Pameran dan Penghormatan Relikui memperingati Hari
Raya Semua Orang Kudus dilaksanakan mulai Senin 3– 6 November 2025 di Kapel
Santa Maria, komplek Biara Ursulin di Jalan Juanda no.29 Jakarta.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh unit Museum
Pendidikan Santa Maria bertujuan untuk memelihara tradisi gereja Katolik dalam
menghormati para kudus sekaligus menjadi sarana memperkenalkan tradisi Katolik
dan Museum Ursulin Santa Maria, kepada seluruh siswa/i unit KB.TK/ SD/ SMP/ SMK
serta seluruh warga kampus Santa Maria dan tentu saja para orang tua murid yang
hadir dalam misa Jumat Pertama setiap bulan.
Relikui yang dipamerkan antara lain Relikui Santa
Angela, Relikui Santa Ursula dan Relikui Santa Maria dari Inkarnasi. Relikui
Santa Angela dan Ursula berupa bagian tubuh yaitu tulang seperti yang tercantum
dalam sertifikatnya. Sedangkan relikui Santa Maria dari Inkarnasi adalah kain
sutera yang telah disentuhkan ke bagian tubuhnya. Dekorasi dibantu Pak Ridhu,
Pak Muji, Kakak Meldi dan Mba Eva koster kapel.
Dalam surat undangan yang dikirim tanggal 15 Oktober
2025 kepada setiap Kepala Satuan Pendidikan di Kampus Santa Maria tercantum
jadwal kegiatan sebagai berikut
KB/TK pada selasa 4 November jam07.00
SD pada Senin – Jumat jam 10.00 – 11.00
SMP pada Senin – Selada jam 12.00 – selesai
SMK pada Rabu – Kamis jam 12.00 – selesai.
Penyesuaian
Dalam pelaksanaanya, terjadi penyesuaian. SD
mengambil waktu Selasa sampai Kamis tanggal 4 – 6 November. Setiap kunjungan
terdiri 2 kelompok kelas,kelas 2 & 3, kelas 3 & 4 dan terakhir kelas 5 &
6. Pada kamis pagi Pak Pius wali kelas 3 C meminta tambahan waktu karena kelas
3C belum mendapat kesempatan. Pak Pius mengatakan bahwa pada saat jadwal
kunjungan,kelasnya sedang dalam supervise menyebabkan tidak mengikuti kegiatan
penghormatan Relikui sesuai jadwal. Akhirnya kelas 3C mendapat kesempatan
menghormati relikui pada jam 8 pagi.
Unit SMK juga mengalami perubahan jam kunjungan.
Pada jadwal yang tercantum seharusnya jam 12 siang mundur mnjadi jam 13.00
karena padatnya jawal kelas. Kunjungan unit SMK dimulai Rabu 5 november dari
kelas 11. Hari berikutnya kelas 10 pada 6 November. Kelas 12 sedang magang
praktek kerja sehingga tidak mendapat kesempatan.
Materi presentasi
Materi presentasi untuk semua level dari TK sampai
SMK adalah sama. Tantangannya adalah cara penyampaian materi presentasi kepada
peserta karena menyesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman.
Unit KB.TK mengawali kegiatan Penghormatan Relikui
pada Selasa 4 November. Setelah anak-anak duduk, mereka diajak menonton video pendek. Sayangnya terjadi kendala teknis, video
pendek yang diputar tiba-tiba gambar layar mengecil tidak sebanding dengan luas
ukuran smartboard. Padahal Ketika dicoba tes, gambar layar tidak sekecil saat
diputar. Karena keterbatasan waktu dan anak-anak mulai tampak gelisah, maka
diputar apa adanya. Tidak ada penjelasan tentang relikui karena anak-anak belum
dapat membaca dan memahami. Hanya penjelasan tentang foto Santa Maria dari
Inkarnasi kemudian membawa frame foto replika Relikui Santa Maria dari
Inkarnasi lebih dekat
kepada anak-anak yang duduk dibangku
umat. Acara diakhiri dengan berdoa Bersama.
Untuk anak SD kelas 1-4 dari materi presentasi,
penekanannya pada tubuh sebagai tempat Allah tinggal. Karena tubuh sebagai tempat
kudus bagi Allah maka diharapkan anak-anak untuk menjaga kebersihan tubuh diri
sendiri dan menghormati tubuh teman dengan tidak menyakitinya. Terakhir adalah
ajakan supaya rajin berdoa. Durasi keseluruhan satu jam dari anak masuk ke
kapel sampai Kembali ke kelas setelah menghormati relikui.
Untuk anak SD kelas 5-6 penekanan pada tubuh sebagai
tempat tinggal Allah maka harus menjaga tubuh sendiri dan menghormati tubuh
teman. Selain itu juga ajakan untuk semakin dekat dengan Allah dengan menjadi
“bestie” melalui hidup doa yang baik serta mengajak Para Kudus yang menjadi
nama babtis turut mendoakan diri sendiri karena mereka yang sudah lebih dahulu
dekat dengan Allah. Pada sesi ini durasi hampir satu jam karena muncul banyak
pertanyaan dari anak-anak. Anak-anak mulai dapat memahami materi yang dipresentasikan.
Penghormatan relikui diawali dengan doa singkat oleh guru pendamping.
Untuk SMP dan SMK penekanan pada sejarah
penghormatan para kudus, alasan menghormati para kudus dan bagaimana hidup
kudus. Beberapa cara supaya hidup menjadi kudus adalah dengan menjaga tubuh
diri sendiri dan menghormati tubuh teman. Kemudian berkomitmen untuk belajar sungguh-sungguh dengan mencotoh Santo Carlo
Acutis, seorang remaja yang baru saja dikanonisasi menjadi orang kudus.
Jalan lain menjadi kudus adalah menjadikan diri
lebih dekat dengan Allah atau menjadikan Allah sahabat atau “bestie”. Contoh
yang diambil dalam kehidupan sehari-hari bila curhat pada Allah dijamin tidak
akan bocor berbeda dengan teman sendiri yang kadang lupa untuk menyimpan
rahasia cerita. Seperti halnya “bestie” pada umumnya, nasehatnya akan
didengarkan dan diikuti meskipun belum tentu baik dan benar. Tetapi bila Allah
menjadi “bestie” yang terjadi adalah nasehat - Nya selalu mengarah pada kebenaran
dan kebaikan.
Menjadikan Allah sebagai “bestie” perlu waktu dan
ketekunan, maka dibutuhkan para kudus terutama Para Kudus yang menjadi nama
babtis untuk mendukung dalam usaha dan upaya dekat dengan Allah menjadi “bestie”.
Para guru telah memberikan contoh dalam doa pagi setiap hari, setelah berdoa
selalu mengucapkan Santa Angela doakanlah kami, Santa Ursula doakanlah kami.
Penutup.
Durasi penghormatan relikui untuk SMP dan SMK hampir
satu setengah jam. Durasi yang cukup lama karena diawali ibadat singkat dari
guru pendamping. Materi presentasi yang bisa dipahami memunculkan banyak
pertanyaan. Selain itu pengaturan proses penghormatan oleh guru pendamping menentukan
durasi penghormatan. Guru pendamping mengarahkan murid SMP untuk secara
berkelompok bergantian melakukan penghormatan. Setiap kelompok antara 4 –
6orang. Sementara guru pendamping SMK mengarahkan untuk bergantian berdua-dua
dalam memberikan penghormatan kepada relikui para kudus.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah sebagian murid
kelas 10 belum pernah ke Kapel dan kegiatan Penghormatan Relikui membuat mereka
mengunjungi Kapel untuk pertama kalinya. Mereka juga mendapatkan pengetahuan
baru dari paparan materi presentasi Penghormatan Relikui Para kudus. Usai
kegiatan, beberapa murid bertanya secara pribadi terkait agama katolik dan
kehidupan para Suster di Biara.
Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain, mengapa
umat katolik berdoa kepada orang kudus? Kalau tidak punya nama babtis bagaimana
supaya bisa punya nama babtis? Orang tua memberi nama babtis Yesaya, apakah itu
boleh? Untuk pertanyaan terkait kehidupan para Suster, Suster Marie Louise
langsung mengajak para murid yang bertanya berkeliling ke area Biara.
Kegiatan penghormatan Relikui telah berjalan dengan
baik. Melihat tanggapan dari para murid, banyak dari murid maupn guru yang baru
pertama atau teringat kembali penjelasan tentang mengapa harus menghormati para
kudus. Pak Ridhu meski sudah sekian tahun bekerja di Santa Maria rupanya baru
pertama kali mengikuti kegiatan ini, “ini pertamakalinya saya mendapatkan
penjelasan tentang Relikui dan mengapa menghormati para kudus.”
Berikut beberapa catatan dari kegiatan penghormatan
Para kudus merayakan Hari Raya Orang Kudus:
1.
Jumlah peserta terlalu banyak sampai memenuhi bagian belakang Kapel.
Banyaknya peserta ini membuat mereka sibuk sendiri dan materi penjelasan tidak diterima
dengan baik.
2.
Posisi penempatan Relikui apakah tetap seperti sekarang menempel di
dinding samping atau sebaiknya didepan altar persis, sehingga umat menunduk
hormat sekali baik kepada Sakramen Mahakudus maupun kepada Para Kudus yang
relikuinya dipamerkan.
3.
Pada
saat penghormatan dipisahkan antara murid katolik dengan non katolik. Pemisahan
dilakukan supaya bagi yang katolik menggunakan kesempatan untuk berdoa
sedangkan non katolik menjadi kesempatan untuk melihat saja. ***