Senin, 20 Juli 2026

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

 


Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Museum. Peluncuran program SDGs in Museum secara simbolik dilakukan dengan pemasangan Pin SDGs oleh Ibu Siska Widyawati, Deputy director, UN Information Centre (UNIC) dan Penabuhan Rebana. Beliau menggantikan Miklos Gaspar Direktur UN Information Centre Indonesia yang berhalangan hadir.

 Para penerima Pin adalah Bapak Yiyok, T. Herlambang ketua umum Asosiasi Museum Daerah (AMIDA) Paramita Jakarta, Ibu Nova Wasir Direktur Eksekutif Musee ID dan Ibu Misari, Kepala Unit Pengelola Kebaharian.

 Ibu Misari mendapatkan kehormatan menerima Pin MDGs karena museum dibawah pengelolaanya, Museum Bahari, menjadi contoh penerapan MDGs di wilayah Jakarta. Pin MDGs berbentuk lingkaran dengan warna-warna yang menjadi filosofi dari SDGs. 

 Peluncuran program tersebut dilaksanakan di Ruang Elang Bandol Gedung Grha Ali Sadikin Lantai 22 Komplek Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu,15 Juli 2026. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih 3 jam sejak pukul 09.30.

 Mainstreaming SDGs in Museum atau dalam Bahasa Ibu Nova Wasir Direktur Eksekutif Musee ID yang menjadi narasumber adalah Pengarusutamaan SDGs, menjadikan Museum sebagai agen perubahan menuju masa depan berkelanjutan.

 SDGs sendiri adalah singkatan dari Sustainable Development Goals atau Pembangunan Berkelanjutan. Ibu Siska Widyawati, yang menjadi salah satu narasumber memaparkan sejarah tujuan SDGs. Sejarah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals atau SDGs) berakar dari KTT Bumi PBB (UN) di Rio de Janeiro pada 1992. Ini memicu lahirnya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) pada 2000, sebelum akhirnya 193 negara anggota PBB secara resmi mengesahkan 17 Tujuan SDGs pada 25 September 2015. UNIC hadir di Indonesia bertujuan untuk menyebarluaskan berita, kampanye global, dan tujuan pembangunan PBB (seperti SDGs) kepada masyarakat lokal menggunakan bahasa mereka sendiri

 Berikut adalah daftar lengkap 17 Tujuan SDGs beserta fokus utamanya:

 Pilar Pembangunan Sosial

  • Goals/Tujuan 1: Tanpa Kemiskinan – Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di mana pun berada.
  • Goals/Tujuan 2: Tanpa Kelaparan – Menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan nutrisi, dan mendukung pertanian berkelanjutan.
  • Goals/Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera – Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua usia.
  • Goals/Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas – Menjamin pendidikan yang inklusif, adil, bermutu, dan meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat.
  • Goals/Tujuan 5: Kesetaraan Gender – Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan serta anak perempuan.

Pilar Pembangunan Ekonomi

  • Goals/Tujuan 7: Energi Bersih dan Terjangkau – Menjamin akses terhadap energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern.
  • Goals/Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi – Mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, lapangan kerja penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak.
  • Goals/Tujuan 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur – Membangun infrastruktur tangguh, mendukung industrialisasi inklusif berkelanjutan, dan mendorong inovasi.
  • Goals/Tujuan 10: Berkurangnya Kesenjangan – Mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara.
  • Goals/Tujuan 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab – Menjamin pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.

Pilar Pembangunan Lingkungan

  • Goals/Tujuan 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak – Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan untuk semua.
  • Goals/Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan – Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
  • Goals/Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim – Mengambil tindakan cepat untuk mengatasi perubahan iklim beserta dampaknya.
  • Goals/Tujuan 14: Ekosistem Laut – Melestarikan dan memanfaatkan samudera, laut, serta sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
  • Goals/Tujuan 15: Ekosistem Darat – Melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, menghentikan degradasi lahan, serta menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.

Pilar Hukum, Tata Kelola, dan Kemitraan

  • Goals/Tujuan 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh – Mendukung masyarakat damai inklusif, menyediakan akses keadilan untuk semua, dan membangun lembaga efektif serta akuntabel.
  • Goals/Tujuan 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan – Memperkuat sarana pelaksanaan dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan

Menurut Ibu Nova Wasir, museum tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan benda masa lalu, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan sosial dan ekonomi yang aktif. Caranya adalah dengan menyelaraskan kegiatan dan operasional museum dengan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB demi menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

 Oleh karena itu ia mengajak museum dalam skala apa pun untuk berkontribusi nyata pada pencapaian target SDGs 2030 dengan mengubah museum dari sekadar ruang pameran statis menjadi dinamisator pemberdayaan sosial, tempat inklusi bagi kelompok marjinal, serta penggerak ekonomi warga lokal.

Ia juga memberikan panduan sistematis melalui 7 Aktivitas Kunci, yang meliputi:

1.      Melindungi warisan budaya dan alam.
2.      Menyediakan edukasi berkelanjutan bagi publik.
3.   Mendukung partisipasi budaya untuk semua kelompok (termasuk difabel dan minoritas).
4.      Membangun pariwisata berkelanjutan yang menghidupkan UMKM.
5.      Memfasilitasi riset lintas disiplin.
6.    Memperbaiki operasional internal (misal: hemat energi dan kurangi sampah plastik).
7.      Membangun kolaborasi lintas sektor.

 

Ia juga menjelaskan mengapa program ini penting dan mengapa harus museum? Hal ini karena museum memiliki akses langsung ke ribuan pengunjung, sehingga sangat efektif untuk menyebarkan kesadaran tentang isu iklim, sosial, dan lingkungan.

 Museum bisa menjadi tempat aman (Safe Heaven) bagi anak-anak muda, kaum marjinal untuk berkarya dan mendapatkan kemandirian ekonomi. Konsep ini sudah dibuktikan berhasil di dua kota:

o    Di Jakarta (Museum Bahari): Merangkul anak muda pesisir untuk belajar membuat produk bernilai ekonomi dari bahan ramah lingkungan (bersama Ichinogami) agar terhindar dari tawuran atau judi online.

o    Di Palembang (Museum Sultan Mahmud Badaruddin II): Bekerja sama dengan Lapas Anak (LPKA Kelas I) untuk memberikan pelatihan kreativitas, kelas menulis, dan teater kepada anak binaan agar mereka punya rasa percaya diri saat kembali ke masyarakat.

 Bapak Yiyok T. Herlambang menjadi narasumber terakhir. Ia memberi pesan bahwa museum harus berubah. Museum kini harus berorientasi pada masyarakat, bukan lagi sekadar berorientasi pada koleksi. Nilai sebuah museum diukur dari seberapa besar manfaat dan keterhubungannya dengan kehidupan masyarakat saat ini. Museum memiliki kekuatan narasi, ruang publik, dan kepercayaan masyarakat untuk menggerakkan perubahan nyata.

 Tujuan Pengarusutamaan SDGs di Museum supaya Menyediakan Pembelajaran Berkualitas (SDG 4) dengan menjadi ruang belajar nonformal yang inklusif dan berbasis pengalaman untuk semua usia. Menjaga Keberlanjutan Kota (SDG 11): Melindungi warisan budaya, identitas lokal, serta pengetahuan komunitas. Menjadi pusat literasi lingkungan dan perubahan perilaku masyarakat dalam menghadapi isu perubahan iklim, Aksi Iklim (SDG 13). Mendukung kesetaraan gender, ekonomi kreatif lokal, pengurangan limbah, serta menyediakan ruang dialog untuk perdamaian.

 Harapan bagi masa depan, museum menjadi agen perubahan. Museum diharapkan aktif membantu masyarakat menghadapi perubahan zaman, dengan menjaga lingkungan dan melibatkan komunitas. Langkah nyata yang diharapkan, museum mulai memetakan masalah sekitar, memilih SDGs prioritas, dan mengukur dampak programnya. Terakhir adalah Peran Nyata, SDGs diharapkan memperjelas arah kemitraan museum, sehingga keberadaannya berdampak langsung bagi lingkungan sosial di sekitarnya

kesimpulannya adalah Pengarusutamaan SDGs bukan beban tambahan bagi museum. Tapi nilai-nilai SDGs membuka kesempatan untuk memperjelas arah, memperkuat kemitraan, dan menunjukkan bahwa museum memiliki peran nyata dalam pembangunan berkelanjutan. *** 





 Foto bersama usai Kick off



      diskusi & paparan para narasumber

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...