Jumat, 05 Oktober 2018

REPLIKA KAPAL HERMAN


Foto dan replika kapal Herman di museum Santa Maria merupakan bagian tak terpisahkan dari kisah perjalanan para suster Ursulin di Indonesia untuk pertama kalinya. Oleh karena itu foto dan replika kapal Herman ditempatkan di Ruang Angela. 

Ruang Angela adalah ruang pertama dari rangkaian ruang ruang yang ada di museum bila mengunjungi Museum Santa Maria. Pemilik kapal Herman yang sesungguhnya adalah Nicolaas Adriaan Koning dan selesai dibuat pada bulan Juni tahun 1855. Kapal yang masih baru itulah yang ditumpangi tujuh suster Ursulin pertama yang datang ke Batavia. Tujuh suster Ursulin pionir ke Batavia tiba bersama tiga pastor diosesan yaitu: Pst. Frassen, Pst. Verhaag dan Pst. Van Ophoven.
Kapal Herman memulai pelayaran dari Pelabuhan Rotterdam Belanda pada 20 September 1855 dengan dinahkodai oleh Matthijs van Velthoven. Sampai di pelabuhan Batavia pada 5 Februari 1856. Karena cuaca buruk, Kapal Herman tertahan di laut sekitar teluk Batavia dan baru bersandar di pelabuhan pada 7 Februari 1856. Matthijs van Velthoven sendiri seorang pelaut berpengalaman dan terhitung sudah bolak balik 26 kali menahkodai berbagai jenis kapal dari Belanda ke Jawa selama 40 tahun. 

Kapal Herman termasuk tipe kapal Barque dengan tiga tiang layar. Lambung kapal dari kayu berlapis tembaga dan termasuk ke dalam jenis kapal kargo. Tahun 1861 kapal Herman diganti namanya menjadi JOHANNA ELISABETH. Ganti nama berarti ganti pemilik dan manager. 

Setelah beberapa tahun digunakan untuk pelayaran dari Eropa ke Asia melalui semananjung Harapan Afrika, menuju ke Hindia Belanda kapal Herman sempat beberapa kali berganti nama yaitu JOHANNA ELISABETH kemudian PASSAROEANG. Terakhir namanya menjadi ST. OLAF dan akhirnya tenggelam di laut tak jauh dari London, Inggris tahun 1893.***

Rabu, 03 Oktober 2018

Bukan Ke Mall Tapi Ke Museum

“Eeh bukannya ke mall malah ke museum, waktu diajak merasa agak aneh tapi ya ditemani saja. Pertama ke Museum Taman Prasasti, ternyata tutup. Ke museum Katedral masih renovasi, pilihannya ya kesini Museum Santa Maria.” 



Cerita Pak Lius mengisahkan perjalanannya dengan Mas Bona saat berkeliling Museum Santa Maria, Senin 24 September 2018. Mereka berdua datang hampir jam 11 dan selama satu setengah jam menikmati sejarah koleksi Museum Santa Maria. 

Mas Bona mengunjungi museum Santa Maria setelah seminggu sebelumnya mengikuti seminar yang diselenggarakan kantornya di Jakarta. Sementara Pak Lius warga asli Jakarta tinggal di sekitar Gunung Sahari. “Ke Santa Maria sudah beberapa kali tapi kalo ke Museumnya ya baru ini, dan ternyata menarik juga.” Pak Lius melanjutkan. 

“Sejarahnya, saya suka dengan sejarahnya. Tiap mampir ke kota lain selalu yang dicari museumnya atau tempat lain yang menarik. Bukan mall.” Timpal Mas Bona.yang tinggal di Solo tetapi bekerja di sebuah bank di Jogja.

Kecintaannya dengan museum dan sejarah ditunjukkan Mas Bona lewat foto-foto yang tersimpan di kameranya. Mas Bona sendiri seorang jurnalis, aktif terlibat dalam media online terutama bidang sejarah. Sudah banyak tempat bersejarah yang ia kunjungi. Dan Museum Santa Maria menjadi salah satu tempat yang istimewa bagi Mas Bona. 

Sejarah sekolah Santa Maria yang sudah seratus enampuluh tahun dan masih akan terus berlanjut menjadi salah satu alasan menarik. Suasana museum yang damai karena berbatasan langsung dengan kebun biara juga menjadi salah satu alasan mengapa harus datang ke Santa Maria. 

Mas Bona pun memvideokan suasana sekitar museum dan kebun biara dengan kamera handphonenya. Mas Bona berharap Museum Santa Maria dapat dikenal publik lebih luas. Hal itu ia tekankan saat menulis pesan di buku tamu “ Nice, semoga bisa dikenal oleh masyarakat awam lainnya.” Sementara pak Virgilius menulis “semoga selalu dipelihara, sejarah yang sangat berharga.”.***

Senin, 01 Oktober 2018

“Baru Tahu Kalau Ada Museum”…

Kamis Siang 20/9/2018 setengah jam sebelum tengah hari, seorang Ibu bergegas masuk ke Museum dari arah lorong SMK. Tak lama kemudian beberapa bapak ikut menyusul. Mereka diajak ke Museum oleh seorang guru SMK lalu masuk langsung menuju Ruang Misi. 



Rombongan berpakaian batik rapi yang datang ke Museum Santa Maria itu adalah rombongan dari Suku Dinas Pendidikan (Sudin) Provinsi bagian Lingkungan Hidup yang sedang mem-verifikasi Kebersihan dan Keasrian Kompleks SMK St Maria. Beberapa dari mereka mengunjungi lokasi dapur SMK yang bersebelahan dengan Museum. SMK Santa Maria masuk dalam nominasi sekolah dengan penataan lingkungan hidup terbaik untuk mendapatkan penghargaan Adiwiyata dari DKI. 

Mereka bergegas datang ingin tahu dan melihat seperti apakah museumnya. Mereka terkejut dan kagum bahwa di lingkungan Sekolah ada Museum. “Baru tahu kalau ada Museum,” ujar Ibu Diana Pakpahan. Agenda yang padat, membuat mereka langsung menuju ke Ruang Misi dimana tersimpan berbagai koleksi dari daerah-daerah tempat para Suster Ursulin berkarya. Disitu juga tersimpan penghargaan MURI untuk Sekolah Ber-asrama Putri Pertama di Indonesia.
Dari sekian banyak koleksi yang dipamerkan, mereka cukup antusias dengan numismatik atau koleksi uang. Koleksi uang Museum Santa Maria adalah milik para suster sejak lampau hingga sekarang yang menunjukkan luasnya relasi dan transaksi karya. 

Uang yang dipamerkan berasal dari berbagai negara di seluruh dunia dari 5 benua, sejak abad 18 sampai dengan sekarang. Rupanya ada seorang Bapak yang mempunyai koleksi koin lama tahun 1930 dan dibawa kemana-mana. “Saya juga punya ini, “ katanya dengan bangga, ingin menunjukkan bahwa ia juga penggemar koleksi koin lama. 

Dari Ruang Misi mereka melanjutkan ke Galeri, namun karena waktu yang sangat singkat, mereka hanya sempat melihat sepintas dan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Ada yang berkomentar: “Lain kali kalau datang kesini mesti dijadwalkan untuk mengunjungi museum.” Sebelum pamit mereka meninggalkan pesan di buku tamu “Sangat baik, ramah & mohon diinfokan ke masyarakat, ada museum Santa Maria.”***


Senin, 24 September 2018

Guru dari Taiwan, terima kasih sudah mampir…..

Dua perempuan dan seorang pria mampir sebentar ke Museum Santa Maria, Jumat 3 /08/2018. Mereka adalah pendamping para mahasiswa yang sedang praktek di beberap sekolah Ursulin. Bu Theresia Ang Le Tjien, Koordinator Bidang Pendidikan, Pusat Yayasan Pendidikan Ursulin (PYPU) menghantar mereka untuk bertemu dengan Sr Maria pimpinan Komunitas Santa Maria Juanda. 


Salah satu perempuan itu bernama “Yuhshi Lee” (catatan di buku tamu) dari komunitas Wenzao Ursuline University of Languages Taiwan.
Sudah sejak tahun 2015, Universitas Ursulin di Wenzao mengirim mahasiswa jurusan bahasa Inggris nya untuk praktek selama beberapa minggu di Indonesia. Awalnya hanya mahasiswi, 2 tahun terakhir ini ada beberapa mahasiswa yang juga praktek di beberapa sekolah, seperti Regina Pacis Solo, St Maria-Jakarta dan Surabaya, St Ursula Jakarta dan juga Ende. Jejaring dan kerja sama antar sekolah Ursulin di Asia Pacific itu terus dibina, antara lain untuk mewujudkan dan meningkatkan semboyan “insieme”. 

 Rombongan hanya singgah sebentar di museum karena memang tidak ada dalam jadwal kunjungan. Kebetulan saja satu area dengan kantor suster pimpinan komunitas Santa Maria Juanda yang akan ditemui sehingga sempat mampir. Namun pesan yang ditulis menunjukkan kekaguman mereka pada karya para Suster Ursulin khususnya Museum Santa Maria. Tertulis kesan di buku tamu “A wonderful experience, cultural granth!”.***

Jumat, 21 September 2018

KIAT MUGALEMON

Sejak pelantikan Kepengurusan Asosiasi Museum Indonesia-DKI Paramita Jaya yang baru, para anggotanya diajak untuk aktif terlibat kegiatan bersama yang dikomunikasikan dengan grup WA. Rutin setiap bulan ada berbagai program, seminar-seminar dengan berbagai narasumber dari dalam dan luar negeri, Pameran, tour, Rapat Teknis, dan lain-lain. Ajakan itu sungguh bermanfaat dan berdampak positif. Selain para anggota saling mengenal, mempererat tali silaturahmi, juga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. 

Pertemuan bulanan Mugalemon (=Museum Galeri dan Monumen) edisi Agustus 2018 bertempat di Museum MACAN atau The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara pada Senin 6 Agustus yang lalu. Pertemuan yang dihadiri perwakilan dari berbagai Museum di DKI di buka oleh ‘tuan rumah’ Chairwoman Yayasan Museum MACAN Fanessa Adikoesumo dan Direktur Museum MACAN Aaron Seeto. Sementara Pak Yiyok Ketua AMIDA Paramita Jaya, dalam sambutannya berharap melalui pertemuan Mugalemon ini, anggota AMIDA DKI dapat belajar bagaimana mengelola sebuah museum agar pengunjungnya antusias datang. 

Usai sambutan dilanjutkan sharing dari Ibu Ajeng Ayu Araini Kasih S.Hum, M.A. Ibu Ajeng adalah sejarawan lulusan UI dan dosen sejarah di almamaternya. Saat ini beliau sedang studi lanjut di Belanda, dan kebetulan sedang kembali ke Indonesia untuk mengumpulkan data riset sebelum kembali lagi ke Belanda. Bu Ajeng sharing pengalaman sewaktu mengelola Museum Ceria sebelum ditinggalkannya karena studinya di luar negeri.




Yang pertama perlu diperhatikan adalah unsur Relevan. Maksudnya relevan ialah bukan mengenai sesuatu yang sudah diketahui atau familiar, relevan adalah sesuatu yang membawa arti baru dan atau efek positif yang baru dalam kehidupan seseorang. 

Sebagai contoh Bu Ajeng sharing pengalaman berkaitan dengan arti kata Relevan. Pengalaman khusus dengan para difabel tunanetra saat mendampingi mereka di Museum Nasional. Mereka adalah para lansia dari negara China yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali, kemudian Bu Ajeng mengajak mahasiswa dari jurusan Sastra Mandarin UI, untuk mendukung programnya. Situasi ini menciptakan suasana saling belajar yang penuh makna, memberi dan menerima. Lain lagi ketika mendampingi keluarga dengan anak-anaknya. Dengan menggunakan berbagai media permainan untuk melibatkan seluruh anggota keluarga, membuat suasana di museum lebih menarik. Masing-masing museum dapat menemukan caranya sendiri dengan tujuan untuk menarik para pengunjung. Dari apa yang dipaparkan Ibu Ajeng, relevan terkait langsung dengan siapa sasaran yang akan dituju dan dilayani. 

Pertemuan selama kurang lebih satu setengah jam itu diakhiri dengan tour keliling Museum MACAN. Dari pertemuan tersebut, kami belajar bahwa benda atau koleksi yang dipamerkan tidak harus banyak, namun diciptakan ruang-ruang yang mendukung. Bahan pamer lebih disesuaikan dengan temanya. Tema Museum juga sekaligus dapat menjadi sarana membuat acara atau even. Dan kalau memungkinkan, disediakan ruangan untuk bermain atau menggali ingatan masa lalu para pengunjung dengan kostum atau cosplay.***

Senin, 17 September 2018

“KAGET SAYA, .. Koleksinya Banyak Banget”

Pak Kris seorang aktivis Paroki Kramat berkunjung ke Museum pada Jumat 3 Agustus 2018 sekitar jam 11. 00. 

Tujuan awal, sebenarnya hanya mau mengambil laptop-nya yang tertinggal ketika ada kegiatan seminar bertempat di hall Museum Santa Maria beberapa waktu yang lalu. Ternyata, sebelum pulang, malah mampir sekalian untuk melihat-lihat museum. 

Ketika berada di Ruang Angela Merici, dan melihat foto-foto lama, yang berkesan menurut Pak Kris adalah area yang sekarang menjadi Biara dan Sekolah Santa Maria. Kompleks yang ternyata sangat luas untuk ukuran di tengah kota, tak jauh dari Istana Presiden.

Saat di Ruang Misi, Pak Kris baru tahu alasan kedatangan para suster ke Batavia, untuk mendidik para perempuan yang masa itu tidak tersentuh pendidikan dan hidup tanpa etika. Anak-anak yang membutuhkan pendampingan dan pendidikan, sementara orang tuanya sibuk bekerja di luar Batavia sebagai pengawas dan staff perkebunan program tanam paksa waktu itu. 

Beberapa benda peninggalan para suster juga menjadi hal yang menarik perhatiannya. Seperti misalnya, Kotak Kayu Penghangat sebelum ditemukan ‘dispenser’ atau ‘rice cooker”. Lemari-lemari kuno gaya Eropa dengan kaca yang tampak sekilas permukaannya bermotif namun saat diraba halus seperti kaca pada umumnya padahal bukan kaca patri atau kaca es. Sendok garpu berbagai ukuran dengan grafir nama atau inisial pemiliknya. Pada masa itu setiap suster memiliki satu set alat makan, komplit sendok-garpu-pisau. Setiap suster merawat dan menjaga miliknya masing-masing. Dan masih banyak lagi benda yang tersaji membuat Pak Kris kagum. “Kaget saya, kirain hanya sedikit dan nggak seberapa, ternyata koleksinya banyak banget dan menarik. “ 

Selama hampir dua jam Pak Kris menikmati kunjungannya. Sebelum pamit, ia menulis pesan yang ditulisnya dalam buku tamu “ Bagus, Keep the good work.” ***

Jumat, 14 September 2018

WHAT A PLACE!!

Kamis pagi, sehari sebelum perayaan HUT Kemerdekaan RI 2018, enam tamu dari Sekolah Ursulin di Polandia datang berkunjung ke Museum Santa Maria. 

Mereka adalah 3 guru bahasa Inggris (2 putra dan 1 putri) serta 3 suster Ursulin. Mereka datang setelah selesai mengikuti pertemuan International Ursuline Youth Camp (IUYC) yang diadakan di Gunung Geulis, Sentul, Bogor. 
Ikut Upacara dulu sebelum keliling Museum


 Sekitar pukul 07.30 rombongan tiba di halaman Sekolah Jalan Batutulis Raya 30, Jakarta Pusat. Sebelumnya mereka dijemput dan didampingi Suster Korina Ngoe di penginapan BSD Tangerang. Satu jam perjalanan cukup membuat lelah. Sebagai Koordinator Kampus St Maria, Yayasan Nitya Bhakti Sr Korina mengajak mereka untuk mengikuti upacara bendera Sang Saka Merah Putih bersama dengan seluruh siswa dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI di halaman luas SMP Santa Maria. Melihat dan mengalami sendiri suasana upacara sekolah membuat mereka merasakan sesuatu yang lain. “They are very discipline,” said somebody.
Melintasi lantai 2 SD usai mengikuti upacara  Hari Proklamasi Kemerdekaan RI

Usai mengikuti upacara, rombongan diajak mengunjungi Kampus dan Biara Santa Maria yang memanjang, dari arah Utara ke Selatan. Dalam waktu kurang lebih 2 jam, mereka berjalan, mendengarkan penjelasan, mengamati, bertanya… berfoto dan bertegur sapa dengan siswa/i yang dijumpainya mulai dari Unit SMP, TK, Asrama, SD, lalu SMK dan berakhir di Museum. 

Waktu kunjungan yang cukup singkat, khususnya ketika berada berada di Museum Santa Maria, mereka memasuki melihat sekilas bagian dalam museum. Di Ruang Angela dan Ruang Misi serta Ruang Kerja rombongan tertarik beberapa benda pamer dan foto-foto. Oleh karena itu Booklet dan brosur diberikan sebagai kenangan dan bacaan supaya ketika ada waktu bisa dibaca kembali. 

Jadwal rombongan memang padat, karena mereka akan mengunjungi 4 kampus Ursulin di Jakarta. Namun, setidaknya mereka sempat diperkenalkan dengan karya baru para suster Ursulin di Indonesia, yaitu keberadaan Museum Santa Maria. Museum yang berada di tengah-tengah kampus, dan yang menghidupi dan meneruskan semangat para Ursulin pendahulu, semangat St Angela Merici sendiri. 

 Sebelum pamit, salah satu peserta rombongan menulis pesan sebagai ungkapan pengalamannya di buku tamu “What a place! What people! Thank you for your generosity. God bless you”. Tempat dan orang-orang yang sungguh murah hati. Tuhan memberkati.***
Di Ruang Angela

Di Ruang Misi

Kamis, 13 September 2018

Suster Daria Klich (ahli sejarah) Dari Polandia

“Ah-haaaa…..” seruan singkat itu berulang kali muncul dari bibir Suster Daria saat tertarik dengan suatu hal. Tidak banyak kalimat yang keluar untuk mengekspresikan kekaguman saat mendengar berbagai cerita dan penjelasan. Sr Daria pernah mengatakan bahwa ia adalah seorang pemalu. Bisa dilihat, bagaimana pipinya yang putih sering semburat merah, ketika pembicaraan menyangkut dirinya. Namun ia serius dan betul betul memperhatikan apa yang disampaikan.

Sr. Daria dari Polandia datang ke Indonesia dalam rangka diundang Ursulin Provinsi Indonesia untuk mengenal Indonesia dan men”sharing” kan pengalamannya selama 10 tahun bekerja di bagian Arsip di Generalat Roma. Setelah kembali ke negeranya Sr Daria menangani Museum dan menjadi anggota Komisi Sejarah di Polandia. Itu pula yang dia usulkan, kalau mungkin diadakan Komisi khusus untuk mempelajari Sejarah. “In Poland, we (Commission of History) often have a meeting,” ungkapnya untuk menjelaskan seberapa jauh dan penting Komisi itu.

Selama 2 minggu (5-18 Agustus 2018) ia berada di Indonesia bersama dengan 3 suster Ursulin dan 3 guru semuanya dari Polandia. Ke enam rekannya diundang untuk mengikuti acara IUYC Asia Pacific (International Ursuline Youth Camp) 10-13 Agustus yang diselenggarakan di lahan perkemahan Gunung Geulis, Sentul, Bogor. Acara Sr Daria agak berbeda, karena tugasnya di Polandia juga berbeda.
Sr. Daria mengagumi bunga matahari di TMII

Sebagai seorang ahli sejarah, Sr Daria yang baru saja menyelesaikan studi PhD-nya. Ia juga ingin membagikan pengalamannya sekaligus belajar hal-hal baru di Indonesia. Beberapa hari tinggal di Biara Santa Maria Juanda dan beberapa hari bekerja bersama dengan Sr Marie Louise, Sekretaris Provinsial di Bandung.

Di sela-sela pertemuan Sr Daria juga diajak berkeliling Jakarta dan Bandung untuk melihat-lihat. Selama di Jakarta Suster Daria sempat mengunjungi Monas, Museum Nasional Indonesia, Kota Lama, TMII dan tentu saja ke Museum Santa Maria. Ia rajin mendokumentasikan dalam bentuk foto dan video dan meng-up-loadnya di Youtube, misalnya saja lagu “insieme”. Karya para Suster Ursulin Internasional bisa dilihat pula di situs:  https://www.ursulines-ur.org/

“I’m pleased” Suster Daria tersenyum simpul saat diperlihatkan video buatannya, kami putar di ruang Au-Vi untuk menjamu pengunjung. Di ruang Auvi itu, Suster Daria berhenti sejenak kemudian duduk dan menikmati suguhan film pendek Museum Santa Maria. Usai menonton film singkat berdurasi 8 menit itu, terdengar “good..good..” komentarnya. Lalu Suster Daria diajak melihat lagi koleksi museum yang lain. Di Ruang Kerja banyak sekali foto-foto para suster misionaris yang saat ini sudah kembali ke negeri asalnya. Seruan “Ahaaa…” ciri khas Suster Daria kembali terdengar berulang ulang...

Satu jam lebih Suster Daria keliling museum. Sebelum mengakhir kunjungan Suster Daria mengungkapkan kesannya berkunjung ke Museum Santa Maria dalam tulisan di buku tamu “Thank you Sr. Lucia for this wonderful visit in the museum. Good work.” You’re welcome Suster Daria, see you next time. Thank you for your visit and your suggestions which you have given to Museum Santa Maria also. .***
Suster Daria bersama para Suster Ursulin  dan pemandu Museum Nasional
Suster Daria dan para Suster Ursulin di anjungan Provinsi  Sumatera Barat TMII

Jumat, 07 September 2018

ELIN dari Focolare: “Sangat bagus yang membantu orang-orang kenal misi Suster”.

Elin Tang anggota dari Gerakan Focolare (Focolare Movement) datang berkunjung ke Museum Santa Maria, Jumat 3/08/2018. 

Focolare adalah sebuah gerakan gerejawi dan universal yang lahir di Italia saat Perang Dunia II, pada tanggal 7 Desember 1943 yang dirintis Chiara Lubich.
foto dari brosur Focolare
foto dengan Paus

Semangatnya adalah “semangat kesatuan” dan menggalang Inisiatif Solidaritas Internasional bekerja sama dengan sponsor. 

Di dalamnya bergabung orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, agama, panggilan hidup, tingkat sosial. Misinya khususnya adalah: “mewujudkan doa Yesus kepada Bapa: “Semoga mereka semua bersatu” Dan sudah mulai berkembang di Indonesia juga, dengan pusatnya di Yogyakarta dan Medan. (lampiran).
Elin Tang sendiri yang kelahiran Hongkong, saat ini tinggal di Yogyakarta dan sudah fasih berbicara dalam bahasa Indonesia. Kunjungannya ke Museum Santa Maria adalah untuk yang pertama kali. Suster Ratna “mempromosikan” museum St Maria yang merupakan Museum dalam kompleks Sekolah-Biara kepada Elin Tang, serta menemaninya berkeliling menikmati apa dan bagaimana sejarah Museum Santa Maria. Mulai dari Ruang Angela, pendirian Ordo Santa Ursula dan perkembangannya hingga di Indonesia. 

 Di ruang Misi, Elin Tang mengagumi karya para suster di Papua..….(barangkali Misi Elin mau sampai ke Papua-kah?) Sayang, hanya sejenak Elin menelusuri jejak para Suster Ursulin pionir dan museum. Sebelum pamit Elin Tang menulis kesannya di buku tamu “Sangat bagus yang membantu orang-orang kenal misi Suster.***
foto dari brosur Focolare

Senin, 03 September 2018

INGATAN AKAN SANTA MARIA

“….karena tidak semua yang pernah sekolah di sana mengetahui sejarah berdirinya sekolah,” 

Senin, 27 Agustus 2018 sekitar jam 11 siang, dua pria berkemeja rapi datang ke Museum bersama Suster Lucia. Mereka, Hendra dan Andi adalah keponakan Suster Maria pemimpin Komunitas St Maria. Sebagai alumni SMP Santa Maria mereka ingin bernostalgia, karena kebetulan Hendra sedang berlibur ke Indonesia. Setelah sekian lama meninggalkan kampus, mereka ingin melihat kemajuan dan perubahan di kampus Santa Maria. Sambil menunggu Tantenya Sr Maria datang, mereka sudah tidak sabar untuk berkeliling melihat gedung-gedung baru, dan mereka menanyakan keberadaan Museum. 

Setelah lulus dari SMP Santa Maria, adik dan kakak Hendra dan Andi melanjutkan ke SMA St Theresia. Ketika lulus Andi memilih melanjutkan ke IPB dan Hendra ke ITB, kebetulan tanpa tes. Hendra yang mendapat bea siswa karena nilainya bagus, mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 ke Jerman. Setelah lulus ia pun bekerja di sana. Maka ketika ia mengambil cuti untuk kembali ke Indonesia, ia ingin mengenang kembali, Santa Maria. Juga peristiwa MEI 1998 yang “tak terlupakan.”


Persis 20 tahun yang lalu, peristiwa “kerusuhan Mei 1998” masih membekas di hati masyarakat Indonesia, termasuk Hendra dan Andi. Banyak anak yang terpaksa menginap di sekolah karena situasi menegangkan saat itu. “Di jalanan banyak terjadi bakar-bakar ban mobil, “ begitu mamanya menjelaskan. Ibu Elly Sumarsih, Kepala SMP mereka waktu itu, membenarkan bahwa banyak siswa yang terpaksa menginap di sekolah karena tidak dijemput dan tidak dapat pulang ke rumah. Ibu Elly dan para guru kemudian membuka “dapur umum” untuk menyediakan makan bagi mereka. “Untung saat itu banyak sumbangan mie, sisa dari bak-sos,” jelas Ibu Elly. Peristiwa itu sungguh membekas dan memberi kenangan tersendiri bagi siswa/si SMP betapa kacaunya situasi saat itu, namun sekaligus menjadi suatu ikatan emosional bagi yang mengalaminya. 

Kini Hendra dan Andi datang dalam situasi yang lain. Ia baru mengetahui ada museum di Santa Maria, di tempat ia sekolah dulu, saat ini. Syukurlah, keinginannya untuk mengunjungi museum mendorong mereka untuk memasuki, setiap ruang dan dengan sabar mendengarkan penjelasannya. Mereka berdua serius memperhatikan, dan mengikuti kemanapun Suster melangkah di setiap ruang di museum. Selama satu jam lebih berkeliling ada begitu banyak hal menarik yang baru diketahuinya.

Ia menulis: “Museumnya menarik, karena tidak semua yang pernah sekolah disana (Contohnya saya sendiri) mengetahui sejarah berdirinya sekolah. Koleksinya lumayan banyak dan bervariasi.”. kalau ada kesempatan lain mereka berniat akan datang lagi.***


Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...