Rabu, 30 November 2022

Anjuran Romo Eddy Kristiyanto OFM “Kunjungi Museum Santa Maria”

 


Rombongan pria bersepeda perlahan memasuki halaman Museum Santa Maria pada Sabtu pagi 22 Oktober 2022. Mereka adalah rombongan para frater Fransiskan dari komunitas Kampung Ambon. Kunjungan mereka itu atas anjuran Romo Eddy Kristiyanto OFM. Romo Edi adalah dosen dan pamong mereka. Sayang pada hari itu Romo Eddy tidak bisa ikut beserta mereka karena tugas lain.

 Suster Marie Louise OSU menyambut, menyapa dan memperkenalkan para staff pengelola museum. Namun karena gedung museum sedang dalam proses revitalisasi maka sebagian besar benda koleksi museum sudah disimpan dan dirapikan. Selain mungunjungi museum mereka mengunjungi Kapel Santa Maria, kapel yang sangat bersejarah dalam kehidupan para suster Ursulin.

 Di Kapel Santa Maria, Suster Marie Louise menceritakan sejarah Kapel dan perkembangannya sejak mulai berdirinya tahun 1875 sampai sekarang. Dijelaskan juga kepada mereka gambar- gambar Kaca Pateri baik yang ada pada tembok Altar, samping kanan dan kiri serta pada tembok belakang di atas balkon koor. Pada awal tahun 2021 kapel mulai direnovasi karena Kapel seringkali kebanjiran dan keadaan tembok berikut relief jalan salib rusak. Selain tembok, AC dan sound system diganti. Sekarang mesin AC tidak kelihatan, udara dingin dan bersih dimasukkan lewat lobang-lobang di plafon atas. Sound system ditempatkan di tempat yang agak tersembunyi. Bulan Desember tahun 2021 renovasi baru selesai dan diberkati ulang. Sekarang Kapel kelihatan terang dan indah. Rombongan memperhatikan penjelasan Suster. Tak lupa mereka menikmati cantiknya interior kapel yang baru pertama kali mereka kunjungi.
Selama kurang lebih tiga jam, selain di Kapel di Hall museum, para frater disuguhi cerita karya para suster Ursulin: Asrama, sekolah Santa Maria, museum dan sejarah gedungnya. Juga tentang arti, definisi dan tujuan museum pada umumnya, khususnya museum Ursulin Santa Maria.

 “Saya merasa sangat senang bisa berkunjung ke Museun St. Maria. Seluruh pelayanannya sangat luar biasa, menambah pengetahuan saya akan gereja Indonesia, dan terlebih khusus tentang karya saudari-saudari Ursulin dalam memajukan bangsa Indonesia”, tutur Frater Gregorius OFM.

 Frater Andre Labur OFM memiliki kesan sendiri: “Menurut saya, Museum Santa Maria memiliki catatan sejarah yang lengkap dan komprehensif serta sistem pengelolaan museum yang sangat baik. Bagi saya, museum ini sangat cocok bagi mereka yang memiliki minat dalam mempelajari sejarah dan tentunya semakin mengenal karya-karya Suster Ursulin yang luar biasa semenjak menginjakan kaki di Bumi Pertiwi.”

 Sementara Frater Tian Gunardo OFM berharap agar museum ini dapat dipromosikan ke khayalak yang lebih luas lagi, sehingga dapat dikunjungi oleh lebih banyak kalangan lagi, agar siapa saja dapat memperoleh informasi yang bernas dari sini. Keberadaan museum "Katolik" ini mutlak penting, mengingat darinya kalangan luas dapat menemukan jejak rekam yang positif dari kiprah Gereja Katolik di masa lampau terhadap kemajuan pendidikan bangsa ini dalam cakupan inter-latar belakang budaya, agama, suku, dan ras.

 Sebelum rombongan pamit meninggalkan museum untuk melanjutkan perjalanan, Bruder Triyono OFM mengucapkan terima kasih atas keramahtamahan dan pelayanan Suster beserta seluruh staff museum. ***

Kamis, 13 Oktober 2022

Menikmati Jejak Sejarah Transportasi

 


Pemberitaan detik.com tentang “Harta Karun di Proyek MRT” dipamerkan dalam Jejak Memori Moda Transportasi di Ibukota Jakarta menarik perhatian. Pameran dibuka pada 19 September 2022 dan berakhir di penghujung September 2022.

 September 2022 tinggal menghitung hari, pameran di dalam komplek Museum Sejarah Jakarta baru dapat dikunjungi pada Selasa 27 september.

 Ruang pamer berupa tenda besar terletak di tengah halaman dalam Museum Sejarah Jakarta. Di ruang pamer pertama, pengunjung disambut dengan replika Kereta Rel Listrik (KRL) dari kayu yang dapat dinaiki secara terbatas. Puas mencoba naik replika KRL tersebut dilanjutkan menelusur jejak transportasi di Jakarta yang dulu dikenal dengan nama Batavia.

 Dimulainya moda transportasi berbasis rel pada paruh abad ke 19 untuk mendukung kelancaran pengiriman hasil perkebunan dan pertanian program tanam paksa (Cultuur Stelsel 1830-1847). Jalur pertama Trem bertenaga kuda dibuka tahun 1869 menghubungkan jalan Cengkeh (Amsterdamse Poort) ke Harmoni. Setelah itu Trem berkembang di Semarang tahun 1881 dan Surabaya tahun 1886. Trem bertenaga uap di Batavia baru dimulai pada 1883.
Perkembangan selanjutnya, Trem tidak hanya difungsikan mengangkut barang hasil perkebunan atau pertanian hasil Tanam Paksa, trem juga digunakan mengangkut penumpang. Trem juga menjadi sarana pendukung gerakan revolusi saat perang kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah kereta api mulai berkembang, trem resmi berhenti beroperasi pada 1962.

 Jejak-jejak transportasi masa kolonial itu berupa benda yang ditemukan dalam proses penggalian. Benda temuan itu antara lain potongan gerabah, pecahan keramik kuno, uang koin, peluru dan masih banyak lagi.

 Berbagai benda yang dipamerkan menjadi bukti bukti bahwa sejarah transportasi berbasis rel di Batavia adalah yang pertama kali di Asia Tenggara. Jejak itu terungkap saat Jakarta, yang dulu bernama Batavia mengembangkan transportasi modern yaitu MRT atau Mass Rapid Transit

 Jejak moda transportasi di Jakarta menjadi salah satu kekayaan dan harta karun yang selama ini terpendam. Bagi yang sudah berkunjung, selamat menikmati harta karun yang dipamerkan. ***


Kamis, 06 Oktober 2022

Pertimbangan Matang Perancang Pameran

 


Salah satu tantangan museum adalah membuat pengunjung nyaman berada di museum. Penataan display koleksi dan tata pamer yang baik membuat pengunjung tidak hanya merasa nyaman dan puas, juga mendapatkan pengalaman tak terlupakan dan memunculkan keinginan untuk datang lagi.

Membuat pengunjung datang lagi menjadi salah satu dari sekian banyak alasan pengelola museum perlu meningkatkan lagi kualitas tenaga teknis. Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDFA) DKI Jakarta, Paramita Jaya bersama pemerintah Provinsi DKI Jakarta memahami situasi dan tantangan tersebut, kemudian menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi museum-museum yang ada di wilayah Jakarta.

 Bimtek bagi pengelola museum diantaranya Perancang Pameran, Edukator, Register, Humas dan Pemasaran, Konservator serta Kurator. Perancang Pameran adalah bagian dari rangkaian bimtek untuk meningkatkan kualitas SDM Museum di bidang Penataan Pameran. 

Peserta diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja di unitnya masing-masing. Bimtek perancang pameran diikuti perwakilan dari museum-museum yang ada di Jakarta baik milik pemerintah maupun non pemerintah.Bimtek yang diadakan ini merupakan tahap awal bagi para peserta sebelum  memperoleh sertifikasi resmi sesuai bidangnya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah no. 66/2015 tentang Museum yaitu "Museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat", maka bagian mengomunikasikan koleksi ini menjadi tugas perancang pameran.

Komunikasi secara visual adalah salah satu cara menyampaikan pesan kepada pengunjung, selain banyak cara untuk mengomunikasikannya. Karena komunikasi visual banyak menampilkan gambar, teks atau simbol dengan kelengkapan elemen visualnya maka strategi komunikasinya harus dirancang agar pengunjung menangkap pesannya.

Dalam pelatihan selama 3 hari yang dimulai pada 27 Juni 2022 ini peserta diajak untuk melihat, membandingkan, mensimulasikan materi yang diajarkan baik pada obyek percontohan maupun pada museum masing-masing peserta.


Materi yang disimulasikan adalah museum yang sudah ada dengan tata pamernya kemudian menganalisa dan memberi ide perancangan yang baru. Materi yang lainnya adalah merancang suatu pameran yang belum pernah ada. Peserta diajak untuk mengasah ide yang out of the box dengan membuat matriks pameran.

Matrik adalah skema penyajian yang menyatukan berbagai jenis sajian, ruang pamer, topik dan sub-topik, serta perangkat penyajian. Umumnya berupa tabel-bagan.

Materi disajikan secara teori dan praktek kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 7-8 peserta yg mewakili museumnya. Persoalan dalam suatu materi dikupas dan dipecahkan dalam suatu presentasi kelompok yang diwakili salah satu peserta. Setelah presentasi, tiap kelompok diberi kesempatan memberi tanggapan atas pertanyaan dari peserta lain.

Bapak Punto A. Sidarto dan Ibu Nusi Lisabilla Estudiantin sebagai pemateri juga memberi masukan sebagai tanggapan atas presentasi tiap kelompok.

Pada hari terakhir Bimtek perancang pameran materi yang disajikan adalah mengimplementasikan rancangan pameran museum. Salah satu pematerinya adalah Ibu Diah Resita Kuntjoro Jakti S.Sn., M.Sn. yang membagikan pengalaman betapa pentingnya suatu brief klien dalam perancangan pameran suatu museum.

Brief klien adalah suatu data informasi yang berisi:
1. TUJUAN
2. SASARAN
3. BATASAN/LINGKUP
4. WAKTU
5.  ASUMSI
6. PELUANG
dari Museum sebagai klien. Semua informasi ini adalah riset bagian dari rencana yang menjadi landasan kerja perancang pameran untuk menghasilkan ide-ide yang berlanjut pada proses rancangan, produksi dan instalasi.

Catatan penting dari Bu Diah Resita untuk perancang pameran yang sudah diulas juga sebelumnya oleh Pak Punto di hari kedua adalah Dalam merancang tata pamer yang nyaman, petuga teknis Perancang Pameran perlu mempertimbangkan tata letak, sistem labeling yang tepat serta pencahayaan yang mendukung tampilan koleksi sehingga pengunjung dapat menikmati setiap momen berada di area pamer. ***

Senin, 19 September 2022

Register Bukan Sekedar Pencatatan

 

Berdasarkan PP No.66 Tahun 2015, Penjelasan Pasal 11 ayat 2, Sumber Daya Manusia yang harus dimiliki sebuah Museum adalah tenaga teknis yang meregister: melakukan kegiatan pencatatan dan pendokumentasian koleksi. Tenaga teknis ini disebut Registrar.

Sumber Daya Manusia lain yang harus ada bersama registrar ini adalah Kurator, Edukator, Penata Pamer dan Konservator serta Humas dan Pemasaran. Tersedianya semua tenaga teknis itu sangat ditekankan oleh Pak Yiyok T. Herlambang ketua Amida Jakarta Paramita Jaya yang menjadi pembicara pertama dalam Bimbingan Teknis (BimTek) Register. Dalam BimTek ini sering kali yang dimaksud dengan Register adalah registrar.

 BimTek Register dilaksanakan di Museum Tekstil selama tiga hari 25-27 Juli 2022. Pak Yiyok menegaskan bahwa petugas teknis yang terkait dengan benda koleksi sebuah museum adalah Register, Kurator dan Konservator. Sedangkan tenaga Teknis terkait dengan tugas mengkomunikasikan benda koleksi kepada masyarakat adalah Edukator, Penata Pamer serta Humas dan Pemasaran.

 BimTek Register yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta Bidang Pelindungan bekerjasama dengan AMIDA Jakarta Paramita Jaya bertujuan mempersiapkan tenaga teknis museum agar sesuai standar. Selain itu Peserta yang mengikuti bimtek akan mendapat prioritas diikutkan dalam program sertifikasi LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Permuseuman Indonesia – BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) pada kesempatan yang akan datang.

 Dalam BimTek Register, para Registrar, sebutan bagi petugas register dilatih untuk mampu 1) Menyusun kebijakan registrasi koleksi museum 2) Melaksanakan proses registrasi koleksi museum 3) Melaksanakan penyimpanan koleksi di ruang storage 4) Melaksanakan proses mutasi atau lalu lintas koleksi di dalam museum 5) Melaksanakan teknis peminjaman koleksi ke luar museum 6) Melaksanakan pengusulan penghapusan koleksi museum
Enam kemampuan yang harus dimiliki seorang Registrar, disampaikan dalam bentuk teori dan latihan praktek oleh enam narasumber yaitu Bpk. Yiyok T. Herlambang SE, MM; Ibu Yulianti Fajar Wulandari S.I. Kom, M.I. Kom; Ibu Karisa Rahmaputri S. Sn, M. Sc; Bapak Gunawan W. Widodo M. Hum; Bapak Drs. Mananti Amperawan Marpaung dan Bapak Ir. Adang Suryana.

 Bapak Ir. Adang Suryana mewakili AMIDA Jakarta Paramita Jaya dalam acara m enutup kegiatan mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kebudayaan yang telah memberi kesempatan kepada Paramita Jaya memilih para narasumber serta mengingatkan peserta untuk bangga menjadi Registrar.

 Bapak Bayu Niti Permana mewakili Kepala Bidang Pelindungan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta menutup kegiatan BimTek dengan harapan museum di Jakarta menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi.

 “Bimtek ini diharapkan menjadi tonggak, satu-satunya wilayah yang punya museum se-Indonesia terbayak dan layak kunjung dan menjadi referensi Pendidikan, rekreasi tempat mencari pengalaman atau Adventure.”

 Pak Bayu juga mengingatkan kepada para peserta BimTek untuk bangga menjadi register. “Fungsi Dengan adanya pelatihan ini adalah menyebarkan seluas-luasnya pengetahuan tentang apa yang menjadi pesan museum di dalam koleksi-koleksinya. Register jangan dianggap sebagai tukang catat tapi dia adalah orang yang mengerti tentang koleksi mengerti tentang nilainya dan serba tau tempatnya.”

 Sebelum ditutup dengan foto bersama, peserta dari Museum Purna Bhakti Pertiwi, Ibu Sunani mendapat kehormatan menerima sertifikat dari Pak Bayu secara langsung sebagai peserta dengan nilai terbaik pada bimtek tersebut. ***




Selasa, 13 September 2022

Keluhan Pengunjung Masukan Positif Bagi Museum

 

Kolase foto oleh Bpk. Ir. Adang Suryana

Bimtek Humas & Pemasaran Bimbingan Teknis (Bimek) Humas dan Pemasaran yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Museum Indonesia Daerah (Amida) Jakarta Paramita Jaya merupakan BimTek ke empat. Bimtek sebelumnya diperuntukkkan bagi tenaga teksni Penata Pamer, Edukator, Register.

 Sebagai tuan rumah, Ibu Misari, M. Hum. Kepala UPT Museum Kebaharian mengucapkan selamat datang kepada panitia maupun juga peserta. Ibu Misari juga mengungkapkan rasa bangganya karena dipilih menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Bimtek, khususnya Humas dan Pemasan. Ia berharap semoga kegiatan Bimtek menginspirasi tim media social Museum Bahari untuk meningkatkan kualitasnya.

 Ibu Misari selain merasa bangga juga berharap kegiatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta untuk meningkatkan potensi dirinya “Mudah-mudahan para peserta dapat memanfaatkan kesempatan baik ini untuk bisa meningkatkan potensi diri ya, kemudian saling juga bertukar pengalaman ya mungkin ada museum yang memang sudah mendapatkan poin plus-plus di dalam kehumasannya.”

 “Kesempatan berkumpul di Bimtek ini menjadi ajang untuk saling bertukar pikiran atau bertukar pengalaman”. Bu Ari berpesan: “Jangan kita merasa malu untuk bertukar pengalaman tetapi justru apa yang menjadi poin plus dari museum lain dapat menambah point kita dan sebaliknya, terutama dalam hal kemasan museum kita. Mudah-mudahan hasilnya nanti bisa bermanfaat bagi teman-teman”. “Sekali lagi sebagai tuan rumah saya menyambut baik kegiatan ini semoga juga bisa berjalan dengan lancar sampai tiga hari ke depan.” Pungkasnya.

komunikasi dan pemasaran
 Pada sesi pertama Bimtek, Pak Yiyok T. Herlambang mengingatkan peserta pentingnya petugas teknis Humas dan Pemasaran karena tercatat dalam Peraturan Pemerintah (PP) no 66 Tahun 2015 Tentang Museum. Inilah pesan Pak Yiyok: “Museum adalah Lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Begitu ngomong komunikasi maka ada tiga tenaga teknis yang bertugas, satu adalah Penata Pamer kedua Educator ketiga Humas dan Pemasaran. Jadi teman-teman, dan bapak Ibu sekalian, sebagai seorang Humas dan Pemasaran wajib memahami kebijakan dan tugas kehumasan dan pemasaran.

 Terkait tugas Humas dan Pemasaran ditegaskan dalam PP No.66 Tahun 2015, penjelasan Pasal 11 peraturan: Hubungan Masyarakat dan Pemasaran adalah petugas teknis yang melakukan kegiatan komunikasi dan pemasaran program-program museum.

 Kaitannya dengan standarisasi, Pemerintah melakukan standarisasi museum setelah dua tahun museum berdiri. Penilaian berdasarkan Pengelolaan Museum dengan Hasil Standarisasi berupa Tipe A, B, atau C dan Evaluasi Museum. Salah satu penilaian adalah apakah tenaga teknis dalam museum tersebut masih merangkap jabatan atau tidak.

 Pak Yiyok kemudian memberikan tugas kelompok untuk menyusun apa saja tugas tenaga teknis Humas dan pemasaran. Tugas kelompok kemudian di paparkan dan didiskusikan bersama. Menurut Pak Yiyok berdasarkan paparan peserta, para peserta telah memahami tugas tenaga teknis Humas dan Pemasaran karena telah sesuai dengan materi yang akan diujikan dalam sertifikasi profesi, yang antara lain menyusun kebijakan hubungan masyarakat dan pemasaran museum, Melaksanakan hubungan dengan media, Melaksanakan hubungan dengan komunitas, Melaksanakan hubungan dengan internal museum, Melaksanakan hubungan dengan pengunjung, Melaksanakan kegiatan pemasaran museum.

 Pada Sesi kedua, peserta diajak untuk mengelola kerjasama dengan media. Hubungan dengan Media bertujuan untuk membentuk citra positif dan mempengaruhi persepsi publik melalui kegiatan publikasi di media.

Hubungan Media
 Prinsip Hubungan Media Melayani dengan sebaik mungkin, Memberikan ruang yang cukup, tidak menutup saluran informasi khususnya dalam keadaan penting. Jujur dan terbuka. Professional dalam menjalankan tugas.

 Humas dan Pemasaran dalam menjaga hubungan dengan media tidak hanya berhubungan dengan wartawan. Seorang Humas dan Pemasaran wajib mengetahui dan mengenali institusi media dan bagian-bagiannya. Dalam membina hubungan baik, ada kalanya harus mendekat dengan tujuan menjalin hubungan baik.

 Bentuk kegiatan Humas dan Pemasaran yang berkaitan dengan media antara lain: Konferensi Pers, Media Briefing, Media Visit, Wawancara, Pertemuan dengan Pemimpin redaksi, Media Luncheon, Press Gathering, Doorstop, In House Training, Klarifikasi Berita, Siaran Pers.

 Dalam sesi tersebut, tugas kelompok adalah membuat Press Rilis. Ibu Ita Suryani, S. Sos M.I.kom dosen di Universitas BSI yang menjadi narasumber sesi kedua terlebih dahulu menjabarkan unsur-unsur dalam pembuatan Press Rilis. 

 
Unsur dan struktur dalam Pres Rilis meliputi nilai berita yang menarik benar-benar terjadi dan baru saja terjadi, dan penting. Sedangkan Struktur naskah atau tulisan rilis sama dengan struktur naskah berita, yakni terdiri dari

1. Judul, 2. Teras (lead), 3. Isi (body), 4. Judul berita harus kalimat lengkap, minimal Subjek + Predikat, dan menggunakan kalimat aktif. 5. Teras sebaiknya mengedepankan subjek pelaku who does what; siapa melakukan apa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana; isi berupa penjelasan unsur why dan how. 6. Namun, dari segi format, naskah press release ditambah bagian awal dan akhir

 Hari Kedua Sesi Pertama diisi dengan materi melaksanakan hubungan dengan komunitas. Namun dalam paparan nara sumber, Ibu Resita Kuntjoro-Jakti para peserta justru diajak bagaimana membuat sebuah komunitas. Ketika ditanyakan mengapa dan apa alasannya petugas Teknis Humas dan Pemasaran Museum harus membuat komunitas? Dijawab bukan sesinya dan dapat ditanyakan pada sesi besok (sesi hari ketiga)

kerjasama
 Ibu Rian Timadar M. Hum ketua AMIKA-TMII, pada sesi kedua  mengajak peserta dengan permainan kelompok membuat Menara yang paling tinggi dan kokoh dari bahan sedotan plastic. Pada saat presentasi setiap kelompok harus menunjukkan hasil kerja kelompok dan gambar desain Menara. Pada saat presentasi akan dinilai kesesuaian desain dengan hasil karya, dan pembagian kerja. Tujuan permainan ini untuk mengingatkan peserta bimtek Humas dan Pemasaran agar selalu menjaga harmoni dan meningkatkan kerjasama dengan setiap petugas tenaga teknis maupun non teknis di museum.

 Hari ketiga, Ibu Yulianti Fajar Wulandari M. I.Kom mengajak peserta belajar bagaimana Melaksanakan Hubungan Dengan Pengunjung. Salah satu yang terpenting dalam menjalin hubungan dengan pengunjung adalah komunikasi yang baik untuk Menggali kebutuhan layanan pengunjung seperti mengapa mengunjungi museum, apa yang dilakukan di museum dan apa kesan yang didapat di museum.

 Komunikasi yang baik meliputi komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan melalui tulisan dan lisan. Di masa kini informasi yang disampaikan lewat social media termasuk dalam katogori komunikasi verbal. Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi yang disampikan melalui bahasa tubuh sepertu gerak tangan, ekspresi wajah penampilan, intonasi suara dan lainnya.

Keluhan pengunjung  
 Salah satu yang menjadi perhatian tenaga teknis Humas dan Pemasaran adalah bagaimana menangani keluhan pengunjung atau Complain Handling. Mengapa pengunjung mengeluh? Beberapa factor keluhan pengunjung diantaranya pelayanan tidak sesuai yang diharapkan, pengunjung diabaikan atau dibiarkan terlalu lama, tidak ada yang mendengarkan atau menanggapi, seseorang bersikap kasar, dianggap remeh oleh staff, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi, pernah mengalami hal buruk di tempat yang sama.

 Bagaimana menanggapi keluhan tersebut? Pertama, anggap keluhan pengunjung tersebut sebagai masukan positif bagi museum dan staff pengelola. Kemudian dengarkan keluhannya dan selidiki, jangan mengambil kesimpulan tergesa-gesa. Bantu memberikan saran yang mudah dilaksanakan. Terakhir tak boleh lupa mengucapkan terima kasih atas saran dan masukannya.

 Di Sesi akhir, Bpk. Ir. Adang Suryana memberikan materi tentang bagaimana melaksanakan kegiatan pemasaran. Tenaga teknis harus mampu: Menentukan misi dan tujuan kegiatan pemasaran museum, bauran pemasaran dan promosinya, serta strateginya.

 Bauran pemasaran museum adalah strategi yang memadukan kegiatan pemasaran dalam satu waktu untuk meningkatkan penjualan produk atau jasa. Bauran ini meliputi: produk, harga, tempat, promosi, pemegang kebijakan, hubungan Masyarakat

 Bauran Promosi adalah kombinasi strategi dari variable periklanan, personal selling dan alat promosi lain, yang kesemuanya direncanakan untuk tujuan penjualan bauran promosi museum, meliputi: Iklan (advertising), Publisitas, Sales promotion, Penjualan tatap muka (Personal selling) dan Direct marketing.

 Di akhir BimTek dilaksanakan penyerahan sertifikat tanda kelulusan BimTek bagi seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan BimTek Humas dan Pemasaran selama tiga hari beturut-turut, 22-24 Agustus 2022. Penyerahan sertifikat diserahkan langsung kepada peserta oleh Bapak Norviadi Setio Husodo, SS. M.Si. Kepala Bidang Pelindungan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta. ***

Sabtu, 03 September 2022

Museum Menjadi Bagian MPLS Santa Maria



Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP-SMK Santa Maria, tahun 2022/2023 dilaksanakan dengan tatap muka setelah selama dua tahun terakhir MPLS dilaksanakan secara virtual. Museum Ursulin Santa Maria terletak di dalam kampus Sekolah Santa Maria. Sehingga museum itu sangat tepat untuk memperkenalkan lingkungan Sekolah, terutama mulai dari sejarah berdirinya Sekolah dan misi Sekolah dari awal berdirinya.

 Seluruh peserta MPLS sangat antusias mengikuti tour keliling museum Ursulin Santa Maria. Untuk murid SD dan SMP pengenalan lingkungan bukan hanya untuk murid kelas satu saja tetapi juga untuk kelas dua dan tiga; dan untuk SMP kelas 7 dan kelas 8 dan 9. Sebab mereka itu semua belum berkunjung secara langsung ke museum karena dulu secara on-line.

 MPLS dimulai dari unit SMP pada Jumat 8 dan 11 Juli dilanjutkan unit SMK pada 12 Juli. Sayangnya unit SD yang seharusnya 13 Juli mendadak merubah jadwal menjadi tour virtual karena ada siswa yang terpapar covid-19 sehingga pelajaran kembali dilaksanakan jarak jauh.

 MPLS di Museum Ursulin Santa Maria diawali di Aula Museum. Suster Marie Louise menyambut dan menyapa peserta didik baru dan memperkenalkan staf museum. Setelah menyapa, Suster Marie Louise melanjutkannya dengan paparan tentang museum.

 Dari paparan tersebut diharapkan peserta MPLS mengenal museum sebagai bagian dari Kampus Santa Maria serta merasa bangga karena para siswa menjadi bagian sejarah yang hidup dari Kampus Santa Maria yang masih berjalan di usia lebih dari 166 tahun.
Dari Museum peserta diarahkan menuju gedung Kapel yang posisinya masih dalam satu komplek. Di dalam Kapel, peserta dijelaskan tentang sejarah berdirinya Gedung Kapel yang mulai dibangun sejak tahun 1875. Selain sejarah, juga dijelaskan tentang interior gedung Kapel.

 Dengan mengenal museum, kapel dan tempat-tempat lain di dalam kampus Santa Maria, para murid dapat menggunakannya untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, Sang Penciptanya (di kapel), menggali dan mengamalkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam seluruh pendidikan Ursulin yang bersemboyan SERVIAM, “Aku mau mengabdi”. Selain itu, dari para pendidik pendahulu dan para alumni, meneladan untuk menjadi pribadi yang mandiri, bertanggungjawab dan mempunyai kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.

 MPLS menjadi sarana para siswa belajar berinteraksi dengan sesamanya kemudian berinovasi dan berkreasi dalam menggunakan media social untuk semakin menambah rasa bangga dan cinta kepada lingkungan kampus Santa Maria.

 Peserta MPLS diiuti oleh seluruh siswa siswi SMP dari kelas tujuh sampai kelas Sembilan. Sedangkan SMK diikuti oleh kelas sepuluh dari tiga jurusan yaitu Kuliner, Tata Busana dan Design Komunikasi Visual (DKV). Dari unit SD diikuti seluruh kelas satu sampai tiga. ***

Senin, 01 Agustus 2022

Edukator Lebih Dari Sekedar Pemandu


Kolase foto oleh bpk. Adang Suryana


Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Paramita Jaya bersinergi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi tenaga teknis museum. Tenaga Teknis museum perlu meningkatkan kualitasnya agar pengelolaan museum di DKI Jakarta semakin baik.

 AMI DKI Jakarta mengharapkan setiap museum mengirimkan enam (6) tenaga teknis sesuai spesialisasinya. Tenaga teknis museum diantaranya Kurator, Edukator, Konservator, Penata Pameran, Register, Humas dan Pemasaran.

 Bimtek bagi tenaga teknis museum diselenggarakan secara bertahap. Tenaga teknis Edukator melaksanakan bimtek pada 4-6 Juli 2022 di Museum Sejarah Jakarta. Total 51 peserta mengikuti bimtek dari berbagai museum di Jakarta dan Dinas Kebudayaan.

 Edukator adalah salah satu tenaga teknis  yang keberadaanya disebut dalam Peraturan Pemerintah (PP) no. 66 Tahun 2015 tentang Museum. Selama bimtek Edukator, narasumber bimtek selalu mengingatkan peserta bahwa bahwa Edukator lebih dari sekedar Pemandu karena memandu merupakan bagian dari salah satu tugas Edukator.
Dalam bimtek tersebut, Edukator dilatih dengan teori dan praktek berkaitan dengan kemampuan seorang Edukator. Edukator harus menguasai kemampuan untuk: 

Menyusun kebijakan edukasi dan penyampaian informasi koleksi museum, melaksanakan program edukasi di museum berbasis penguatan karakter bangsa, melaksanakan program edukasi di museum untuk pengunjung umum, melaksanakan kegiatan edukasi di museum untuk peserta didik berkebutuhan khusus dan pengunjung penyandang disabilitas dan melakukan penyampaian informasi koleksi museum

 Dalam merancang konsep program edukasi Edukator bekerjasama dengan Kurator dan Penata Pameran membahas tema, kegiatan, audience atau pengunjung yang disasar dan alat peraga yang digunakan.

 Narasumber dalam bimtek Edukator selama tiga hari tersebut adalah Bpk. Yiyok T. Herlambang SE. MM. Karisa Rahmaputri S.SN, MSc, Dr. Ali Akbar M.Hum, Misari M.Hum, Dr. Musiana Yudhawasthi M.Hum dan Ir. Adang Suryana. *** 

Sabtu, 28 Mei 2022

Kalau Bisa ke Tempat Aslinya.



Melihat Museum Ursulin Santa Maria secara langsung lebih seru dibanding virtual. Namun apa daya, pandemi belum berakhir. Meski begitu, harapan anak-anak TK Santa Maria untuk berkunjung melihat langsung sangat besar.

 Jumat, 22 April 2022 Murid-murid TK Santa Maria berkunjung secara virtual ke Museum Ursulin Santa Maria. Para murid diajak mengenal Museum agar para murid bangga dengan keberadaan museum Ursulin yang terletak di dalam komplek sekolah Santa Maria.

 Zoom dibuka pukul 07.30 untuk admit peserta sambil diputar jingle “Museum di Hatiku”. Setelah meditasi dan doa bersama, Suster Lucia Anggraini, kepala Museum Ursulin Santa Maria, memperkenalkan staff pengelola, yaitu Suster Marie Louise, ada Pak Aji, Pak Muji dan Ibu Janni. Suster Lucia kemudian menjelaskan secara singkat tentang Museum Ursulin seperti lokasi, ruang-ruang yang ada di museum, waktu kunjungan dan beberapa foto suster di masa lalu. Setelah Suster Lucia selesai menjelaskan, dilanjutkan dengan virtual tour.

 Virtual Tour itu dimulai dengan pemutaran film pendek tentang koleksi museum Santa Maria itu. Kemudian Pak Aji, pemandu museum, menerangkan berbagai koleksi tersebut satu persatu. Koleksi yang ditampilkan antara lain foto kegiatan anak-anak bersama suster, buku dan peralatan doa, perlengkapan memasak, permainan. Anak-anak focus memperhatikan penjelasan pemandu.

 Di akhir tour, para murid diberi kesempatan bertanya. Anak-anak antusias bertanya, namun karena waktu terbatas, pertanyaan anak-anak dibatasi. Suster Marie Louise kemudian memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengungkapkan ekspresinya dengan mewarnai gambar bagi murid kelas A dan memvideokan cerita pengalaman mengikuti virtual tour bagi kelas B.
Setelah mengikuti virtual tour anak anak mulai mengerti apa itu museum. Menurut Jeremiah TK B kelas Grow, museum Ursulin Santa Maria menjadi tempat belajar dan mengenal sekolah “aku belajar benda yang ada di museum Santa Maria dan aku itu bisa belajar tentang sekolahan aku” Sementara Bianca Elisabeth TK B kelas Smart mengatakan bahwa museum adalah tempat menyimpan benda bersejarah “Aku jadi mengetahui museum adalah untuk tempat barang sejarah” lain lagi dengan Christo TK A kelas JOYFULL, ia mengatakan museum sebagai tempat untuk melihat orang-orang di masa lalu “bisa lihat orang zaman dulu”

 Kunjungan museum dilaksanakan secara virtual karena masih dalam situasi pandemi dan kegiatan tatap muka masih dibatasi. Anak-anak yang mengikuti tour memiliki harapan begitu besar agar bisa berkunjung secara langsung seperti dikatakan Mikael TK B kelas Smart yang mengatakan lebih seru berkunjung langsung “kurang seru kalau cuma nonton film doang, kalau bisa ke tempat aslinya” Sementara Christopher TK B kelas Grow berharap Tuhan Yesus memberkati keinginannya berkunjung ke Museum Ursulin Santa Maria: “aku mau lihat museum virtual Santa Maria kalau udah nggak ada korona aku mau pergi sama mama papa secara offline. Tuhan Yesus memberkati”

 Tanggapan Anak-anak TK Santa Maria setelah kunjungan virtual tour dapat di lihat di IG Museum Santa Maria pada link https://www.instagram.com/museumursulinsantamaria/ atau klik disini


Senin, 25 April 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (V)

 

Penutup 
Keadaan politik Kota Surabaya pada masa awal karya para Suster Ursulin tahun 1863 cukup baik, tidak ada perang. Kota Surabaya adalah kota yang sibuk dengan perdagangan. Hubungan kota Surabaya dengan kota-kota di Jawa bagian tengah dan Jawa bagian barat menggunakan kapal laut atau jalan yang disebut “Jalan Raya Pos” yang dibangun Gubernur Jendral Daendels, belum ada kereta Api.

 Karya Ursulin di Surabaya dimulai ketika pastor Martinus van den Elzen, SJ dan JB. Palinck SJ bertugas di Surabaya dan menjalankan pelayanannya selama dua tahun. Pastor Martinus kemudian mengundang para Suster Ursulin untuk berkarya karena di Surabaya membutuhkan tenaga para Suster Ursulin.

 Menanggapi undangan tersebut, para Suster Ursulin di Batavia mengirim lima Suster pionir ke Surabaya. Kelima Suster tersebut adalah suster Louise Demarteau, Suster Euphrasie Webb, Suster Alphonse Portmans, Suster Augustine Phillipsen dan Suster Marie Geraedts. Suster Marie Louise Demarteau mendapat tugas memimpin para Suster Ursulin tersebut.

 Para Suster tiba di kota Surabaya pada 14 Oktober 1863 menumpang kapal layar Zephir. Pastor Martinus menjemput dan mengantar para Suster Ursulin ke sebuah rumah di jalan Krembangan. Rumah itu menjadi tempat tingal pertama para Suster Ursulin di Surabaya.

 Tak lama kemudian, dengan dibantu pastor Martinus, biara Ursulin komunitas Batavia, dan para donatur, Suster Ursulin Surabaya berhasil membeli sebuah hotel “Commerce” dengan harga 40.000 Gulden. Hotel di jalan Kepanjen itu dijual karena pemiliknya ingin pulang ke negerinya. Hotel yang letaknya dekat gereja itu kemudian menjadi rumah biara dan karya para Suster Ursulin.

 Karya pertama para Suster Ursulin di Surabaya adalah Sekolah Dasar pada 3 November 1864. Sebelum para Suster Ursulin membuka sekolah, para Bruder Santo Aloysius (CSA) yang terletak diseberang Biara Ursulin sudah membuka ELS atau Europa Lagere School, sekolah dasar khusus putra pada 28 Mei 1862 dan Rumah Piatu.
Ketika dibuka, sekolah menerima 21 murid, kemudian secara bertahap bertambah banyak menjadi 1500. Para Suster kemudian membuka Sekolah Dasar kedua yang dikhususkan bagi anak-anak tidak mampu. Sekolah yang pertama diberi nama Santa Angela dan sekolah kedua diberi nama Santa Ursula.

 Selanjutnya para Suster membuka sekolah yang mengajarkan ketrampilan wanita terutama menjahit pada tahun 1874. Sekolah Frobel atau TK dibuka tahun 1877 dan sekolah pendidikan guru dibuka pada tahun 1880. Sekolah guru diberi nama “Sekolah Guru Santa Catarina”. Sekolah guru Santa Catarina kemudian dipindahkan ke komplek sekolahan Ursulin di Jalan Darmo pada tahun 1922 dan namanya dirubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru Santa Maria.

 Pada 28 Maret 1916 Rumah Piatu yang diasuh oleh para Bruder Santo Aloysius diserahkan secara resmi kepada Suster Ursulin. Rumah Piatu itu terletak diseberang Biara Ursulin Kepanjen. Tahun 1926 Rumah Piatu itu menjadi “Panti Asuhan Santa Ursula”. Komplek Biara Ursulin Kepanjen kemudian bertambah menjadi dua bagian. Biara, SD dan TKK Santa Angela berada di sebelah gereja, sedangkan panti Asuhan dan SD Santa Ursula diseberangnya.

 Pada tahun 1930 gedung lama “Panti Asuhan Santa Ursula” dirombak diganti baru. Dibangun pula aula di bagian sebelah kiri dan ruang-ruang kelas disebelah kanan.

 Usai perang kemerdekaan, pada tahun 1950 Kepanjen diserahkan kepada Suster Santa Perawan Maria (SPM) dan Frater Bunda Hati Kudus (BHK) 

 Rumah di Pacet saat ini dimulai ketika Suster membeli sebuah tanah di Kasri sebagai tempat peristirahatan pada tahun 1884. Kasri saat ini adalah sebuah desa di kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Namun karena rumah di Kasri terlalu kecil untuk dua komunitas Ursulin di Kepanjen dan Darmo maka dibelilah lahan baru di Pacet pada 25 September 1929.

 Rumah peristirahatan di Pacet selesai dan diberkati oleh Mgr. de Backere pada 20 April 1931 dan diberi nama Stella Matutina atau Bintang Kejora. ***

Jumat, 25 Maret 2022

Napak Tilas Jejak Ursulin di Surabaya (IV)

Tampak depan Biara Ursulin Pacet & Rumah Retret Bintang Kejora


 
Rumah Retret Pacet.
Biara Ursulin di Pacet menjadi pemberhentian akhir napak tilas jejak para Suster Ursulin di Surabaya. Sekitar dua jam dengan kendaraan roda empat dari surabaya lewat tol. “Kalo naik kendaraan umum bisa tiga jam. belum ganti angkot. Bisa tiga jam baru sampai di Pacet.” Kata driver Ojol di Surabaya. Untunglah, Suster Hilda berbaik hati mengirim sopir menjemput.

 Suasana sepi menyambut saat tiba, maklum sudah lewat jam tujuh malam. Seperti umumnya suasana pedesaan, hening. Pacet sendiri merupakan kota kecamatan di Kabupaten Mojokerto di kaki gunung Welirang. Saat ini Biara Ursul in di Pacet dimanfaatkan sebagai Rumah Retret Bintang Kejora.

 Keesokan paginya setelah sarapan, Suster Tari, Pemimpin Komunitas di Pacet menugaskan Pak Witono, karyawan Biara menemani keliling komplek.

Komplek Bintang Kejora dibagi menjadi empat bagian, Biara, Rumah retret, sekolah dan kebun. Biara untuk tempat tinggal para Suster berada di bagian depan. Dari pintu gerbang tinggal lurus saja. Area sekolah berada di sebelah kiri biara atau jika masuk dari pintu gerbang langsung belok kanan. Rumah Retret beserta fasilitasnya berada di sebelah dalam biara. Bagian terakhir adalah kebun, kebun ini mengelilingi Biara, Sekolah dan Rumah Retret.

 Pak Witono menjelaskan setiap detail fasilitas rumah retret dan kebun. Rumah retret terdiri beberapa unit gedung dengan kamar-kamar dan fasilitas pendukung. Tiap unit diberi nama antara lain Desenzano, Brescia dan Merici. Jumlah keseluruhan ada tujuh puluh lima kamar. Setiap kamar mampu menampung maksimal empat orang.

“Rumah ini dibangun sekitar tahun 1920an” terang Pak Witono saat memasuki serambi unit Desenzano. Saat sebelum pandemi, Rumah retret mampu menampung tiga ratus peserta atau beberapa kelompok retret. Peserta retret selain para suster biasanya dari komunitas sekolah Ursulin. Komunitas lain yang sering menggunakan adalah kelompok kategorial seperti ME (Marriage Encounter, komunitas pasangan suami istri katolik) Orang Muda Katolik (OMK) dan Misdinar (petugas pelayan imam saat misa)

Di area dapur, fasilitas memasak termasuk modern dan lengkap karena tidak hanya melayani logistik para peserta retret tetapi juga menjadi area produksi oleh-oleh khas biara.

Salah satu produksi oleh-oleh yang terkenal adalah Pie isi Murbei. Ada juga Pie dengan varian isi jamur dan daging ayam. Selain Pie ada berbagai jenis olahan lain seperti Selai, Keripik, berbagai jenis Roti, madu dan masih banyak lagi. Hampir seluruh bahan pokok produksi oleh-oleh berasal dari kebun sendiri.


 Dari dapur beralih ke kebun. Di kebun biara ditanam berbagai jenis sayuran, dan buah buahan. Buah-buahan yang ditanam diantaranya jeruk, pepaya, murbei, durian. Selain buah dan sayuran Suster juga beternak ayam dan ikan.

 Satu jam saja tidak cukup untuk menikmati seluruh area komplek Biara Ursulin di Pacet.  Pemandangan alam disekitarnya memanjakan mata serta hawanya sejuk.

Pantaslah para Suster memilih tempat ini menjadi rumah peristirahatan dan retret. Tempat yang pas untuk memulihkan kondisi jasmani dan rohani untuk melanjutkan tugas dan karya melayani sesama demi kemuliaan Allah
. (bersambung)



foto kiri: karyawan biara bagian dapur sedang memproduksi olahan khas Biara Pacet. 
Foto kanan atas & bawah: Serambi di depan kamar-kamar ruang retret.
foto insert: Bapak Witono yang mengantar keliling komplek


Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...