Jumat, 10 Januari 2020

Duka Saat Mulai Melangkah


Vero  promosi Museum Santa Maria saat reuni & Gathering Ikatan Alumni Santa Maria Juanda (IASAJA) 30/11/2019 di halaman SD Santa Maria 

Awal 2020 Museum Santa Maria berduka. Salah satu pemandu, Veronica Wenehen menghadap Sang Pencipta. Akhir Desember 2019, saat diundang untuk rapat persiapan Program Museum tahun 2020, Vero menegaskan bahwa ia akan hadir kalau sudah sembuh. Artinya, hanya sakit sajalah yang menghalangi pelayanan tugasnya. Sabtu 4 Januari 2020, pesan dan panggilan via WhatsApp untuk hadir rapat dibalas dengan pesan “Maaf Kak, aku masih sakit, doain aku ya.”

Museum Santa Maria bersiap melangkah menatap tahun 2020 penuh optimis. Namun “Doain aku” menjadi pesan terakhir Vero . Kami sungguh terkejut mendengar berita kematiannya, bak disengat petir, antara percaya dan tidak. Awan mendung menambah kegalauan hati, seolah ikut berduka. Kami sungguh kehilangan. Ingatan pun melayang mencoba mereka-reka  ulang  awal  perjumpaan  dan pelayanan  Vero di Komunitas Museum Santa Maria.

Vero mulai terlibat melayani di Museum Santa Maria 28 Desember 2015. Saat itu Vero anak ke 8, dan putri bungsu dari 10 bersaudara, diajak kakaknya Lucia Wenehen (putri ke 5) bertemu dengan Suster Lucia OSU  Kepala Museum Santa Maria. Vero diajak terlibat dalam persiapan perayaan syukur 160 tahun Ursulin di Indonesia yang  jatuh pada 7 Februari 2016.
  
Usai perayaan syukur yang meriah, Vero tetap melanjutkan pelayanannya menjadi Pemandu Museum Santa Maria. Bulan Mei 2019 Vero menegaskan bahwa niatnya melayani dibuktikan dengan lulus uji sertifikasi pemandu Museum dan bergabung dalam keanggotaan Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI). Kegiatan terakhir yang ia ikuti adalah Kegiatan Bimtek Pengelolaan Database yang diadakan oleh Kemendikbud mewakili Museum Santa Maria, akhir November 2019.

Vero sungguh-sungguh mewujudkan semangat SERVIAM dalam hidupnya, pelayanannya, persaudaraan dan di setiap perjumpaan.  Dedikasi dalam tugas dan pekerjaan membuatnya sering terlambat makan. Ditambah lagi kesukaan dengan masakan pedas  dengan alasan menambah semangat bekerja menjadikan lambungnya rentan dengan asam lambung. Tak kuasa menahan sakit akibat peningkatan asam lambung,  Vero  menghadap Sang Khalik dalam perjalanan menuju Rumah Sakit pada Senin 6 Januari 2020 dini hari dipangkuan suami tercinta Mas Ade, yang kini ditinggalkan sendiri.

Saat kaki mulai melangkah, duka itu menyapa, dan menggantung di hati. Mengingatkan kami bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya. Dialah Yang  Maha Kuasa mengatur  segalanya.  Terima kasih Vero atas kebersamaan dan persaudaraan selama ini. Selamat jalan Vero, tersenyum dan bahagialah di Surga bersama para kudus. Kami akan lanjutkan langkah-langkah berikutnya dalam semangat SERVIAM untuk Museum Santa Maria yang selalu dihati. ***

Kamis, 09 Januari 2020

BIMTEK PENGELOLAAN DATABASE MUSEUM



LAPORAN MENGIKUTI BIMBINGAN TEKNIS PENGELOLAAN DATABASE MUSEUM
26-29 November 2019
Hotel Ambhara, Jakarta Selatan
(oleh : Veronica Wenehen, Pemandu Museum Santa Maria) 


Halo Sahabat Museum! Jumpa lagi! Saya mau melaporkan kegiatan Bimbingan Teknis yang saya ikuti tanggal 26-29 November 2019 yang lalu di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan. Selamat membaca! J

Bimbingan Teknis kali ini, tujuan utamanya dimaksudkan untuk memperkenalkan Sistem Registrasi Nasional Museum yang baru, yang merupakan tindak lanjut dari Sistem Registrasi Museum yang pernah diperkenalkan 2 tahun sebelumnya di Bogor.

Sistem Registrasi Nasional Museum kali ini diawali dengan pendaftaran atau pembuatan login Museum pada alamat link berikut : sso.dapobud.kemdikbud.go.id. Login harus menggunakan email Museum, dengan password bebas, sesuai keinginan masing-masing Museum. Email yang digunakan adalah email Museum, supaya tidak tergantung dengan admin Museum itu sendiri, artinya siapapun bisa membuka dan mengakses Sistem Registrasi tersebut.

Setelah akun Dapobud udah sukses dibuat, lalu dilanjutkan dengan login menggunakan website dengan alamat sebagai berikut : museum.kemdikbud.go.id, klik Login, lalu pilih Login menggunakan SSO Dapobud, nanti secara otomatis sistem akan membuka login kita. Jadi akun yang telah kita buat di dapobud tadi seolah merupakan backend Museum.

Setelah kita login sesuai prosedur di atas, lalu kita bisa input segala keperluan sesuai menu yang telah disiapkan, yaitu : Data Museum, Data SDM, Data Fasilitas Museum, Data Program Museum, Data Pembinaan SDM, Data Penghargaan, Data Revitalisasi, Data Pengunjung, dan Data Koleksi.

Pada awal-awal pelatihan, karena semua mengakses, server menjadi error dan lambat sekali pergerakannya. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang paling penting. Mengingat system yang diperkenalkan ini adalah Sistem Registrasi Nasional Museum, yang artinya secara Nasional akan diakses oleh seluruh Museum se Indonesia, maka bukan tidak mungkin yang akan mengakses dalam sehari minimal adalah 50 user. Bayangkan, pada saat uji coba seperti saat Bimbingan Teknis ini, yang login sekitar 35 Museum, dan aksesnya sangat lambat, kemudian server error, bagaimana apabila sudah resmi dilaunch untuk Nasional.

Penting untuk dipikirkan solusi dan juga pencegahan agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Saya juga sempat berpikir, apakah system ini akan berjalan secara jangka panjang, melihat bahwa system 2 tahun lalu tidak lagi digunakan, kemudian saat ini menggunakan system baru. Saya hanya prihatin dengan teman-teman di Museum milik Pemerintah, yang sudah mengunggah begitu banyak informasi ke dalam akun tersebut, yang pastinya menghabiskan waktu, tenaga, serta pikiran, kemudian di tahun-tahun berikutnya system ini tidak lagi digunakan. Wauwww,,,, luar biasa mengecewakan kalau terjadi (lagi) seperti itu. Semoga kekhawatiran saya tidak terjadi ya. Karena kita semua pasti maunya yang terbaik untuk Museum di Indonesia.

Anyway, selain perkenalan dan pelatihan Sistem Registrasi Nasional Museum tersebut, saat Bimbingan Teknis kemarin juga ada pelatihan fotografi koleksi oleh Museum Nasional Indonesia dan Feri Latief.

Feri Latief adalah fotografer lepas untuk National Geographic, yang juga di endorse oleh Nikon, sehingga hasil karya fotografi dan videonya tidak aneh kalau luar biasa J Bersama Museum Nasional Indonesia, yang memiliki banyak koleksi, memperkenalkan mengenai teknik sederhana dalam pengambilan gambar untuk pendokumentasian koleksi di Museum. Katanya tidak harus mengeluarkan biaya mahal untuk membayar fotografer professional, kitapun sebagai staf dan pengelola museum bisa melakukannya, dengan alat yang sederhana. Sekarang banyak HP yang sudah tinggi resolusinya, bisa dimanfaatkan untuk proses fotografi, dilengkapi juga dengan lighting dari senter produksi China yang terkenal dengan harga yang ekonomis J

Teknik pencahayaan memang sangat penting dipelajari dalam pengambilan gambar. Karena dari situ kita akan mendapatkan apa yang mau kita tonjolkan dan mau kita ceritakan kepada para penikmat koleksi. Semua peserta terlihat antusias untuk mempelajari dan tentunya membeli peralatan sederhana tersebut J

Bimbingan Teknis diakhiri hari Jumat tanggal 29 November 2019 dengan menyisakan tugas registrasi di akun yang sudah kita daftarkan. SEMANGAT J


Jumat, 06 Desember 2019

Walking Tour


  
Walking tour adalah salah satu model wisata masa kini, bentuknya kegiatan wisata dengan berjalan kaki menyusuri jalur tempat yang menarik. 

Destinasi wisata yang dituju ada beberapa titik dan berada dalam satu jalur searah atau berdekatan dalam satu kawasan. Karena tujuan wisata lebih dari dua titik dan durasi walking tour yang terbatas biasanya antara 3-5 jam maka waktu kunjungan hanya sebentar saja. Di setiap titik mendengar cerita singkat tentang sejarah kemudian foto sendiri dan bersama. Walking tour merupakan solusi bagi wisatawan yang menyukai eksplorasi dengan efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Museum Santa Maria menjadi salah satu destinasi walking tour karena berada tepat di tepi jalan Juanda dan berada di tengah tengah antara Weltevreden
 (Lapangan Banteng dan sekitarnya) dengan Oud Batavia (Kawasan Kota Tua)

Sejak 2018 beberapa grup walking tour selalu datang ke Museum Santa Marias. Pada mulanya tertarik dengan gedung tua sekolah Santa Maria. setelah ditelusuri ternyata ada museum, maka Santa Maria selalu menjadi salah satu destinasi favorit walking tour.

Setiap kali kedatangan rombongan walking tour, Tour Leader berulang kali mengingatkan peserta agar tidak berlama-lama menikmati kunjungan karena rute masih panjang, dan beberapa destinasi masih banyak. Waktu yang panjang beresiko mengganggu jadwal tour dan itu berarti kerugian bagi penyelenggara. 

Rugi waktu, tenaga dan akhirnya rugi dana karena peserta complain, tour berbayar tetapi tidak sesuai rencana. Peserta akan berfikir ulang untuk ikut walking tour lagi.

Menyikapi perkembangan walking tour, dibutuhkan kerjasama yang baik antara penyelenggara dan tempat wisata yang menjadi destinasi sehingga semua pihak dapat menyiapkan diri untuk hasil yang maksimal. Misalnya informasi pendahuluan, jadwal, rentang usia, jumlah peserta lama kunjungan dan lainya. Sementara Destinasi juga perlu menyiapkan atau membuat paket–paket wisata sesuai kemampuan, dan yang tak boleh ketinggalan,  spot foto yang menggoda.***





Senin, 02 Desember 2019

Sharing Konservator asal USA



Kristal J. Hale, konservator spesial tekstil kuno diundang khusus oleh Pengelola Unit Museum Seni, Ibu Ari bekerja sama dengan Ibu Sandra dari Tracing Pattern Foundation, Amerika. Seminar setengah hari Selasa 12/11/2019 bertempat di Museum Tekstil, Jl KS Tubun ini cukup banyak peminatnya, khususnya para pencinta wastra dan artefak berbahan tekstil.

 Museum Santa Maria berkesempatan mengikuti seminar konservasi dengan Tema: “Textile Conservation Seminar: The Abegg Foundation; Art, Science and Practical Application” yang jarang dan unik ini. Pasalnya ternyata dalam paparannya Kristal yang bekerja beberapa tahun terakhir ini di The Abegg Stuffing Foundation, di Belgia, berupa sharing bagaimana menangani kain/tekstil kuno artefak dari gereja di sana.

 Kristal, seorang konservator kelahiran San Fransisco USA. Ia sudah tertarik dengan seluk-beluk menjahit dan menyulam sejak ia masih kecil, disebabkan ia sering melihat ibunya menjahit dan menyulam sendiri baju-baju mereka. Sejak itu ia ingin memperdalam tentang tekstil. Dan ketika ia mulai kuliah, ia berpikir untuk bisa menangani dan memahami lebih jauh tentang artefak bahan kain/tekstil yang bisa dirawat supaya awet, karena dari berbagai motif artefak itu tersimpan banyak cerita dibaliknya.

 Ketika ia ditawari untuk menangani tekstil artefak milik Abegg Stuffing di Belgia, ia bersedia dan terbang ke Belgia untuk tinggal beberapa lama disana. Bekerja dan memperdalam ilmunya di Universitas di sana. Dari situ ia mulai berelasi dengan para konservator.
Usai seminar, kami berbincang khusus dengan Kristal Hale dan suami yang juga mencintai artefak tekstil. Museum Santa Maria menunjukkan koleksi yang dibawa berupa stola, semacam scarf namun tebal dan biasa digunakan para imam Katolik memimpin perayaan keagamaan dengan mengalungkan di leher yang pernah dipakai di Santa Maria sebelum tahun 1965. 

 Setelah mengamati Stola, Kristal Hale dengan jujur mengungkapkan bahwa stola itu berbahan sutera dan cukup tebal sehingga diperlukan perawatan khusus agar tetap terawat. Ada material asesori yang berbahan metal, tapi , tidak bisa dengan mata telanjang. Namun ia meyakini bahwa model Stola itu berasal dari Eropa dengan bahan campuran antara perunggu dan kain sutera. Usianya diperkirakan antara 80 sampai 150 tahun.

 Walau ia mengatakan bahwa untuk artefak kain seumur itu, dengan melihat keadaan kain seperti itu, sudah sangat baik perawatannya. Keterbatasan SDM konservator kain, dapat membuat koleksi rentan mengalami kerusakan.

 Jawaban Kristal Hale mencerahkan sekaligus menambah narasi koleksi yang terkait dengan Stola tersebut. Karena Stola yang sengaja dibawa untuk contoh adalah bagian kecil dari satu paket busana liturgis para imam. Terima kasih kepada panitia atas kesempatan mengikuti seminar konservasi kain dalam temu Mugalemon edisi November 2019 ini. Semoga semakin menambah pengetahuan para staff museum dalam pemeliharaan dan perawatan benda koleksi khususnya kain.***

Senin, 11 November 2019

Materi Presentasi Peringatan Hari Museum Internasional 2019

Ringkasan Materi Presentasi pada Acara Peringatan Hari Museum Internasional di Museum Santa Maria, Jakarta 18 Mei 2019

Oleh: Max Meijer, TiMe Amsterdam
Konsultan Ahli Museum Internasional
max@timeamsterdam.com

Setiap tahun, Komisi International untuk Museum menyelenggarakan hari Museum Internasional. Sebuah tema biasanya ditentukan secara khusus berhubungan dengan museum-museum yang ada di seluruh dunia. Tema untuk tahun ini adalah “Museum sebagai hub kebudayaan: Masa depan bagi sebuah tradisi”.

Sembari menjaga misi utama mereka, yaitu pengumpulan, konservasi, komunikasi, penelitian dan eksibisi, museum telah mengubah praktik-praktik mereka untuk menjadi lebih dekat dengan masyarakat yang dilayaninya. Saat ini mereka senantiasa mencari cara-cara yang lebih inovatif dalam upaya menangani isu-isu sosial dan konflik kontemporer. Dengan bertindak secara lokal, museum juga dapat melakukan kegiatan advokasi dan ikut mengatasi masalah global, serta secara proaktif ikut berusaha untuk memenuhi tantangan masyarakat saat ini. Sebagai sebuah lembaga di tengah-tengah masyarakat, museum memiliki kekuatan untuk dapat mengadakan dialog antar budaya, ikut membangun jembatan menuju dunia yang damai dan juga menentukan masa depan yang lebih berkelanjutan.

Ide terkait sebuah hub (yang secara harfiah berarti bagian tengah sebuah roda) cukup popular digunakan akhir-akhir ini. Selain itu juga sedikit modis digunakan untuk mendefinisikan semua jenis pengaturan dan organisasi yang berjaringan sebagai hub. Istilah ini banyak digunakan di sektor-sektor seperti transportasi dan logistik, maskapai penerbangan, teknologi informasi, dan industri kreatif. Di sana, hub dilihat sebagai tempat fisik dan juga sebuah cara kerja. Penglukisan museum sebagai hub adalah sangat cocok, terlebih sejak kebanyakan museum bahkan di tingkat internasional dibangun dan dikembangkan semakin menjadi sebuah platform untuk berinteraksi dan berkoneksi dengan masyarakat di satu sisi dan dengan orgranisasi-organisasi lain yang terkait di sisi sebaliknya.

Tema ini juga cocok bagi perkembangan museum di Indonesia: sebuah perubahan paradigma dari museum yang utamanya berorientasi pada koleksi, menjadi sebuah Lembaga yang lebih dinamis yang menempatkan pengunjung pada posisi sentral.

Praktik-praktik pelaksanaan sebuah museum telah banyak berubah seperti dari sebuah tempat di mana pengunjung hanya bisa melihat atau menikmati obyek atau benda-benda yang berasal dari masa lampau ke sebuah Lembaga yang lebih dinamis yang dapat menyajikan lebih banyak konteks dan informasi bagi sebuah pengalaman mengunjungi museum. Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan telah berevolusi kearah yang lebih interaktif dan partisipatif. Berkerja sama dan berelasi dengan koleksi serta kisah-kisa dan juga perspektif yang terkait semakin menjadi sebuah tujuan.
Sebuah museum masih merupakan sumber pengetahuan dan informasi yang resmi, namun dapat juga mengambil manfaat dari pengetahuan serta pengalaman dari para pengunjung dan masyarakat sekitarnya. Hal ini tentunya akan semakin menambah keterlibatan serta rasa saling memiliki. Ini tentunya sangat positif bagi sebuah museum dan juga masyarakat di sekitarnya, di mana keduanya semakin memiliki relevansi yang kuat yang dapat berkontribusi terhadap pengembangan dan penguatan yang berdasarkan kepentingan bersama. 



Pertanyaan utama tentunya adalah apakah model museum sebagai hub kebudayaan merupakan konsep yang optimal bagi Indonesia. Berangkat dari perspektif Eropa (dalam hal ini sudut pandang pembicara) hal ini tepat adanya. Ide sebagai hub sangat tepat bagi tradisi kebudayaan dan museologikal serta perkembangannya di Indonesia yang merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya dengan indentitas national dan kedaerahan yang kuat.

Kemungkinan, tantangan dan pembentukan dari pada hub itu sendiri pertama harus direfleksikan oleh museum itu sendiri, kemudian yang kedua dapat di jabarkan dalam organisai museum tersebut di level yang berbeda:
→Misi dan visi
→Tata kelola organisasi
→Jaringan
→Skill karyawan
→Inklusif

Jika ambisi dari pembangunan kembali menuju ke arah museum sebagai hub merupakan ide yang baik, maka museum harus bertanya kepada dirinya sendiri:
→MENGAPA hal tersebut merupakan ide yang baik, APA yang menjadi tujuannya, apakah masih sejalan dengan visi dan misi dari museum?

Apabila jawabannya adalah positif, maka disarankan:
→ Melakukan konsultasi dengan masyarakat yang dilayani
→ Definisikan area pengetahuan dan kepentingan yang umum
→ Temukan mitra yang dapat diandalkan dan berkelanjutan
→ Carikan dana untuk kegiatan pilot / karyawan
→ Jadikan kegiatan pilot untuk menguji apakah yang di harapkan dapat berjalan
→ Evaluasi dan pengembangan


Penerjemah: Piter Edward

Rabu, 30 Oktober 2019

PENGALAMAN GREBEG MUSEUM

Hari Museum Indonesia tahun 2019 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Grebeg Museum (=ramai-ramai mengunjungi museum). Gerakan ini merupakan ide baru yang dicanang kan, yaitu kerjasama antara 4 instansi yaitu oleh Pemprov DKI bekerja sama dengan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, Departemen Perhubungan dan Departemen Pendidikan.

Grebeg Museum oleh Pemprov DKI dimaksudkan untuk melibatkan masyarakat luas mengenal, mengunjungi dan belajar di Museum khususnya para pelajar di DKI. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) ditunjuk Provinsi DKI Jakarta untuk mengkoordinirnya.

Awalnya panitia Grebeg Museum, menawarkan kepada museum-galeri dan monumen di DKI-Jakarta yang bersedia dikunjungi secara gratis-tanpa bayar tiket. Lalu panitia juga mengirim tawaran ke sekolah-sekolah yang siswanya mau mengunjungi museum pada hari-hari yang telah ditentukan. Setelah itu diadakan pengarahan dan koordinasi bersama dengan 37 ketua Museum dan 200 kepala sekolah.

Grebeg Museum dilaksanakan selama hampir sebulan dari tanggal 5 sampai 25 Oktober 2019. Komunitas atau kelompok Masyarakat dan Sekolah yang akan berkunjung disediakan bis dan konsumsi. Panitia berusaha membuat supaya setiap Museum tiap hari selalu ada museum yang dikunjungi.

SMA Dharma Jaya





Dalam Grebeg Museum ini, terjadwal ada 10 rombongan yang akan datang ke Museum Santa Maria. Kami antusias dan sudah bersiap-siap menerima mereka semua. Namun hanya ada 2 kali kunjungan yaitu di tanggal 10 Oktober dari SLB Bhakti Luhur, dan Kamis 24 Oktober dari SMA Dharma Jaya-Jelambar. Keduanya justru tidak ada dalam jadwal yang sudah kami terima. Alasannya kurang jelas. Entah mengapa.

Biar bagaimana pun, dari 2 kunjungan itu, merupakan sesuatu yang istimewa, luar biasa. Karena justru mereka itu lah yang tidak kami duga datang akan mengunjungi kami. Kami tetap antusias mendampingi mereka, justru kami harus belajar dan menyesuaikan diri dengan situasi-kondisi mereka.

Secara umum pelaksanaan Grebeg Museum berjalan lancar. PIC yang mendampingi tiap-tiap rombongan berkomunikasi dengan baik sehingga pelaksanaan acara tidak ada halangan. Selama acara berlangsung, rombongan Siswa siswi dua komunitas sekolah menikmati kunjungannya ke Museum Santa Maria. Tak lupa terima kasih kepada panitia***


SLB Bhakti Luhur









Senin, 28 Oktober 2019

Menulis Teks Label Museum


Setiap kita ke museum apakah kita baca semua teksnya? Seperti apakah teks yang sesuai dan enak dibaca? 

Ibu Ajeng Ayu Arainikasih, M. Arts Dosen Arkeologi UI memaparkan cara menulis teks yang tepat agar pengunjung puas menikmati kunjungan ke museum. Paparan tersebut diselenggarakan dalam rangka Hari Museum Indonesia pada Rabu, 9/10/2019 di Museum Seni dan Keramik Jalan Lada, kawasan Kota Tua Jakarta. 

Menurut Bu Ajeng, label museum idealnya singkat, jelas, mudah dibaca, to the point dan didesain menarik. Hal itu berlaku untuk semua jenis label di museum baik teks label Non Intepretatif maupun teks label intepretatif.

Contoh teks label di museum Non Intepretatif seperti Petunjuk Arah, label informasi benda koleksi, label Instruksi untuk kegiatan atau partisipasi, panel donatur atau kontributor, label larangan seperti merokok, menyentuh, makan, memotret dan lainnya.

Sedangkan Teks Label Interpretatif seperti Teks Pendahuluan yang biasanya berada di dekat pintu masuk pameran, berupa sinopsis singkat dan ditulis dengan tampilan yang mencolok. Selanjutnya label tidak harus berisi teknis koleksi. Untuk Teks Dinding yang menjelaskan suatu sub tema, ditulis lebih singkat agar lebih enak dibaca. Label Keterangan Objek diletakkan disamping benda koleksi.

Teks label interpretative dapat berupa pertanyaan. Pertanyaan Yang ada relevansinya dengan pengunjung atau personal question. Label pertanyaan itu akan membuat pengunjung berfikir dan menilai dirinya sendiri.


Contoh di museum tekstil ada label pertanyaan "Celana dari bahan apa yang kamu suka pakai?" Contoh lagi: museum di Jepang. Jika anda lahir pada tahun 50an apakah anda akan menjadi warga Jepang atau pindah?” Teks Label lainnya adalah Pertanyaan untuk mencari data atau umpan balik. Apabila Museum memerlukan data tentang suatu benda koleksi, label pertanyaan dapat dipasang koleksi tersebut.

Label khusus anak, bahasanya mudah dimengerti, singkat, to the point, desain menarik dengan warna khas dan simbol. Selain itu museum dapat bekerja sama dengan anak-anak sekolah untuk menulis label di museum. Hal itu juga bisa menjadi sarana marketing karena mengundang orang tua anak untuk datang ke museum. Label yang ditulis anak biasanya lebih mudah dipahami oleh anak juga.

Yang harus diperhatikan adalah Isi label, pemilihan kata atau struktur bahasa, sudut pandang. Pemilihan kata atau konten harus betul-betul diperhatikan. Membahasakan diri sendiri sebagai orang yang terlibat sejarah, bukan dari sudut pandang orang lain. Gunakan bahasa "kami atau saya atau aku". Jangan menggunakan sudut pandang pihak ketiga dalam memberi label koleksi milik sendiri dan menggungakan kata Pribumi dan non pribumi. Kata itu adalah itu bahasa kolonial, jangan digunakan. Apabila akan digunakan sudut pandang orang lain, gunakan lebih dari satu sudut pandang. Contoh pada waktu penjajahan Jepang di Singapura, disitu ditampilkan label pesandan kesan dari orang Inggris, Jepang , China dengan sebutan saya

Terakhir kita juga bisa menggunakan komentar atau kesan orang lain yang sudah berkunjung ke museum, menjadi teks label.***



Jumat, 25 Oktober 2019

“BEDA RUPA BANYAK CERITA” (Pameran Artefak Museum di Kotatua)



Dalam rangka Hari Museum Indonesia 2019, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) bekerja sama dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan peringatan Hari Museum Indonesia pada tanggal 7-13 Oktober 2019 di kawasan Kota Tua Jakarta dengan tema “Museum Menyatukan Keberagaman”. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, salah satu kegiatannya yaitu pameran artefak dari berbagai museum yang berjudul “Beda Rupa Banyak Cerita”.

Dalam pameran tersebut ditampilkan berbagai koleksi dari sekitar 20 museum yang dipilih untuk menampilkan artefaknya. Koleksi dari zaman prasejarah, penjajahan sampai dengan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. PCBM meminjam koleksi dan meminta pemandunya untuk menjelaskan kepada pengunjung sesuai arahan panitia.

Selama pameran benda koleksi, yang dibuka dari jam 08.00 – 20.00, masyarakat yang berkunjung tidak dipungut biaya. Setiap pengunjung hanya diberi stiker dan ditempel di lengan baju sebagai tanda ganti tiket masuk sekaligus untuk memudahkan panitia menghitung jumlah pengunjung.

Tema Museum Menyatukan Keberagaman tampak dalam pameran benda koleksi dari perwakilan agama yang ada di Indonesia dimana koleksi dari perwakilan museum tersebut dipamerkan dalam satu area. Koleksi dari berbagai agama dipasang berjejer dimulai dari Patung Mbis dari Asmat yang mewakili agama Lokal dimana Suku Asmat menyembah nenek moyang mereka. Patung Mbis dari suku Asmat dipilih karena letak museum yang berada di TMII mudah dijangkau dan satu-satunya agama lokal asli yang memiliki museum.



Kemudian berturut-turut agama Budha, Hindu, Kristen, Katolik dan Islam. Agama Budha diwakili patung Budha Maitreya, Hindu diwakili Patung Pradnyaparamita, keduanya koleksi Museum Nasional. Sedangkan dari Agama Kristen koleksi yang ditampilkan berupa alkitab dari tiga bahasa daerah yaitu Bahasa Minang, Makasar dan Papua. Ketiga alkitab tersebut merupakan koleksi Museum Alkitab. Dari agama Islam diwakili Museum Bayt Qur’an mengirimkan replika Alquran dengan Mushaf dari Bima NTB.

Museum Santa Maria yang mewakili Katolik menampilkan koleksi Patung Salib  dari Asmat dimana kolaborasi agama katolik dengan tradisi lokal menghasilkan patung salib yang unik. Patung yang terbuat dari kayu utuh yang sebelumnya direndam selama beberapa hari di lumpur untuk memperkuat kekhasan Suku Asmat yaitu warna coklat. Kayu kemudian diukir dan dipahat membentuk salib dengan corpus (Tubuh Yesus) sesuai imajinasi pematung.

Total pengunjung selama sepekan pameran berlangsung di Kota tua 7-13 Oktober 2019 , tercatat lebih dari 17.000 pengunjung. Total jumlah tamu disampaikan Mbak Arum dari PCBM di grup whatsapp seusai acara. Mbak Arum dalam informasi tertulisnya menyampaikan data tamu perhari dengan rincian senin 7/10 230 orang, Selasa 8/10 562 orang, Rabu 9/10 492 orang, Kamis 10/10 864 orang, Jumat 11/10 1266 orang, Sabtu 12/10 6278 orang dan Minggu 13/10 lebih dari 8000 orang.

Dari data tersebut, diketahui pengunjung mencapai lebih dari sepuluh ribu orang pada tiga hari terakhir pameran yaitu hari Jumat sampai Minggu. Hari Jumat adalah hari terakhir kerja dalam sepekan sehingga memungkinkan karyawan seusai pulang kerja berkunjung ke pameran. Sedangkan Sabtu dan Minggu adalah hari libur karyawan kantor yang memungkinkan karyawan datang berlibur dan mengunjungi pameran mengajak keluarganya. 

Melalui pameran ini, masyarakat semakin mengenal museum dan semakin mencintai Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang luar biasa.***

Dari Desa Merantau Ke Kota

Lesta (tengah) diapit Suster Lucia & Staff Museum

Linus berfoto dengan Suster Lucia, OSU Kepala Museum 
Mungkin anda pernah mendengar cerita atau kisah pemuda atau pemudi desa yang jujur sederhana kemudian pergi merantau ke kota. Di kota ia belajar banyak hal sampai kemudian menjadi sukses. Meski tidak semua cerita berakhir manis tetapi kisah pemuda atau pemudi desa merantau ke kota jamak terjadi dan mungkin kita sendiri dahulunya adalah bagian atau salah satu tokoh dalam cerita itu.

Museum Santa Maria ternyata juga menjadi bagian cerita dua orang dari desa yang sedang belajar menggapai mimpinya. Linus dan Lesta, dua pemuda dan pemudi dari desa nun jauh di pelosok Kalimantan Utara. Masih beberapa jam berkendara dari Ibu Kota, Tanjung Selor. Linus dan Lesta belajar bekerja atau magang di Museum santa Maria atas dukungan dari seorang wali, Ibu Astuti seorang dermawan.

Mula pertama yang datang belajar adalah Lesta. 24Juni, Lesta menuliskan tanggal pertama kali di lembar kertas presensi kehadiran. Jujur, sopan, dan sedikit pemalu. Untuk bertanya suatu hal terkait pekerjaanya , ia penuh pertimbangan sampai kemudian staff museum yang memulai bertanya, “Ada yang mau ditanyakan?” Barulah Lesta mengungkapkan pertanyaanya. Selebihnya ia menjawab tidak sambil tersipu. Untuk berbicarapun ia lebih banyak membuang muka, bukan karena benci tapi ya karena malu itu. Maklum masih remaja, belum duapuluh tahun usianya. Rasa sungkan atau tidak enak dan malu lebih banyak muncul dibanding perasaan yang lain. Apalagi ini di tempat baru. Dimaklumi.

Jumat kedua Agustus, Lesta yang masih kuliah semester dua Fakultas Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Jogja pamit. Minggu ketiga Agustus, dimulai perkuliahan semester ganjil. Ia harus mempersiapkan segala sesuatu terkait studinya sebelum kuliah dimulai. 

“Jangan malu untuk bertanya” Pesan dari Staff Museum. “Iya Pak” Lesta mengangguk, ia berjanji akan memperbaiki diri. Lesta mengucapkan terima kasih dengan senyumnya, kemudian melambaikan tangan dadah......
Linus masih sempat bertemu Lesta. Linus datang diawal bulan Juli. Linus sama sama dari Kalimantan Utara, sama-sama dari pelosok, sama sama jauh dari Ibukota. Bedanya, rumah Linus jauh lebih pelosok di banding Lesta. “Motor atau mobil susah jalannya pak. Apalagi kalau musim hujan, nggak bisa lewat. Kami harus jalan kaki dulu kurang lebih dua belas jam untuk sampai sekolah. Makanya kami tinggal di sekolah. Ada asrama disana. Pulang ke rumah Sabtu, nginap semalam, minggu siang kami balik lagi ke sekolah.”

Mirip dengan Lesta atau rata-rata perantau dari desa, jujur,sederhana dan sopan. Kelebihan Linus berani memulai untuk menyapa atau bertanya. Mungkin karena sifat dasar laki-laki yang suka berpetualang dan usianya juga sudah di atas duapuluh tahun membuat Linus berani untuk memulai.

Linus lebih beruntung karena di Bulan Agustus, Museum Santa Maria terlibat dalam Pameran Museum di gedung DPR. Pameran itu menjadi kesempatan baik bagi Linus untuk menambah pengalaman berjumpa dan menjalin relasi dengan banyak orang. 

Hari pertama masih adaptasi, hari kedua dan ketiga pameran, Linus sudah lancar memandu tamu. Keberaniannya menyapa dan mengajak orang yang tidak dikenal untuk datang ke booth menambah daftar pengalaman.

Kesempatan memandu di pameran museum menjadi evaluasi sekaligus perbaikan bagi Linus. Sebelumnya, pengalaman pertamanya memandu saat menemani siswa-siswi baru Santa Maria yang sedang mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) pertengahan Juli lalu. Dalam kesempatan itu ia lebih banyak diam dan sekedar mengarahkan rombongan ke ruang museum. Di ruang-ruang itu ia hanya mengingatkan anak-anak “Jangan sentuh barangnya ya!”

Keberanian dan kecepatan beradaptasi perlu diapresiasi. Di akhir masa magang, Suster memberi nilai Linus “SANGAT BAGUS”. 

Semoga Linus tidak cepat puas namun terus berlatih mengembangkan diri di berbagai kesempatan. Semoga dimasa mendatang cerita Linus dan Lesta, dua orang dari desa yang merantau ke kota, berakhir manis sesuai harapan dan cita-cita mereka.***
Linus, bersama Staff Museum

Rabu, 16 Oktober 2019

Daripada Bosan


Saat ini hampir semua orang yang tidak dapat lepas dari gadget. Dalam situasi apapun gadget selalu ada di tangan. Bisa mati gaya kalau tidak ada gadget di tangan. 

Tetapi hal itu tidak bagi Pak Agustinus Irwanto. Ia lebih memilih berkunjung ke museum daripada menghabiskan waktu dengan gadget saat ia harus menunggu kedua putrinya sekolah. Membunuh rasa bosan dengan jalan jalan dan menikmati cerita di museum menjadi sesuatu yang baru dan lebih menarik dibanding duduk diam terpaku pada gadget.

“Yaah daripada bosan nunggu anak-anak selesai ekskul. Dua jam lagi” Jawab Pak Irwan saat ditanya mengapa ke museum,Sabtu (24/8/2019). 

Kedua Putri Pak Irwan sekolah di SMP Santa Maria dan hari sabtu ituPak Irwan harus mengantar kedua putrinya berlatih paduan suara. Dua jam bukan waktu yang pendek. Akan terasa pendek bila diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, bahkan mungkin rterasa kurang waktunya.
Begitupun yang dirasakan Pak Irwan saat di museum, baru tiga ruang dari sebelas ruang pamer di Museum Santa Maria Pak Irwan berkomentar,

“Wah sudah sejam. Cepet banget ya.”
“Ini baru tiga ruang, masih ada beberapa ruang lagi.”
“Cukup ga nih waktunya?”
“Bisa dipercepat pak, atau bapak juga bisa datang lagi.”

Akhirnya diputuskan, cerita dipercepat dan nanti akan datang lagi. Perjalanan keliling museumpun di lanjutkan. Sisa waktu yang ada digunakan dengan merangkum ruang –ruang yang belum selesai dikunjungi. Setiap ruang hanya beberapa menit saja dengan informasi pokok nama ruang dan koleksi yang dipamerkan, ditambah sedikit cerita dari satu koleksi unggulan.

Beberapa menit sebelum waktu dua jam habis, Pak Irwan pamit. “Ntar anak-anak bingung nyarinya,” Pak Irwan memberi alasan. Terima kasih atas kunjungan Pak Irwan. Semoga kunjungan berikutnya waktunya lebih longgar dan puas menikmati cerita dan sejarah dengan lengkap.***

Ketuk Rebana di Balai Kota: Babak Baru Museum di Jakarta Ramah Lingkungan dan Sosial

  Temu Mugalemon (Museum Galeri dan Monumen) edisi Juli 2025, menjadi momentum peluncuran/kick off program MSDGs (Mainstreaming SDGs) di Mus...