Senin, 07 Februari 2022
Senin, 31 Januari 2022
Kaleidoskop Museum Santa Maria Tahun 2021
Kaleidoskop ini berisi berbagai foto kegiatan Museum Ursulin Santa Maria Tahun 2021 khususnya Perayaan 165 Tahun Tahun Ursulin Santa Maria Jalan Juanda 29 Jakarta dan Peluncuran Buku Ursulin Santa Maria Jakarta Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia.
Senin, 17 Januari 2022
Groot Klooster
Arkeolog, Bapak Candrian Attahiyyat, beberapa waktu lalu mengunjungi Museum Santa Maria. Ia menelusuri sejarah dan menikmati keindahan interior gedung Santa Maria. selamat menyaksikan
Kamis, 07 Oktober 2021
Museum Ursulin Hadir Bukan Untuk Berkompetisi
Senin, 30 Agustus 2021
Tugas Pemerintah Mengayomi Museum
Kamis, 22 Juli 2021
Sekolah Rasa Tempat Wisata
| Pembawa Acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMK Santa Maria saat membuka sesi perkenalan Museum Ursulin Santa Maria mengatakan bahwa siswa yang sekolah di Santa Maria beruntung karena ada museum, “Sekolah Santa Maria itu sekolah rasa tempat wisata”. MPLS bagi siswa/i baru Angkatan 2021/2022 dilakukan secara daring. MPLS SMP di Museum itu dilaksanakan pada Sabtu 10 Juli dan SMK pada Rabu 14 Juli. Dalam dua kesempatan MPLS tersebut, Suster Lucia Anggraini, OSU kepala Museum Ursulin menampilkan Sejarah singkat perjalanan karya para Suster Ursulin dalam mendidik perempuan sejak 1856 dan perkembangannya, dengan menampil-kan gambar poster History Wall. Poster History wall sendiri sudah dipasang di area pintu masuk Kampus Santa Maria dari jalan Juanda maupun jalan Batu tulis serta di area menuju Kapel Biara. Museum Ursulin Santa Maria terletak di dalam area Kampus Santa Maria jalan Juanda Jakarta Pusat, dan menampilkan peninggalan para Suster Ursulin berkarya dibidang pendidikan, sejak 1856 khususnya pendidikan perempuan. | Artefak-artefak dari museum itu merupakan saksi keberadaan dan perjuangan para suster Ursulin mendidik anak-anak dan kaum perempuan di Indonesia. Museum Ursulin Santa Maria menjadi museum yang menarik dan Unik karena satu satunya museum yang menyatu dengan sekolah.
MPLS selama kurang lebih satu jam diisi juga dengan Vlog atau Video Blog mengenal beberapa ruang dan koleksi museum. Usai paparan Suster Lucia dan vlog museum, peserta MPLS diajak untuk menjawab kuis berdasarkan materi yang sudah dipaparkan. Peserta MPLS antusias mengikuti acara dan berharap bisa berkunjung ke museum usai pandemic Covid-19 berakhir. Menurut Peraturan Pemerintah no. 15 tahun 2015 bab VII pasal 41 ayat 1 salah satu manfaat museum adalah sebagai tempat wisata. Maka tidak salah bila belajar di sekolah Santa Maria serasa belajar di tempat wisata. Semoga dengan adanya museum di Kampus Santa Maria membuat suasana belajar semakin menyenangkan dan meningkatkan prestasi para siswa. *** |
Rabu, 09 Juni 2021
Mengunjungi EREVELD PANDU
| Gerbang masuknya megah, menjulang tinggi, dan dari kejauhan sudah terlihat hamparan permadani hijau dengan kayu-kayu palang putih berderet rapi dan bersih di atasnya. Di kiri kanan jalan menuju ke tempat itu banyak terdapat pepohonan hijau, asri. Kesannya terjaga dan terpelihara. Itulah Ereveld (=Makam Kehormatan) Pandu, di kota Bandung, salah satu dari 7 Ereveld yang tersebar di kota, Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Di Ereveld Pandu ini disemayamkan 28 nama Suster Ursulin Belanda yang meninggal di kamp-kamp tawanan semasa pendudukan Jepang. “Ereveld Pandu ini mempunyai luas 3 hektar,” jelas Penanggung jawab Ereveld Pandu, Bapak Dicky. Ia ramah menerima, dan tampak senang atas kedatangan kami karena dapat saling bertukar informasi, terlebih medsos yang menurutnya sangat penting untuk sosialisasi. “Ereveld ini, sengaja dibuat tertata dan sejuk, nyaman dan tidak menakutkan, sehingga dapat menjadi tempat alternatif wisata,” katanya menambahkan. Di tengah-tengah pembicaraan di pondok penerima tamu, terdengar tilpon berdering, memanggil. Tidak lama Pak Dicky kembali “Baru saja permohonan Sr Vita, untuk penambahan inisial OSU pada nama 28 nama Ursulin, diizinkan,” katanya dengan nada mantap. Saat pendudukan Jepang di Indonesia, selama PD II, banyak Suster Ursulin Belanda dari semua komunitas yang ditawan, terpisah-pisah, bahkan tidak jarang dipindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain dalam keadaan yang memprihatinkan. Seperti kamp Kramat dan Tjideng di Jakarta; kamp Halmahera, Lampersari dan Candi yang terletak di Semarang, juga kamp yang ada di Solo. Bahkan 2 biara Ursulin juga pernah dijadikan Kamp tawanan seperti Supratman-Bandung, dan Cor-Jesu Malang. Saat kelam dan derita itu, tercatat 44 Suster Ursulin meninggal akibat ditawan. Tidak hanya 44 orang saja, namun banyak Suster yang setelah keluar dari kamp, kemudian jatuh sakit dan meninggal karena menderita dalam kamp. | Yang masih hidup, setelah Indonesia merdeka, masih menyisakan trauma panjang, sehingga banyak para suster yang beristirahat dan berobat ke Belanda ataupun kembali ke Belanda untuk seterusnya. Suatu hari, ada email dari seorang pimpinan Suster di Belanda yang menanyakan makam seorang suster kelahiran Belanda dan yang meninggal di Indonesia saat pendudukan Jepang sekitar tahun 1945. Sederhana. Rupanya salah seorang keluarganya menanyakan di mana letak makamnya. Yang terbayang langsung adalah prasasti nama Suster itu dan ‘menologium’ (riwayat hidup singkat)-nya, karena setiap suster yang meninggal di Indonesia, ada menologiumnya. Syukurlah proses pencarian tidak sulit, tidak memakan waktu lama, karena informasi segera di dapat, sehingga tidak sampai seminggu data sudah dikirim ke Belanda. Bagaimana dengan yang lain? Mengenang para Suster Ursulin di masa berat itu, sungguh menyisakan rasa hormat terima kasih tak terhingga. Mereka berjasa dalam melanjutkan penanaman nilai-nilai pendidikan bagi anak-anak dan kaum remaja perempuan dari para pendahulu. Oleh karena itu tidak berlebihan bila, penelusuran PRASASTI menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghargai jasa mereka. Terlebih lagi bagi para Suster Ursulin Pionir, para pendahulu yang dengan mempertaruhkan jiwa raganya meretas pendidikan di tanah ini, namanya tak pernah ditemukan di makam mana pun, selain hanya cerita saja. Suatu ironi. Penelusuran Tim Buku hari itu, Selasa 25/5/2021 dilakukan selain untuk riset materi buku sejarah juga untuk rencana pembuatan prasasti. Semoga, suatu saat, ketika ada dari keluarga para suster, entah generasi yang mana, yang ingin tahu, sekedar tulisan namanya dapat menemukannya dengan mudah. -+- |
Sabtu, 05 Juni 2021
Pemandu Yang Baik Mengedukasi Pengunjung
| Pemandu yang baik mampu menjelaskan koleksi yang dipamerkan serta mampu membuka mata pengunjung sebuah wawasan baru.
Masyarakat dapat belajar berbagai hal dengan mengunjungi museum kemudian memperhatikan penjelasan penjelasan pemandu. Dari penjelasan pemandu, pengunjung dapat mempraktekkan di rumah apa yang didapat dari kunjungannya ke museum. Contohnya adalah listrik, masyarakat setiap hari selalu membutuhkan energi listrik. Apa itu listrik, bagaimana mendapatkannya? Dan berbagai hal lainnya. Untuk mengetahui tentang listrik, masyarakat dapat belajar dengan berkunjung ke museum listrik. Pemandu akan menjelaskan mulai dari sejarah sampai pemanfaatan dan penghematannya. Usai kunjungan masyarakat dapat mempraktekkan penggunaan dan memaksimalkan manfaat listrik juga mengetahui cara menghemat biaya penggunaan listrik. Contoh lain adalah kertas atau dokumen. Masyarakat pasti memiliki dokumen, bila dokumen yang rusak seperti akte dan lainnya, kemana harus memperbaikinya? Masyarakat dapat memanfaatkan Arsip Nasional atau Pusat Konservasi untuk memperbaiki mendapat penjelasan dari pemandu bagaimana merawat dokumen dengan baik. Dari contoh tersebut dapat diambil kesimpulan seorang pemandu museum sangat dibutuhkan bukan hanya sebagai pemandu yang menjelaskan sebuah benda tetapi yang mengedukasi masyarakat untuk mengenal, memanfaatkan, memelihara dan mene- | mukan pengetahuan atau wawasan baru atas sebuah benda disekitarnya yang digunakan untuk menunjang pekerjaan atau kegiatan harian. Kesimpulan tersebut muncul sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, bagaimana instansi museum mengedukasi masyarakat agar museum semakin dikenal. Pemandu yang tersertifikasi merupakan sarana penting bagi museum dalam mengedukasi masyarakat. Namun sertifikasi tidak cukup, melalui pelatihan, seminar, workshop dan webinar yang diselenggarakan IPMI seperti ini para pemandu disegarkan kembali serta ditingkatkan kemampuan mengedukasi masyarakat yang berkunjung ke museum. Pemandu yang baik menjadi edukator bagi masyarakat yang berkunjung. Bila Masyarakat terkesan dengan penjelasan pemandu, dengan sendirinya akan mempraktekkan apa yang didapat dan menceritakan pengalaman berkunjung ke museum kepada orang-orang disekitarnya. Jawaban atas pertanyaan dan kesimpulan itu muncul pada Webinar Pemandu wilayah Bali, NTB dan NTT Sabtu 29 Mei 2021 yang diselenggarakan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) sebagai ajang Silaturahmi dan Sharing para pemandu sekaligus peningkatan pelayanan dan pengetahuan pemandu. Nara sumber webinar antara lain Bpk. Bertold Sinaulan SS, Dewan Pembina IPMI Pusat, Ibu Elly Tumiwa S.ST.Par Dewan Penasehat IPMI Pusat dan Ibu Arifanti Murniawati, S.hum Instruktur Pelatihan IPMI Pusat.*** |
Senin, 31 Mei 2021
MILENIUM PANCASILA
Sebuah Pertunjukan Musikal Virtual dalam rangka Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan oleh sekolah Ursulin SANTA URSULA BSD bekerja sama dengan EKI DANCE COMPANY, berjudul MILENIUM PANCASILA
Sabtu, 29 Mei 2021
Bedah Buku Moh. Amir Sutaarga
| Siapa Mohammad Amir Sutaarga? Mengapa diusulkan menjadi Bapak Permuseuman Indonesia? Apa saja karyanya? Beberapa pertanyaan tersebut menjadi alasan Museum Ursulin hadir dalam bedah buku M. Amir Sutaarga, Bapak Permuseuman Indonesia yang terselenggara berkat kerjasama Kemdikbud, Museum Kebangkitan Nasional, Amida Paramita Jaya didukung oleh Komunitas Jelajah dan TVRI. Bedah buku ini diselenggarakan di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), Selasa 18 Mei 2021. Buku Moh. Amir Sutaarga adalah karya Bpk. Nunus Supardi, budayawan sekaligus sesepuh Amida Paramita Jaya. Bedah bukunya oleh Bpk. Siswanto mantan kepala Museum Nasional. Menurut Pak Siswanto, buku ini sudah menggambarkan perjuangan Bapak Mohammad Amir Sutaarga atau yang disingkat MAS dalam memajukan dunia permuseuman di Indonesia, meski beliau tidak sengaja “kecemplung” di dunia museum. Dalam buku tersebut dikisahkan Pak MAS putra asli Rangkas Bitung Banten lahir 5 Maret 1928. Semasa perang kemerdekaan menjadi tentara dengan pangkat terakhir Letnan II (Menurut Bp. Nunus , Letnan II ini suatu pangkat yang lumayan tinggi) sebelum “kecemplung” ke dunia permuseuman. Saat kebingungan melanjutkan karir di militer atau memilih dunia lain, Pak MAS pada 1948 bertemu dengan seorang ilmuwan Belanda yang bekerja di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBGKW), yang bernama Dr. A. N. J. Th. A Th. Van der Hoop. KBGKW adalah sebuah lembaga kebudayaan yang tugasnya melakukan penelitian dan pendokumentasian kebudayaan kesenian dan ilmu pengetahuan di zaman kolonial. Pak MAS menjadi asisten Tuan Van der Hoop dan menyerap ilmunya. | Desember 1949 setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Pak MAS bersama beberapa tokoh di bidang museum, kepurbakalaan dan perpustakaan bertanggung jawab penuh menjaga seluruh aset dan koleksi saat mengambil alih KBGKW. Pak MAS selain pernah menjabat kepala Museum Nasional saat usia muda, beliau juga aktif mengembangkan museum daerah dan merintis undang-undang permuseum-an. Salah satu mimpi Pak MAS untuk mengembangkan Museum di Indonesia adalah menggagas musyawarah museum se-Indonesia dan mimpi itu terwujud menjadi Asosiasi Museum Indonesia. Meski berbeda nama dari mimpi yang diharapkan tetapi tujuan dan semangatnya sama yaitu memajukan museum di Indonesia. Pak Agus, Kepala Museum Kebangkitan Nasional yang ikut dimintai tanggapan terkait buku tersebut menyoroti keunggulan hidup spiritual Pak MAS yang rajin Sholat dibarengi puasa. Spiritualitas hidup Pak MAS ini belum tercatat di buku tersebut. Bpk. Wani Raharjo, Akademisi yang ikut membedah buku melihat, Pak MAS lebih menekankan fungsi Museum untuk pendidikan. Waktu beliau masuk kampus beliau mulai mengajar pengantar Museum dan memperkenalkan pengertian Museum itu apa dan bagaimana kerja Museum. Beliau juga memaparkan kerja multidisiplin dalam Museum. Dari pendapat para narasumber serta perjuangannya dalam dunia permuseuman yang terekam dengan baik oleh Pak Nunus, ketokohan seorang Mohammad Amir Sutaarja dalam dunia museum tidak diragukan lagi. Sangat layak bila Pak MAS menjadi bapak permuseuman Indonesia.*** |
Langganan:
Postingan (Atom)
Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial
Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...
-
Hari Museum Indonesia tahun 2019 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Grebeg Museum (=ramai-ramai mengunjungi museum...
-
Setiap kita ke museum apakah kita baca semua teksnya? Seperti apakah teks yang sesuai dan enak dibaca? Ibu Ajeng Ayu Arainikasi...
-
Habyt atau model pakaian Para Suster awalnya memakai pakaian biara warna hitam panjang sampai di mata kaki dengan gempt di dada warna p...














