Frater Samuel kagum dengan banyaknya koleksi relikui dan masih terawat baik. Kemudian ia menceritakan relasi antar biara, “Di Jerman bagian utara dan Belanda bagian Selatan itu banyak biara-biara, dan mereka saling mendukung diantara biara-biara tersebut meski berbeda ordo atau kongregasi. Nah ketika ada biara yang bermisi, biasanya mereka menyumbangkan dana. Tetapi bila tidak memiliki dana, mereka memberikan yang terbaik yang dimiliki biara. Apa itu? Ya relikui,” jelas frater yang sering juga dipanggil Frater Sonny. | Ia punya banyak pemahaman dan sangat tertarik dengan relikui. Frater Sonny menjelaskan siapa saja yang berhak mengeluarkan sertifikat. “Yang pertama itu uskup keuskupan setempat, kemudian Magister General atau general-nya di biara pusat. Berikutnya Provinsial dan yang terakhir adalah administrator keuskupan yang biasa disebut POSTULATOR. Jadi kalo ada sertifikat dengan tulisan Postulator maka itu yang mengeluarkan sudah pasti administrator keuskupan.” Beberapa relikui juga menjadi perhatiannya, “Disini relikuinya lengkap, termasuk ada Relikui Santo Yoseph & Bunda Maria dan juga para rasul. Saran saya nanti dibuat ruang yang agak lebih besar kemudian diurutkan mulai dari Bunda Maria dan Santo Yoseph kemudian Salib Yesus, para Rasul, terus para kudus pendiri Ordo dan relikui para Kudus sesudahnya. Jadi ada urutannya.” Usul dan saran yang berharga itu kami catat untuk menjadi pe-er penataan museum selanjutnya, TERIMA KASIH FRATER SONNY.*** |
Kamis, 14 Maret 2019
Seluk beluk Relikui
Komunitas Anak Belajar (Children Learning Community)
|
Tujuh belas orang dari Komunitas Anak Belajar dari Cakung Sabtu 9/2/2019 berdesak-desak dalam mikrolet kecil datang untuk mengunjungi Museum Santa Maria. Mereka terdiri dari para mama, anak-anak dan remaja yang mayoritas perempuan. Didampingi ketuanya Debby Ametimu, mereka ingin mengenal dan belajar Museum Santa Maria dari dekat. Mereka diajak nonton film pendek tentang museum dan sejarah singkat para suster. Mereka serius menonton film berdurasi 10 menit itu tanpa ada suara lain. Selesai menonton, mereka dipandu keliling museum. Di Ruang Angela, mereka diperkenalkan dengan sosok Angela Merici pendiri Ordo Santa Ursula dimana para suster anggotanya disebut Ursulin, berkarya di tempat ini. Pemandu menjelakan bahwa saat masih kecil, sebelum tidur, Pak Giovanni Merici ayah Angela sering menceritakan kisah-kisah dalam Kitab Suci dan Kisah Orang Suci atau Santo-Santa. Kisah dalam cerita itu kemudian membentuk karakter Angela saat dewasa yang mengikuti teladan orang suci idolanya yaitu Santa Ursula dan Santa Katarina, menghibur dan melayani orang kecil. | Pemandu menyelipkan pesan kepada para orang tua yang hadir agar selalu menemani anak-anaknya menjelang tidur dan tidak lupa menceritakan kisah dari para tokoh-tokoh baik pahlawan maupun tokoh orang suci agar anak mereka punya mimpi menjadi orang besar seperti halnya Angela Merici.
Pembentukan karakter ditanamkan sejak kecil dan menjadi tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu, dianjurkan sebelum tidur, orang tua menemani anak dan menceritakan kisah para tokoh-tokoh besar dunia itu. Diusahakan agar orang tua mengurangi ketergantungan anak dengan HP , orang tualah yang harus dekat dengan anak bukan HP. Dari ruang Angela lanjut ke ruang-ruang lain. Pemandu selalu menyelipkan pesan bagi pengunjung, peran perempuan seperti yang dicontohkan para Suster Ursulin yang datang dari jauh ke Indonesia untuk mendidik para perempuan. Mereka mendidik lebih dari sekedar membaca, menulis dan berhitung tetapi juga etika dan moral. Para Suster tidak hanya mendidik tetapi juga menyiapkan wanita agar menjadi seorang ibu yang baik, cerdas dan bijak. Usai berkeliling selama kurang lebih sejam, sebelum pulang mereka berfoto bersama di halaman depan (foto), tak lupa Suster membawakan mereka minum dan makanan kecil untuk seluruh rombongan. *** |
Sewindu Museum Santa Maria
|
Warna- warni balon seketika terbang ke udara setelah Suster Maria D. Sasmita, OSU Kepala Biara Santa Maria Juanda memotong tali-tali pengikatnya. Bersamaan dengan itu tersingkaplah Papan Nama baru Museum Santa Maria bernuansa oranye pertanda acara Open House Museum dimulai. Perayaan syukur ulang tahun Sewindu Museum Santa Maria Jakarta Rabu 06/2/2019 ditandai dengan pemasangan dan peresmian papan nama Museum Santa Maria dan kegiatan Lomba Fotografi untuk segala umur. Tujuannya tidak lain adalah supaya makin banyak masyarakat mengetahui bahwa di dalam kompleks sekolah-biara Santa Maria terdapat “living heritage”. Para tamu yang hadir sekitar 50 orang memenuhi Hall mungil. Sebagian adalah para suster dari berbagai komunitas, para undangan dari sekolah-sekolah, para pemerhati museum dan sponsor datang untuk ikut menyaksikan serta mengenal lebih dekat Museum St Maria. Lalu dilanjutkan dengan doa dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan, atas perjalanan delapan tahun (2011-2019) Museum Santa Maria. Ibu Gina Sutono, mewakili volunteer terlama dan Mr Scott Merillees pemerhati kota Batavia/Jakarta yang pertama kali konfirmasi hadir, menerima potongan tumpengnya. Acara dimeriahkan oleh permainan piano persembahan Sir Harry Darsono Phd. Panitia sempat kalang kabut karena permintaan mendadak untuk menyediakan piano. Namun akhirnya piano kuno yang sudah lama “fals” bunyinya, dapat digunakan untuk menghibur para tamu. Lagu pertama yang dimainkan dengan “ciamik” adalah ungkapan, bahwa Cinta adalah banyak hal yang indah :“Love is a many splendored thing”. Para tamu juga diajak untuk bernyanyi bersama lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki dengan penuh semangat. Sekilas Perkembangan Museum Seperti kita ketahui, Museum Santa Maria sendiri diprakarsai oleh Sr. Ingrid Widhiningsih, OSU yang saat itu menjadi Pemimpin Komunitas. Selama 1,5 tahun beliau mengumpulkan, membersihkan dan menata artefak yang berserakan, di kapel, kamar, ruang dalam biara dan di unit-unit sekolah. Ibu Gina Sutono membantu mengumpulkan koleksi dan menata artefak-artefak di ruang-ruang kosong waktu itu. | Museum Santa Maria resmi dibuka oleh Pastor Paroki Katedral Rm Bratakartana, SJ pada 6 Februari 2011 usai misa di kapel. Selama tahun 2011-2015 Museum dibuka dan dikunjungi pada hari-hari tertentu saja seperti ketika ada MOS siswa/i baru dan Sabtu-Minggu oleh umat sekitar dan sekolah-sekolah Ursulin. Setelah Suster Ingrid diutus ke Komunitas Theresia medio 2015, pengelolaan Museum Santa Maria dilanjutkan oleh Suster Lucia yang sebelumnya juga ikut membantu mengurus museum. Dimulailah pendataan artefak secara digital yang dibantu oleh para volunteer dan fotografer Senior Kompas Arbain Rambey. Tahun Yubelium Kerahiman 2016, selain Kapel, Museum Santa Maria juga banyak dikunjungi umat KAJ. Sejak saat itu, Museum Santa Maria dibuka untuk umum menyesuaikan dengan Museum Katedral dengan jadwal buka tiga kali dalam seminggu: Senin-Rabu-Jumat; karena sering kali umat yang datang ke Museum Santa Maria, juga mengunjungi Museum Katedral dan sebaliknya. Pada tahun itu pula, Museum Santa Maria, mulai tercatat dan aktif mengikuti program yang diselenggarakan oleh AMIDA (Asosiasi Museum Daerah) Paramita Jaya, Jakarta. Setelah dibuka untuk umum, banyak orang tertarik dan ingin tahu seperti apakah Museum Santa Maria tersebut. Maka pada Juli 2017 Museum Santa Maria selain terus membuat brosur dan booklet, juga membuat blog sebagai sarana publikasi kegiatan dengan alamat http:// museumsantamariajuanda.blogspot.co.id dilanjutkan fanspage dan Instagram (IG). Pada 19-22 April 2018 Museum Santa Maria untuk pertama-kalinya mengikuti Pameran Museum Bersama Se-Indonesia ke-VI, dalam rangka HUT TMII ke-43 yang bertemakan: “Peran Perempuan Indonesia” di Sasana Kriya-TMII. Museum Santa Maria bergabung bersama museum-museum di seluruh Indonesia, berpameran bersama. Untuk lebih meningkatkan pelayanannya, mulai Oktober 2018 Museum Santa Maria dibuka setiap hari kerja dari jam 08.00 – 14.00, sementara untuk Minggu dan Hari Libur nasional dengan perjanjian. Jumlah pengunjung museum bervariasi, di tahun 2016 karena bertepatan dengan perayaan Yubileum maka pengunjung mencapai hampir 4.000 orang. Sementara di tahun 2017 sebanyak 1.455 orang dan 2018 sebanyak 1.405 orang. Sedangkan di tahun 2019 di bulan Februari sampai berita ini ditulis pengunjung tercatat sebanyak 400 orang. Museum Santa Maria masih termasuk karya baru dari Suster Ursulin Uni Roma, Provinsi Indonesia, sehingga pengelolaanya masih termasuk bagian dari biara. Museum ini menempati bagian depan dari bangunan paling awal. Organisasinya masih sederhana, dengan satu penanggung jawab, satu karyawan dan beberapa volunteer. Karya baru ini memiliki banyak tantangan, terutama fungsi dan kondisi gedung lama yang perlu direvitalisasi, perlunya konservasi berbagai macam artifak, selain Kompetensi pengelola yang masih terbatas. Namun dengan bergabungnya Museum Santa Maria dengan AMI (Asosiasi Museum Indonesia)– DKI Paramita Jaya yang setiap bulan mengadakan pertemuan, Museum terus belajar dan berbenah, untuk meningkatkan pelayanan, penyajian dan pemeliharaan.*** |
Belajar Memandang Perbedaan
| | |
| Pendidikan Pancasila tidak melulu harus dikelas. Perlu riset dengan melihat langsung, bagaimana Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu tempat yang terpilih untuk riset itu adalah Museum Santa Maria. Senin 19 November 2018, Pak Simon mengontak museum Santa Maria. Pak Simon Wenehen, dosen matakuliah Pancasila di STIE URSULA Mengabarkan akan berkunjung ke kapel dan Museum keesokan harinya pada selasa 20 November pagi jam sembilan. Tetapi karena esok paginya sudah ada rombongan lain yang memesan tempat sebulan sebelumnya, kami tawarkan Pak Simon dan rombongan perubahan jam. Setelah tawar menawar soal waktu kunjungan, disepakati rombongan akan datang sekira jam 13.00 Hari Raya Maulud Nabi saat jam menunjuk angka 13.20, rombongan mahasiswa STIE URSULA masuk ke kapel Santa Maria. Di dalam kapel, Pak Simon memperkenalkan diri dan rombongan. Menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan. Ia mengajak mahasiswanya yang berlatar belakang berbagai agama dan suku, berkunjung ke beberapa tempat ibadah untuk melihat dari dekat setiap agama dan belajar bagaimana perbedaan saling mendukung dan melengkapi. Di depan para mahasiswa, Pemandu menjelaskan singkat gambaran umum kapel Santa Maria. Kapel sendiri adalah gedung gereja kecil. Dan Kapel santa Maria meski menjadi bagian dari biara, namun para suster mengijinkan umat datang bergabung merayakan misa harian dan mingguan. Dari Kapel, Pemandu mengarahkan rombongan menuju ke hall museum. Sambil lesehan, kembali Pak Simon memperkenalkan diri dan menyampaikan niat dan tujuan mereka datang ke Santa Maria. Suster Lucia menyambut gembira kedatangan kawan kawan mahasiswa. Setelah berkenalan singkat dan memutarkan film pendek, Suster memberi ruang untuk bertanya. Zerly, salah satu mahasiswi berjilbab bertanya bertanya tentang baju yang dikenakan suster. “Suster pakai seragam ini apakah tiap hari? Trus untuk apa dan bagaimana bisa pakai sragam itu?” Suster menjelaskan bahwa baju yang dikenakannya adalah baju seragam para suster. Ada beberapa tahapan, yang pertama saat masih novis hanya baju seragam belum menggunakan kerudung. Kemudian setelah berkaul sementara baru mendapat kerudung. Setelah berkaul kekal, maka seorang suster mendapatkan kerudung dan salib serta cincin yang harus dipakai setiap hari. | Pertanyaan lain dari Bella ”Menurut Suster, gimana cara mengatasi perbedaan agama di Indonesia?” “Waah berat ini…berat…. berat pertanyaannya ….hahahaha… sahut beberapa teman lain. Suster menjawab dengan mengisahkan peristiwa ketika seorang anak baru lahir dan disekitarnya sudah ada perbedaan kemudian tumbuh bersama , mungkin tidak akan mereasakan perbedaan itu. Susterpun mengisahkan masa kecilnya yng hidup dan bertetangga dengan banyak macam latar belakang perbedaan namun tetap dapat hidup rukun damai bahkan sampai saat ini masih berelasi dengan baik.
Setelah puas bertanya, tiba waktunya untuk berkeliling museum. Rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok didampingi pemandu. Semua kelompok masuk ke ruang ruang yang ada di Museum. Mereka mendapatkan penjelasan bagaimana Para Suster Ursulin mengawali perjalanan, memulai karya dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Apalagi pada masa awal kedatangan mereka di tahun 1856, Para Suster sudah menjadi minoritas. Katolik pada masa itu sangat kecil dibanding penduduk Batavia. Bahkan para pekerja , penghuni asrama dan murid suster didominasi non katolik. Karena diingatkan oleh koordinator bahwa masih ada tempat yang harus dikunjungi maka tour keliling museum Kurang dari sejam. Meski hanya sebentar dan masih ada yang merasa belum puas, mereka terkesan. Mereka tuangkan kesan dan pesan kunjungan dalam buku tamu dan lembar kertas yang tersedia. Berikut beberapa kesan yang dirangkum redaksi. Yonathan : Bisa merasa lebih tau tentang arti sejarah suster santa Ursula. Lebih banyak belajar. Victor: Menambah wawasan bagi kami yang tidak / belum mengeti sejarah tentang agama katolik. Monic : Bagus sangat berkesan melihat para pejuang Biarawat untuk menyebar kebaikan Tuhan. Indra Munid Yuliyanto: Kami sangat mendapatkan ilmu baru dari Santa Maria. Ini sangat memberikan wawasan yang lebih luas bagi yang berbeda agama seperti saya. We love Santa Maria. Seprianus Putra: Tempat luar biasa bersejarah dan patut dilestarikan. Coni Fransisca: Tempatnya enak dan nyaman, banyak dapat ilmunya. Museumnya banyak benda benda jaman dulu. Ok deh pokoke. Tarsila Destri: Sangat bermanfaat dengan adanya museum ini, sehingga saya bisa mengetahui tentang museum. Kesan yang mereka ungkapkan dalam tulisan menunjukkan kekaguman dan semangat untuk mau belajar dan menerima perbedaaan dengan tangan terbuka. Terima kasih kunjungannya kawan kawan mahasiswa STIE URSULA.*** |
Rabu, 30 Januari 2019
SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA FOTO HUT SEWINDU MUSEUM SANTA MARIA
Tema: Museum
Santa Maria
Obyek Foto:
Museum Santa Maria
Syarat dan
ketentuan lomba:
2. Registrasi ulang ke Museum Santa Maria mulai 7 Februari 2019
(sesuai jam buka museum)
3. Kunjungan Museum pada hari Minggu,
dikonfirmasikan seminggu sebelumnya ke no HP/WA Museum Santa Maria : 0896-5589-3880
pada jam kerja
4. Peserta bebas segala usia
5. GRATIS
6. Wajib follow akun instagram
@museumsantamaria
7. Repost atau regram poster lomba foto
Museum Santa Maria
8. Repost atau regram poster lomba foto Museum Santa Maria wajib
mencantumkan tagar #MuseumSantaMaria #ayokemuseum dan dimention kepada
@museumsantamaria serta 5 teman
9. Obyek foto adalah Museum Santa Maria.
10. Setiap peserta diperbolehkan mengirim
maksimal 3 foto ukuran minimal 12 megapixel
11. Setiap peserta bebas menggunakan jenis
kamera apa saja tanpa blitz / flash
12. Olah digital diperkenankan sepanjang
tidak mengubah realita atau memanipulasi foto
13. Foto bersifat original dan belum pernah dipublikasikan.
14. Dikirimkan ke email dalam bentuk
JPG/JPEG susteran.ursulin@gmail.com dengan subjek:
nama_nomor
registrasi_lombafotomuseumsantamaria paling lambat Sabtu 13
April 2019 Pukul 13.00 WIB
(sesuai jam tutup museum)
15. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak
bisa diganggu gugat.
16. Dengan mengikuti lomba ini, peserta mengizinkan pihak Museum Santa Maria, untuk
menggunakan sebagai materi promosi Museum Santa Maria dengan mencantumkan nama
fotografernya.
17. Pemenang lomba foto diumumkan pada jumat 17 Mei 2019 di Museum Santa
Maria pada pertemuan Mugalemon DKI (Museum Galeri Monumen) bulan Mei 2019
Ttd. Panitia
Kamis, 24 Januari 2019
OPEN HOUSE MUSEUM
Museum St Maria merupakan “living heritage” dari Biara dan Sekolah Santa Maria yang berdiri sejak 1856. Museum menghayati semboyan berakar di masa lampau, hidup di masa sekarang, dan menggapai ke masa depan.
Dalam rangka memperingati dan mensyukuri Sewindu/8
tahun (2011-2019) Museum Santa Maria
Jakarta, yang lokasinya berada di dalam kompleks Sekolah-Biara Santa Maria, Jl.
Ir. H. Juanda 29, Museum Santa Maria akan mengadakan serangkaian kegiatan yang melibatkan
murid-umat dan masyarakat yang peduli pada sejarah dan pendidikan.
Oleh karena itu, kami mengundang anda untuk hadir dan terlibat dalam
·
OPEN HOUSE dilaksanakan pada :
Hari & tanggal :
Kamis – Minggu, 7 – 10 Februari 2019
(Pelajar)
Jumat – Minggu 8-10 Maret 2019 (Umum)
Waktu : Pukul 08.00
– 16.00
Demi kenyamanan pengunjung, kami mohon konfirmasi waktu kunjungan dan jumlah
peserta melalui telp. / WA Museum Santa Maria : 0896 – 5589-3880 / Bpk.
Thomas Aji : 0856-7339-613. Konfirmasi untuk sekolah / pelajar diterima panitia paling lambat 31 Januari 2019. Konfirmasi untuk umum diterima panitia paling lambat 28 Februari 2019.
Salam SERVIAM & SOLI DEO GLORIA
Salam SERVIAM & SOLI DEO GLORIA
Rabu, 23 Januari 2019
SYARAT DAN KETENTUAN LOMBA FOTO HUT SEWINDU MUSEUM
HUT
SEWINDU MUSEUM SANTA MARIA
Tema: Museum
Santa Maria
Obyek foto: Museum Santa Maria
Obyek foto: Museum Santa Maria
2. Registrasi ulang ke Museum Santa Maria mulai 7 Februari 2019
(sesuai jam buka museum)
3. Kunjungan Museum pada hari Minggu,
dikonfirmasikan seminggu sebelumnya ke no HP/WA Museum Santa Maria : 0896-5589-3880
pada jam kerja
4. Peserta bebas segala usia
5. GRATIS
6. Wajib follow akun instagram
@museumsantamaria
7. Repost atau regram poster lomba foto
Museum Santa Maria
8. Setiap foto yang diunggah wajib
mencantumkan tagar #MuseumSantaMaria #ayokemuseum dan dimention kepada
@museumsantamaria serta 5 teman
9. Obyek foto adalah Museum Santa Maria.
10. Setiap peserta diperbolehkan mengirim
maksimal 3 foto ukuran minimal 12 megapixel
11. Setiap peserta bebas menggunakan jenis
kamera apa saja tanpa blitz / flash
12. Olah digital diperkenankan sepanjang
tidak mengubah realita atau memanipulasi foto
13. Foto bersifat original dan belum pernah dipublikasikan.
14. Dikirimkan ke email dalam bentuk
JPG/JPEG susteran.ursulin@gmail.com dengan subjek:
nama_nomor
registrasi_lombafotomuseumsantamaria paling lambat Sabtu 13
April 2019 Pukul 13.00 WIB
(sesuai jam tutup museum)
15. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak
bisa diganggu gugat.
16. Dengan mengikuti lomba ini, peserta mengizinkan pihak Museum Santa Maria, untuk
menggunakan sebagai materi promosi Museum Santa Maria dengan mencantumkan nama
fotografernya.
17. Pemenang lomba foto diumumkan pada jumat 17 Mei 2019 di Museum Santa
Maria pada pertemuan Mugalemon DKI (Museum Galeri Monumen) bulan Mei 2019
Ttd. Panitia
Selasa, 15 Januari 2019
Tour Dua Oma
|
Jam 14.20 sudah lewat, waktunya museum tutup. Tiba-tiba datang Bu Siska pengelola kantin unit produksi SMK datang mengetuk pintu dan memberitahu bahwa ada tamu datang ingin melihat museum. “Sudah tutup belum museumnya?” Tanya Bu Siska. Namun karena pintu ruang-ruang museum masih terbuka, pemandu menerima pengunjung dengan senang hati. Tamu itu bertiga, Oma Tekla, oma Yuliana Mindarti Sumargo dan Jessica, cucu mereka. Mereka sudah merencanakan akan mengunjungi Museum Santa Maria untuk mengisi liburan sekolah Jessica. Mereka berangkat sebelum jam dua belas tetapi karena terjebak macet, mobil ojek online yang mereka tumpangi terjebak macet dan akhirnya sampai di museum menjelang tutup. Beruntung, museum masih buka dan pemandu menerima dengan ramah dan mengajak mereka bertiga keliling museum. Menurut Oma Tekla, Jessica suka ke museum. Kemarin sudah mengunjungi beberapa museum dan hari ini khusus mengunjungi Museum Santa Maria. Oma Mindarti ternyata juga tertarik dengan biara para Suster Ursulin. Oma Mindarti berkisah bahwa ia dulu pernah tinggal di Cirebon dan lulus SMA Santa Maria tahun 1979. Ia juga tahu bahwa Sekolah Santa Maria Cirebon pada awalnya adalah biara para Suster Ursulin. Selain itu Oma Mindarti juga serius mendengarkan penjelasan pemandu. Ia aktif menanggapi apa yang disampaikan pemandu. | Di ruang Audio Visual, mereka berhenti didepan sebuah benda pamer berupa pigura dengan tulisan tangan berisi daftar nama para suster di komunitas Biara Santa Maria Juanda yang sudah meninggal sejak tahun 1856 sampai tahun 1964 Pemandu menjelaskan bahwa ada 92 nama suster yang tercantum dalam daftar tersebut. Mendengar penjelasan pemandu, Oma Mindarti langsung mendekat dan menghitung perlahan. Ternyata ada 88 nama suster. Karena masih penasaran Ia ulangi menghitung sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama 88 nama. Dari sekian banyak tamu yang berkunjung, hanya Oma Mindarti yang menghitung daftar nama para suster itu. Pemandu mengucapkan terima kasih atas koreksi dan ketelitian Oma Mindarti. Sebagai penghargaan atas ketelitiannya, Pemandu memberikan sebuah kenang-kenangan yang diberikan usai keliling museum berupa pembatas buku dengan tulisan berupa nasehat Santa Angela “ Apa yang anda ingin mereka lakukan, lakukan sendiri itu lebih dahulu.” Oma Mindarti gembira mendapat hadiah kecil itu. Oma Tekla dan Jessica juga mendapatkannya. Begitu senangnya mendapat hadiah, ia meminta tanda tangan pemandu di balik kartu pembatas buku. Oma Tekla pun meminta hal yang sama, tanda tangan pemandu. Selesai keliling museum, mereka ingin ke kapel, namun karena sudah lebih dari satu jam melewati batas jam kunjungan tamu, pemandu tidak mengijinkan tamu memasuki kapel. Sebelum pamit mereka menuliskan pesan di buku tamu “Sangat menyentuh hati kita. Memberi kekuatan iman akan perjuangan para Suster Ursulin.” *** |
Rabu, 09 Januari 2019
ALUMNI Yang Penasaran Dengan BANGUNAN TUA
Sepanjang Jalan Juanda Raya-Jakarta Pusat, persis di belakang Istana Presiden, bila diperhatikan dengan seksama, ternyata masih ada beberapa bangunan tua bersejarah. Salah Satunya adalah Gedung Santa Maria yang bersebelahan dengan Kantor Bank Indonesia cabang Jakarta. Masyarakat umum tidak banyak yang tahu, hanya tahu bahwa gedung itu adalah sekolah yang sudah lama. Mereka tidak tahu ada kisah-kisah tersembunyi haru-sedih-menegangkan dibalik tebalnya tembok Kompleks Santa Maria. Sabtu 4 Januari 2019 dua perempuan pendiri komunitas Jakarta Hidden Heritage Mbak Any & Mbak Nova datang ke Museum Santa Maria. Komunitas Jakarta Hidden Heritage sendiri merupakan komunitas pencinta bangunan dan gedung-gedung tua. Awalnya secara tidak sengaja, ketika mereka survey untuk mencari route perjalanan tour komunitasnya, menyusuri gedung-gedung tua dari Weltevreden (sekarang daerah Pasar Baru) menuju Molenvliet atau Hayam Wuruk-Harmoni, tiba-tiba mereka berhenti di depan pintu masuk. Gedung Santa Maria yang memang tampak menjulang, mereka penasaran masuk ke dalam kantin unit produksi SMK. Sambil melihat-lihat foto-foto gedung lama yang terpajang di situ, mereka lalu masuk lebih dalam dan melihat spanduk dengan tulisan Museum Santa Maria. Mereka semakin penasaran dan ingin melihat lebih dalam apa saja isi museum dan gedung tua ini? | Di lobi museum, mereka bertemu Suster Lucia.. Dengan gembira Suster menyambut kedua tamu tersebut. “Beberapa waktu lalu juga ada komunitas mirip kelompok ini yang berkunjung ke sini,” kata Suster ramah seraya mengajak mereka masuk ruang tamu sekretariat dan memperkenalkan Museum Santa Maria.
Mbak Nova dan Mbak Any, takjub mendengar penjelasan kami, saat berkeliling ke museum. Melihat gedung yang masih terawat baik dan koleksi yang berusia tua lagi-lagi dengan kondisi masih terawat baik pula membuat mereka semakin kagum. Menurut Mbak Nova, melihat benda-benda kuno di Museum Santa Maria seolah membawanya kembali ke masa silam. Mereka memperhatikan betul koleksi yang ada di museum dan menikmatinya. Satu jam lebih keliling museum dan mengunjungi Kapel Susteran membuat mereka gembira. Di kapel pun mereka tak kalah terkejutnya. Tampak dari luar gedung kapel yang menjadi bagian biara kokoh dan interior didalamnya sungguh cantik. “Amazing banget,” begitu seru mereka berdua, sulit menggambarkan rasa di hati melihat dan mengalami bisa masuk ke Gedung Biara Santa Maria sampai ke bagian dalam. Menurut Mbak Any, lulusan SMA Santa Ursula-Jalan Pos, waktu masih sekolah ia belum pernah sampai sejauh ini masuk ke dalam kompleks sekolah. Jadi pengalaman hari ini merupakan pengalaman yang betul-betul luar biasa. Sebelum pamit, mereka menjanjikan akan membawa rombongan komunitasnya, “kurang lebih tiga puluh orang” kata Mbak Nova memastikan. Tak lupa mereka menuliskan kesan di buku tamu “Luar biasa, memberikan banyak informasi dan sejarah”.*** |
Jumat, 04 Januari 2019
Belajar Keberagaman
|
Bermula dari Inisiatif Yohanes menelpon Museum pada Sabtu siang 8 Desember 2018, “Selamat siang apakah kami bisa mengunjungi Museum dan kapel Santa Maria?” “Siapa ya dan dari mana?” “Saya Yohanes, dari SMAK Penabur Gunung Sahari.” “Sejam lagi museum akan tutup, Jadi silahkan datang segera, kami akan tunggu” “Kalau begitu, kami datang Senin saja.Terima kasih.” Senin siang, Yohanes, Ketua OSIS memenuhi janjinya, ia datang menjelang jam dua belas. Yohanes ditemani Putri dan Cecilia, pengurus OSIS. “Mau survei tempat , dari OSIS ini hanya perwakilan saja. Kami mau ada kegiatan temanya tentang keragaman budaya. Kebetulan saya SMP nya kan disini juga makanya teman teman mau saya ajak kesini. Soal waktu baru akan kami bahas setelah survey ini,” Terang Yohanes saat ditanya Suster Lucia, penanggung jawab Museum. | Setelah berbincang sejenak dengan Suster Lucia, mereka melanjutkan tour keliling museum. Di ruang Misi, mereka melihat koleksi uang dan bertanya “Ini mereka bawa semua ya?” Pemandu menjelaskan bahwa semua uang yang ada di ruang MISI terkait dengan karya para Suster. Uang tersebut menjadi sarana pendukung karya juga menjadi bukti keberadaan para Suster Ursulin jauh sebelum Indonesia Merdeka. Uang yang menjadi koleksi museum menjadi bukti para Suster Ursulin di Biara dan sekolah Santa Maria ini menjadi pelaku sejarah dari sejak kedatangannya, turut berjuang dalam proses kemerdekaan Republik Indonesi, mengalami masa awal kemerdekaan, masa reformasi , saat ini dan masih akan terus berlanjut. Sekolah Santa Maria dengan para susternya dalam mendidik kaum perempuan dari berbagai suku, bangsa dan agama serta mampu melewati masa lebih dari se abad menjadi bukti Santa Maria layak untuk menjadi tempat belajar, bagaimana mereka mengelola keberagaman. Di akhir kunjungan, Yohanes , Putri dan Cecilia menyempatkan diri foto bersama di depan kapel. Tak lupa ia menuliskan kata hatinya di buku tamu “Sangat berkesan, ramah dan tentunya menambah pengetahuan kami.” *** |
Langganan:
Postingan (Atom)
Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial
Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...
-
Hari Museum Indonesia tahun 2019 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Grebeg Museum (=ramai-ramai mengunjungi museum...
-
Habyt atau model pakaian Para Suster awalnya memakai pakaian biara warna hitam panjang sampai di mata kaki dengan gempt di dada warna p...
-
Setiap kita ke museum apakah kita baca semua teksnya? Seperti apakah teks yang sesuai dan enak dibaca? Ibu Ajeng Ayu Arainikasi...

















