarakat damai inklusif, menyediakan akses keadilan untuk
semua, dan membangun lembaga efektif serta akuntabel.
- Goals/Tujuan
17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan – Memperkuat sarana
pelaksanaan dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan
berkelanjutan
Menurut Ibu
Nova Wasir, museum tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan benda masa lalu,
melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan sosial dan ekonomi yang aktif. Caranya adalah dengan menyelaraskan kegiatan dan operasional
museum dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB demi menciptakan
dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu ia mengajak museum dalam skala apa pun untuk berkontribusi nyata pada pencapaian target SDGs 2030 dengan mengubah museum dari sekadar ruang pameran statis menjadi dinamisator pemberdayaan sosial, tempat inklusi bagi kelompok marjinal, serta penggerak ekonomi warga lokal.
Ia juga memberikan panduan sistematis melalui 7 Aktivitas Kunci, yang meliputi:
2. Menyediakan edukasi berkelanjutan bagi publik.
3. Mendukung partisipasi budaya untuk semua kelompok (termasuk difabel dan minoritas).
4. Membangun pariwisata berkelanjutan yang menghidupkan UMKM.
5. Memfasilitasi riset lintas disiplin.
6. Memperbaiki operasional internal (misal: hemat energi dan kurangi sampah plastik).
7. Membangun kolaborasi lintas sektor.
Ia juga menjelaskan mengapa program ini penting dan mengapa harus
museum? Hal ini karena museum memiliki akses langsung
ke ribuan pengunjung, sehingga sangat efektif untuk menyebarkan kesadaran
tentang isu iklim, sosial, dan lingkungan.
Museum bisa menjadi tempat aman (Safe Heaven) bagi anak-anak muda, kaum marjinal untuk berkarya dan mendapatkan kemandirian ekonomi. Konsep ini sudah dibuktikan berhasil di dua kota:
o Di Jakarta (Museum Bahari): Merangkul anak muda pesisir untuk
belajar membuat produk bernilai ekonomi dari bahan ramah lingkungan (bersama
Ichinogami) agar terhindar dari tawuran atau judi online.
o Di Palembang (Museum Sultan Mahmud Badaruddin II): Bekerja sama dengan Lapas Anak (LPKA Kelas I) untuk memberikan
pelatihan kreativitas, kelas menulis, dan teater kepada anak binaan agar mereka
punya rasa percaya diri saat kembali ke masyarakat.
Bapak Yiyok T. Herlambang menjadi narasumber terakhir. Ia memberi pesan bahwa museum harus berubah. Museum kini harus berorientasi pada masyarakat, bukan lagi sekadar berorientasi pada koleksi. Nilai sebuah museum diukur dari seberapa besar manfaat dan keterhubungannya dengan kehidupan masyarakat saat ini. Museum memiliki kekuatan narasi, ruang publik, dan kepercayaan masyarakat untuk menggerakkan perubahan nyata.
| Foto bersama usai Kick off | ![]() diskusi & paparan para narasumber |




.jpeg)
.jpeg)
