Kamis, 25 Januari 2018

MENEMANI ARBAIN MOTRET

   

Arbain Rambey, seorang fotografer professional dan seorang wartawan foto salah satu media nasional, memperbarui foto area kompleks Santa Maria. Foto lama koleksi museum Santa Maria hanya menampilkan tampak muka dan bagian depan gedung Santa Maria, tidak ada foto area komplek Santa Maria dan sekitarnya. 


Menggunakan drone, Rabu pagi 20 Desember 2017 di halaman kebun Biara Santa Maria, Arbain, menjadi relawan yang khusus membantu bagian dokumentasi foto, mengendalikan drone dari panel yang menyatu dengan gawainya. Setelah beradaptasi dengan cuaca, Arbain mulai mengarahkan drone untuk mengambil gambar di bawahnya.
Sayangnya area depan dari Komplek Santa Maria di jalan Juanda tidak dapat diambil gambarnya. Hal ini karena komplek Santa Maria berada di area ring satu Istana Negara. Bila drone diarahkan ke atas gedung Santa Maria bagian depan, dikhawatirkan dicurigai sebagai mata mata musuh, maka pengambilan foto tampak depan gedung Santa Maria dibatalkan. Sekitar sejam sejak jam sepuluh pagi, pengambilan foto diulang dua hari kemudian karena cuaca yang kurang bersahabat. 

Di hari kedua pemotretan, Jumat 22 Desember, Arbain mengendalikan drone dari halaman parkir SMP Santa Maria di jalan Batu Tulis Raya. Cuaca hari itu sangat mendukung proses pemotretan yang dilakukan sejak jam delapan pagi. Selama kurang lebih sejam Arbain ditemani Pak Amir assistennya, memotret area komplek Santa Maria dan sekitarnya.***

Senin, 08 Januari 2018

Bertemu Mr. Max Meijer dan Petra Timmerman

TROPEN MUSEUM disebut-sebut sebagai salah satu Museum ‘menarik’ di ibukota negeri Belanda, Amsterdam. 
Sr. Lucia, OSU berpose di depan Tropen Museum

Kalau panasaran bisa dicari lewat google-maps. Pasti ketemu. Yang lebih menarik lagi adalah ada “deal” untuk berjumpa dengan seseorang di situ, karena di situ ada sudut “Indonesia”. Nah,..itulah. 

Untuk menuju ke lokasi di tengah kota Amsterdam mesti pandai-pandai mensiasati. Pasalnya, kalau bawa mobil pribadi dan parkir di dekat lokasi… tarifnya mahal sekali. Paling tidak 5euro/jam-nya. Bayangkan saja, mengunjungi Museum mana bisa hanya sebentar. Selain rugi karena Tiket masuknya mahal (15 euro/orang), jam bukanya cukup pendek 10.00-17.00. 

Beruntung ada teman sekolah yang sudah lama tinggal di Belanda. Ia mengambil fasilitas “park and ride” yang jauh lebih murah yaitu, parkir mobil di tempat yang agak jauh dari kota dengan biaya 1 euro/jam, lalu dilanjutkan dengan naik kereta/trem. 

Di sepanjang jalan dapat melihat-lihat keramaian kota dan juga, bangunan-bangunan kuno yang masih tetap dirawat. Dalam membangun, warga dan pemerintah di sana sangat menghargai yang namanya peninggalan/heritage. Entah itu bangunan, sungai, makam dsb. Kalau mau membangun yang baru mereka berusaha mengintegrasikan yang sudah ada, tidak menghancurkannya tanpa jejak. 

Meeting point dengan Mr Max Meijer, konsultan ahli permuseuman anggota Unesco ditentukan di café Tropen Museum. Dari dalam kereta sudah kelihatan dari jauh gedung dan tulisan Tropen Museum yang khas-unik. Setelah bertanya pada bagian informasi dimana letak café, segera kami menuju ke café tak jauh dari situ. 






Beruntung cuaca bagus, tidak hujan, meski di luar sudah 3 derajat Celsius. Jalan menuju café disamping pintu museum tidak terlalu sulit kami temukan. Setelah tengok kiri-kanan, akhirnya kami saling mengenali satu sama lain. 

Bertemu Pak Max (begitu biasa dipanggil) didampingi istrinya yang cantik dengan rambut keemasan Petra Timmerman, PhD bidang Art History sangat menyenangkan. Rasanya pembicaraan selama 3 jam hampir tak terasa, karena diselingi minum, makan dan tawa apalagi dengan ahli yang punya kepedulian pada budaya Indonesia.

Omong punya omong, sampailah kami pada titik kepedulian pembicaraan, khususnya tentang Museum Santa Maria di Indonesia. Ternyata Pak Max masih punya campuran darah Belanda dan Indonesia. 

Mereka bahkan mempunyai villa di Bali dan sudah sering ke Indonesia untuk sekedar libur ataupun menjadi konsultan ahli di beberapa Museum di Indonesia, al. Museum Tsunami Aceh dan Museum Kereta Api, Ambarawa. Petra sendiri menyatakan ingin belajar bahasa Indonesia..wow. Memang seseorang yang sungguh punya passion, pasti berusaha sekuat tenaga untuk mendalaminya dengan berbagai cara. 

Setelah selesai pembicaraan, Pak Max menunjukkan Lokasi Heritage negara Indonesia di lantai 2. Yang menarik di sana terdapat banyak patung manusia yang dibuat mirip sekali dengan aslinya. Pengunjung dibuat terkejut dan kagum, ketika pertama melihat kemiripan dan ukuran patung tersebut, tidak beda dengan manusia asli. 




Maka untuk menjaga keamanan baik pengunjung maupun benda koleksi, di setiap patung terdapat penanda berupa sebagian tubuhnya diganti dengan bahan bening di bagian siku tangan patung ataupun di pergelangan kaki. Peletakkan masing-masing patung terbuka dan mudah disentuh ataupun di foto. Segala lekak-likuk ukuran tinggi badan, keriput wajah, warna kulit, pakaian dan ekspresi wajah. Semuanya. Sungguh luar biasa. 

Selain itu juga dicantumkan profil dan riwayat hidupnya. Lampu penerang dipasang dengan sistem sensor yang akan menyala bila ada yang membacanya, begitu pula sebaliknya. Selain stand Indonesia, Tropen Museum (Tropen=tropis) juga ada stand negara-negara tropis lain seperti Suriname, dan negara-negara di Afrika. 

Sebelum berpisah kami sempat berfoto untuk kenang-kenangan agar besok ketika Pak Max dan Petra datang ke Indonesia, tetap ada cerita bersambung yang hangat dan menarik, terlebih kepeduliaannya untuk menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia.***(Sr. Lucia, OSU)
Sr. Lucia, OSU berpose di bagian dalam Tropen Museum

Jumat, 22 Desember 2017

JEJAK KAPAL HERMAN

Perjalanan menelusuri jejak kapal HERMAN akhirnya sampai di Museum Kemaritiman di Amsterdam Belanda. 


Kapal Herman adalah kapal yang membawa tujuh suster Ursulin dari Sittard Belanda menuju Batavia. 



Perjalanan sampai ke Museum Kemaritiman di Amsterdam, Belanda. Awalnya saat kontak dengan Bapak Piter (orang tua murid di salah satu sekolah Ursulin) mengarahkan dan memperkenalkan kami dengan Pak Mark Meijer seorang konsultan dan staff pemerhati sejarah dan museum UNESCO. 

Pak Piter adalah partner kerja Pak Mark yang pernah merintis museum Tsunami di Aceh beberapa waktu lalu. Pak Mark Meijer sendiri berdarah campuran, Kakeknya KNIL-Belanda dan Neneknya perempuan asli Pulau Rote, Indonesia.



Foto diambil senja hari




Eits ini belum finish ya, karena untuk melacak Kapal Herman ternyata Pak Mark malah mengarahkan kami ke Meneer Ernest van Keulen seorang dosen di Akademi Kemaritiman tempat Museum Kemaritiman berada. Oleh Meneer Ernest disarankan ke perpustakaan untuk melacak keberadaan kapal Herman. Dan akhirnya jejak Kapal Herman ketemu. 

Ternyata, pemilik kapal Herman yang sesungguhnya adalah Nicolaas Adriaan Koning dan selesai dibuat Juni tahun 1855. Kapal yang masih baru itulah yang ditumpangi tujuh suster Ursulin pertama yang datang ke Batavia. Kapal Herman memulai pelayaran dari Pelabuhan Rotterdam Belanda pada 20 September 1855 dengan dinahkodai oleh Matthijs van Velthoven. Sampai di pelabuhan Batavia di 5 Februari 1856. 

Kapal Herman termasuk tipe kapal Barque dengan tiga tiang layar. Lambung kapal dari kayu berlapis tembaga dan termasuk kapal kargo. Tahun 1861 kapal Herman diganti namanya menjadi JOHANNA ELISABETH. Ganti nama berarti ganti pemilik dan manager. 

Setelah beberapa tahun digunakan untuk pelayaran dari Eropa ke Asia melalui semananjung Harapan Afrika, menuju ke Hindia Belanda kapal Herman sempat beberapa kali berganti nama yaitu JOHANNA ELISABETH kemudian PASSAROEANG. 

Terakhir namanya menjadi ST. OLAF dan akhirnya tenggelam di laut tak jauh dari London, Inggris tahun 1893.***
difoto senja hari

Selasa, 28 November 2017

Oma Yang Rajin Bukan Saya

“Ini rumah pertama para Suster Ursulin saat pertama kali tiba di Indonesia. Jadi lantai yang anda injak ini usianya setua itu, seratus enam puluh satu tahun lebih.”kata Suster Lucia, OSU di depan anak anak calon Krisma dan orang tua serta pendamping dari paroki Pulomas.

Segera saja anak anak yang duduk lesehan di tikar berlomba lomba mengetuk-ngetuk lantai. Saat sesi penjelasan Rosario, Suster kembali bertanya kepada anak anak, “Siapa yang rajin Rosario?” 

Sr. Lucia, OSU , memberikan kuis kepada anak anak

anak anak mengagumi benda koleksi museum

Sr. Astin OSU menjelaskan benda pamer koleksi museum kepada anak anak


tidak ada yang mengangkat tangan. Sekali lagi suster bertanya sambil mendekat, tetap tidak ada yang mengangkat tangan. Tiba tiba terdengar celetukan 

“saya…..” Suter tersenyum senang karena ada yang menjawab. Setelah didekati, “Kamu rajin berdoa Rosario?”

Anak tersebut menjawab “Oma yang rajin doa rosario, bukan saya.” 

Gelak tawa di hall Museum Santa Maria pecah mendengar jawaban anak itu. 

Minggu 12 November 2017, selama dua jam lebih sejak jam 09.30, lebih dari lima puluh peserta mengikuti tour di Museum Santa Maria. Dimulai dari perkenalan di hall sampai akhirnya selesai di kapel. Peserta yang dibagi dalam lima kelompok bergiliran berkeliling dan mengenal isi dalam museum. 

 Anak anak bersemangat mengikuti tour dengan mengajukan bermacam macam pertanyaan. Semua berebut bertanya dan ingin pertanyaannya dijawab duluan. 

Suster Lucia, ditemani suster Ellen, Suster Astin, Aji dan Angel, dua relawan museum, menemani belajar anak anak peserta calon Krisma sampai selesai.***

Jumat, 17 November 2017

Inspirasi Menjadi Orang Baik 





Jam Sembilan pagi, di hari Jumat, 27 Oktober 2017, rombongan siswa siswi  SD Vincentius Otista Jakarta Timur  datang ke Museum Santa Maria menggunakan dua bus sedang.  

Oleh sekuriti  disambut dan diarahkan sekuriti masuk hall Museum.  Didampingi  lima orang guru, rombongan  disambut Suster  Lucia. Suster menyapa dengan memperkenalkan Museum Santa Maria  dengan cerita singkat.  Suster juga  memberikan beberapa pertanyaan  yang dijawab siswa siswi dengan semangat. 

Pembatas buku diberikan sebagai hadiah kecil bagi yang bisa menjawab pertanyaan. Setelah itu dilanjutkan dengan menonton film pendek  perjalanan para suster Ursulin di Indonesia.

Usai menonton film pendek,  rombongan dibagi menjadi  empat kelompok dan segera berkeliling museum. Selama hampir dua jam rombongan anak anak berkeliling dan bertanya tentang banyak hal yang baru diketahui atau dilihatnya.  

Setelah nonton film pendek  dan berkeliling, suster memberikan pertanyaan apa kesan yang  yang  dapat dipelajari, anak anak itu menjawab dengan bersemangat, begini antara lain jawaban mereka: 

 “Saya terinspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik” “ Wawasan saya menjadi lebih luas”  
“Saya lebih tahu tentang Suster-suster Ursulin”  

“Para suster pendahulu menjadi pionir yang bertanggung jawab sehingga semangatnya diteruskan sampai sekarang” 

 “Saya lebih tahu tentang Santa Angela dan mengapa Santa Angela mengambil nama Pelindung Santa Ursula” 

 “ Dengan adanya relikwi, berarti kekudusan mereka disebarkan kemana-mana.” 



Belasan menit sesudah jam sebelas, rombongan pamit. Suster menghantar sampai depan pintu gerbang, kemudian melambaikan tangan saat bus perlahan menembus kemacetan jalan Juanda, meninggalkan Museum Santa Maria.*** 

Jumat, 10 November 2017

Ursulin atau Santa Maria

Komunitas La-mur (Lanjut Umur) “Agustina” dan Legio Maria presidium “Bunda Kristus” Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Kamis 19 Oktober 2017 mengunjungi Museum Santa Maria. 

Tepat jam 10.00, dua puluh satu pengunjung yang sebagian besar usia lansia, sudah datang di Café/ unit produksi SMK Santa Maria berbarengan dengan jam istirahat murid SMK. Sedianya mereka ingin menikmati snack dan minum sejenak di cafe, namun situasi cukup hiruk pikuk, sehingga diputuskan oleh pimpinan rombongan Oma Agnes (78), untuk langsung menuju ke Museum. Letak Museum memang ada di dalam biara, dan di dekat Unit produksi SMK- di pinggir Jl Juanda 29. 


“Ini Santa Maria atau Ursulin?” Belum terjawab, ia masih lanjutkan: “Katanya tadi ini Santa Maria, kami maunya ke Ursulin.” Begitu seorang ibu complain. Saat dijelaskan bahwa para suster anggota Ordo Santa Ursula disebut Ursulin dan Santa Maria adalah nama Komunitas para suster Ursulin di jalan Juanda Raya ini, ibu tersebut lalu manggut manggut “oooo….”


Para lansia ternyata antusias dan bersemangat. Mereka bertanya dan menanggapi  setiap komentar dari pemandu di tiap tiap ruang. Di ruang Misi mereka senang melihat Rosario Misi dan mata uang-mata uang asing, mereka juga teringat masa lalu saat melihat foto kumpulan remaja putri yang sedang beraktifitas. 


Para Oma sedang memperhatikan mata uang koleksi museum di ruang MISI


Oma-oma serius menatap foto masa lalu

  “Aku pernah diajar sama suster bule,” kata Oma Endang. “Dulu masih banyak suster bule,” lanjutnya. “Aku di Solo juga, tahun lima puluhan kalo ndak salah diajar sama suster bule, “ timpal Oma Agnes 

Di ruang Galeri, Oma Lianda merasa koleksi di Santa Maria lebih indah di banding di “Forbidden City” karena disana hanya keramik, sedangkan disini lebih mengkilap dan ada ukirannya. Oma yang lain menimpali “Aah bagusan disanalah. Disana kan keramik semua, jadi asli. “(Red: Forbidden City salah satu kota yang ada di China) 


“Eeh disini juga ada keramiknya loh. Itu tuh…” Seraya menunjuk pispot dari keramik berukir. 


“Vas ini terbuat dari emas ya?” 


"bukan ibu, ini campuran tembaga dan kuningan."

 “Ooo… kirain dari emas. Habis mengkilap... dibersihkan pake apa biar mengkilap?” 


Pertanyaan ibu Lianda dijelaskan pemandu bahwa semua vas tersebut dicuci dengan air sabun saja. Karena jika dibersihkan dengan bahan khusus betul tampak mengkilap tetapi jadi hilang keaslian rasa bahwa benda ini betul betul sudah lama. Nanti dikira beli baru. 


Puas dari Ruang Gallery, lanjut ke Ruang Relikui. Disini, para oma diingatkan bahwa relikui orang kudus sama juga dengan nama babtis bagi orang katolik. Orang kudus yang menjadi nama baptis diharapkan mendoakan serta mendukung doa permohonan kita kepada Tuhan. Juga agar kita meneladan orang kudus tersebut agar kita juga bisa menjadi kudus. 


Selesai dari Relikui, rombongan melanjutkan ziarah ke kapel dan mereka menyempatkan diri untuk sejenak berfoto di depan Gua Maria. Pukul sebelas, rombongan pamit meninggalkan Kompleks Santa Maria.***

Jumat, 03 November 2017

Cerita Dua Turis Beda Negara

Rabu 18 Oktober 2018 sekitar jam 11, dua orang perempuan muda-lajang mengunjungi Museum Santa Maria. 


Wendy mengaku dari Den Haag, Belanda dan Martina Weis berasal dari Stutgard-Jerman. Mereka bertemu dan berkenalan di kawasan Kota Tua tempat mereka menginap. Wendy seorang pegawai pemerintah sengaja datang untuk berlibur ke Indonesia untuk 2 minggu. 

Ia tahu museum St Maria atas informasi dari kenalannya yang dulu juga pernah mampir ke Museum Santa Maria “Juriena Bruintjes “ Sementara Martina, datang ke museum karena diajak Wendy dimana sorenya akan pergi ke Bandung.

Di Museum, mereka disapa dan ditemani suster Lucia. Mereka tertarik dengan kaca mata kuno dan antik di meja kerja suster kepala. Mereka sempat membandingkan kemiripan kaca matanya dengan artifak-artifak itu. Martina sempat berpikir bahwa “model kacamata” dapat terulang kembali.






Di ruang misi, mereka tertarik dengan salah satu foto dan Wendy membaca keterangan foto yang berbahasa Belanda. Antara tulisan bahasa Jerman dan Belanda ada kemiripan namun beda pengucapan. 

Saat di ruang gallery, Wendy dan Tina terkejut dengan sapaan kokok ayam jantan yang ada di kebun biara. Ayam jantan itu seolah-olah ikut menyambut tamu-tamu yang datang, karena setiap kali ada pengunjung yang lewat di situ, ayam itu berkokok berulang-ulang. Pohon mangga yang sedang berbuah lebat juga menjadi perhatian mereka. Namun terutama, mereka terkesan dengan keheningan yang ada, walau berada di tengah kota, masih ada tempat sunyi yang jauh dari suara lalu lintas. 

Di ruang relikui, Martina ingat tradisi katolik masih kuat dalam dirinya, untuk memahami arti da nasal mula relikui. Usai dari museum, Wendy dan Tina masih ada waktu untuk melihat dan berdoa di kapel. Saat itu bertepatan dengan jam pulang sekolah siswa SD. Merekapun menyapa ramah anak anak itu. Sebelum pamit mereka mempir ke café untuk membeli jus. Tina pilih guava dan Wendy pilih mangga. “Heeem really fresh and enaaak….”kata mereka dengan senyum lebar menikmati kesegaran jus sambil duduk sejenak melepaskan lelah setelah berkeliling, apalagi harganya kurang dari 1 dollar…***

Jumat, 27 Oktober 2017

Mother General Ursulin, Cecilia Wang, OSU : It’s good

Mother General Ursulin, Cecilia Wang, OSU mengunjungi Museum Santa Maria, Jumat 13/10/2017. 

Sekitar jam 11.00 mobil hitam Innova membawa Suster Cecilia, ditemani Sr. Anita Bunardi dan Sr. Marisa memasuki halaman Unit Produksi SMK Santa Maria. Dengan ditemani Sr Astin dan Sr Tini, Sr Lucia menjemput rombongan di halaman café dan mengajak mereka ke ruang dalam.





Setelah bertemu dan “ngobrol” dengan para Suster di ruang makan, serta foto bersama, Mother berpamitan. Rupanya Mother Cecilia sebelum kembali ke Jl Pos, ia ingin mampir ke museum. Di museum Santa Maria, walau sejenak namun sempat memasuki beberapa ruang di Museum dan menikmati koleksi benda pamer museum. 

Sr Lucia, penanggung jawab museum mendampingi serta menjelaskan langsung berbagai ruang dan benda pamer. Para suster yang lain tak lupa ikut juga menikmatinya. 

“Waah ternyata sudah bagus. Lama juga nggak kesini,” komentar seorang suster. Mereka menikmati benda pamer lainnya. Kurang dari sejam keliling museum, Sr Cecilia Wang undur diri dengan dihantar para suster. Sambil berjalan, Mother General mengacungkan jempolnya kepada Sr Lucia, “It’s good…” katanya.***

Jumat, 20 Oktober 2017

KUNJUNGAN SENIOR CLASS



Museum Santa Maria pada Kamis, 5/10/2017 sekira jam 11.00, menerima kunjungan sepuluh lansia dari komunitas “Senior Class” Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang. 

Kunjungan ke Museum Santa Maria adalah salah satu kegiatan “Senior Class”. Menurut Ibu Christine, Koordinator acara, peserta yang datang direncanakan dua puluh orang, namun ternyata yang bisa hadir hari ini hanya sepuluh saja. 


“Senior Class” sendiri adalah kumpulan para lansia yang dikoordinir ibu Christine. Menurut Bu Christine, tujuan awalnya hanya untuk menghibur mamanya yang sudah tua dengan mengajak para lansia lain di dekat rumah untuk sama sama berkumpul setiap kamis pagi. Acara kumpul para lansia diisi dengan permainan ringan untuk membantu para lansia tetap segar dalam ingatan dan tidak lupa. Seperti games dengan pertanyaan nama kota kota besar di Indonesia dan dunia. Atau pertanyaan pertanyaan yang diambil dari berbagai media saat ini dengan diseleksi terlebih dahulu. 


Sr Lucia, OSU penanggung jawab Museum hadir menyapa langsung para oma dengan mengajak nonton film singkat tentang sejarah para Suster Ursulin di Indonesia dan Museum. Suster juga bercerita perihal bangunan yang saat ini menjadi museum adalah bangunan pertama sekaligus komunitas pertama Ursulin di Indonesia.


Usai menonton, Suster menemani para oma keliling museum. Saat dijelaskan bahwa Angela adalah pendiri Ordo Santa Ursula, Oma Agnes bertanya 


“Ini bagaimana ceritanya Ursula dengan Santa Maria kok sekarang jadi ada Angela?” 


Setelah dijelaskan bahwa Angela Adalah pendiri ordo, dan mengapa Angela memilih nama Santa Ursula menjadi nama Ordo serta Santa Maria adalah nama komunitas para Suster Ursulin di Jalan Juanda ini, oma Agnes manggut manggut “ooo…..” Di ruang berikutnya, muncul lagi banyak pertanyaan dan tanggapan, 
“Ini bajunya kok hanya dua?” tanya seorang oma menunjuk dua manikin berseragam biarawati. 

“Ooo jadi suster angela dimakamkan di tanah abang?” Tanya oma lain saat menunjuk foto sebuah komplek makam tua, oma tersebut mengira bahwa Angela Merici pendiri Ordo dimakamkan ditanah abang. Setelah diulangi ceritanya bahwa yang meninggal adalah salah satu suster pionir oma tersebut langsung menanggapi. 


“Emangnya masih ada makamnya?” Tentu saja makamnya masih ada, tetapi makam suster sudah dipindahkan ke pemakaman di Bandung dan di Selapajang. Saat ini komplek pemakaman di Tanah Abang menjadi Museum Taman Prasasti. Suster menjelaskan dengan sabar semua pertanyaan dan komentar dari para oma. 


Disetiap ruang selalu banyak pertanyaan dan tanggapan. Di ruang misi, muncul lagi pertanyaan lain yang tak kalah seru. Para oma antusias melihat dan mengagumi benda benda yang tersimpan di museum. “Uang ini saya punya, yang ini pernah ngalamin. Ini uang darimana?” tanya seorang peserta sambil menunjuk sebbuah uang kertas. “Disini kan benda kuno semua, kok ada kain daerah yang masih baru?” tanya yang lainnya. 


Dijelaskan bahwa di ruang misi ini menyimpan berbagai benda pendukung karya para suster ursulin di daerah misi, jadi benda apapun terkait karya pasti di simpan di Ruang Misi. “Ini Akordian masih bisa dipakai? Ini mesin jahit dari sejak kapan? Semua uang ini dari mana saja? Kirain museumnya kecil, nggak taunya luas. Suster, berapa luas museumnya?” Semua pertanyaan dan tanggapan dijawab suster dengan sabar. 


Puas berkeliling selama lebih dari satu jam, para oma makan siang bersama di Unit Produksi SMK.***






Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...