Rabu, 09 Juni 2021

Mengunjungi EREVELD PANDU



 Gerbang masuknya megah, menjulang tinggi, dan dari kejauhan sudah terlihat hamparan permadani hijau dengan kayu-kayu palang putih berderet rapi dan bersih di atasnya. Di kiri kanan jalan menuju ke tempat itu banyak terdapat pepohonan hijau, asri. Kesannya terjaga dan terpelihara. Itulah Ereveld (=Makam Kehormatan) Pandu, di kota Bandung, salah satu dari 7 Ereveld yang tersebar di kota, Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Di Ereveld Pandu ini disemayamkan 28 nama Suster Ursulin Belanda yang meninggal di kamp-kamp tawanan semasa pendudukan Jepang.

 “Ereveld Pandu ini mempunyai luas 3 hektar,” jelas Penanggung jawab Ereveld Pandu, Bapak Dicky. Ia ramah menerima, dan tampak senang atas kedatangan kami karena dapat saling bertukar informasi, terlebih medsos yang menurutnya sangat penting untuk sosialisasi. “Ereveld ini, sengaja dibuat tertata dan sejuk, nyaman dan tidak menakutkan, sehingga dapat menjadi tempat alternatif wisata,” katanya menambahkan. Di tengah-tengah pembicaraan di pondok penerima tamu, terdengar tilpon berdering, memanggil. Tidak lama Pak Dicky kembali “Baru saja permohonan Sr Vita, untuk penambahan inisial OSU pada nama 28 nama Ursulin, diizinkan,” katanya dengan nada mantap.

 Saat pendudukan Jepang di Indonesia, selama PD II, banyak Suster Ursulin Belanda dari semua komunitas yang ditawan, terpisah-pisah, bahkan tidak jarang dipindah-pindah dari satu kamp ke kamp yang lain dalam keadaan yang memprihatinkan. Seperti kamp Kramat dan Tjideng di Jakarta; kamp Halmahera, Lampersari dan Candi yang terletak di Semarang, juga kamp yang ada di Solo. Bahkan 2 biara Ursulin juga pernah dijadikan Kamp tawanan seperti Supratman-Bandung, dan Cor-Jesu Malang. Saat kelam dan derita itu, tercatat 44 Suster Ursulin meninggal akibat ditawan. Tidak hanya 44 orang saja, namun banyak Suster yang setelah keluar dari kamp, kemudian jatuh sakit dan meninggal karena menderita dalam kamp. 
Yang masih hidup, setelah Indonesia merdeka, masih menyisakan trauma panjang, sehingga banyak para suster yang beristirahat dan berobat ke Belanda ataupun kembali ke Belanda untuk seterusnya.

 Suatu hari, ada email dari seorang pimpinan Suster di Belanda yang menanyakan makam seorang suster kelahiran Belanda dan yang meninggal di Indonesia saat pendudukan Jepang sekitar tahun 1945. Sederhana. Rupanya salah seorang keluarganya menanyakan di mana letak makamnya.

 Yang terbayang langsung adalah prasasti nama Suster itu dan ‘menologium’ (riwayat hidup singkat)-nya, karena setiap suster yang meninggal di Indonesia, ada menologiumnya. Syukurlah proses pencarian tidak sulit, tidak memakan waktu lama, karena informasi segera di dapat, sehingga tidak sampai seminggu data sudah dikirim ke Belanda. Bagaimana dengan yang lain?

 Mengenang para Suster Ursulin di masa berat itu, sungguh menyisakan rasa hormat terima kasih tak terhingga. Mereka berjasa dalam melanjutkan penanaman nilai-nilai pendidikan bagi anak-anak dan kaum remaja perempuan dari para pendahulu. Oleh karena itu tidak berlebihan bila, penelusuran PRASASTI menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghargai jasa mereka. Terlebih lagi bagi para Suster Ursulin Pionir, para pendahulu yang dengan mempertaruhkan jiwa raganya meretas pendidikan di tanah ini, namanya tak pernah ditemukan di makam mana pun, selain hanya cerita saja. Suatu ironi.

 Penelusuran Tim Buku hari itu, Selasa 25/5/2021 dilakukan selain untuk riset materi buku sejarah juga untuk rencana pembuatan prasasti. Semoga, suatu saat, ketika ada dari keluarga para suster, entah generasi yang mana, yang ingin tahu, sekedar tulisan namanya dapat menemukannya dengan mudah.


 -+-

Sabtu, 05 Juni 2021

Pemandu Yang Baik Mengedukasi Pengunjung

Pemandu yang baik mampu menjelaskan koleksi yang dipamerkan serta mampu membuka mata pengunjung  sebuah wawasan baru.

 Masyarakat dapat belajar berbagai hal dengan mengunjungi museum kemudian memperhatikan penjelasan penjelasan pemandu. Dari penjelasan pemandu, pengunjung dapat mempraktekkan di rumah apa yang didapat dari kunjungannya ke museum.

 Contohnya adalah listrik, masyarakat setiap hari selalu membutuhkan energi listrik. Apa itu listrik, bagaimana mendapatkannya? Dan berbagai hal lainnya. Untuk mengetahui tentang listrik, masyarakat dapat belajar dengan berkunjung ke museum listrik. Pemandu akan menjelaskan mulai dari sejarah sampai pemanfaatan dan penghematannya. Usai kunjungan masyarakat dapat mempraktekkan penggunaan dan memaksimalkan manfaat listrik juga mengetahui cara menghemat biaya penggunaan listrik.

 Contoh lain adalah kertas atau dokumen. Masyarakat pasti memiliki dokumen, bila dokumen yang rusak seperti akte dan lainnya, kemana harus memperbaikinya? Masyarakat dapat memanfaatkan Arsip Nasional atau Pusat Konservasi untuk memperbaiki  mendapat penjelasan dari pemandu bagaimana merawat dokumen dengan baik.

Dari contoh tersebut dapat diambil kesimpulan seorang pemandu museum sangat dibutuhkan bukan hanya sebagai pemandu yang menjelaskan sebuah benda tetapi yang mengedukasi masyarakat untuk mengenal, memanfaatkan, memelihara dan mene-
mukan pengetahuan atau wawasan baru atas sebuah benda disekitarnya yang digunakan untuk menunjang pekerjaan atau kegiatan harian.
 Kesimpulan tersebut muncul sebagai jawaban atas sebuah pertanyaan, bagaimana instansi museum mengedukasi masyarakat agar museum semakin dikenal. Pemandu yang tersertifikasi merupakan sarana penting bagi museum dalam mengedukasi masyarakat. Namun sertifikasi tidak cukup, melalui pelatihan, seminar, workshop dan webinar yang diselenggarakan IPMI seperti ini para pemandu disegarkan kembali serta ditingkatkan kemampuan mengedukasi masyarakat yang berkunjung ke museum.

 Pemandu yang baik menjadi edukator bagi masyarakat yang berkunjung. Bila Masyarakat terkesan dengan penjelasan pemandu, dengan sendirinya akan mempraktekkan apa yang didapat dan menceritakan pengalaman berkunjung ke museum kepada orang-orang disekitarnya.

 Jawaban atas pertanyaan dan kesimpulan itu muncul pada Webinar Pemandu wilayah Bali, NTB dan NTT Sabtu 29 Mei 2021 yang diselenggarakan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) sebagai ajang Silaturahmi dan Sharing para pemandu sekaligus peningkatan pelayanan dan pengetahuan pemandu.

 Nara sumber webinar antara lain Bpk. Bertold Sinaulan SS, Dewan Pembina IPMI Pusat, Ibu Elly Tumiwa S.ST.Par Dewan Penasehat IPMI Pusat dan Ibu Arifanti Murniawati, S.hum Instruktur Pelatihan IPMI Pusat.***

Senin, 31 Mei 2021

MILENIUM PANCASILA

Sebuah Pertunjukan Musikal Virtual dalam rangka Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan oleh sekolah Ursulin SANTA URSULA BSD bekerja sama dengan EKI DANCE COMPANY, berjudul MILENIUM PANCASILA

ada disini

Sabtu, 29 Mei 2021

Bedah Buku Moh. Amir Sutaarga

Siapa Mohammad Amir Sutaarga? Mengapa diusulkan menjadi Bapak Permuseuman Indonesia? Apa saja karyanya? Beberapa pertanyaan tersebut menjadi alasan Museum Ursulin hadir dalam bedah buku M. Amir Sutaarga, Bapak Permuseuman Indonesia yang terselenggara berkat kerjasama Kemdikbud, Museum Kebangkitan Nasional, Amida Paramita Jaya didukung oleh Komunitas Jelajah dan TVRI. Bedah buku ini diselenggarakan di Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), Selasa 18 Mei 2021.

 Buku Moh. Amir Sutaarga adalah karya Bpk. Nunus Supardi, budayawan sekaligus sesepuh Amida Paramita Jaya. Bedah bukunya oleh Bpk. Siswanto mantan kepala Museum Nasional. Menurut Pak Siswanto, buku ini sudah menggambarkan perjuangan Bapak Mohammad Amir Sutaarga atau yang disingkat MAS dalam memajukan dunia permuseuman di Indonesia, meski beliau tidak sengaja “kecemplung” di dunia museum.

 Dalam buku tersebut dikisahkan Pak MAS putra asli Rangkas Bitung Banten lahir 5 Maret 1928. Semasa perang kemerdekaan menjadi tentara dengan pangkat terakhir Letnan II (Menurut Bp. Nunus , Letnan II ini suatu pangkat yang lumayan tinggi) sebelum “kecemplung” ke dunia permuseuman. Saat kebingungan melanjutkan karir di militer atau memilih dunia lain, Pak MAS pada 1948 bertemu dengan seorang ilmuwan Belanda yang bekerja di Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (KBGKW), yang bernama Dr. A. N. J. Th. A Th. Van der Hoop. KBGKW adalah sebuah lembaga kebudayaan yang tugasnya melakukan penelitian dan pendokumentasian kebudayaan kesenian dan ilmu pengetahuan di zaman kolonial. Pak MAS menjadi asisten Tuan Van der Hoop dan menyerap ilmunya.
Desember 1949 setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Pak MAS bersama beberapa tokoh di bidang museum, kepurbakalaan dan perpustakaan bertanggung jawab penuh menjaga seluruh aset dan koleksi saat mengambil alih KBGKW.

 Pak MAS selain pernah menjabat kepala Museum Nasional saat usia muda, beliau juga aktif mengembangkan museum daerah dan merintis undang-undang permuseum-an. Salah satu mimpi Pak MAS untuk mengembangkan Museum di Indonesia adalah menggagas musyawarah museum se-Indonesia dan mimpi itu terwujud menjadi Asosiasi Museum Indonesia. Meski berbeda nama dari mimpi yang diharapkan tetapi tujuan dan semangatnya sama yaitu memajukan museum di Indonesia.

 Pak Agus, Kepala Museum Kebangkitan Nasional yang ikut dimintai tanggapan terkait buku tersebut menyoroti keunggulan hidup spiritual Pak MAS yang rajin Sholat dibarengi puasa. Spiritualitas hidup Pak MAS ini belum tercatat di buku tersebut.

 Bpk. Wani Raharjo, Akademisi yang ikut membedah buku melihat, Pak MAS lebih menekankan fungsi Museum untuk pendidikan. Waktu beliau masuk kampus beliau mulai mengajar pengantar Museum dan memperkenalkan pengertian Museum itu apa dan bagaimana kerja Museum. Beliau juga memaparkan kerja multidisiplin dalam Museum.

 Dari pendapat para narasumber serta perjuangannya dalam dunia permuseuman yang terekam dengan baik oleh Pak Nunus, ketokohan seorang Mohammad Amir Sutaarja dalam dunia museum tidak diragukan lagi. Sangat layak bila Pak MAS menjadi bapak permuseuman Indonesia.***

Jumat, 23 April 2021

Kudapan Virtual Pesta Ulang Tahun


Museum Ursulin Santa Maria ‘menyajikan’ Bitterballen dan Poffertjes, makanan khas Hindia Belanda pada abad 19 dalam webinar “The Living Heritage on Your Plate” untuk Memperingati 10 tahun museum Ursulin Santa Maria dan 165 tahun Biara, Asrama, dan Sekolah Santa Maria Juanda-Jakarta (Rabu, 31/3/2021)

 Penyajian kedua menu makanan dalam webinar tersebut sekaligus sebagai upaya melestarikan jejak sejarah Biara-Asrama-Sekolah Santa Maria Jakarta.

 Dalam webinar tersebut diputar film pendek proses pembuatan Bitterballen dan Poffertjes, kemudian penyajiannya. Proses pembuatan dan penyajiannya menggunakan peralatan milik museum dan SMK Santa Maria jurusan Tata Boga. Koki dan penyaji menggunakan baju produksi Tata Busana dengan model siswa-siswi SMK jurusan Tata Boga dan Perhotelan.

 Usai pemutaran film, M. Petra Timmer PhD Co-owner of TiMe Amsterdam, international museums & heritage consultants membahas sejarah Bitterballen dan Poffertjes.

 Bitterballen adalah kudapan khas negeri kincir angin Belanda yang populer berbentuk bola berisi daging cincang. Biasanya kudapan ini menjadi teman minum bir. Kenapa ada kata "bitter"? "bitter" diartikan "pahit". "Bitter" sendiri adalah rasa minuman beralkohol yang berasal dari ekstrak herbal yang biasanya rasanya pahit. Jadi, "Bitterbal" adalah bola-bola yang dimakan sebagai teman minum segelas "bitter" atau bir.

 Nama poffertjes berasal dari 2 kata yaitu poffer yang berarti pancake dan tje yang berarti mini. Jadi poffertjes adalah pancake yang berukuran mini dengan diameter 3 cm. Biasanya, kue mungil nan lembut dari Belanda ini disajikan bersama taburan gula halus.
Ine WawoRuntu Alumni TK-SMP St. Vincentius menjadi pembicara berikutnya. Ia memberi penjelasan berbagai artefak yang digunakan.

 Bu Ine memulai dari backdrop yang bertuliskan de Refter. Backdrop tersebut adalah foto dari ruang Refter atau ruang makan biara Ursulin di Noordwijk atau Juanda sekarang. Foto itu menggambarkan suasana ruang makan tahun 1875 sampai 1942. Baik KTLV maupun Tropen museum, universitas Leiden masing masing memiliki koleksi foto tersebut.

 Dari Backdrop beralih ke meja hidang yang bernuansa Art Noveau – Art Cfart yang tampak dari kaki meja dan sandaran kursi. Model kursi itu sampai sekarang masih digunakan di Belanda. Kemudian tempat untuk menyimpan makanan yang di Belanda disebut HOIKIST atau Peti Jerami. Jerami mengandung panas sehingga digunakan sebagai salah satu alat masak. Hoikist ini menjadi cikal bakal munculnya oven.

 Berbagai peralatan dan perlengkapan masak yang digunakan dalam produksi film pendek sebagian merupakan koleksi museum. Salah satu keunikan peralatan tersebut adalah koleksi Cutlery yaitu sendok garpu dan pisau berukir nama pemilik.
 Selain perlengkapan makan juga ditampilkan hasil produksi Tata Busana berupa kostum yang digunakan model Suster, Koki maupun Penyaji.
 Produksi film tentang proses membuat makanan, penyajian dan kostum dalam webinar tersebut sekaligus memperkenalkan jurusan yang dikelola SMK Santa Maria yaitu jurusan, Tata Boga, Tata Busama, Perhotelan dan Multimedia. Selain memperkanlkan jurusan, produksi film juga sekaligus sebagai sarana informasi kepada masyarakat bahwa karya pendidikan kejuruan tersebut dirintis oleh para Suster Ursuliun sejak kedatangnnya ke Batavia tahun 1856 yang lalu. *** 
Anda tertarik dan penasaran, silahkan menyaksikan video lengkapnya dibawah ini atau langsung cek disini 

Selasa, 13 April 2021

Kesan Pertama Begitu Menggoda Selanjutnya Terserah Anda

Wisatawan akan menikmati seluruh perjalanan wisata bila perjumpaan pertama dengan pemandu berkesan. Selain ramah dan sopan, yang membuat wisatawan terkesan dengan pemandu wisata adalah kemampuan pemandu menguasai berbagai macam bahasa.

Menurut Mba Yuli Wulandari, Wakil Ketua Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI), Pemandu merupa-kan salah satu produk dari industri pariwisata selain destinasi, transportasi, akomodasi dan fasilitas. Sebagai ujung tombak dunia Pariwisata, pemandu harus paham tugasnya yaitu memandu atau mengatur dan memberikan informasi perihal destinasi wisata, kegiatan dan tata tertib di lokasi wisata serta memastikan bahwa harapan pengunjung terpenuhi.

Untuk bisa memenuhi harapan wisatawan, Pak Suparta, Instruktur pemandu dari IPMI mengatakan seorang pemandu harus mengetahui teknik dan etika kepemanduan. Teknik dan etika kepemanduan diawali saat memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam dan selamat datang kemudian memperkenalkan diri.

Sedangkan Pak Aleks Amat Al Kusaini yang akrab dipanggil Papi Alex, Ketua Umum IPMI mengharapkan pemandu harus memberikan kesan yang istimewa sejak perjumpaan pertama dengan wisatawan dari manapun. Sangat bagus apabila seorang pemandu memahami bahasa daerah atau asing asal pengunjung sehingga wisatawan seolah ditemani kawan sendiri.
Oleh karena itu seorang pemandu sebisa mungkin menguasai berbagai bahasa daerah atau bahasa asing. Ia pun mengutip slogan sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda. Artinya kalau wisatawan sudah terkesan dengan perjumpaan pertama ia akan merasa nyaman dan pemandu akan lebih mudah mengajak wisatawan untuk berkeliling dan berbelanja souvenir atau kuliner di area tempat wisata. Kesan yang baik dengan pemandu juga membuat wisatawan teringat untuk kembali atau minimal menceritakan pengalamannya dan membuat orang lain tertarik berkunjung.

Pesan dari para pengurus IPMI kepada para siswa SMK Jurusan Pariwisata dan Mahasiswa di wilayah Yogyakarta tersebut disampaikan dalam Virtual Training Pelatihan Kepemanduan Museum Dan Destinasi Wisata yang diselenggarakan oleh museum History of Java, d’Topeng Kingdom Museum bekerja sama dengan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) dan Badan Musyawarah Museum D.I. Yogyakarta pada Selasa 30 Maret 2021 lalu.

                                 ***

Rabu, 31 Maret 2021

Museum Harus Cepat Beradaptasi

Sebagai bentuk perwujudan Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Universitas Bina Sarana Informatika dan STMIK Nusa Mandiri bekerjasama dengan Asosiasi Museum Indonesia DKI Jakarta, Paramita Jaya menggelar webinar pada Sabtu 13 Maret 2021 menggunakan aplikasi Zoom.

Webinar dengan tema "Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Dalam Pengelolaan Koleksi dan Pelayanan Museum di Masa Pandemi", menekankan agar museum cepat beradaptasi dengan situasi pandemi dan memanfaatkan media sosial untuk menarik masyarakat berkunjung di media sosial maupun website museum.

Ita Suryani S.Sos, M.I.Kom Pembicara pertama dalam webinar tersebut mengharapkan museum untuk cepat beradaptasi dengan situasi pandemi Covod-19 dan New Normal. Oleh karena itu ia mengharapkan museum memaksimalkan kinerja kehumasan untuk mengelola media sosial dengan baik seperti mengemas pesan yang disampaikan dengan kreatif, melayani netizen dengan respon cepat, giat berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuat museum semakin diminati masyarakat.
Sedangkan pembicara kedua, Bpk. Frieyadie, M. Kom menekankan pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan museum. Bpk. Frieyadie memaparkan, urutan pertama media sosial paling populer di Indonesia antara 2020- 2021 ditempati Youtube kemudian WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, Facebook Massenger dan terakhir, LINE.

Ia mengajak museum memanfaatkan teknologi untuk terus berkembang. Teknologi yang tepat digunakan pada masa Pandemik Covid 19 yaitu yang membangun sistem informasi e-museum melalui teknologi mobile dan teknologi website. Selain itu, juga memanfaatkan sosial media seperti Youtube, Whatsapp, Instagram, Facebook.

Melalui teknologi dan media sosial tersebut, museum dapat menyapa masyarakat yang saat ini beraktivitas di rumah kemudian memunculkan keingintahuan lebih sehingga masyarakat punya keinginan untuk berkunjung ke museum.

                              ***

Selasa, 09 Maret 2021

MANAJEMEN KOLEKSI MUSEUM MASA KINI

Bagi museum swasta, platform omeka.net dari idea-indonesia.org merupakan tawaran yang menarik. Idea-indonesia.org adalah sebuah lembaga mitra pengembang dan pengelola museum yang merilis omeka.net sebagai platform digital manajemen koleksi museum masa kini.

Platform ini dapat membantu museum baru atau lama yang memiliki keterbatasan SDM dalam mengelola koleksi seperti penataan, inventarisasi, katalogisasi, riset dan publikasi koleksi museum. Idea-indonesia.org mendampingi proses preservasi sampai dengan publikasi.

Tawaran itu disampaikan dalam webinar Manajemen Koleksi yang Mutakhir untuk Museum, sesuai dengan paparan Bpk. Dimas Subagio bersama Ibu Monica Gunawan dan Mbak Pia dari idea-indonesia.org. Webinar yang kami ikuti, yang diselenggarakan menggunakan apli-kasi Google Meet pada Rabu, 3 Maret 2021. Webinar sebelumnya diseleng-garakan pada 10 Februari yang lalu.

Lahirnya platform omeka.net sendiri berdasarkan pengalaman melakukan Preservasi dalam mengelola koleksi idea-indonesia.org. Preservasi sendiri adalah kegiatan yang dilakukan museum terkait dengan koleksi yaitu akuisisi, inventarisasi, katalogisasi, penyimpanan, konservasi dan restorasi.

Ada beberapa tahapan dalam Preservasi yang harus dilalui sehingga hasilnya memudahkan proses riset dan publikasi sebagai bagian dari manajemen koleksi. Koleksi museum yang dikelola sesuai dengan manaje-men koleksi yang baik dapat dirasakan lebih bermanfaat bagi publik, pemilik dan pengguna museum.
Manfaat manajemen koleksi bagi pengguna adalah:
  • membantu menemukan objek koleksi dengan cepat saat dibutuhkan.
  • mempermudah menjawab perta-nyaan dari kurator, peneliti, pelajar dan masyarakat umum,
  • memaksimalkan perlindungan data organisasi dan hak milik intelektual secara umum,
  • membantu mengungkap ragam informasi yang sebelumnya tersembunyi,
  • mendukung pembuatan materi pembelajaran dan pendidikan serta menginspirasi penciptaan produk dan layanan yang menarik.

Manfaat lainnya yang berkaitan dengan koleksi itu sendiri yaitu:
  • mendayakan pemantauan objek yang sensitif atau beresiko tinggi,
  • membantu pembuktian kepemi-likan hukum jika terjadi perselisihan,
  • memaksimalkan peluang mela-cak barang yang hilang atau dicuri dan
  • membantu mendeskripsikan barang yang hilang atau dicuri kepada asuransi atau polisi.

Manajemen koleksi yang baik memberikan ide-ide kepada museum untuk berkembang sehingga tidak kalah dengan museum internasional. ***

 

Rabu, 24 Februari 2021

Museum Menjadi Vaksin Untuk Memperkuat Imunitas Bangsa Indonesia dari Virus Disintegrasi & Degradasi Nasionalisme.

Saat ini virus tidak hanya Corona tetapi ada banyak macam virus. Ada virus disitegrasi bangsa, nasionalisme yang menurun dan sebagainya. Maka imunitas diri dan bangsa harus kita perkuat. Bagaimana kita menjaga imunitas rasa berbangsa dan nasionalisme kita? Salah satunya dengan museum.

 Museum identik dengan masa lalu karena kaitannya dengan waktu. Ada dimensi waktu yang tidak bisa kita lepaskan. Kita tidak akan mengalami masa kini tanpa ada masa silam. Jadi posisi museum sangat strategis sekali yaitu mampu menghubungkan masa lalu dan masa yang akan datang. Museum berisi jejak- jejak peristiwa masa lalu. Benda-benda yang menjadi saksi peristiwa masa lalu itulah yang akhirnya sampai pada kita. Namun banyak juga yang tidak sampai pada kita. Dari benda masa lalu itulah kita mendapatkan informasi. Informasi itu kemudian dikelola museum dan benda-bendanya dikaji kemudian hasil kajiannya itu dipublikasikan.

Generasi masa kini dapat melihat masa lalu melalui museum dan peninggalannya. Masa lalu akan berlalu begitu saja jika tidak ada yang mementaskan kembali. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa masa lalu itu harus kita pentaskan lagi, harus kita maknai kembali. Benda benda itu akan menjadi tanpa makna jika museum tidak menampilkan kembali, tidak ada kajian kembali dan dibiarkan begitu saja.

 Itulah pentingnya museum sebagai lembaga, yang bisa mengkonservasi peninggalan masa silam, mengkajinya kemudian mempresentasikan untuk masa kini. Generasi masa kinilah yang kemudian memanfaatkan peninggalan-peninggalan itu melalui museum. Melalui museum, banyak nilai-nilai dan makna yang bisa diambil untuk menempuh masa depan. Artinya sebagai bahan memperkuat karakter dan kepribadian menghadapi tantangan masa depan. Materi-materi pendidikan karakter itu bisa diambil dari museum dan kegiatannya.

Museum untuk masyarakat.
Museum itu diselenggarakan untuk masyarakatnya bukan untuk bendanya. yang paling penting yaitu melayani publik. Museum baru punya makna setelah ada interaksi kepada masyarakat. Maka apa yang menjadi kekuatiran museum itu sendiri adalah ditinggalkan masyarakatnya. Itu yang harus museum perjuangkan dengan berbagai cara terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Perlu dicari strategi bagaimana agar museum tetap menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Roh museum ada di koleksi itu sendiri atau koleksi bendawi. Pengelolaan museum berawal dari proses mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, memamerkan. Yang paling penting adalah mengkomunikasikannya kepada masyarakat.

Museum itu seperti sekolah tetapi berbeda. Pendidikan di sekolah, ya pendidikan saja tidak ada unsur hiburan. Contoh saat pelajaran matematika tidak mungkin belajar sambil bercanda. Berbeda dengan museum, di museum itu bagaimana supaya pesan tersampaikan dalam suasana yang enjoy. Museum harus mengemasnya dalam satu bentuk namanya edutainment. Apapun informasinya museum akan mengemas dalam bentuk pendidikan dan hiburan sehingga Museum menjadi lembaga hiburan yang mendidik.
Tugas Museum
Memang menjadi tantangan bagi guru sejarah bagaimana mengajar pendidikan sejarah, bagi guru seni bagaimana mengajar seni budaya. Kedepannya bisa diolah dan dikemas dengan bekerja sama dengan museum, bagaimana ilmu tentang kesejarahan dan seni budaya serta ilmu-ilmu lain itu dipresentasikan.

 Museum tanpa masyarakat itu seperti etalase tanpa pembeli. Terpajang saja dan tidak ada manfaatnya. Museum disebut gagal bila tidak mampu membuat masyarakat memanfaatkan-nya. Tentu saja dalam mengkomuni-kasikan dengan masyarakat ini tidak lepas dari bangunan atau lokasi museum.

Berbicara masalah komunikasi, museum adalah penyampai pesan dan masyarakat adalah penerima pesan. Pesannya melalui koleksi yang ada di dalamnya. Koleksi inilah yang nanti akan diolah dalam bentuk program-program publik yang ada di museum. 

Apapun program publiknya meski bersifat hiburan tetap harus didasarkan pada pesan yang ada di koleksi museum.Oleh karena itu, program yang dibuat tidak semata-mata hiburan saja. Itulah yang dikatakan bahwa koleksi museum itu adalah Rohnya museum. Relasi masyarakat dengan museum makin dekat dengan program-program publiknya.

 Komunikasi di museum meliputi semua aktifitas untuk menarik pengunjung (Publikasi & pemasaran), mencari kebutuhan mereka (Penelitian & evaluasi), dan menyediakan kebutuhan intelektual pengunjung (Pendidikan dan hiburan), semua itu dikemas dalam program publik.

 Museum dalam dunia pendidikan adalah mitra. Menurut Ki Hajar Dewantara museum adalah pusat pendidikan bagi sekolah, keluarga dan masyarakat. Tujuan pendidikan abad 21 menurut UNESCO dalam mengembangkan Ilmu pengetahuan, Ketrampilan, Kepribadian / Jatidiri, dan Kebersamaan dapat diperoleh di Museum.

Peran strategis museum
Peran strategis museum yang lainya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkuat kepribadian Bangsa dan membangun Ketahanan nasional dan Wawasan Nusantara.

Kecerdasan bangsa terkait dengan literasi. Kita dapat menggunakan bahan-bahan dari museum sebagai bahan literasi. Kita diajak untuk tidak hanya membaca tulisan tetapi membaca perkembangan jaman, bagaimana perkembangan saat ini. Kalau dulu hanya penjajahan sekarang banyak sekali pengaruh-pengaruh dari luar yang mengarah pada disintegrasi bangsa munculnya paham-paham yang mengganggu stabilitas nasional.

Memperkuat kepribadian bangsa maksudnya karakter kita bangsa Indonesia itu berbeda dari karakter bangsa lainnya. Bangsa Indonesia disebut Indonesia karena budayanya. Budaya kita itulah yang membedakan kita dengan bangsa lain. Maka budaya menjadi benteng yang sangat kokoh di Indonesia. Budaya harus kita kelola bersama karena sangat penting bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika membahas budaya inilah museum sangat tepat untuk pendidikan karakter bangsa. ***

 Sumber tulisan:
Paparan Bpk. Judi Wahyudin M.Hum dan Bpk. Vincentius Agus sulistya, Spd. MA dari akun Youtube QITEP IN MATHEMATICS dalam Webinar Peran Museum dalam Menjaga dan Melestarikan Budaya Literasi dan Numerasi yang diselenggarakan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta bekerjasama dengan SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics.

Senin, 22 Februari 2021

Video 10 Tahun Museum Ursulin Santa Maria


Museum Santa Maria diresmikan dan dibuka pertama kali pada 6 Februari 2011 oleh Romo Bratakartana, SJ. Museum diprakarsai oleh Sr. Inggrid Widhiningsih, OSU dan dibantu relawan pertama Ibu Gina Sutono alumni SPG Santa Maria. Video pendek ini merangkum perjalanan 10 tahun Museum Santa Maria yang kemudian berubah menjadi Museum Ursulin Santa Maria. Selamat menikmati  

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...