Rabu, 09 Juni 2021

Mengunjungi EREVELD PANDU



 Gerbang masuknya megah, menjulang tinggi, dan dari kejauhan sudah terlihat hamparan permadani hijau dengan kayu-kayu palang putih berderet rapi dan bersih di atasnya. Di kiri kanan jalan menuju ke tempat itu banyak terdapat pepohonan hijau, asri. Kesannya terjaga dan terpelihara. Itulah Ereveld (=Makam Kehormatan) Pandu, di kota Bandung, salah satu dari 7 Ereveld yang tersebar di kota, Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Di Ereveld Pandu ini disemayamkan 28 nama Suster Ursulin Belanda yang meninggal di kamp-kamp tawanan semasa pendudukan Jepang.

 “Ereveld Pandu ini mempunyai luas 3 hektar,” jelas Penanggung jawab Ereveld Pandu, Bapak Dicky. Ia ramah menerima, dan tampak senang atas kedatangan kami karena dapat saling bertukar informasi, terlebih medsos yang menurutnya sangat penting untuk sosialisasi. “Ereveld ini, sengaja dibuat tertata dan sejuk, nyaman dan tidak menakutkan, sehingga dapat menjadi tempat alternatif wisata,” katanya menambahkan. Di tengah-tengah pembicaraan di pondok penerima tamu, terdengar tilpon berdering, memanggil. Tidak lama Pak Dicky kembali “Baru saja permohonan Sr Vita, untuk penambahan inisial OSU pada nama 28 nama Ursulin, diizinkan,” katanya dengan nada mantap.

 Saat pendudukan Jepang di Indonesia, selama PD II, banyak Suster Ursulin Belanda dari semua komunitas yang ditawan, terpisah-pisah, bahkan tidak jarang dipindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain dalam keadaan yang memprihatinkan. Seperti kamp Kramat dan Tjideng di Jakarta; kamp Halmahera, Lampersari dan Candi yang terletak di Semarang, juga kamp yang ada di Solo. Bahkan 2 biara Ursulin juga pernah dijadikan Kamp tawanan seperti Supratman-Bandung, dan Cor-Jesu Malang. Saat kelam dan derita itu, tercatat 44 Suster Ursulin meninggal akibat ditawan. Tidak hanya 44 orang saja, namun banyak Suster yang setelah keluar dari kamp, kemudian jatuh sakit dan meninggal karena menderita dalam kamp. 
Yang masih hidup, setelah Indonesia merdeka, masih menyisakan trauma panjang, sehingga banyak para suster yang beristirahat dan berobat ke Belanda ataupun kembali ke Belanda untuk seterusnya.

 Suatu hari, ada email dari seorang pimpinan Suster di Belanda yang menanyakan makam seorang suster kelahiran Belanda dan yang meninggal di Indonesia saat pendudukan Jepang sekitar tahun 1945. Sederhana. Rupanya salah seorang keluarganya menanyakan di mana letak makamnya.

 Yang terbayang langsung adalah prasasti nama Suster itu dan ‘menologium’ (riwayat hidup singkat)-nya, karena setiap suster yang meninggal di Indonesia, ada menologiumnya. Syukurlah proses pencarian tidak sulit, tidak memakan waktu lama, karena informasi segera di dapat, sehingga tidak sampai seminggu data sudah dikirim ke Belanda. Bagaimana dengan yang lain?

 Mengenang para Suster Ursulin di masa berat itu, sungguh menyisakan rasa hormat terima kasih tak terhingga. Mereka berjasa dalam melanjutkan penanaman nilai-nilai pendidikan bagi anak-anak dan kaum remaja perempuan dari para pendahulu. Oleh karena itu tidak berlebihan bila, penelusuran PRASASTI menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghargai jasa mereka. Terlebih lagi bagi para Suster Ursulin Pionir, para pendahulu yang dengan mempertaruhkan jiwa raganya meretas pendidikan di tanah ini, namanya tak pernah ditemukan di makam mana pun, selain hanya cerita saja. Suatu ironi.

 Penelusuran Tim Buku hari itu, Selasa 25/5/2021 dilakukan selain untuk riset materi buku sejarah juga untuk rencana pembuatan prasasti. Semoga, suatu saat, ketika ada dari keluarga para suster, entah generasi yang mana, yang ingin tahu, sekedar tulisan namanya dapat menemukannya dengan mudah.


 -+-

Groot Klooster

  Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan i...