Minggu, 07 Februari 2021

Acara 165 Tahun Ursulin



Sebagai rangkaian awal acara 165 tahun, mari kita mengenal lebih dalam Biara, Asrama, dan Sekolah Santa Maria Juanda-Jakarta, menapak tilas sejarah sekaligus mengenal kehidupan biarawati Ordo Santa Ursula (OSU) di Biara Santa Maria Juanda Jakarta. 

Disiarkan oleh Hidup TV dalam "Tour the Biara Episode 16: Biara Santa Maria"

Sabtu, 6 Februari 2021 

Pukul 09.30 WIB 

Via link: https://youtu.be/I32CKvr0T-8

Jangan lupa SHARE, LIKE👍 dan SUBSCRIBE🔔🙏Tuhan memberkati

Senin, 01 Februari 2021

Mutu Derajat Jurnalis

Budaya jurnalistik yang tidak beretika dalam dunia modern saat ini menjadi ‘tsunami’. Tsunami itu air yang banyak dan bisa membu-nuh kita. Tsunami informasi berarti informasi yang sangat banyak dan tidak terbendung. Tidak lagi ada etika dan tata krama dalam sebaran informasi.

Sebelum dunia internet dikenal, setiap jurnalis yang melaporkan berita selalu menyertakan sumber kutipan. Bagaimana melihat jurnalisme dalam era internet? Pertanyaanya kita sebagai pembaca bukan mana benar dan salah beritanya, tetapi bagaimana kita mengukur derajat keperca-yaan media yang kita baca. Bila kita menulis, memilih sumber, memilih kutipan kemudian mempublikasikan atau sekedar memviralkan atau memforward berita dari Whatsapp, facebook dan sosial media lainya pertanya-annya adalah apa yang membuat kita dipercaya oleh masyarakat pembaca WA atau media sosial itu?

Tugas utama jurnalis adalah memberitakan kebenaran yaitu kebenaran fungsional yang dibu-tuhkan masyarakat, bukan kebe-naran teologis, bukan kebenaran filsafat juga bukan kebenaran ideologi. Arti kebenaran fungsional itu kebenaran sehari hari yang bisa direvisi dan diperbaiki layaknya ilmu pengeta-huan, sejarah dan sebagainya.

Esensi jurnalisme adalah verifikasi, bedakan dengan hiburan, propaganda, fiksi infotainment atau seni. Oleh karena itu jurnalis harus bersikap setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi dalam liputan seperti nama lengkap, tujuan wawancara, email dan seterusnya; bersandar pada reportase sendiri dan menyadari prinsip urutan sumber dimana sumber pertama lebih bisa diandalkan dari sumber kedua dan seterusnya. Juga bersikap rendah hati, dalam memverifikasi perlu pikiran terbuka.

Untuk memverifikasi, pertanyaan yang baik mencerminkan keterbukaan pikiran dari 5W1H dan bukan pertanyaan tertutup dengan jawaban ya atau tidak.

Penggunaan sumber anonim dengan ketentuan bila sumber tersebut berada pada lingkaran pertama peristiwa berita atau untuk keselamatan sumber tersebut bila identitasnya terbuka.
Sumber anonim harus lebih dari satu dan independen satu dengan yang lain. Sumber anonim harus berjanji bahwa perjanjian ke anoniman batal bila dia terbukti menyesatkan atau beritanya tidak benar.

 Paparan tentang jurnalistik itu disampaikan oleh jurnalis senior dari Human Rigths Watch Bpk. Andreas Harsono sebagai narasumber webinar “Bagaimana menilai jurnalisme bermutu dalam tsunami informasi?”, yang diselenggarakan oleh Museum BENTENG HERITAGE dan Persaudaraan PERTIWI, didukung AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia), KOMJEL (Komunitas Jelajah) dan Komunitas Historia Indonesia, pada Rabu 27 Januari 2021 Jam 19.00 WIB. Dalam webinar tersebut Panitia juga menghadirkan sejarahwan Prof. Peter Carey.

Menurut Prof. Peter Carey, peran dari wartawan selama masa sejarah sangat penting dan tidak diragukan. Tetapi wartawan paling sering diserap dalam politik, contoh pada perang Diponegoro, kalau Belanda mau mengakui kesalahan mereka tentang kesa-lahan kebijakan yang mengakibatkan krisis maka mereka bisa kalah perang. Maka mereka membelokkan sejarah dengan cerita bahwa Diponegoro melawan karena frustasi tidak jadi sultan dan tidak mau ada modernisasi saat Belanda melebarkan jalan di areal kediamannya. Ada kesan siapa menang akan menulis sejarah.

 Prof Peter berpesan agar kita menjadi jurnalis yang berani menuliskan kebenaran “Kebohongan besar menjadi salah satu biang keladi malapetaka besar di beberapa negara. Saat kita menulis sejarah, kita harus berani menulis yang benar. Jangan takut mengutarakan sesuatu yang tepat kepada pemimpin. Kita harus berani membongkar yang busuk. Kalau kita tidak membongkar yang busuk maka akan merusak akar atau sendi suatu negara.“

“Tugas seorang sejarahwan adalah mengungkapkan kebenaran yang menjadi peninggalan abadi sekaligus jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.” Pungkas Prof Peter. ***

Selasa, 26 Januari 2021

Santa Angela Merici dan Relikwinya

Museum Ursulin Santa Maria mempunyai relikwi Santa Angela Merici. Relikwi ini mengingatkan kita akan Santa Angela yang penuh rahmat, di mana rahmat itu berasal dari Allah sendiri.

Rahmat-rahmat itu antara lain:
 Rahmat mengantar doa-doa dan permohonan kita kepada Allah dengan perantaraan Tuhan Yesus
 Rahmat untuk tetap bertahan dalam masa yang sulit, maju sampai akhir dan bila perlu menempuh hidup baru
 Rahmat untuk mengampuni dan menerima sesama dengan segala kekurangannya
 Rahmat mendampingi orang yang sakit bahkan orang yang ngajal untuk kembali kepada Sang Pencipta dengan damai
 Rahmat untuk menghibur orang yang susah
 Rahmat untuk mendidik terutama anak-anak, gadis-gadis dan perempuan
 Rahmat keberanian untuk memulai sesuatu yang baru
 Rahmat kesetiaan dan peka mendengarkan Roh Kudus
 dst
Jadi relikwi Santa Angela itu mempersatukan kita dengan rahmat itu dan Rahmat Allah ini dapat dirasakan sepanjang masa.

Kami percaya bahwa kehadiran Santa Angela telah menghadirkan kasih Allah sendiri, lengkap dengan muzijat penyembuhan-Nya, sembuh dari keterasingan.

Jadi bagi Museum Ursulin Santa Maria, kehadiran Relikwi Santa Angela meneguhkan iman kami akan kehadiran Santa Angela dan kehadiran Tuhan Yesus yang adalah kekasihnya, dan bersama relikwi Orang Kudus lainnya, meneguhkan iman kami akan Gereja sebagai Persekutuan Orang Kudus.

Dan secara khusus melalui Santa Angela kita dapat memohon rahmat keberanian untuk bersama-sama umat manusia mengatasi pandemic COVID 19 dan menem-puh hidup baru, cara baru dalam berbakti kepada Tuhan.

Senin, 25 Januari 2021

Santa Angela Merici


Santa Angela Merici adalah pendiri Kompani Santa Ursula, di Brecia - Italia tahun 1535. Para pengikut Santa Angela disebut Ursulin. Museum Santa Maria yang berada di dalam kompleks biara Ursulin Santa Maria, merupakan saksi sejarah keberadaan dan perjuangan para Ursulin. Para suster Ursulin ini adalah Pendidik Perempuan Pertama di Indonesia.
Santa Angela diperingati setiap tanggal 27 Januari, untuk menyambut hari Pestanya ada beberapa video, di mana para sahabat museum Santa Maria dapat mengenal lebih dekat dengan Santa Angela Merici, dengan membuka tautan berikut: 

https://youtu.be/A536jQhOhBg 
https://www.youtube.com/P6Q-0Gfgd18

Kamis, 21 Januari 2021

Santa Angela Merici di Museum Ursulin Santa Maria:

Di (dalam) setiap museum terdapat bagian yang diutamakan, karena di situ terdapat point awal yang menjadi tema atau visi Museum itu.

Di Museum Ursulin Santa Maria, yang menjadi tema utama adalah tentang pendidikan bagi para gadis, sekolah berasrama dan pendidiknya, yaitu para biarawati Ordo Santa Ursula (para Ursulin), pendidikan bagi perempuan ini di Indonesia dirintis pertama kalinya, pada tahun 1856 di Jalan Noordwijk – Batavia (sekarang Ir. H. Juanda) nomor 29 Jakarta.

 Uni Roma Ordo Santa Ursula, salah satu cabang keluarga rohani bernama Kompani Santa Ursula atau Serikat Santa Ursula, didirikan oleh Santa Angela Merici (tahun 1474 – 1540), di Brescia – Italia. Pada zaman sekitar abad 15 – 16, serikat ini sangat istimewa karena merupakan pembaktian diri para perempuan kepada Tuhan yang spiritualitasnya atau semangatnya dapat kita dalami melalui kata-kata Santa Angela, yang tertuang dalam regula, warisan dan nasihat Santa Angela. Juga dengan merenungkan cara dan teladan hidupnya.

Kata-kata Santa Angela, terutama Regula telah memberi hidup dan semangat serta struktur kepada Serikat Santa Ursula. Santa Angela memberi teladan hidup yang dibaktikan sepenuhnya kepada Tuhan dan dalam mendirikan Serikat Santa Ursula terinspirasi oleh Roh Kudus karena relasi beliau yang mendalam dengan Tuhan. Tuhan yang beliau hayati sebagai kekasih.

 Keprihatinan beliau akan keadaan masyarakat dan gereja pada waktu itu, terutama yang diakibatkan oleh perang yang berdampak sangat buruk bagi para perempuan dan gadis-gadis. Santa Angela merenungkan: dalam menghayati kehidupannya, perempuan (juga) mendambakan dapat memusat-kan hidupnya, cintanya, tenaganya, waktunya kepada Tuhan. Pendeknya berbakti sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai jawaban kepada Tuhan yang lebih dahulu mencintai dan mengasihi kita.

Seperti dalam Kitab Ulangan 6: 4 – 7, perempuan juga dipanggil untuk menghidupi Perjanjian Allah Yahwe dengan umat-Nya. Musa berkata kepada Israel: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita hanya satu. Hendaknya engkau mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan (menetap dalam hatimu), haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
Santa Angela mencintai Tuhan sepenuhnya, dengan sifat keibuannya yang menonjol beliau membimbing para perempuan dan mengumpulkan puteri-puterinya.

Dari pertemuannya dengan para perempuan dan gadis yang minta bimbingan kepadanya, Santa Angela merenung: Apakah benar-benar mungkin tidak ada orang yang terpikir untuk melindungi hak-hak Allah dan mencari solusi masalah seperti misalnya seorang gadis yang berkata: “Saya merasa Tuhan menginginkan saya bagi diri-Nya, tetapi orang tua saya yang sudah lanjut usia membutuhkan saya, mereka mencarikan suami untuk saya, tapi saya merasa bahwa hidup pernikahan bukanlah untuk saya”.
 Murid-murid (pengikut) Angela adalah gadis-gadis muda yang hatinya terpaut pada Kristus. Gadis-gadis ini telah jatuh cinta pada-Nya dan berniat hidup sebagai mempelai-Nya.

 Akhirnya Santa Angela mendirikan Serikat Santa Ursula dan memberi Regula sebagai pedoman dasar hidup mereka. Dengan menjadi anggota Serikat Santa Ursula, perempuan dan para perawan tetap dalam posisinya di tengah masyarakat, tetapi mereka telah dikukuhkan disatukan untuk melayani Tuhan yang Agung, dan diberi hadiah yang istimewa, yaitu (Allah telah memilih mereka) menjadi puteri kesayangan malahan mempelai yang sejati dan kudus dari Putera Allah. Martabat yang agung ini bukan untuk suatu ambisi menaikkan tingkat sosial tetapi wewenang untuk pelayanan cinta.

Dalam membimbing puteri-puteri, Santa Angela menasihatkan agar …. dalam bertindak, motivasinya hanya karena cinta kepada Tuhan dan kebahagiaan jiwa-jiwa. Inilah pedoman bagi puteri-puterinya bila mengadakan pembedaan roh.
 
Bagi para pengkutnya Santa Angela meninggalkan tulisannya, selain Regula ada Nasihat dan Warisan. Bab-bab dari Nasihat St. Angela memuat norma-norma bagi pemimpin puteri-puterinya, untuk membantu mereka melatih para anggota Serikat St. Ursula. Norma-norma inilah yang selanjutnya menjadi kriteria dasar dari Pendidikan Ursulin.

 Kemudian dalam sejarahnya, puteri-puteri Santa Angela menjadi Ursulin, menjadi pendidik dan menyebarkan semua prinsip yang lahir dari Bunda Angela ke seluruh dunia.

 Prinsip pendidikan bagi perempuan dan para gadis telah sampai di Indonesia berkat Ursulin dari Sittard – Belanda, yang mulai berkarya tahun 1856.

 Sekarang, Angela Merici telah mendapat tempat tersendiri di dalam buku-buku teks sejarah pendidikan, di antara para ahli pendidikan.

Workshop di Penghujung Tahun 2020

 

Foto oleh Bp. Adang Suryana

Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) Dirjen Kebudayaan Kementerian Dikbud bersinergi dengan AMI DKI Jakarta Paramita Jaya menggelar Pelatihan Museum dan Transformasi Digital. Hotel Desa Wisata TMII dipilih panitia yang diketuai Bapak Adang Suryana, Wakil ketua II Paramita jaya sebagai tempat penyelenggaraan acara selama dua hari .

 Pemateri Hari ke – 1 Rabu 16/12/2020 dimulai Pukul 09.00 oleh Direktur PTLK, Bapak Judi Wahjudin. Judul Akselerasi Digital Society untuk Museum menjadi tema sesi pertama sekaligus kata sambutan yang menekankan pentingnya museum mengikuti perkembangan dunia teknologi.

 Cindy Tan pemateri berikutnya dari museum MACAN memberi judul Eksibisi Museum dan Strategi Digital pada sesi berikutnya dengan fokus pembahasan Peran Media Digital dalam Sebuah Museum. Menurutnya, Dunia digital saat ini dipengaruhi pandemi.

 Media Digital adalah media yang dikodekan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin machine-readable beberapa Program-program komputer dan perangkat lunak seperti citra digital,digital video, video games; halaman web dan situs web, termasuk media sosial; data dan database; digital audio, seperti mp3, mp4 dan e-buku adalah contoh media digital.

 Peran media digital adalah sebagai alat bantu komunikasi dan pembelajaran untuk mendukung penyerapan informasi, edukasi, dan ilmu pengetahuan dalam museum. Media Digital Mengundang Orang Untuk Datang ke Museum. Museum dapat disejajarkan dengan pusat hiburan dan perbelanjaan serta destinasi pariwisata.
 
Penggunaan media digital untuk mendukung informasi yang disediakan dalam ruang pameran berperan sebagai daya tarik dan ‘wow factor’ yang mendukung orang banyak dari berbagai latar belakang untuk datang ke dan mengalami apa yang dihadirkan oleh museum.

 Sesi ketiga diisi Bapak Punto Argari Sidarto dengan teori dan praktek Perancangan Pameran Virtual-daring di Museum. Dalam paparan awal Pak Punto menjelaskan, konsep perancangan pameran museum tidak boleh lepas dari visi misi museum itu sendiri.

 Pada saat perancangan konsep tidak boleh lepas dari peran kurator. Setelah konsep terbentuk baru dibuat kerangka alur dan berlanjut ke skenario. Di skenario inilah peran kurator sangat besar karena muatan materinya. Dari skenario bisa berlanjut ke produksi atau dibuat narasi dan storyboard terlebih dahulu.

 Selepas paparan ini, panitia membagi peserta menjadi beberapa kelompok untuk berlatih bekerja sama antar museum membuat sebuah konsep pameran yang kemudian dipresentasikan.

 Hari kedua (17/12/2020), sesi pertama diisi Mbak Yuli Fajar Wulandari, Humas Amida DKI PARAMITA JAYA dengan judul Transformasi Digital dalam Kehumasan Museum.

 Mengutip Frank Jefkins, Mbak Yuli menyatakan definisi Humas adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik ke dalam maupun ke luar, antara semua organisasi dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.

 Sedangkan Humas Digital (Digital PR) adalah bidang ilmu PR yang berfokus pada optimalisasi perkembangan dunia internet/digital yang mampu menyebarkan informasi dengan cepat dan menjangkau pengguna internet di belahan dunia manapun.

 Humas Digital Museum Community Relations antara lain, Media Relations, Digital Campaign, Social Media, Publikasi Online, Digital Ads & Endorsement, Government Relations, Customer Service Website, E-mail.


 Humas Digital Museum harus mempunyai Strategi Pendekatan Komunitas Online meliputi Riset terkait lokasi, usia, gender dan status sosial kemudian membangun reputasi dengan konten menarik dan edukatif dan terus memantau Digital Branded Traffic (Keberhasilan branding institusi di internet) 

 Beberapa Strategi Social Media Marketing antara lain Menggunakan hashtag atau keyword, Memperhatikan waktu prime time setiap media social. Promosi oleh Influencer, memanfaatkan testimoni pengunjung atau khalayak untuk share yang tinggi serta Sering berinteraksi secara online, terutama di golden time, yakni 1 jam pertama saat konten dipublikasikan.

 Usai paparan Mba Yuli, dilanjutkan pemateri hebat lainnya tentang Media Sosial Museum dan Pemasaran Digital , Mas Reza Zefanya Mulia dari Museum MACAN.

 Mas Reza mengajak museum mengoptimalkan konten dengan memecah konten yang sudah dibuat menjadi beberapa konten untuk media sosial sesuai target audiens. Kemudian pelajari, pahami dan maksimalkan fitur yang ada di setiap aplikasi sosial media untuk mendukung konten.

Dari hasil publikasi di sosial media, museum harus tanggap dan bereaksi cepat apabila audiens memberi respon atas konten yang di publish. Reaksi cepat itu menandakan bahwa kita dekat dengan audiens. Dari hasil pendekatan tersebut museum dapat mengkonversi menjadi pertemuan lanjutan, penjualan souvenir /merchandise, kehadiran dalam program publik dan rujukan.

Usai santap siang dilanjutkan pemateri akhir sekaligus praktek (Workshop) oleh Ibu Resita I. Kuntjoro-Jakti tentang membuat konten digital marketing dan membuat planning promo kegiatan di media sosial.

 Komponen Strategi Pemasaran Digital antara lain menentukan USP (Unique Selling Point) bisnis, memahami personal pelanggan, mendefinisikan tujuan dan KPI pemasaran (Spesifik, Terukur, Dapat dicapai Relevan, Sasaran Berbatas Waktu), Identifikasi target pasar, melakukan analisis kompetitif, Kelola dan alokasikan sumber daya dengan tepat untuk mencapai tujuan, Pantau dan optimalkan kinerja kampanye.

 Panduan untuk membantu pembuatan konten visual dan teks yaitu Narasi, Warna, Typeface/Font, Kalender, Fotografi (mood board), Konten: Pilar, Visual, Copy Text.

 Pilar topik konten memudahkan pembuatan Kalender Konten untuk rencana editorial. Topik apa saja yang bisa digunakan untuk pilar konten? Antara lain: Produk, Info program/Kegiatan, Kontekstual (ucapan Hari Besar, dll), Brand, Sejarah. Berapa jumlah pilar yang sebaiknya dibuat? Cukup 3 - 5 topik Konten Visual merupakan aset visual yang digunakan/dirancang untuk konten mengikuti kaidah identitas brand. Aset dapat berupa still photo, animasi ataupun video yang atraktif. Dapat menggunakan logo brand atau ciri visual khas identitas brand (seperti swoosh, ilustrasi, dll). Perhatikan ukuran aset visual dibutuhkan untuk setiap platform media sosial.

 Konten Copy Text pada konten caption dibuat dengan isi yang menarik keingintahuan, informatif, dapat diandalkan, menggunakan gaya bahasa yang cocok dengan target sasaran, dan mendorong keterlibatan tinggi (untuk like, comment, share), juga klik tinggi. Penggunaan tagar/hashtag dalam konten sesuai netiket adalah maksimal 3 tagar. Sisa tagar lainnya dipasang pada kolom komen. Tidak terlalu panjang membuat kalimat atau paragraf pada caption.

 Sesi pemaparan oleh Ayumurti Bulandini, S.Sn, M.Sn asisten Ibu Resita I.Kuntjoro-Jakti diakhiri dengan workshop dan presentasi oleh peserta.

 Workshop yang sangat menarik ini dihadiri perwakilan dari 35 museum anggota Amida DKI Paramita Jaya. Sangat disayangkan banyak museum yang tidak mengirimkan wakilnya karena materi workshop sangat bermanfaat bagi museum dalam menghadapi perkembangan teknologi dan di masa pandemi sekarang ini. Selain itu workshop di akhir tahun 2020 ini menjadi sarana temu kangen setelah hampir setahun pertemuan di udara.***

Minggu, 10 Januari 2021

PANGGILAN SUCI DUA SAHABAT

Gambar Yesus dibaptis oleh Yohanes, sumber:  https://images.app.goo.gl/9tkHc7q7t8aLPz6v8

 Ketika Yohanes sudah saatnya mewujudkan panggilannya, ia segera pergi ke padang gurun dan tinggal di sana. Yesus juga sering mengunjungi rumah Elisabeth dan terus berelasi akrab dengan dengan anaknya Yohanes. Mungkin Yesus juga pernah bersama-sama Yohanes pergi ke Padang Gurun. Dan kalau Yohanes mengajar murid-muridnya, ia datang ke dekat sungai Yordan dan kemudian membaptis mereka.

Suatu saat Yesus juga datang ke dekat Sungai Yordan di mana Yohanes sedang mengajar orang banyak dan Yohanes berkata “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”
Kemudian banyak diantara mereka yang datang dan memberikan diri untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Namun banyak juga orang yang bertanya-tanya satu sama lain: “Siapakah dia?” “Mengapa dia membaptis? “Apakah dia mesias?” Mendengar orang banyak saling bertanya, akhirnya Yohanes menjawab: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasudnya pun aku tidak layak.”

 Tidak lama kemudian Yesus muncul dan ikut bersama orang-orang lain datang kepada Yohanes untuk dibabtis. Ketika Yesus sampai di depan Yohanes dan siap dibaptis, sesaat Yohanes terhenyak, ternyata Yesus sahabatnya ada di depannya.

Ketika Yohanes sedang membabtis Yesus, Yohanes melihat burung merpati turun ke atas-Nya dan ia juga mendengar suara “Engkaulah anak-Ku yang kukasihi, kepadamu-lah Aku berkenan.” (Lihat: Injil Lk 3: 15-22).

 



 

Persahabatan Yesus dan Yohanes Pemandi 

 


Gambar Lukisan “Madonna Del Cardellino”, lukisan Rafaello Sanzio (1483-1520)

Tiga sosok: Maria, Yesus dan Yohanes Pemandi. Maria yang masih sangat muda dan Yesus serta Yohanes yang masih balita. Gambar itu ditemukan di salah satu kamar biarawati Ursulin zaman dulu, sekarang menjadi salah satu koleksi Museum Ursulin Santa Maria.

Gambar ini mengingatkan saya, akan persahabatan antara Yesus dan Yohanes Pemandi, yang dapat kita ketahui dari ke empat Injil. Yesus dan Yohanes berbeda usia 6 bulan (Luk. 1: 36).  Penginjil Lukas menulis bahwa kedua balita itu sudah saling mengenal ketika masih di kandungan. Karena ketika Elisabeth, ibunda Yohanes bertemu Maria di rumah Elisabeth (waktu itu Maria sudah mengandung Yesus dari Roh Kudus), Yohanes dalam kandungan Elisabeth melonjak dan Elisabeth penuh dengan Roh Kudus (Luk 1:41).

Dahulu Yohanes dan orang tuanya tinggal di Yudea, dekat Yerusalem, sedangkan Yesus bersama Maria dan Yusuf di Nazareth, di Galilea (Luk 2: 39). Dari sejak lahir kedua balita ini sudah membuat tercengang tetangga-tetangga dan sanak saudara orangtuanya. Kelahiran Yohanes membuat Zakaria, ayahnya bisu, tidak bisa bicara apa-apa, sampai-sampai mereka itu setelah merenungkannya berkata “Menjadi apakah anak ini nanti?” Lukas menulis, “tangan Tuhan menyertai bayi Yohanes” (Luk 1: 66).  Sedangkan Lukas menulis tentang Yesus, setelah menarasikan kelahiran-Nya “Anak ini bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”.

Yohanes pasti belajar mengenai Taurat dan pengenalan akan Allah menurut para nabi, mazmur puji-pujian, Kidung dari orangtuanya, terutama Zakharia ayahnya dan hidup sehari-hari dari ibunya Elisabeth. Sedangkan Yesus, dari Maria dan Yusuf. Karena Yusuf seorang tukang kayu, Yesus juga belajar menukang.

Menurut Lukas tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Besar kemungkinan bahwa ketika Yesus masih kecil, Ia dititipkan Elisabeth sehingga Yesus berteman baik dengan Yohanes. Dalam kunjungan ke Yerusalem itu lamanya kira-kira 2 minggu sampai satu bulan. Ketika di rumah Zakaria, Yesus juga ikut belajar tentang Taurat, pewartaan para nabi, Mazmur dst dari Zakaria seperti Yohanes. Sampai umur 12 tahun Yesus pergi ke Yerusalem, ke Bait Allah. Mungkin Yohanes itu sekolah di Yerusalem, di kompleks Bait Allah, dan Yohanes tidak berkeberatan kalau Yesus  ikut. Sampai keduanya itu akrab dan berteman sangat baik. Mereka mendalami dan mendiskusikan bersama Taurat dan kitab para Nabi, sampai suatu ketika orangtua Yesus mendapati Yesus duduk ditengah-tengah alim-ulama, setelah mencari Yesus 3 hari 3 malam. Yesus mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

Sejak pengalaman di Bait Allah itu Yesus makin sering ke rumah Elisabeth untuk menjumpai Yohanes dan belajar dari Imam Zakaria, juga hal-hal mengenai Bait Allah. Maria tidak berkeberatan Yesus ke rumah Elisabeth karena Maria dan Elisabeth bersaudara dan Maria sering mengunjunginya.

 

Jumat, 18 Desember 2020

Data Eksisting Museum Dibutuhkan untuk Pembinaan, Perlindungan dan Pengembangan




Perbedaan Data Eksisting Museum-Museum di DKI Jakarta antara Kementrian Kebudayaan dan Pemprov DKI serta Belum ada Bank Data yang jadi Referensi Valid untuk Evaluasi menjadi latar belakang Dinas Kebudayaan Provinsi DKI menyelenggarakan rapat online koordinasi pemutakhiran data museum di DKI Jakarta via zoom pada Kamis, 26/11/2020. 

Data Eksisting Museum-Museum di DKI Jakarta banyak Versi. Ada Museum di TMII tidak beroperasi tetapi tidak diketahui. Ada pula yang men-declare sebagai museum tetapi tidak diketahui jejaknya karena tidak masuk Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jakarta, Paramita Jaya. Alasan lainnya adalah Implementasi Pergub 149 dalam rangka melaksanakan pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan museum dan pengelolaan data dan informasi museum. Bapak Bayu Permana dari dinas Kebudayaaan Pemprov DKI menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan rakor.

Ia melanjutkan, tujuan dari rakor ini antara lain Memperoleh Data Lengkap Museum-museum di DKI Jakarta. Berdasarkan data valid yang sudah terkumpul pemprov dapat memberikan pembinaan dan arah bagi penyusunan program perlindungan, dan pengembangan permuseuman di DKI Jakarta kemudian mempersiapkan museum-museum DKI untuk Standarisasi Museum.

Prosesnya dimulai dengan sosialisasi di bulan November 2020 Kemudian input data dari setiap museum. Diharapkan akhir pekan pertama Desember 2020 sudah masuk semua datanya. Akhir pekan kedua diharapkan sudah selesai pengolahan semua data yang sudah masuk. Pengumpulan data dilakukan via googleform kemudian dilanjutkan pengiriman berkas berupa Soft copy.









Data yang terkumpul kemudian diserahkan ke suku dinas Jakarta Pusat, Jakarta Barat, atau sesuai lokasi museum. Selanjutnya di tahun 2021 antara bulan Januari sampai dengan Maret dilaksanakan verifikasi data melalui survey langsung atau kunjungan langsung ke museum oleh suku dinas. Sosialisasi hasil data survey dipublikasikan Maret sampai April 2021.

Perumusan kebijakan berdasarkan data survey yang terkumpul pada April sampai Desember 2021. Hasil dari seluruh proses tersebut kemudian di implementasikan pada tahun 2022.

Pak Bayu memberikan contoh perumusan kebijakan berdasarkan hasil evaluasi, bila ada beberapa museum berdasarkan survey ternyata tidak memiliki kurator maka dapat diusulkan untuk sertifikasi kurator dan kompentensi lain yang dibntuhkan museum.

“Contoh data di pemprov ada enam puluh enam museum dan tidak semuanya ada kurator. Dari data yang masuk bisa diusulkan untuk program kerjasama sertifikasi kurator. Tidak hanya sertifikasi kurator tetapi juga sertifikasi kompetensi yang lain. Dan program hanya dapat dilaksanakan berdasarkan data yang terkumpul valid.”

Dalam rakor tersebut juga dipaparkan petunjuk teknis pengisian data. Beberapa petunjuk teknis input data menggunakan google form antara lain pada pilihan jenis museum yaitu Museum Khusus yang memiliki satu cabang ilmu dan Museum Umum yang memiliki banyak cabang ilmu.

Pak Bayu mencontohkan museum khusus yaitu Museum Kepresidenan Balai Kirti, Museum MH Thamrin, Museum Taman Prasasti. Sedangkan Museum Umum yang memiliki banyak cabang ilmu antara lain Museum Sejarah Jakarta karena sifatnya ada banyak cabang ilmu dari Arsitektur, sosial politik dan lainnya.

Masih banyak hal-hal teknis lainya yang perlu penjelasan sehingga rapat koordinasi ini sangat penting agar staff museum dipermudah dalam proses pengisian data. Pada akhirnya tujuan pemerintah untuk memberikan pembinaan dan arah bagi penyusunan program perlindungan, dan pengembangan permuseuman di DKI Jakarta kemudian mempersiapkan museum-museum DKI untuk Standarisasi Museum dapat terlaksana dengan baik untuk kebaikan dan perkembangan dunia pariwisata dan pendidikan di DKI Jakarta.***

Sabtu, 05 September 2020

Museum, Masih relevankah Bagi Generasi Milenial?


 Karina Aulia mewakili millennial menyuarakan keinginan yang selama ini terpendam. Keinginan itu disampaikan Karina pada Temu Mugalemon edisi September 2020.

Museum Bank Mandiri sebagai pelaksana Temu Mugalemon menyelenggarkan acara tersebut lewat pertemuan online atau daring. Temu Mugalemon pada Kamis 3 September 2020 mengambil tema Museum, Masih relevankah Bagi Generasi Milenial?

Karina Aulia, Putri Duta Museum DKI Jakarta 2019, menolak dianggap sebagai pemateri karena merasa lebih pas memberikan sharing mewakili suara millenial.

Dalam sharingnya, Dara kelahiran 1992 ini menunjukkan paparan grafik dan informasi tentang millennial dan generasi Z (Gen -Z) . Milenial dikategorikan lahir pada 80an sampai 96 dan sesudahnya disebut generasi Z. Berdasarkan data grafik tersebut Karina menegaskan ia termasuk kategori milenial.

Kebiasaan umum milenial adalah rela mengeluarkan uang untuk menghargai pengalaman. Artinya mereka mau keluar uang berapapun hanya untuk menikmati sebuah pengalaman yang membuat mereka semakin bahagia. Maka museum seharusnya dapat membuat suatu program yang membuat millenial mengalami suatu experience atau pengalaman ‘bahagia’ itu.

Ia juga mengatakan bahwa belum pernah mengetahui museum mengundang pakar dari universitas dan bekerja sama dengan universitas membuka perkuliahan di museum, “
Museum menjadi pusat dari peradaban dan pendidikan seharusnya museum mengundang para pakar dari universatas. Jujur saya sebagai mahasiswa sejarah belum pernah diundang atau bekerja sama dengan museum atau kuliah di museum,”tuturnya. Karina Aulia, alumni fakultas sejarah Universitas Padjajaran berharap suatu saat harapanya terwujud.

Ia juga menyoroti jam operasional museum yang selalu office hour jam 17.00 tutup. “Beberapa museum buka hanya jam kantor, office hour jam 17.00 tutup. Kalo bisa lebih malam lagi karena memang millennial pulang kantor ya jam segitu.
Manusia membutuhkan entertainment di luar rumah. Sehingga kalo ada membership museum orang-orang millennial berminat untuk datang . Exclusive member sekaligus store discount, free admission, Gallery Rental. Bila museum dapat venue tempat yang bisa buat kerja, open space, tentu sangat menyenangkan sekali.

Hal lainnya adalah survey, museum harus membuat survey. Hal ini penting karena
milenial bekerja mengunakan survey demografi dan data sebagai strategi untuk mengambil langkah berikutnya.

Firman Haris, Kepala Museum Bank Mandiri, Pemateri kedua, mengamini sharing Karina Aulia , bonus demografi seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. “Saya terbantu oleh paparan Mba Karina, intinya adalah bonus demografi harus dimanfaatkan. Museum harus mendengar suara mereka. Salah satunya game, Millennial suka dengan game, museum harus dapat masuk melalui apa yang mereka akrabi, game itu salah satunya. Kemudian tata pamer museum harus diperbaiki karena sangat menentukan.

Senada dengan Firman Haris, Nara sumber ketiga dari III Musketeers Consulting R. Andi Kartika Utomo MBA, mengatakan Digital tecnologi adalah konspirasi pembunuh maut. Karena digital saja banyak yang mati bisnisnya ditambah covid-19 maka semakin terpuruk. Stagnation adalah mati, maka jangan sampai stagnan. Kalau tidak ada perubahan tidak ada transformasi maka tunggu saat kematian, apalagi menyasar millennial.

Fokus berubah bukan pada sesuatu yang lama tetapi fokus pada sesuatu yang baru. Ciri cirinya mereka tidak suka cash, dompetnya kosong bukan berarti tidak punya uang, sukanya e-money ada perpindahan model. Itu millennial sekarang.

 Milenial belum tertarik ke tempat bersejarah. Mengapa mereka malas ke museum? Persoalannya apakah kita connect dengan tradisional market seperti Museum Bank Mandiri yang dekat dengan pasar Asemka dan pusat transportasi umum. Ekosistemnya yang harus dibuat, ada food center, tidak hanya museum saja. Nilai sejarah, nilai budaya, nilai teknologi semuanya digabung. Nilai teknologi itu menggunakan teknologi. Bukan sekedar kampanyanyenya di media social. Kalau millennial mengatakan : “gila, seru nih!” adalah kombinasi antara fun ditambah knowledge ditambah selfie. Intinya adalah Inovasi harus, tetapi ditambah transformasi, itulah konsep penyajiannya.***

 

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...