Jumat, 04 Maret 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (II)

 

Kunjungan ke Biara Suster SPM 

Kunjungan ke Biara SPM diawali janji ketemu via WA dengan Suster Henrica SPM, Pemimpin Komunitas Biara SPM Kepanjen Surabaya. Beliau menjanjikan bertemu jam 09.00

 Setelah menunggu di ruang tamu, Suster Henrica SPM tiba. Beliau baru saja mengantar salah seorang Suster lansia berobat dirumah sakit RKZ. Setelah berkenalan dan menyampaikan maksud tujuan untuk napak tilas Biara Ursulin, beliau berkenan mengantar keliling area Biara SPM.

 Ruang pertama yang dikunjungi adalah Ruang untuk Tamu menginap yang terletak di lantai dua sederet dengan kantor Yayasan. Ruang untuk tamu menginap tersebut semasa digunakan para Suster Ursulin adalah Kapel. Saat ini, ruang tersebut menjadi ruang untuk menginap bagi tamu dengan sekat tembok dibagi menjadi beberapa ruang yaitu dua ruang tidur, kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Kapelnya sendiri dipindah ke lantai bawah dekat refter. Menurut Suster Henrica Perubahan dilakukan kurang lebih antara tahun 1985 / 1986.

 Dari ruang tamu bekas kapel, dilanjutkan ke sebuah rumah kuno yang difungsikan sebagai kamar tidur para Suster. Rumah tersebut merupakan rumah pertama para Suster SPM ketika pertama kali datang menggantikan para Suster Ursulin tahun 1950. Struktur dan eksterior rumah kuno tersebut tidak mengalami perubahan, hanya tambahan fasilitas beberapa kamar mandi dalam. Ruangan untuk menjahit beserta lemari juga tidak berubah, semua masih terpelihara baik. Dari rumah kuno tersebut bergeser menuju kapel melewati refter. Refter sendiri termasuk gedung baru yang dibangun sekitar tahun 1980an.

 Gedung Kapel terletak disamping Refter. Interior Kapel sederhana dengan ornamen kaca patri yang dibawa dari kapel lama. Di kapel tidak bisa bergerak leluasa untuk memotret ataupun melihat detail bagian dalam karena ada Suster yang berdoa dan ada yang bekerja. Suasana Kapel hening. Takut mengganggu aktifitas para Suster, tour dilanjutkan ke sebuah bangunan tua tempat wasrey atau tempat cuci baju para Suster.

 Bangunan tempat cuci tersebut disekat menjadi dua bagian utama, untuk tempat cuci segala jenis kain milik suster dan dibagian lain untuk asrama. Kedua Ruang dibatasi dinding tembok bata setinggi kurang lebih dua setengah meter. Di dalam bangunan itu pula tersedia ruang untuk menyetrika. Dinding bata setinggi satu meter menyekat ruang cuci dengan ruang setrika. Perlengkapan mencuci dan setrika menggunakan peralatan modern, sedangkan meja setrika dan lemari penyimpanan masih menggunakan meja dan lemari kuno.

Dari Wasrey menuju ke area SD. Nama SD Santa Angela tidak berubah sejak dikelola para Suster Ursulin dan terus dilanjutkan para Suster SPM. Para Suster SPM juga menambahkan patung Santa Santa Angela. Gedung SD juga tidak mengalami perubahan struktur. Penambahan ruang –ruang serta warna cat dinding menyesuaikan dengan kebutuhan. Tour ke dalam bangunan SD tidak bisa leluasa karena masih jam sekolah.

Suster Henrica kemudian mengajak ke gedung Panti Asuhan dan Asrama. Gedung Panti Asuhan dan Asrama Santa Yulia berdiri kokoh sejak 1930. Meskipun tanpak kokoh, di beberapa titik, dinding tampak berjamur serta mengelupas. Secara umum, gedung tidak mengalami perubahan fisik kecuali warna cat yang disesuaikan kondisi masa kini. Meja dan wastafel dapur asli dipindah ke bagian serambi belakang untuk cuci piring. Meja dan lemari asrama sebagian besar masih menggunakan model lama. Pintu, jendela serta berbagai furniture terpelihara baik.

 Ruangan di lantai dua seperti aula besar. Jarak lantai dengan langit-langit plafon kurang lebih sekitar 4.5 meter seperti bangunan kuno pada umumnya. Ruangan itu disekat mirip kamar rumah sakit dengan tinggi sekat 2,4 meter. Ada delapan kamar dengan setiap kamar menampung maksimal sepuluh anak. Saat ini karena situasi pandemi, anak asrama dikembalikan kepada keluarga masing-masing. Gedung PA-Asrama Santa Yulia menjadi gedung terakhir yang dikunjungi.

 Posisi gedung PA-Asrama Santa Yulia berada ditengah-tengah, jika dilihat dari pintu masuk utama jalan Kepanjen. Di sebelah kanannya ada gedung dua lantai yang memanjang ke belakang. Gedung tersebut menjadi kantor Yayasan di bagian atas dan di bagian bawah menjadi ruang kelas TK. Gedung TK dan Kantor Yayasan tersebut, ketika masih dikelola para Suster Ursulin merupakan ruang-ruang kelas dari Sekolah Kepandaian Putri. Bagian kiri gedung Panti Asuhan- Asrama Santa Yulia terdapat dua gedung, Aula dan SD Santa Angela. Bangunan gedung SD masih menggunakan gedung lama sejak masih dikelola para Suster Ursulin.

Gedung Aula dengan empat lantai termasuk gedung baru. Lantai dasar dibuat lebih tinggi dari gedung lainnya karena komplek biara dan sekolah sering kebanjiran. Untuk mengatasi banjir tidak masuk ke dalam, dibuat tanggul pembatas disepanjang serambi semua gedung tua.

Secara keseluruhan bangunan gedung di dalam komplek sekolah dan biara para Suster SPM terpelihara baik. Setiap tamu yang berkunjung masih dapat melihat jejak-jejak karya para Suster Ursulin pada masa lampau. (bersambung)


Para Suster SPM tinggal di dalam rumah ini saat pertama kali datang tahun 1950 untuk melanjutkan karya para Suster Ursulin. Rumah ini sekarang menjadi rumah lansia, berada di dalam komplek Biara SPM Kepanjen
Kapel biara para Suster SPM


Suasana di Wasrey tempat untuk mencuci dan setrika.

Para Suster SPM Melanjutkan karya pendidikan SD Santa Angela yang dirintis para Suster Ursulin.

Serambi & tangga menuju lt. 2, gedung PA-Asrama St. Yulia yang dilayani para Suster SPM saat ini, dulu bernama St. Ursula


Tampak bagian dalam di lantai dasar gedung PA-Asrama St. Yulia.


Serambi & kamar di lt. 2 PA-Asrama St. Yulia.





Kamis, 24 Februari 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (I)



Senin 24/1/2022 menjadi kesempatan istimewa dapat berziarah dan napak tilas jejak para Suster Ursulin di Surabaya. Napak tilas dimulai dengan ziarah ke makam para Suster Ursulin di Makam Belanda Peneleh dilanjutkan ke Biara Santa Perawan Maria (SPM) dan Biara Frater Bunda Hati Kudus (BHK) di Kepanjen. 

Biara Suster SPM dan Frateran BHK pada awal mulanya milik para suster Ursulin. Perang kemerdekaan 1945 mengubah situasi menyebabkan para suster Ursulin kehilangan banyak anggota yang menjadi korban perang dan menyerahkannya kepada para Suster SPM dan Frater BHK agar pelayanan kepada msyarakat dapat terus berjalan.
Makam Belanda Peneleh
Perjalanan dari Stasiun Pasar Turi Surabaya ke pemakaman Belanda Peneleh ditempuh tidak sampai setengah jam. Ongkos Ojol cukup terjangkau, tidak sampai lima belas ribu Rupiah, sudah termasuk tip driver.
 
Di Makam Belanda Peneleh, dimakamkan Suster Ursula Meertens pemimpin tujuh Suster Ursulin pionir ke Batavia tahun 1856. Suster Ursula Meertens dimakamkan bersama para Suster lain di komunitas Kepanjen Surabaya dalam satu blok. Blok makam para Suster itu ditutup dengan semen. Panjangnya kurang lebih 17 langkah dengan lebar 7 langkah.
 
Batu besar berukir menutup blok makam para suster. Lempengan batu kecil dengan tulisan berwarna kuning emas menempel pada batu besar menjadi sebuah kumpulan nisan.
 
Nisan Suster Louise Demarteau sebagai pemimpin pertama komunitas Ursulin Kepanjen posisinya paling atas dan paling besar menghadap ke Utara. Pada nisannya tertulis dalam bahasa belanda: TERGEDACHTENIS AAN DE EERW. MOEDER LOUISE EERSTE OVERSTE DER EERW.ZUSTER URSULINEN SOERABAJA OVERLEDEN14 MAART 1890 VAN HARE DANKBARE LEERLINGEN.
 
Di sisi timur bersebelahan dengan nisan Suster Louise Demarteau, terdapat nisan Suster Aldegonde, beliau pernah pernah memimpin Ursulin di Buitenzorg (Bogor) dan dimakamkan pada tahun 1914. Di sisi utara dan barat tidak ada nisan yang tertulis, entah copot atau memang kosong.
 
Sementara nisan Suster Ursula Meertens, pemimpin pertama pionir dan komunitas Ursulin di Batavia malah berada di sudut bagian bawah, kontras dengan kedua pemimpin komunitas di Surabaya dan Bogor.
    
Suster Ursula Meertens memang rendah hati, dalam kronik Noordwijk tertulis alasan beliau pindah ke Surabaya setelah lama memimpin komunitas di Batavia, yaitu supaya ia tidak dikenal. Di puncak nisan itu ada patung salib dengan relief mahkota duri.

 Banyak nisan yang lepas dan hanya ditulis angka. Mas Adi, petugas kebersihan, menuturkan bahwa ia tidak mengetahui persisnya sejak kapan batu nisan mulai copot karena ada petugas khusus yang mengurusi batu nisan. Salah satu lempeng batu nisan yang bertuliskan nama Suster Odile, wafat tahun 1816. Padahal para Suster Ursulin berada di Surabaya pada Oktober 1863, jadi bisa dipastikan tulisan itu keliru.
 
Ketika ditanyakan ke Mas Adi mengapa warna huruf di batu nisan dicat kuning? ia mengatakan bahwa yang mengecat bukan petugas makam. “Yang ngecat Nisan itu dari CIPTA KARYA, kontraktor, bukan petugas makam. Dicat karena waktu itu mau ada kunjungan dari Belanda jadi mereka yang ngecat.”
 
Mas Adi bertugas membersihkan, merapikan, merawat tanaman dan pohon di area pemakaman. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan di Makam Belanda Peneleh sejak 2016.
 
Setelah memotret makam para suster dan mendoakannya, dilanjutkan ke makam Pastor Martinus van den Elzen SJ. Beliau yang mengundang dan mengajak para Suster Ursulindi Batavia untuk berkarya di Surabaya.
 
Masih menurut Mas Adi, pengunjung dari Semarang dan Malang banyak yang berziarah ke makam para Suster Ursulin dan ke makam Pastor Martinus Van Den Elzen. Makam pastor terletak tak jauh dari pintu masuk. Begitu pengunjung memasuki area pemakaman, tinggal lurus saja, maka akan langsung ketemu makam Pastor van den Elzen.
 
Pastor Martinus van den Elzen serta para Suster Ursulin menjadi salah satu bagian dari sejarah kota Surabaya. Baik nisan Pator van den Elzen maupun para Suster Ursulin, semuanya terawat baik.
(bersambung)
Tulisan "Makam Belanda Peneleh" didinding kantor pengelola disamping pintu gerbang
Tulisan "Makam Belanda Peneleh" didinding kantor pengelola disamping pintu gerbang

Nisan para Suster Ursulin

Nisan Suster Louise Demarteau

Nisan Suster Aldegonde


Nisan Suster Ursula Meertens, ujung kiri

Nisan yang copot

Mas Adi petugas makam

Nisan Pastor Martinus van den Elzen


Sabtu, 19 Februari 2022

Peluncuran & Bedah Buku "165 Tahun Ursulin Santa Maria Jakarta: Pendidik Perempuan Pertama Di Indonesia"

Buku sejarah “165 Tahun Ursulin Santa Maria Jakarta: Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia” di- luncurkan pada Kamis 25 November 2021. Buku tersebut merevisi sekaligus melengkapi buku yang terbit sebelumnya dengan judul Ursulin Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia yang terbit pada Desember 2016.

Para pembicara dalam Peluncuran dan diskusi bedah buku secara daring itu antara lain Suster Maria Dolorosa Sasmita OSU, pemrakarsa buku sejarah; Dr. Pudentia (Ibu Teti), Ketua Asosiasi Tradisi Lisan; serta Bapak Dr. Zeffry Alkatiri Dosen FIB Universitas Indonesia. Mereka hadir secara langsung di tempat peluncuran yaitu di Aula TK Santa Maria, Jl. Juanda nomor 29 Jakarta. Sedangkan pembicara yang hadir secara virtual adalah Bapak Scot Meeerrillees penulis buku dan peneliti; Dr. Kirsten Kamphuis Anggota Dewan Editorial Buku Tahunan Belanda Untuk Sejarah Wanita dan Peneliti; Dr. Lilie Suratminto, M.A Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Budhi Dharma, Tangerang.

Mengawali diskusi, Suster Maria Dolorosa mengungkapkan kegem-biraanya karena buku sejarah itu benar-benar terwujud dan peluncur-annya bertepatan dengan peringatan hari Guru Nasional dan lahirnya Kompani yang didirikan Santa Angela 486 tahun yang lalu. Suster Maria kemudian menceritakan semangat para Suster Ursulin dalam mendidik anak-anak dan kaum perempuan dengan membuka Sekolah Guru pada tahun 1881 sampai kemudian ditutup tahun 1991.

Suster Maria kemudian melanjutkan bagaimana Santa Angela memilih tanggal itu (25/11) sebagai hari lahirnya Kompani karena gereja pada tanggal itu merayakan pesta Santa Katarina dari Aleksandria, seorang Perawan dan Martir. Santa Angela mempunyai devosi yang khusus kepada perawan dan martir dari Alexandria itu. Semangat Kemartiran dan kemurniannya sebagai seorang gadis yang mempersembahkan diri kepada Tuhan menjadi semangat yang dihidupi Santa Angela dan kemudian diikuti oleh para putri-putri pengikutnya. Semangat yang sama dari Santa Ursula menjadi dasar nama kelompok Kompani Santa Ursula.

Setelah Suster Maria, giliran Pak Scott Merrillees yang berada di Australia memberikan paparannya. Pak Scott dalam slide power point memaparkan situasi area disekitar jalan Noordwijk abad 19. Dalam slide tersebut disajikan foto Gedung dan suasana Sekolah Ursulin Santa Maria. Pak Scott juga menampilkan gambar beberapa gedung dan tempat yang cukup terkenal pada masa itu yang terdokumentasi dalam kartu pos.

Beberapa gedung itu antara lain, Istana Negara, Gedung Asuransi Jiwa. Sedangkan gedung yang sekaranmg tidak ada jejaknya antara lain Harmonie, Toko Buku G. Kolf & Co, Perusahaan Tembakau.

Pak Scott juga menampilkan suasana jalanan di sekitar jalan Veteran, kali Ciliwung, area Pasar Baru Pecenongan dan sekitarnya. Foto-foto kartu pos yang disajikan Pak Scott sejenak membawa peserta ke masa lalu.

Sesudah Pak Scott giliran Kirsten Kamphuis. Ia adalah anggota Dewan Editorial Buku Tahunan Belanda untuk Sejarah Wanita. Ia saat itu berada di Jerman. Ia membahas bab dua dari buku itu: “Meretas Pendidikan Perempuan di Pulau Jawa”. Ia membahas mulai dari tahun 1856 ketika para Ursulin memulai Biara, Asrama dan Sekolah Para suster Ursulin mengabdikan diri untuk mendidik kaum muda khususnya Perempuan.

Anak-anak yang datang awalnya dari keluarga Eropa. Kurikulum sekolah pada awalnya dalam Bahasa Perancis, karena untuk kalangan atas, dalam bahasa Inggris dan Belanda. Kemudian suster-suster mendidik dari kalangan orang Jawa atau Pribumi dari golongan priyayi. Ada juga yang Indo (campuran). Juga ada dari keluarga Tionghoa. Anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar, bermain dan bermusik serta menyanyi. Ada klas-klas piano dan alat musik lainnya. Mereka juga mengembangkan kesenian supaya bisa menikmati keindahan dan keharmonisan.
Ada juga pelajaran untuk meningkatkan ketrampilan sebagai persiapan menjadi istri dan ibu yang baik serta agar dapat mengelola rumah tangga dengan baik. Selanjutnya ada Sekolah TK dengan sistem Eropa yang anak-anaknya sudah campur. Di masa kemudian ada 2 sistem sekolah untuk anak-anak Eropa dan yang lain untuk anak-anak Pribumi. Sistem /kurikulum kedua sekolah terus mengikuti perkembangan jaman dengan metode-metode yang baru dan selalu maju sehingga menjadi sekolah yang modern.

Pak Zeffry menuturkan pengalaman perjumpaanya dengan para Suster Ursulin. Pak Zeffry mengenal para Suster Ursulin sejak Kakek neneknya menitipkan kedua putrinya (salah satunya adalah Mamanya Pak Zeffry) bersekolah di sekolah Ursulin.

Kakek Pak Zeffry berpandangan moderat dan berani melawan arus meski mendapat kecaman dari komunitas Arab di Batavia. Menurut Pak Zeffry, kakeknya berkeyakinan bahwa Sekolah Ursulin adalah sekolah yang terbaik untuk mendidik kedua putrinya. Pandangan moderat kakeknya itu menurun ke Pak Zeffry.

Sedangkan terkait buku sejarah 165 Tahun Ursulin Santa Maria Juanda, Pak Zeffry menuturkan bahwa buku tersebut ditulis dengan rinci dan lengkap. “Buku ini ditulis sangat terperinci dan sangat lengkap. Semua data dan dokumen telah dideskripsikan. Berisi tentang cerita sejarah yang menarik dengan bukti penampilan foto-foto yang bersejarah”

Ibu Teti menanggapi kisah Pak Zeffry dengan menyebut Sekolah Ursulin menerima berbagai kalangan sejak awal berdiri, “Sekolah Ursulin menerima berbagai bangsa pada saat itu bukan hanya satu golongan atau satu agama saja, ternyata juga merupakan pencerminan dari visi dan misi yang sudah ditetapkan atau sudah dihayati sejak 165 tahun lalu.”

Ibu Teti memberikan alasan mengapa ia mengundang perwakilan ANRI dan dari LIPI untuk hadir dalam bedah buku. Ia mengatakan bahwa Sekolah Ursulin yang sejak awal berdiri tahun 1856 sampai sekarang konsisten mendidik perempuan melewati berbagai tantangan kurikulum seiring perkembangan jaman.

Pak Lilie yang menjadi pembicara akhir mengingatkan generasi masa kini untuk mengenang jasa para pendahulu dengan merawat dan memelihara semua yang telah diwariskan melalui museum. Ia juga mengingatkan untuk melanjutkan semangat dan kesetiaan itu bagi keberadaan hidup dan karya Ursulin di kemudian hari.

"Museum dengan berbagai artefak peninggalan dari para pendahulu merupakan bukti keberadaan Para Suster Ursulin dari awal. Museum Ursulin Santa Maria yang sudah 10 tahun berdiri merupakan wujud nyata dari kepedulian kita kepada jasa para pendahulu yang telah berjuang merintis pendidikan perempuan di Batavia yang kemudian menyebar ke seluruh Nusantara.

Pak Lilie melanjutkan “Alangkah indahnya apabila jasa dan keberadaan para suster pendahulu juga diakui dan diapresiasi di tempat peristirahatan terakhir mereka, terlebih mereka yang berjuang di belakang layar. Nisan prasasti yang merupakan tanda akhir dari keberadaan para suster yang telah hidup dan berkarya di bumi Indonesia dapat menjadi kenangan bagi generasi yang hidup dan dapat menjadi tanda kasih dan hormat kita kepada mereka yang telah berjasa dan berjuang semasa hidupnya. Ya semoga prasasti dapat dibuat dan kita melakukan apresiasi lebih layak terutama bagi para suster yang pemakamannya atau rangkanya sempat berpindah-pindah tempat.”

Peluncuran buku secara daring dapat dilihat di kanal Youtube “Humas Sanmar“,
atau bisa juga diakses langsung pada link di sini

Ibu Tari (Moderator), Sr. Maria, Pak Zeffry dan Ibu Teti
Kirsten Kamphuis
Scott Merrilees
Para penulis buku, Sr. Maria, Sr. Lita, Sr. Hilda, Ibu Teti dan Pak Zeffry

Kamis, 17 Februari 2022

Kunjungan PKCB ke Museum Ursulin Santa Maria.


Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB) Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta mengunjungi Museum Ursulin Santa Maria. Kunjungan perdana ke Museum Ursulin Santa Maria tersebut dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fugsi PKCB melakukan tindakan pelindungan dari kerusakan koleksi melalui kunjungan survei kondisi koleksi.

 Kunjungan PKCB dipimpin Bapak Teguh Mardiuntoro beserta staff, dilaksanakan pada Selasa 26 Oktober 2021 Pukul 10.00. Dalam perjumpaan tersebut, Pak Teguh mengungkapkan kegembiraanya karena rasa ingin tahunya tentang Museum Ursulin Santa Maria dapat terwujud. Pak Teguh juga menyampaikan salam dari pimpinan PKCB, Ibu Linda Enriany kepada keluarga besar Museum Ursulin Santa Maria. Ibu Linda Enriany tidak dapat hadir.


Suster Lucia Anggraini OSU, Kepala Museum beserta Suster Marie Louise Nastiti OSU menyambut dan menghantar seluruh staff PKCB berkeliling tour ke seluruh area museum.

 Fokus kunjungan selain mendengar cerita tentang tema dan isi museum, juga melihat ruang penyimpanan, proses pemeliharaan dan perawatan koleksi. Sambil berkeliling, mereka berdiskusi dan bertanya jawab terkait pemeliharaan dan perawatan koleksi.

 Di akhir kunjungan survey tersebut, PKCB memberikan saran dan masukan terkait keamanan, penempatan koleksi, pembersihan koleksi berbahan logam dan kertas (Buku) serta menganjurkan dilaksanakan fumigasi secara periodik. ***




Jumat, 11 Februari 2022

Kunjungan Virtual SD Santa Ursula ke Museum Ursulin Santa Maria


Kunjungan virtual SD Santa Ursula ke Museum Ursulin Santa Maria, Senin 18 Oktober 2021 dalam rangka memperingati pesta Santa Ursula pelindung biara dan sekolah Santa Ursula.

 Sekolah Santa Ursula merupakan cabang pertama dari Santa Maria Juanda pada tahun 1859, maka kunjungan tersebut sekaligus mengenang perjalanan dan perkembangan karya para Suster Ursulin di Indonesia.

 Kunjungan dibagi dalam dua sesi pukul 07.30 dan Pk. 08.20. Sesi awal diikuti kelas 1-3 dan sesi kedua kelas 4-6. Durasi setiap sesi kurang lebih 40 menit.

 Kunjungan virtual dimulai dengan perkenalan sejarah Museum dan staff oleh Suster Lucia Anggraini, OSU kemudian dilanjutkan dengan virtual tour. 
Virtual tour dimulai dari perjalanan tujuh Suster Ursulin pionir ke Batavia ke rumah di jalan Noordwijk yang sekarang menjadi jalan Juanda.
 Dari Juanda, karya para Suster Ursulin berlanjut ke Weltevreden di tahun 1859 untuk melayani anak-anak yatim piatu.

Virtual tour menampilkan foto-foto koleksi museum ditambah narasi langsung dari Pak Aji, pemandu museum. Sepanjang dua sesi, suasana gembira tak pernah putus. Anak-anak dengan gayanya masing masing menunjukkan antusias tinggi dengan berbagai ungkapan dan pertanyaan spontan.

Saat sesi tanya jawab berlangsung Suster Lucia terpaksa membatasi pertanyaan karena waktu yang terbatas. Di akhir acara anak-anak diminta mengekspresikan pe- ngalamannya mengikuti virtual tour.

Beberapa hasil karya yang terpilih ditampilkan dalam media sosial museum. berikut ini adalah ekspresi karya para siswa/siswi SD Santa Ursula Jl. Pos Jakarta dari kelas I-VI. ***




Senin, 31 Januari 2022

Kaleidoskop Museum Santa Maria Tahun 2021

Kaleidoskop ini berisi berbagai foto kegiatan Museum Ursulin Santa Maria Tahun 2021 khususnya Perayaan 165 Tahun Tahun Ursulin Santa Maria Jalan Juanda 29 Jakarta dan Peluncuran Buku Ursulin Santa Maria Jakarta Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia.

Senin, 17 Januari 2022

Groot Klooster

 

Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan interior gedung Santa Maria. selamat menyaksikan

Kamis, 07 Oktober 2021

Museum Ursulin Hadir Bukan Untuk Berkompetisi

Suster Hilda Sri Purwaningsih, OSU  menyapa dan memberi sambutan kepada tim visitator dari sudin Kebudayaan provinsi DKI Jakarta

Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan visitasi atau kunjungan ke Museum Santa Maria pada Senin 4 Oktober 2021. Museum Santa Maria adalah salah satu dari 12 Museum Swasta di DKI yang akan dikunjungi dalam kurun waktu 1 minggu. 

Visitasi dilaksanakan untuk melakukan verifikasi data dan dokumen museum sebagai tindak lanjut dari Bimbingan Teknis Pemutakhiran Data Museum yang sudah dilaksanakan pada bulan Agustus lalu. Kasie Sejarah dan Permuseuman Bapak Bayu Niti Permana beserta staff rombongan datang sekitar jam 9.00 dan diterima di Hall Museum. 

 Suster Hilda Sri Purwaningsih, OSU Kepala Biara Santa Maria dan Ketua III Yayasan Nitya Bhakti dalam sambutannya merasa terhormat, bangga dan bersyukur bahwa dari pemerintah melalui dinas kebudayaan datang berkunjung. Atas perhatian dari pemerintah tersebut, Museum akan terus belajar, dan terbuka dengan masukan masukan untuk melengkapinya. 

 Museum Ursulin Santa Maria masih jauh dibanding dengan museum-museum yang lain tetapi kehadiran Museum Ursulin Santa Maria bukan untuk berkompetisi melainkan untuk merawat dan melanjutkan karya yang sudah dirintis para pendahulu serta menjadi tempat atau pusat penelitian kemudian melestarikannya. 

Kepala Museum Suster Lucia Anggraini OSU, bersama Tim yaitu Suster Marie Louise OSU, Thomas Aji, dan Volunteer Janny Halim menemani Pak Bayu beserta 5 anggota tim nya. Mereka memulai verifikasi dengan berkeliling museum dimulai dari Ruang Kantor Sekretariat berlanjut ke ruang-ruang pamer museum mengikuti alur rute kunjungan. 

Mereka mendengarkan cerita sejarah karya Ursulin dan mengamati koleksi yang dipamerkan. Kadang terdengar berkomentar “wah, yang ini dan itu… bisa masuk benda cagar budaya...” 

 Ketika diperbolehkan melihat kebun biara, mereka senang sekali. Kebun biara menjadi area privat sejak selesai direnovasi dan mereka menjadi pengunjung museum pertama yang diijinkan masuk melihatnya. Begitu senangnya mereka sehingga mereka membuat foto-foto. Tidak terasa mereka sudah berkeliling lebih dari satu jam.
 Verifikasi dilanjutkan dengan memeriksa dan mencocokkan dokumen isian yang sudah diserahkan beberapa waktu sebelum kedatangan. Dari hasil wawancara di hall museum sampai sekitar pukul 13.00, Museum diberi beberapa rekomendasi untuk ditindak lanjuti. Antara lain terkait tampilan museum menambah wall text terutama sejarah gedung dan museum, denah dan alur pengunjung, visi misi serta papan nama museum dibuat lebih jelas bagi pengunjung dsb.

Rekomendasi terkait administrasi antara lain penulisan SOP (Standard Operation Procedure) kegiatan yang sudah dilaksanakan dan SK struktur Organisasi. Untuk keselamatan bangunan, re-new tabung APAR.

 Pak Bayu menegaskan bahwa Tim Verifikasi PemProv ini mempunyai tugas untuk pembinaan pada museum-museum di DKI. Dari setiap visitasi mereka juga ingin tahu, apa saja yang sebenarnya dibutuhkan oleh museum-museum. Misalnya pelatihan untuk kurator, konservator dll. Yang menggembirakan dan penuh harapan adalah bantuan pemerintah untuk mempercepat proses mengusahakan TDUP (Tanda Daftar Usaha Pariwisata).

“Untuk menjadi museum yang terstandart masih membutuhkan waktu 2 tahun setelah semua persyaratan terpenuhi,” terang Pak Bayu.

 Dari Visitasi ini, Museum Santa Maria belajar bahwa masih banyak yang hal harus dilakukan berkaitan dengan fasilitas, sumber daya manusia, pengetahuan yang mendukung dan tentu kerjasama dengan berbagai instansi.

Sebagai museum yang berada di tengah biara, sekolah dan asrama, Museum Ursulin Santa Maria sedang berproses untuk melengkapi menjadi museum yang lebih baik. Rekomendasi yang telah diterima akan ditindak lanjuti bersamaan dengan adanya revitalisasi gedung museum.

Kehadiran museum Ursulin Santa Maria diharapkan dapat menjadi sarana penting bagi informasi, dan penelitian pendidikan ditengah-tengah biara-sekolah Ursulin yang sudah berdiri 165 tahun yang lalu. ***






Kasie Sejarah dan Permuseuman Bapak Bayu Niti Permana  koordinator tim  visitasi
Melihat dan menjajal duduk di kursi kuno di Sekretariat
Masuk ke ruang pamer Ruang Misi
wawancara dan pencocokan dokumen




Senin, 30 Agustus 2021

Tugas Pemerintah Mengayomi Museum







Salah satu perwujudan tugas Pemerintah dalam mengayomi Museum adalah memberikan Bimbingan Teknis (Bimtek) dalam Pemutahiran Data. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Bayu Niti Permana, Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

“Tugas Pemerintah sesuai amanat PP 66 Tahun 2015 sehubungan dengan Museum adalah mengayomi museum yang ada di wilayahnya”. Namun ada syaratnya agar sebuah museum itu diayomi oleh Pemerintah yaitu museum itu harus terdaftar. Pertama-tama museum itu mendaftarkan diri ke Dinas Kebudayaan Provinsi, kemudian Dinas mendaftarkan ke Kementrian atau tingkat yang lebih tinggi. Paling tidak museum itu tercatat di (Suku) Dinas.” 

 Bimtek Pemutakhiran Data dilaksanakan selama tiga hari yaitu tanggal 24 – 26 Agustus 2021 dan secara daring. Tanggal 24 Agustus dikhususkan bagi museum-museum di Jakarta Pusat, tanggal 25 Agustus bagi Jakarta Timur dan TMII, dan tanggal 26 Agustus bagi Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu.

 Tugas pengayoman Museum yang ditegaskan dalam Bab VIII PP 66 Tahun 2015 berupa Pembinaan dan Pengawasan. Pengawasan terhadap Kelembagaan Museum; Pengelolaan Koleksi; Peningkatan SDM; Pengembangan dan Pemanfaatan Museum.

 Pembinaan Museum dilakukan melalui bimbingan teknis Museum; advokasi pengelolaan museum dan atau bantuan. Bantuan dapat berupa dana, sarana dan/atau tenaga ahli. Misalnya bantuan dana dari pemerintah, disalurkan hanya ke museum yang terdaftar dan yang membutuhkan.

Tujuan dari Bimtek ini adalah melihat kondisi eksisting setiap museum yang ada di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu pemerintah melalui Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mengharapkan museum dapat memberikan gambaran selengkap-lengkapnya, agar dapat diketahui museum yang memenuhi standar dan yang perlu dibantu. 


Selain itu, pemerintah dapat membantu mengusahakan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) mengacu pada Pergub Nomor 18 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Pariwisata bagi museum-museum di wilayah DKI.

 Bimtek dimulai sejak undangan Bimtek Pemutakhiran Data dikirimkan. Peserta mengisi formulir keikutsertaan yang dikirimkan bersama undangan, melalui WhatsApp grup. Peserta (Museum) yang telah terdaftar digabungkan dalam grup WA peserta supaya memudahkan berkoordinasi. Peserta kemudian mengisi formulir pemutakhiran data museum secara manual dan mempersiapkan data pendukung.

 Pada saat pelaksanaan Bimtek, peserta mengisi formulir pemutakhiran data museum dipandu oleh Ibu Betsy Edith Christie. Setelah bimtek peserta diharapkan mengirim data pemutakhiran dengan cap dan tanda tangan basah Kepala Museum ke Sudin. Pengiriman data paling lambat 31 Agustus dilanjutkan dengan kunjungan ke museum-museum sampai Oktober 2021. Kunjungan dilaksanakan untuk melihat kelemahan dan memberikan rekomendasi yang sesuai.

 Pelaksanaan Bimtek ini sesuai dengan harapan ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jakarta Paramita Jaya Bapak Yiyok T. Herlambang. “Sesudah data diperbarui, ke depan kami berharap Dinas membuat bimtek untuk menajemen permuseuman. SDM museum bisa ikut sertifikasi sehingga SDM bisa mengetahui bagaimana museum bisa berjalan didukung dengan SOP yang baik. Tujuan akhirnya agar museum semakin diminati semua masyarakat dan menarik minat wisatawan mancanegara sehingga menarik devisa untuk negara.”

 Bapak Norvi Setio Husodo mewakili kepala Dinas Kebudayaan berharap, melalui Bimtek ini kolaborasi dinas kebudayaan dengan AMI (Asosiasi Museum Indonesia) dan museum-museum lainnya semakin sinergis. Museum-museum yang dikelola dinas maupun swasta semakin baik performanya.

 ***

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...