Pak Max dan Ibu Petra, pasangan dari Belanda berkunjung ke Museum Santa Maria Rabu, 25/06/2018 Museum di temani Pak Piter. Pak Max dan Ibu Petra datang tepat Pk. 10.00 diantar Pak Satpam melalui halaman panjang kompleks sekolah. Mereka langsung menuju refter (=ruang makan para suster) untuk minum.Petra Timmer seorang Art Historian dan Max Meijer Museulogist. Mereka sengaja datang untuk melihat-lihat komplek biara, sekolah dan museum Santa Maria. Mereka ingin mempelajari seluruh kompleks dengan segala keunikannya untuk memastikan materi yang akan disampaikan pada Workshop Pengelolaan Museum keesokan harinya, betul betul tepat sasaran. Maka selama hampir tiga jam mereka melihat dengan teliti, memotret, bertanya, dan menganalisa. Sedangkan Pak Piter adalah partner kerja Pak Max dan Ibu Petra saat membantu pengelolaan Museum Tsunami di Aceh beberapa waktu lalu. Pak Piter sendiri adalah warga Jakarta dan sudah pernah berkunjung ke museum Santa Maria. Kerjasama mereka mengelola Museum Tsunami Aceh disupport UNESCO, badan PBB yang khusus menangani bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Kali ini Pak Piter, Pak Max dan Ibu Petra kembali berkolaborasi untuk mendukung karya Para Suster Ursulin dalam mengelola Museum Santa Maria. | Dalam kunjungannya, mereka sungguh menikmati dan melihat detail dari seluruh komplek Santa Maria. Beberapa foto mendapat perhatian serius. Salah satunya Foto udara area sekolah Santa Maria karya Arbain Rambey. Mereka kagum tidak hanya dengan fotonya saja tetapi juga dengan luasnya area. Foto hall juga tak luput dari pandangan. Mereka membayangkan interior dan situasi hall masa lalu saat foto lukisan itu dibuat. Di Ruang Angela dan Ruang Misi juga sama, hampir semua foto mendapat perhatiuan serius. Mereka tidak hanya sekedar ingin tahu tetapi juga menikmati betul keindahan masa lalu yang tampak dari foto lukisan. Beberapa benda kuno seperti lemari, ruangan, uang kuno, kain dan beberapa yang lain mendapat perhatian khusus pula. Benda benda pamer itu menjadi sasaran diskusi dan sharing pengalaman mengelola saat menjadi konsultan museum-museum besar di dunia. Pertemuan, diskusi dan sharing di museum diteruskan sampai ke meja makan. Suster Lucia menyambut tamunya dengan santap siang istimewa mengakhiri pertemuan hari itu di cafĂ© Unit Produksi SMK St Maria. Lauknya khusus dari siswa/i tata boga yang kebetulan hari itu sedang praktek memasak. Rasanya tidak kalah dengan restoran berbintang…..hm..... Disela-sela makan siang, Ibu Petra diminta mencoba blus batik yang dibuat oleh salah satu Guru Tatabusana SMK yaitu Ibu Bong Siau Kiau. Syukurlah pas. Kain batik sumbangan Pak John Handoyo cocok dan pas dipakai oleh Ibu Petra yang berkulit putih itu. Pak Max, Ibu Petra serta Pak Piter pamit sekitar pk. 14.00 karena harus mempersiapkan materi workshop esoknya di tempat yang sama, Museum Santa Maria.*** |
Kamis, 16 Agustus 2018
PROFESIONALISME dalam KESEDERHANAAN (Observasi Pak Max & Ibu Petra)
Rabu, 15 Agustus 2018
MERAWAT BANGUNAN KUNO UNTUK MUSEUM
Museum Santa Maria menggelar workshop pengelolaan museum di hall Museum Santa Maria Juanda, Kamis 26 Juli 2018 dengan menghadirkan konsultan museum dari TiMe, Timmer & Meijer .Petra Timmer berprofesi sebagai Art Historian dan Max Meijer seorang Museulogist . Pasangan suami istri dari Belanda yang fokus karyanya membantu menjadi konsultan dalam permuseuman di seluruh dunia, memberi sesi dan memandu seluruh peserta workshop dengan judul “Merawat Bangunan Kuno Untuk Museum.” Peserta yang diundang dari berbagai macam profesi terkait yang mendukung dan pemerhati karya para Suster Ursulin di Museum Santa Maria. Menurut Petra, beberapa kelebihan Museum Santa Maria seperti lokasi yang strategis berada di dekat pusat pemerintahan, komunitas yang hidup bukan sekedar peninggalan sejarah saja, dan tentu juga sejarahnya yang istimewa karena hadir jauh sebelum hadirnya negara Republik Indonesia. Selain itu cerita yang unik dari sebuah biara tertua di Indonesia dengan Pancasila nya. Beberapa kelebihan lain seperti time line Museum, layout brosur yang menarik serta adanya denah museum dengan ciri khas masing masing. Tak lupa mereka juga menyoroti benda koleksi museum yang terawat dengan baik pula. Yang tak boleh dilupakan adalah keramah tamahan para suster . Sementara itu beberapa hal yang harus dibenahi dan ditingkatkan dari museum ini antara lain menampilkan tokoh lulusan/alumni sekolah Santa Maria. Menurut Petra orang akan tertarik dengan biografi para tokoh/figur publik. | Apalagi tokoh itu masih hidup seperti Martha Tilaar. Tata letak Auvi juga menjadi saran untuk ditindaklanjuti. Selain itu penataan cahaya dan warna pada beberapa ruang apabila memungkinkan bisa di sesuaikan dengan tema ruang pamer. Sedangkan untuk label bila perlu ditambah teks cerita serta sejarah bangunan gedung juga menjadi hal yang cukup menarik untuk diceritakan. “Salah satu keunikan sekaligus kelebihan dari Museum Santa Maria adalah, sebuah institusi yang tetap ada dan terus berkelanjutan dan mampu menceritakan obyek dan nilainya kepada orang orang untuk hidup lebih baik,“ kata Petra. Sementara Max memberikan beberapa contoh museum dengan kategori pra colonial, colonial, post colonial dan saat ini. Masing masing contoh dengan keunikannya adalah Keraton Yogyakarta, Museum di Bima-Lombok, dan Ternate menjadi kelompok bagian Pra Kolonial. Museum Nasional, Museum Geologi adalah contoh dari masa Kolonial. Sementara TMII, Monas menjadi kelompok bagian post colonial. Untuk yang modern saat ini adalah museum MACAN-Jakarta, Museum Tsunami-Aceh, Multatuli-Lebak, Gedung Sate-Bandung. Workshop yang dimulai jam 08.30 diawali dengan paparan suster Ingrid Widhiningsih OSU yang mengawali pendirian Museum Santa Maria lalu dilanjutkan dengan Sr. Lucia penanggung jawab Museum dengan paparan kondisi museum saat ini. Usai workshop Max Meijer menyampaikan apresiasinya di laman facebook pribadinya: “Quite a shock at the registration desk of our workshop at Santa Maria in Jakarta this morning. World famous here now! Workshop went very well with thoughtful presentations Sister Lucia, energizing moderation by Pak Piter, short lectures by PP Petra Timmer and myself. Discussions about the narrative, collection, target groups and design of the future Santa Maria museum proved to be lively and rich in directions. And the food was excellent again! It was an honour for us both to be invited here. Hope to be back!” *** |
Senin, 06 Agustus 2018
DARI JERMAN ke INDONESIA: Melacak Jejak Leluhur
Rabu, 01 Agustus 2018
Seperti Habis Di-cas Baterainya.
Sr. Zita Iryanti dan Sr. Anita Seran, dua suster dari komunitas Generalat Ursulin-Roma dan komunitas Agats- Papua melakukan delapan hari retret pribadi di komunitas Santa Maria Juanda. Suasana libur sekolah membuat kompleks biara-sekolah sunyi-senyap tanpa suara anak-anak sekolah, mirip rumah samadi. Di sela-sela retret, mereka berkeliling melihat museum, bahkan mereka berdoa di area museum.
“Ketika jalan-jalan di Museum, saya melihat lemari berisi koleksi piring dari berbagai negara sesuai yang tercantum pada lembar informasi di masing masing piring,” kata Suster Zita; ..”Saya kagum, untuk hal-hal kecil seperti piring, sendok-garpu sekalipun mereka bawa dari sana,” lanjutnya. Sr Zita terkesan bahwa para suster sungguh memikirkan dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan teliti dan baik. Sementara selama ia mendapat perutusan di Generalat-Roma yang sedang dijalaninya, ia tidak perlu repot-repot membawa alat-alat itu. “Area ini sungguh suatu tempat yang nyaman untuk berdoa dan merenung. Merenungkan para suster pendahulu dengan segala kegiatan dan usahanya untuk merintis pendidikan perempuan pertama di sini,” sharing Sr Zita. “Itu semua membuat saya makin bersemangat untuk bekerja,” katanya mantap. Beberapa waktu kemudian, Sr Anita Seran juga datang untuk mengambil waktu retretnya di komunitas St Maria. Dalam refleksinya, ia membandingkan tugasnya mengajar dan mendidik anak-anak di Agats-Papua dengan usaha para suster pionir di Santa Maria. | “Dahulu para suster pionir mendidik anak-anak yang tidak terawat dan tersentuh belaian kasih sayang orang tuanya karena ortunya harus bekerja di perkebunan-perkebunan yang letaknya di luar kota. Orang tua menitipkan anak-anaknya di asrama. Sedangkan saat ini kami harus mendidik anak-anak yang betul-betul tidak mengenal sekolah dan lebih memilih mencari sagu dan hidup di alam liar. Mereka sejak lahir sudah mengenal dan hidup di hutan, tidak mempunyai motivasi untuk bersekolah. Untuk kami, ini sungguh suatu tantangan, bagaimana menyadarkan orangtua mereka dan mengajak anak-anak itu untuk mau datang ke sekolah, dan itu dilakukan hampir setiap hari,” ceritanya sambil tersenyum.
“Sebelum saya mulai retret, saya merasa lelah, cape…seolah-olah usaha saya sia-sia, tidak ada gunanya,” keluhnya. “Tapi sekarang saya sungguh mendapat energi baru untuk kembali ke komunitas Agats-Papua dan mengajak mereka kembali untuk terus menerus tanpa lelah mau pergi ke sekolah,” katanya bersemangat. Sr. Zita dan Sr. Anita sungguh merasakan bahwa aura Museum St Maria sangat positif terutama saat mereka berada di ruang relikui. Mereka mendapatkan semangat dan energi baru. “Seperti habis dicas/ charge baterainya,“ kata mereka. Semoga tidak hanya semangat baru, tetapi juga inspirasi baru untuk pelayanan suster di komunitasnya. Terima kasih sharing-nya Suster.*** |
Jumat, 13 Juli 2018
MENGGALI INGATAN ZAMAN DOELOE
Usai Lebaran, Senin, 18/06/2018 Museum Santa Maria mendapat kunjungan tamu dari Lampung. Satu keluarga datang karena tertarik dengan hal-hal klasik dan kuno, juga untuk mengisi libur Lebaran.Pak Agustinus Djang Tjik, Marselina Trise dan Cristine Natalia datang ke museum usai jam makan siang. “Zaman Belanda, pendidikannya itu bagus, saya suka sekali,” kata Pak Jangcik sapaan akrab Agustinus Djang Tjik mengungkapkan kekaguman dan kenangan masa lalunya. Di usianya saat ini yang sudah 70 tahun lebih, ia mengenang saat tinggal di asrama di kota Palembang. Di Asrama itu, ia dididik oleh para Bruder dan cara mendidiknya sungguh tertanam kuat dalam diri dan ingatannya. Sampai-sampai putrinya pun ia masukkan di asrama mengikuti jejaknya. | “Ini gedung bangunan asli zaman Belanda,” komentarnya mengagumi interior gedung yang masih berdiri kokoh. Lantai gedung dari marmer tak luput dari perhatiannya. Saat di Ruang Misi dan melihat koleksi uang kuno Pak Jangcik langsung teringat kembali “Dulu zaman tahun enam lima, uang sepuluh ribu dipotong jadi sepuluh rupiah nilainya. Nahh yang ini sama, ini uangnya yang dulu kena potong,” katanya seraya menunjuk ke beberapa mata uang kertas kuno. Koleksi uang kuno yang tersimpan di museum Santa Maria adalah uang yang digunakan para suster pada masa lalu sesuai zamannya. Saat ini uang –uang tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran, namun uang –uang tersebut memiliki nilai sejarah karena menjadi saksi bagaimana para suster mengelola dunia pendidikan dan menghidupi komunitas biara hingga bertahan sampai saat ini. Sekitar dua jam berkeliling museum dan diakhiri doa di kapel, Pak Jangcik dan keluarga akhirnya pamit. Ia berharap suatu saat bisa datang lagi. Di buku tamu ia menulis “Sangat mengesankan dan banyak hal /pengetahuannya.”.*** |
Jumat, 06 Juli 2018
ISTIMEWA
“Istimewa“ kesan yang tertulis di buku tamu oleh rombongan guru dari SD Katolik Santa Maria Malang (Asuhan Suster SPM) saat mengunjungi Museum Santa Maria, Rabu 23/05/2018.Rombongan guru dan suster sebanyak lima orang sebelumnya mengunjungi SD Santa Maria-Jakarta untuk studi banding. Usai acara pokok di SD, Ibu Marita, kepala sekolah SD Santa Maria, mengajak rombongan ke Museum Santa Maria. Di Museum, rombongan diterima dengan hangat. Mereka diajak menonton video pendek di aula museum terlebih dahulu sebelum berkeliling. Dalam perjalanan tour, pemandu juga mendapat banyak informasi baru terkait dengan kehidupan para suster pada masa lalu. Salah satunya adalah Kotak Kayu Penghangat. | Kotak Kayu yang terbuat dari bahan kayu dengan dilapisi besi seng pada bagian dalam kotak digunakan sebagai tempat untuk menyimpan masakan yang sudah siap saji. Masakan itu sengaja disimpan karena pada masa lalu, para suster hanya masak sekali dalam sehari yaitu pada siang hari. Namun para suster memasak langsung untuk tiga kali makan, makan siang, makan malam dan sarapan keesokan harinya. Ternyata Kotak Kayu Penghangat itu digunakan sejak dahulu dan sampai saat ini masih digunakan di komunitas para suster khususnya komunitas suster muda atau biasa disebut novis. Sayangnya, tour museum dirasa terlalu singkat. Makan siang di cafĂ© sudah siap untuk disantap. Rombongan pun pamit setelah beberapa foto selfi bersama.*** |
Jumat, 29 Juni 2018
SERVIAM and Greetings From Sittard
Mereka tertarik datang ke Indonesia karena Dr Chris pernah bertemu dengan Sr Lucia di St Agatha Archives, Belanda. Dia adalah staf ahli di institusi swasta itu, yang khusus menangani pemeliharaan dan penataan kearsipan tarekat religius katolik. Di St Agatha Archive itulah banyak disimpan dokumen dan arsip biara-biara yang sekarang sudah banyak ditutup. Karena Ursulin Belanda adalah cikal bakal Ursulin Indonesia, maka ketika tiba waktu libur, mereka sengaja merencanakan untuk menikmati keindahan dan ingin memahami tradisi umat katolik, dan suster Ursulin khususnya Indonesia. Mereka tinggal 2 malam di paviliun St Maria. Hari itu, setelah mengikuti misa pagi dan sarapan, sekitar jam 8 datang mereka berdua, ke komplek Santa Maria dan berkeliling ke area sekolah. Lalu mulai menelusuri sejarah Ursulin di Indonesia di museum. Mula mula di depan History Wall, yang sudah dipasang sejak Perayaan 160 tahun Ursulin di Indonesia yaitu perjalanan sejarah singkat Ursulin ketika tiba di Batavia sampai sekarang. Merasa tertarik dengan history wall, Dr Chris membuat beberpa foto disitu. | Usai dari history wall, Chris dan istri diajak ke hall untuk melihat video pendek seputar museum dan beberapa video promosi sekolah Santa Maria khususnya SMK. Komentar Dr. Chris cukup menggembirakan “Nice Video…it looks professional” menanggapi film yang baru saja ditonton. Setelah itu baru dilanjutkan ke Ruang Study, tempat dimana arsip-arsip masa lalu dan buku-buku lama tersimpan dengan baik. Di ruang Study, Dr Chris berjanji akan membantu memberikan informasi yang dibutuhkan. Kemudian menuju ke Ruang Angela. Chris dan Romy, istrinya tertarik dengan Pojok Sittard yang menampilkan foto Gereja dan patung “Bunda Maria dari Hati Yesus Yang Mahakudus” yang ada di dalam Gereja Sittard. Mereka berdua sangat tertarik, karena Sittard adalah tempat kelahiran mereka dan tempat di mana mereka bersekolah ketika masih SMA. Selain itu foto sekolah Santa Maria juga menjadi perhatian khusus Chris dan istri. Mereka berdua tampak fokus menatap detail foto yang dipamerkan. Di ruang-ruang lainpun sama, beberapa benda pamer menjadi titik fokus pasangan Doktor Arsip Sejarah dan Doktor ahli kulit tersebut. Benda yang terbuat dari keramik menjadi salah satu titik perhatian dengan melihat detail cetakan, warna, model ukiran. Dari beberapa hal tersebut, mereka memastikan bahwa banyak sekali benda berbahan keramik koleksi Museum Santa Maria buatan DELF-Maastricht. Maastrich, kota di Belanda bagian Selatan memang terkenal dengan pabrik keramiknya. Selama hampir dua jam Chris dan Romy betul betul menikmati tour di museum. Namun karena jadwal lain sudah menanti maka kunjungan diakhiri. Mereka berjanji suatu saat akan datang lagi berkunjung. Di buku tamu, ia menulis “Thank you very much for the very welcome hospitality and the interesting love in the museum. Serviam! And greetings from Sittard!”*** |
Selasa, 19 Juni 2018
Menikah atau …… (Mati!)
Libur hari raya Kenaikan Isa Al-Masih, kamis 10/05/2018 dimanfaatkan anak-anak calon komuni pertama sekolah SD Bina Nusantara Serpong-BSD untuk rekoleksi. Mereka mengikuti Misa di Katedral, lalu mengunjungi Museum Santa Maria dan belajar bersama di Kapel.Sekitar jam 11, rombongan datang ke kompleks Sekolah Santa Maria usai misa di gereja Katedral melalui pintu Batutulis Raya 30. Sesampai di lapangan rombongan istirahat dulu. Sekitar 30 anak bersama 4 pendamping, menikmati makan siang bersama sambil duduk di lantai galeri SD St Maria. Setelah berganti baju dengan kaos seragam, mereka mulai mengikuti tour. Mereka diarahkan menuju hall museum terlebih dahulu. Di hall museum, sudah disiapkan video pendek untuk memperkenalkan museum. Setelah selesai pemutaran video mereka diberi kesempatan tanya jawab tentang museum. Selama sesi tanya jawab, ada hal yang menarik. Anak-anak antusias untuk bertanya atau berebut menjawab pertanyaan dari suster. Saat diceritakan oleh Suster, bahwa pada awal kedatangan, banyak suster yang meninggal pada usia muda; ada seorang anak bertanya: “Berapa umurnya?” “Suster Emmanuel Harris OSU salah satu pionirnya, meninggal dunia setelah tiba 4 hari di Batavia berusia 27 tahun.” Mendengar kisah itu, seorang anak berseru kaget “Waah.. habis graduate meninggal….” | Binus merupakan salah satu Sekolah Internasional yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari, maka tidak heran kalau terdengar celotehan mereka dalam bahasa Inggris yang bercampur dengan bahasa Indonesia. Malah ada ortu yang mendampingi anaknya mengaku bahwa “Justru tantangannya adalah bagaimana menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.” Kemudian, rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Sengaja kelompok pertama laki-laki semua yang keliling museum. Kelompok kedua seluruhnya perempuan menunggu kelompok pertama usai sambil menonton video singkat “Jadi Suster siapa takut?” Video yang dibuat tahun 2015 ini senagaja diputar untuk mereka, untuk menggugah hati akan panggilan khusus sebagai biarawati. Sementara itu, kelompok anak laki-laki juga antusias dengan mengajukan banyak pertanyaan di hampir setiap ruang dan benda yang dipamerkan. Mereka berebut untuk bertanya, pemandu berusaha menjawab satu per satu pertanyaan anak-anak dengan sabar. Kelompok kedua dipandu oleh Suster Ellen. Di ruang Angela, Suster menjelaskan siapa itu Santa Angela Merici dan bagaimana proses beliau mendirikan Kompani Santa Ursula. Saat Suster bercerita “Pada masa itu, hanya ada dua pilihan bagi wanita dewasa, yaitu menikah atau……” “Mati” potong seorang anak setengah berteriak. Suster Ellen dan guru pendamping tersenyum mendengarnya. Kemudian baru dilanjutkan “Hanya ada dua pilihan bagi wanita dewasa pada masa itu yaitu menikah atau menjadi biarawati- suster.” Di ruang-ruang yang lain, anak-anak banyak berkomentar dan ada juga yang mencatat penjelasan suster. Setelah berkeliling, kelompok kembali berkumpul di hall dan diarahkan menuju kapel untuk belajar bersama memahami tata cara Perayaan Ekaristi dan peralatan misa. Di kapel, anak-anak diajak belajar alat alat liturgy langsung di meja altar. Apa saja perlengkapan misa dan bagaimana menggunakannya seperti misalnya , monstrans, sibori, ampul, patena, pala dan lain-lainnya. Orang tua mereka berkomentar: “Bagus, anak-anak mengalami sendiri bagaimana memegang dan menyusun alat-alat itu.” Anak-anak sengaja diajak mendekat ke Altar untuk praktek menyusun piala. Pembimbing juga menghimbau, bahwa setelah anak-anak menerima komuni pertama, mereka dapat langsung mendaftarkan diri sebagai misdinar. Tak terasa hampir jam 3, anak-anak sudah lelah. Setelah berfoto bersama di dalam kapel, rombongan pamit pulang. *** |
Senin, 18 Juni 2018
Rabu, 06 Juni 2018
You speak English, I speak Indonesia
Siang itu Jumat, 4/5/2018 seusai makan siang, seorang turis berjenggot dan berkumis putih tebal bertamu ke Museum Santa Maria. Di depan hall museum ia menyapa kami, “Hi…. Can you speak English?” Saat dijawab sedikit bisa, langsung ia menyambar “You speak English, I speak Indonesia.”
Ia tertawa. “Hay Coppens “ Ia memperkenalkan diri. Hay Coppens berasal dari Belanda dan pernah lama tinggal di Papua Indonesia. Di Jakarta ia sering menginap di Panti Asuhan Vincentius Putra. Hay pernah mengajar Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur pada masa Sr De Yanshak (Misionaris Ursulin yang telah kembali ke Amerika). Hay datang untuk melihat museum dan mau pamit, karena Senin sore akan kembali ke Belanda. Memang Hay sering datang ke Indonesia untuk membantu menterjemahkan Sejarah beberapa tarekat religius dan pernah bertemu dengan Sr Lucia. | Siang itu selama kurang lebih tiga jam, kami ngobrol dan menemani Hay keliling museum. Hay Coppens memberi banyak masukan untuk Museum Santa Maria. Beberapa koleksi ia kenal dan memberikan informasi tambahan untuk koleksi kami. Salah satunya adalah bejana air dan pispot. Hay menjelaskan bahwa pada masa lalu instalasi air bersih belum ada yang sampai ke kamar sehingga para suster dan penghuni asrama wajib membawa bejana berisi air dan pispot. Di ruang Liturgi dan Relikui, Hay juga memberi banyak sekali masukan bagaimana menampilkan benda pamer agar pengunjung tertarik. Seperti bagaimana jubah atau stola itu dipamerkan dan tambahan terjemahan beberapa sertifikat relikui. Hay juga berjanji akan membantu semampunya apabila dibutuhkan. Tawarannya kami sambut dengan sukacita. Setelah puas berkeliling, Hay pamit dan menuliskan pesan di buku tamu “Volunteer sangat mengesankan dan museum juga!!”*** |
Langganan:
Postingan (Atom)
Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial
Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...
-
Hari Museum Indonesia tahun 2019 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Grebeg Museum (=ramai-ramai mengunjungi museum...
-
Setiap kita ke museum apakah kita baca semua teksnya? Seperti apakah teks yang sesuai dan enak dibaca? Ibu Ajeng Ayu Arainikasi...
-
Habyt atau model pakaian Para Suster awalnya memakai pakaian biara warna hitam panjang sampai di mata kaki dengan gempt di dada warna p...










