| “Ini rumah pertama para Suster Ursulin saat pertama kali tiba di Indonesia. Jadi lantai yang anda injak ini usianya setua itu, seratus enam puluh satu tahun lebih.”kata Suster Lucia, OSU di depan anak anak calon Krisma dan orang tua serta pendamping dari paroki Pulomas. Segera saja anak anak yang duduk lesehan di tikar berlomba lomba mengetuk-ngetuk lantai. Saat sesi penjelasan Rosario, Suster kembali bertanya kepada anak anak, “Siapa yang rajin Rosario?” | tidak ada yang mengangkat tangan. Sekali lagi suster bertanya sambil mendekat, tetap tidak ada yang mengangkat tangan. Tiba tiba terdengar celetukan “saya…..” Suter tersenyum senang karena ada yang menjawab. Setelah didekati, “Kamu rajin berdoa Rosario?” Anak tersebut menjawab “Oma yang rajin doa rosario, bukan saya.” Gelak tawa di hall Museum Santa Maria pecah mendengar jawaban anak itu. Minggu 12 November 2017, selama dua jam lebih sejak jam 09.30, lebih dari lima puluh peserta mengikuti tour di Museum Santa Maria. Dimulai dari perkenalan di hall sampai akhirnya selesai di kapel. Peserta yang dibagi dalam lima kelompok bergiliran berkeliling dan mengenal isi dalam museum. Anak anak bersemangat mengikuti tour dengan mengajukan bermacam macam pertanyaan. Semua berebut bertanya dan ingin pertanyaannya dijawab duluan. Suster Lucia, ditemani suster Ellen, Suster Astin, Aji dan Angel, dua relawan museum, menemani belajar anak anak peserta calon Krisma sampai selesai.*** |
Selasa, 28 November 2017
Oma Yang Rajin Bukan Saya
Jumat, 17 November 2017
Inspirasi Menjadi Orang Baik
Oleh sekuriti disambut dan diarahkan sekuriti masuk hall Museum. Didampingi lima orang guru, rombongan disambut Suster Lucia. Suster menyapa dengan memperkenalkan Museum Santa Maria dengan cerita singkat. Suster juga memberikan beberapa pertanyaan yang dijawab siswa siswi dengan semangat. Pembatas buku diberikan sebagai hadiah kecil bagi yang bisa menjawab pertanyaan. Setelah itu dilanjutkan dengan menonton film pendek perjalanan para suster Ursulin di Indonesia. | Usai menonton film pendek, rombongan dibagi menjadi empat kelompok dan segera berkeliling museum. Selama hampir dua jam rombongan anak anak berkeliling dan bertanya tentang banyak hal yang baru diketahui atau dilihatnya. Setelah nonton film pendek dan berkeliling, suster memberikan pertanyaan apa kesan yang yang dapat dipelajari, anak anak itu menjawab dengan bersemangat, begini antara lain jawaban mereka: “Saya terinspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik” “ Wawasan saya menjadi lebih luas” “Saya lebih tahu tentang Suster-suster Ursulin” “Para suster pendahulu menjadi pionir yang bertanggung jawab sehingga semangatnya diteruskan sampai sekarang” “Saya lebih tahu tentang Santa Angela dan mengapa Santa Angela mengambil nama Pelindung Santa Ursula” “ Dengan adanya relikwi, berarti kekudusan mereka disebarkan kemana-mana.” Belasan menit sesudah jam sebelas, rombongan pamit. Suster menghantar sampai depan pintu gerbang, kemudian melambaikan tangan saat bus perlahan menembus kemacetan jalan Juanda, meninggalkan Museum Santa Maria.*** |
Jumat, 10 November 2017
Ursulin atau Santa Maria
Komunitas La-mur (Lanjut Umur) “Agustina” dan Legio Maria presidium “Bunda Kristus” Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Kamis 19 Oktober 2017 mengunjungi Museum Santa Maria.
Tepat jam 10.00, dua puluh satu pengunjung yang sebagian besar usia lansia, sudah datang di Café/ unit produksi SMK Santa Maria berbarengan dengan jam istirahat murid SMK. Sedianya mereka ingin menikmati snack dan minum sejenak di cafe, namun situasi cukup hiruk pikuk, sehingga diputuskan oleh pimpinan rombongan Oma Agnes (78), untuk langsung menuju ke Museum. Letak Museum memang ada di dalam biara, dan di dekat Unit produksi SMK- di pinggir Jl Juanda 29. “Ini Santa Maria atau Ursulin?” Belum terjawab, ia masih lanjutkan: “Katanya tadi ini Santa Maria, kami maunya ke Ursulin.” Begitu seorang ibu complain. Saat dijelaskan bahwa para suster anggota Ordo Santa Ursula disebut Ursulin dan Santa Maria adalah nama Komunitas para suster Ursulin di jalan Juanda Raya ini, ibu tersebut lalu manggut manggut “oooo….” Para lansia ternyata antusias dan bersemangat. Mereka bertanya dan menanggapi setiap komentar dari pemandu di tiap tiap ruang. Di ruang Misi mereka senang melihat Rosario Misi dan mata uang-mata uang asing, mereka juga teringat masa lalu saat melihat foto kumpulan remaja putri yang sedang beraktifitas. | “Aku pernah diajar sama suster bule,” kata Oma Endang. “Dulu masih banyak suster bule,” lanjutnya. “Aku di Solo juga, tahun lima puluhan kalo ndak salah diajar sama suster bule, “ timpal Oma Agnes Di ruang Galeri, Oma Lianda merasa koleksi di Santa Maria lebih indah di banding di “Forbidden City” karena disana hanya keramik, sedangkan disini lebih mengkilap dan ada ukirannya. Oma yang lain menimpali “Aah bagusan disanalah. Disana kan keramik semua, jadi asli. “(Red: Forbidden City salah satu kota yang ada di China) “Eeh disini juga ada keramiknya loh. Itu tuh…” Seraya menunjuk pispot dari keramik berukir. “Vas ini terbuat dari emas ya?” "bukan ibu, ini campuran tembaga dan kuningan." “Ooo… kirain dari emas. Habis mengkilap... dibersihkan pake apa biar mengkilap?” Pertanyaan ibu Lianda dijelaskan pemandu bahwa semua vas tersebut dicuci dengan air sabun saja. Karena jika dibersihkan dengan bahan khusus betul tampak mengkilap tetapi jadi hilang keaslian rasa bahwa benda ini betul betul sudah lama. Nanti dikira beli baru. Puas dari Ruang Gallery, lanjut ke Ruang Relikui. Disini, para oma diingatkan bahwa relikui orang kudus sama juga dengan nama babtis bagi orang katolik. Orang kudus yang menjadi nama baptis diharapkan mendoakan serta mendukung doa permohonan kita kepada Tuhan. Juga agar kita meneladan orang kudus tersebut agar kita juga bisa menjadi kudus. Selesai dari Relikui, rombongan melanjutkan ziarah ke kapel dan mereka menyempatkan diri untuk sejenak berfoto di depan Gua Maria. Pukul sebelas, rombongan pamit meninggalkan Kompleks Santa Maria.*** |
Jumat, 03 November 2017
Cerita Dua Turis Beda Negara
Rabu 18 Oktober 2018 sekitar jam 11, dua orang perempuan muda-lajang mengunjungi Museum Santa Maria.Wendy mengaku dari Den Haag, Belanda dan Martina Weis berasal dari Stutgard-Jerman. Mereka bertemu dan berkenalan di kawasan Kota Tua tempat mereka menginap. Wendy seorang pegawai pemerintah sengaja datang untuk berlibur ke Indonesia untuk 2 minggu. Ia tahu museum St Maria atas informasi dari kenalannya yang dulu juga pernah mampir ke Museum Santa Maria “Juriena Bruintjes “ Sementara Martina, datang ke museum karena diajak Wendy dimana sorenya akan pergi ke Bandung. Di Museum, mereka disapa dan ditemani suster Lucia. Mereka tertarik dengan kaca mata kuno dan antik di meja kerja suster kepala. Mereka sempat membandingkan kemiripan kaca matanya dengan artifak-artifak itu. Martina sempat berpikir bahwa “model kacamata” dapat terulang kembali. | Di ruang misi, mereka tertarik dengan salah satu foto dan Wendy membaca keterangan foto yang berbahasa Belanda. Antara tulisan bahasa Jerman dan Belanda ada kemiripan namun beda pengucapan. Saat di ruang gallery, Wendy dan Tina terkejut dengan sapaan kokok ayam jantan yang ada di kebun biara. Ayam jantan itu seolah-olah ikut menyambut tamu-tamu yang datang, karena setiap kali ada pengunjung yang lewat di situ, ayam itu berkokok berulang-ulang. Pohon mangga yang sedang berbuah lebat juga menjadi perhatian mereka. Namun terutama, mereka terkesan dengan keheningan yang ada, walau berada di tengah kota, masih ada tempat sunyi yang jauh dari suara lalu lintas. Di ruang relikui, Martina ingat tradisi katolik masih kuat dalam dirinya, untuk memahami arti da nasal mula relikui. Usai dari museum, Wendy dan Tina masih ada waktu untuk melihat dan berdoa di kapel. Saat itu bertepatan dengan jam pulang sekolah siswa SD. Merekapun menyapa ramah anak anak itu. Sebelum pamit mereka mempir ke café untuk membeli jus. Tina pilih guava dan Wendy pilih mangga. “Heeem really fresh and enaaak….”kata mereka dengan senyum lebar menikmati kesegaran jus sambil duduk sejenak melepaskan lelah setelah berkeliling, apalagi harganya kurang dari 1 dollar…*** |
Jumat, 27 Oktober 2017
Mother General Ursulin, Cecilia Wang, OSU : It’s good
| Mother General Ursulin, Cecilia Wang, OSU mengunjungi Museum Santa Maria, Jumat 13/10/2017. Sekitar jam 11.00 mobil hitam Innova membawa Suster Cecilia, ditemani Sr. Anita Bunardi dan Sr. Marisa memasuki halaman Unit Produksi SMK Santa Maria. Dengan ditemani Sr Astin dan Sr Tini, Sr Lucia menjemput rombongan di halaman café dan mengajak mereka ke ruang dalam. | Setelah bertemu dan “ngobrol” dengan para Suster di ruang makan, serta foto bersama, Mother berpamitan. Rupanya Mother Cecilia sebelum kembali ke Jl Pos, ia ingin mampir ke museum. Di museum Santa Maria, walau sejenak namun sempat memasuki beberapa ruang di Museum dan menikmati koleksi benda pamer museum. Sr Lucia, penanggung jawab museum mendampingi serta menjelaskan langsung berbagai ruang dan benda pamer. Para suster yang lain tak lupa ikut juga menikmatinya. “Waah ternyata sudah bagus. Lama juga nggak kesini,” komentar seorang suster. Mereka menikmati benda pamer lainnya. Kurang dari sejam keliling museum, Sr Cecilia Wang undur diri dengan dihantar para suster. Sambil berjalan, Mother General mengacungkan jempolnya kepada Sr Lucia, “It’s good…” katanya.*** |
Jumat, 20 Oktober 2017
KUNJUNGAN SENIOR CLASS
Museum Santa Maria pada Kamis, 5/10/2017 sekira jam 11.00, menerima kunjungan sepuluh lansia dari komunitas “Senior Class” Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang. Kunjungan ke Museum Santa Maria adalah salah satu kegiatan “Senior Class”. Menurut Ibu Christine, Koordinator acara, peserta yang datang direncanakan dua puluh orang, namun ternyata yang bisa hadir hari ini hanya sepuluh saja. “Senior Class” sendiri adalah kumpulan para lansia yang dikoordinir ibu Christine. Menurut Bu Christine, tujuan awalnya hanya untuk menghibur mamanya yang sudah tua dengan mengajak para lansia lain di dekat rumah untuk sama sama berkumpul setiap kamis pagi. Acara kumpul para lansia diisi dengan permainan ringan untuk membantu para lansia tetap segar dalam ingatan dan tidak lupa. Seperti games dengan pertanyaan nama kota kota besar di Indonesia dan dunia. Atau pertanyaan pertanyaan yang diambil dari berbagai media saat ini dengan diseleksi terlebih dahulu. Sr Lucia, OSU penanggung jawab Museum hadir menyapa langsung para oma dengan mengajak nonton film singkat tentang sejarah para Suster Ursulin di Indonesia dan Museum. Suster juga bercerita perihal bangunan yang saat ini menjadi museum adalah bangunan pertama sekaligus komunitas pertama Ursulin di Indonesia. Usai menonton, Suster menemani para oma keliling museum. Saat dijelaskan bahwa Angela adalah pendiri Ordo Santa Ursula, Oma Agnes bertanya “Ini bagaimana ceritanya Ursula dengan Santa Maria kok sekarang jadi ada Angela?” Setelah dijelaskan bahwa Angela Adalah pendiri ordo, dan mengapa Angela memilih nama Santa Ursula menjadi nama Ordo serta Santa Maria adalah nama komunitas para Suster Ursulin di Jalan Juanda ini, oma Agnes manggut manggut “ooo…..” Di ruang berikutnya, muncul lagi banyak pertanyaan dan tanggapan, | “Ini bajunya kok hanya dua?” tanya seorang oma menunjuk dua manikin berseragam biarawati. “Ooo jadi suster angela dimakamkan di tanah abang?” Tanya oma lain saat menunjuk foto sebuah komplek makam tua, oma tersebut mengira bahwa Angela Merici pendiri Ordo dimakamkan ditanah abang. Setelah diulangi ceritanya bahwa yang meninggal adalah salah satu suster pionir oma tersebut langsung menanggapi. “Emangnya masih ada makamnya?” Tentu saja makamnya masih ada, tetapi makam suster sudah dipindahkan ke pemakaman di Bandung dan di Selapajang. Saat ini komplek pemakaman di Tanah Abang menjadi Museum Taman Prasasti. Suster menjelaskan dengan sabar semua pertanyaan dan komentar dari para oma. Disetiap ruang selalu banyak pertanyaan dan tanggapan. Di ruang misi, muncul lagi pertanyaan lain yang tak kalah seru. Para oma antusias melihat dan mengagumi benda benda yang tersimpan di museum. “Uang ini saya punya, yang ini pernah ngalamin. Ini uang darimana?” tanya seorang peserta sambil menunjuk sebbuah uang kertas. “Disini kan benda kuno semua, kok ada kain daerah yang masih baru?” tanya yang lainnya. Dijelaskan bahwa di ruang misi ini menyimpan berbagai benda pendukung karya para suster ursulin di daerah misi, jadi benda apapun terkait karya pasti di simpan di Ruang Misi. “Ini Akordian masih bisa dipakai? Ini mesin jahit dari sejak kapan? Semua uang ini dari mana saja? Kirain museumnya kecil, nggak taunya luas. Suster, berapa luas museumnya?” Semua pertanyaan dan tanggapan dijawab suster dengan sabar. Puas berkeliling selama lebih dari satu jam, para oma makan siang bersama di Unit Produksi SMK.*** |
Jumat, 13 Oktober 2017
Tetap Ceria Walau di Depan Santa Maria Saja
| Mevrouw Hanneke dan suami dari Arnhem, Belanda serta anaknya berjalan-jalan di trotoar sepanjang Jalan Juanda, tepat pada Selasa, tanggal 26 bulan September 2017. Suami istri itu baru saja tiba dari Belanda dan menginap di salah satu hotel tidak jauh dari Santa Maria. Ketika melintas pagar gedung tua sekolah Santa Maria, mereka berhenti sejenak. Terkesan dan penasaran dengan bangunan lama model Belanda, mereka singgah dan bertemu petugas keamanan sekolah Pak Sigit, dan bertanya seputar gedung sekolah Santa Maria. Pak Sigit segera menghubungi Suster Lucia dan melaporkan “Suster, ada tamu orang Belanda, mau melihat ke museum.” | Suster yang sedang di kantor, segera keluar menyapa dengan hangat para tamu. “Selamat pagi,” kata seorang anak muda, dengan logat asing. Di depan suster dan Pak Sigit, Jeroen anak laki-laki pasangan itu bercerita bahwa sebenarnya ia dan keluarga kebetulan lewat saja. Mereka sedang berlibur ke Indonesia, sekaligus ingin menengok dirinya yang saat ini sedang mengikuti perkuliahan di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Melihat gedung kuno ini, mereka ingin mampir dan ternyata di sini dikatakan ada Museum. Sayang, museum hari itu sedang tutup, jadi tidak bisa diajak keliling melihat lihat koleksi museum. Untuk menghormati tamu, suster menjelaskan “History Wall” yang ada di sepanjang koridor lorong masuk sekolah. History Wall peringatan 160 tahun Ursulin di Indonesia. Walau hanya sebentar dan sebagian kecil saja yang diketahui, mereka senang, tersenyum puas dan berharap bisa datang kembali. Meski tidak sempat melongok ke dalam Museum, mereka tetap ceria, bahkan Ibu Hanneke tidak ingin menyia-nyiakan pertemuan singkat itu. Ia meminta foto bersama sebelum pergi melanjutkan perjalanannya. Maka, diambillah foto bersama oleh Bp Sigit di depan pintu gerbang sekolah. Semoga, lain kesempatan bisa melihat Museum dan menikmati koleksinya, ketika menjemput anaknya kembali ke Belanda 6 bulan yang akan datang.*** |
Jumat, 06 Oktober 2017
KALAU ADA YANG BERBAU ANTIK , SAYA PASTI DATANG
“Saya baru tau disini ada museum. Padahal anak saya sejak SD sampai sekarang kelas delapan di sini.”Kata bu Siskawati, warga Tomang saat mengunjungi museum, Rabu, 27 September 2017 sekira jam 10.30. “Tadi habis ada pertemuan orang tua wali, pas mau pulang lewat juanda, lihat pintu besi yang biasanya tutup kok sekarang buka. Setelah masuk lho kok terang eeeh bener kata anak saya, ternyata ada museum.” Lanjutnya disela sela menikmati kunjungan. | “Saya suka sekali dengan yang kuno kuno, kalo ada hal hal yang berbau lawas dan antik itu saya pasti datang.” Ketika di Ruang Misi Bu Siska, sambil menunjuk kea rah mata uang kembali berkomentar “Ini saya masih punya ini uang dua setengah rupiah. Ini juga saya punya yang satu rupiah. Yang sebelum kemerdekaan mana? Yang jaman Belanda?” Tanya Bu Siska sambil matanya berkeliling mencari. Begitu komentar Ibu Siskawati. Saat di ruang relikui beliau bertanya lagi , “Ruang ini kan termasuk yang istimewa, berapa kali tempat ini didoakan? Boleh tidak saya doa disini?” Setelah beberapa saat berdoa, bu Siska pamit. Sebelum meninggalkan museum, bu Siska dalam buku tamu menulis pesan “Sangat bagus, perawatan benda benda bersejarah lebih ditingkatkan terutama terhadap kutu/ngengat pada buku buku bersejarah.”*** |
Senin, 02 Oktober 2017
KOPI DARAT di Museum
|
Chatting lewat WA ataupun percakapan lewat telfon, tetap terasa belum lengkap tanpa perjumpaan atau istilah orang sekarang “kopi darat”. Walau sudah lebih dari 30 tahun berada di Breda- Belanda, tetap saja Ibu Sally dan suami yang lahir di Indonesia rindu tanah air. Apalagi sudah mulai berkenalan dengan Sr. Korina dan Sr. Lucia sejak beberapa waktu yang lalu. Pertemuan unik ini berlokasi di Museum Santa Maria pada Jumat, 15 September 2017 saat sekolah masih berlangsung. Ibu Sally datang bersama suaminya. Kedua adiknya, Ibu Dewi dan Pak Indra yang tinggal di Kelapa Gading. Saat itu juga ada Ibu Suryana, istri pak Indra Kevin putra bu Dewi. Omong punya omong Ibu Sally sendiri ternyata teman sekelas Ibu Ani guru SMK St Maria. Ketika mereka dipertemukan “surprise” tak bisa dihindari. Setelah 38 tahun tidak berjumpa maka banyak hal sudah berubah, tapi wajah dan emosi masih sama. Mereka adalah siswi SKKA St Maria angkatan tahun 1975. Sedangkan Ibu Dewi siswi SMK angkatan tahun 1983. Maka tidak heran kalau pertama Kapel-lah yang menjadi tempat persinggahan untuk sejenak berdoa. Ketika mendengar ada Museum, mereka semakin penasaran dan ingin melihat dari dekat. | Saat makan siang bersama, terungkaplah cerita dari Ibu Sally tentang anaknya yang jadi dokter dan sedang berada di Papua Nugini. Orangtua ini berencana menengok anaknya dan sekaligus bernostalgia. Hal tersebut dimulai saat Ibu Sally mendengar kisah pelayanan Sr. Korina di Papua dari Radio KAJ online. Ia teringat, salah satu anaknya yang dokter itu. Kemudian, Ia mengontak adiknya, Ibu Suryana, yang tinggal di Kelapa Gading meminta nomor kontak Sr. Korina. Oleh Bu Suryana dikirimlah nomor hp Sr. Lucia. Ibu Suryana sendiri punya nomor kontak Sr Lucia karena rombongan wilayahnya pernah berkunjung ke Kapel Santa Maria tahun 2016, pada waktu gereja di Keuskupan Agung Jakarta merayakan Tahun Kerahiman “Waktu itu saya kepengen datang kesini (museum) suster, tapi ga sempet sempet,” Kata ibu Suryana, di sela sela makan. Kemudian Ibu Sally, mengontak Sr. Lucia meminta nomor kontak Sr. Korina. Setelah mendapat nomor kontak suster Korina, mereka saling berkomunikasi. Dan inilah perjumpaan pertama kedua belah pihak. Sekitar jam 15.00 Usai santap siang, rombongan Bu Sally, ditemani Suster Korina dan Suster Lucia keliling menikmati Museum Santa Maria. “Eeh… posisi kita sekarang kalo di foto ini di bagian mana?” “Berapa Luas area Sanmar?” “Makam para suster itu dimana sekarang?” Beberapa pertanyaan itu menunjukkan betapa rombongan ibu Sally antusias dan penuh semangat ingin mengenal lebih jauh Biara dan Kompleks sekolah Santa Maria. Sr. Lucia dan Sr. Korina, dengan sabar menjawab dan menerangkan satu persatu pertanyaan yang terlontar. Sebelum meninggalkan museum, mereka menyempatkan diri duduk dan berdoa sejenak di Ruang Relikwi, "Boleh berdoa disini?" tanya Pak Indra diikuti Ibu Sally dan Ibu Dewi. "Silakan," jawab Sr Lucia. Setelah puas berkeliling, sejam kemudian rombongan pamit pulang. Sebelum pulang Ibu Sally berpesan kepada Suster Lucia “Nanti kalau ke Belanda, kita ketemuannya ya.”*** |
Rabu, 20 September 2017
Ekspresi Masa Lampau
Kamis pagi 16 Februari 2017, Museum Santa Maria mendapat kunjungan pribadi dari Kardinal Julius Darmaatmaja SJ.“Kardinal datang sekitar jam sepuluhan” Ungkap Suster Lucia yang turut mendampingi Kardinal. | Kardinal tampak begitu menikmati beberapa benda pamer di Ruang Misi dan Meja Pamer Santo Yohanes Paulus Kedua. Ia tuangkan kesan mengunjungi Museum Santa Maria dalam pesan di buku tamu “ Mengekspresikan masa lampau dengan menarik.” Setelah berkeliling selama kurang lebih satu jam beliau pamit. Sebelum meninggalkan museum, Suster Maria, memberikan kenang kenangan kepada Kardinal berupa buku 160 tahun Ursulin di Indonesia. Beberapa waktu kemudian, Kardinal mengirimkan dua foto koleksi pribadi saat diangkat menjadi Kardinal dan saat beraudiensi dengan Bapa Paus Yohanes Paulus kedua. Saat ini kedua foto tersebut turut dipamerkan di Meja Pamer Santo Yohanes Paulus Kedua di Museum Santa Maria.*** |
Langganan:
Postingan (Atom)
"Bersama-sama Merawat Warisan- Membangun Masa Depan"
Bunga Melati bunga kamboja Di taman indah dipandang Selamat pagi untuk kita semua Penuh harapan di masa datang Menunggu teman...
-
Hari Museum Indonesia tahun 2019 dirayakan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah Grebeg Museum (=ramai-ramai mengunjungi museum...
-
Setiap kita ke museum apakah kita baca semua teksnya? Seperti apakah teks yang sesuai dan enak dibaca? Ibu Ajeng Ayu Arainikasi...
-
Habyt atau model pakaian Para Suster awalnya memakai pakaian biara warna hitam panjang sampai di mata kaki dengan gempt di dada warna p...






